Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#111


__ADS_3

Aaron memberi perintah pada Ivan menyiapkan kamar untuk Samuel.


Begitu mengangkat kepala, dia melihat Naura turun dari lantai dua dengan menarik koper.


Pandangannya berhenti pada koper yang ditarik Naura beberapa saat. "Apa yang kamu lakukan?" Tanyanya dengan dingin.


"Menurut kamu?" Naura sekarang tidak bisa tinggal satu atap dengan tenang bersama dengan Aaron.


"Bantu Nyonya bawa koper ke kamar utama." Aaron menatap Naura, tapi ucapan yang keluar dari mulutnya ditujukan kepada bodyguard.


Bodyguard segera menghampiri dan mengambil koper yang dibawa Naura, langsung naik ke kamar utama, kamar Aaron Daffa.


Naura tidak sempat menahan mereka. Dia menggigit bibirnya, membalikkan kepala dan menatap Aaron. "Aaron, kamu jangan keterlaluan!" Ucapnya dengan suara keras.


Naura merasa, Aaron sangat tidak tau malu. Tidak lebih baik dibanding keluarga Affandi.


Naura tidak bisa membantah Aaron. Malas berdebat dengannya. Dia melangkahkan kaki mau berjalan keluar, tapi belum sampai di pintu, sudah dihadang oleh bodyguard.


Dia membalikkan kepala dan kembali menatap Aaron. "Apa maksdumu?!"


Aaron tidak langsung menjawab. Dia berdiri dan mengaitkan kancing di lengan kemejanya. Terlihat berbeda dari biasanya. "Kamu kira pintu keluarga Ardinata, kamu mau masuk bisa masuk begitu saja, lalu kamu mau keluar bisa keluar dengan seenaknya?"


Raut wajah Naura sedikit berubah.


Diluar beredar rumor bahwa Aaron seorang yang impoten. Tapi, kenyataannya dia adalah seorang yang sangat normal. Orang yang tau kebenarannya, sudah pasti orang yang sangat dekat dengannya.


Sedangkan sekarang, Naura sudah tau kebenarannya. Jadi, dia tidak akan dengan mudah melepaskan Naura.


Aaron melihat raut wajah Naura berubah, tau kalau Naura sudah mengerti maksud ucapannya.


Dia dengan perlahan berjalan sampai dihadapan Naura, menyeringai dengan senyuman dingin. "Orang yang memiliki hubungan denganku, Aaron Daffa Ardinata, tidak akan mungkin bisa dengan mudah lepas begitu saja. Terlebih lagi, kamu adalah istriku. Jangan punya banyak pemikiran, juga jangan melakukan hal yang tidak berguna. Anggap saja kalau kamu mati, juga harus dikuburkan disampingku."

__ADS_1


Naura masuk kedalam keluarga Ardinata sudah empat bulan. Yang selalu dia lihat adalah 'Samuel' yang arogan. Dan ini pertama kalinya dia melihat Aaron menunjukkan tatapan yang menakutkan seperti ini.


Tatapan seperti ini, bukan sembarang anak orang kaya bisa mempunyai tatapan seperti ini. Malah sebaliknya, dia seperti setan yang keluar dari kegelapan.


Naura menjadi teringat dengan julukan Samuel yang diberikan kepada Aaron, Raja Setan!


Aaron puas melihat ekspresi diwajah Naura. Suaranya menjadi rendah dan lembut. "Jangan menunjukkan tatapan ketakutan seperti ini. Kamu patuh sedikit, aku akan baik kepadamu."


Apa Naura sedang takutkah?


Naura mengepalkan tangannya dengan erat dan baru menyadari kalau tangannya mengeluarkan keringat dingin.


Dia teringat kembali saat di rumah kontrakannya. Dia memberikan obat anestesi untuk mengeluarkan peluru dari tubuh Aaron. Aaron sama sekali tidak terlihat kesakitan atau berteriak dan pingsan.


