Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#76


__ADS_3

Dua laki-laki yang masih duduk di dekat Naura, merasakan aura kemarahan dari Aaron, mereka yang sudah setengah mabuk berusaha untuk tetap terjaga.


Naura yang menyadari perubahan kedua laki-laki itu kemudian melihat ke arah 'Samuel' lalu membalikkan kepala melihat ke mereka lagi. "Kenapa kaget? Ayo, lanjut main!" Ucapnya sambil membuka beberapa botol bir.


Dua laki-laki itu melihat ke arah Aaron. Aaron hanya menatap mereka dengan tatapan dingin membuat raut wajah mereka menjadi sedikit berubah.


Mereka bukan orang yang bodoh dan ceroboh. Mereka sudah memiliki pengalaman hidup di lingkungan masyarakat selama bertahun-tahun. Mereka bisa mengerti siapa yang bisa diganggu dan siapa yang tidak bisa diganggu. Jadi, mereka memutuskan untuk pergi. "Kami masih ada urusan, kami pergi dulu ya!" Ucapnya sambil bangkit berdiri kemudian pergi.


Naura dengan murung melihat punggung kedua laki-laki itu yang sudah pergi merasa sedikit kecewa. Dia membalikkan kepala melihat 'Samuel' dan menyalahkannya. "Pasti kamu yang sudah membuat teman minumku kabur karena ketakutan. Sekarang, kamu yang harus menemaniku minum!"


"Aku temani." Ucap Aaron kemudian mengambil sebotol bir yang sudah dibuka Naura dan langsung meminumnya.


Naura menatapnya, melihat jakunnya yang bergerak-gerak karena dia minum tanpa henti, terlihat seksi.


Dengan cepat Aaron sudah meminum habis satu botol bir. Dia membalikkan botolnya, dari mulut botol itu sedikitpun tidak ada bir yang menetes. Dia benar-benar meminum sampai bersih.


Naura juga mengambil sebotol bir, menyipitkan matanya dan mulai meneguk birnya.


Christian yang awalnya juga ingin menghampirinya, melihat mereka berdua yang sedang minum bergantian, akhirnya memutuskan untuk tidak mengganggu mereka.


Tapi, dia dengan semangat mengambil video dan mengirimkannya ke Daniel untuk kesenang mereka.


...


Aaron tidak menyangka kalau ternyata istrinya ini kuat minum.


Sepuluh botol bir sudah Naura habiskan, tapi pandangannya masih tetap terlihat segar.


Tapi, dengan sangat cepat Aaron menyadari kalau ternyata apa yang telah dia pikirkan salah.


Aaron langsung mengulurkan lengannya ketika Naura ambruk.


Naura membalikkan kepala melihat dia. "Ada hal penting yang harus aku bicarakan denganmu."


Saat Naura bicara, dari mulutnya mengeluarkan aroma bir. Tapi tidak membuat orang didekatnya membenci dia, malah terlihat menyenangkan. Membuat hati Aaron makin tertarik.


Tapi, Naura terlihat begitu serius. Aaron mengerutkan alis menatapnya. "Ada apa?"


Dalam pikiran Aaron, kalau seseorang setelah minum alkohol akan mengatakan apapun yang menjadi rahasianya. Jadi, apa perempuan ini juga akan memberitau rahasianya kepadanya?

__ADS_1


Sebelum bicara, Naura melihat sekeliling kemudian mendekat pada 'Samuel'. "Aku mau pergi ke toilet, tapi aku pusing. Kamu antar aku kesana ya?" Bisiknya.


"......" Aaron terdiam dan seketika raut wajahnya berubah.


Melihat 'Samuel' yang hanya diam tidak bergerak, Naura mendorong lengannya. "Kamu jangan pelit dong. Aku sudah membantu kamu menyiapkan makanan setiap hari, aku hanya minta tolong hal kecil seperti ini kamu tidak mau bantu?"


Aaron menatapnya, melihat sepasang mata yang cantik dan cerah menyipit, terlihat berkabut. Sepertinya, Naura benar-benar mabuk.