Sejak awal, seharusnya Naura sudah terpikir bahwa ada laki-laki yang kuat seperti itu. Mana mungkin dia hanya seorang Tuan Muda kaya yang arogan. Dia pasti memiliki pemikiran yang mendalam dibandingkan orang lain. Dia pasti setan yang keluar dari lembah yang dalam.


Naura membuka mulutnya, tapi dia menyadari bahkan untuk bicara saja dirinya tidak bisa.


Aaron mengulurkan tangan membelai rambutnya dengan lembut. "Kamu belum pernah melihat baik-baik kamarku, aku bawa kamu melihat-lihat."


Aaron membawa Naura ke ruang ganti.


Naura langsung terpaku begitu masuk.


Ruang ganti. Sebagian ruangan ini terdapat lemari pintu kaca yang didalamnya penuh dengan pakaian wanita yang tergantung. Semuanya pakaian dengan model terbaru. Ada tas dan juga sepatu. Semuanya lengkap.


Begitu banyak baju. Dia setiap hari ganti, juga membutuhkan waktu berbulan-bulan baru bisa mengenakan semuanya.


Aaron berdiri disamping, memperhatikan perubahan raut wajah Naura dan teringat perkataan Christian. "Tidak ada wanita yang tidak menyukai ini semua."


Melihat ekspresi terkejut diwajah Naura, Aaron berkata, "Ini semua, aku meminta orang siapkan sesuai dengan ukuranmu."

__ADS_1


Naura membalikkan badan menatap Aaron. Matanya yang cantik terlihat dingin. "Kelihatannya, Tuan Ardinata sangat pintar dalam teknik setelah membohongi aku, sekarang memberi ganti dengan memberikan ini semua?!"


Orang seperti Aaron, dalam kamusnya tidak ada istilah mengakui kesalahan ataupun minta maaf. Yang dia mau adalah pegang kendali dan memegang inisiatif di tangannya.


Identitas aslinya, seharusnya Naura tau terlebih dahulu. Inisiatif ditangannya belum digunakan dengan baik, tapi sudah dihancurkan dulu oleh Aaron, lalu menemukan dia dan Samuel.


Aaron tertawa. "Kamu bisa menganggap ini sebagai kesenangan antara suami istri, sedikit lebih cocok."


Kesenangan kepalamu!


Naura memalingkan wajahnya, berjalan keluar, tidak ingin bicara lagi dengannya.


Kalau dia melihat Aaron lebih lama lagi, dia akan tidak tahan ingin merobek wajahnya. Tapi, dia juga tidak berani.


Dan cara yang paling baik adalah tidak melihat dia!


Setelah keluar, dia kembali ke kamar yang dia tempati sebelumnya. Dia melihat kasur di dalam kamar itu sudah tidak ada.


Dia membalikkan badan, berlari sampai koridor lantai dua, melihat dari besi tangga dan melihat bodyguard sedang menggotong kasur keluar dari ruang tamu.


"....." Otak Aaron pasti bermasalah!


Demi membuat Naura tidur di kamar utama, ternyata membawa keluar kasurnya.😄


Samuel tidak tau muncul dari mana, dia berjalan ke sampingnya. Menirukan Naura yang memegang besi tangga dan mengikuti arah pandangnya. "Kakak sepupu, baik sekali kepadamu."


"Hehe." Naura menyengir yang dibuat-buat.


Raut wajah Samuel sangat serius. "Seandainya itu aku, kakak sepupu tidak akan mengangkat kasur itu untuk dibuang. Tapi dia akan langsung membuang aku."


Naura sama sekali tidak merasa ditenangkan. Dia menatap Samuel dengan wajah dingin. "Kamu adik sepupu kandung diakah?"

__ADS_1


"Iya. Ibuku dan ayahnya saudara kandung." Samuel mengangkat tangannya, menunjukkan dirinya yang sangat tidak berdaya.


...__________...


__ADS_2