Biasanya, mau memukulnya sampai matipun dia tidak akan mungkin meminta untuk diantarkan ke toilet.


Aaron berpikir sejenak, kemudian menggertakkan giginya. "Ayo, aku antar."


Christian yang sedari tadi memperhatikan mereka, melihat Aaron membantu Naura berdiri mengira kalau akhirnya mereka akan pergi, dia mengikuti mereka berdua.


Christian mengikuti terus sampai akhirnya dia menyadari kalau arah yang dituju salah. Dia melihat Aaron mengantar Naura masuk kedalam toilet wanita.


"......" Christian terdiam dan menghentikan langkahnya.


Naura dengan cepat langsung menyelesaikan urusannya di toilet. Saat keluar dia melihat 'Samuel' berdiri di depan pintu dan menatapnya kaget. "Kamu? Untuk apa kamu berdiri di depan pintu toilet wanita? Aku benar-benar tidak menyangka kalau kamu punya kebiasaan seperti ini!"


Kebetulan saat itu juga ada dua orang wanita yang masuk kedalam toilet dan mendengar ucapan Naura. Dua orang wanita itu dengan cepat berbalik dan pergi meninggalkan tempat itu.


Aaron merasa menyesal sudah berbaik hati menemaninya minum.


Raut wajah Aaron berubah dan terlihat agak menakutkan. Naura yang melihatnya langsung menundukkan kepala menurutinya untuk diam.


Aaron segera menariknya keluar.


Baru berjalan dua langkah, Naura memberontak. "Iih kamu jorok! Aku masih belum cuci tangan!"


"......" Aaron kembali terdiam dan hanya bisa menahan emosinya, membawanya kembali untuk cuci tangan.


Aaron membuka air kran untuknya. Tapi, Naura tidak mencuci tangannya. Dia malah menjulurkan satu jarinya seperti anak kecil dan memainkan air yang mengalir dari kran.


Aaron menarik nafas. Dia merasa kalau seluruh kesabarannya selama dua pulun enam tahun, malam ini sudah di habiskan oleh Naura.


Aaron memasang wajah kesalnya, menekan sabun cair yang telah disediakan lalu menggosoknya sampai berbusa, menarik tangan Naura dan mulai membantunya cuci tangan.


Tangan Naura yang lebih kecil dibandingkan dengan tangan Aaron, setelah terkena sabun menjadi licin. Naura merasa menyenangkan dan sengaja menarik tangannya dari genggaman tangan Aaron.

__ADS_1


Aaron menghentikan gerakannya sejenak, matanya menunduk menatap dia. "Jangan bergerak!"


Naura dikagetkan dengan suaranya. Dengan takut melihat kearahnya lalu wajahnya berubah menjadi terharu. "Ibuku sendiri tidak pernah membantuku mencuci tangan. Kamu baik sekali."


Aaron kembali menghentikan gerakannya. Wajahnya yang tadinya dingin menjadi lebih lembut. "Aku bisa lebih baik lagi."


"Hah?" Wajah Naura terlihat kebingungan.


"Pulang nanti, aku akan memperlihatkannya kepadamu." Ucap Aaron dengan suara rendah.


Aaron dengan hati-hati mengeringkan tangan Naura kemudian membawanya kembali ke mejanya. Mengambil mantel milik Naura dan memakaikannya. Aaron berencana membawanya pulang.


Naura mulai memberontak lagi dan ribut. "Tidak mau tidak mau! Aku masih mau minum! Aku belum minum sampai puas!"


Kemudian Naura meraih sebotol bir dari atas meja.


Pada saat yang sama, ada sekelompok orang keluar dari sebuah ruangan. Saat orang-orang itu berjalan melewati mereka berdua, salah satu dari orang-orang itu dengan sengaja memukul Aaron.


"Aduh Nak, otot kamu tebal sekali sampai membuatku terbentur dengan keras." Ucap orang itu dan orang-orang yang ada dibelakangnya tertawa.


Naura melangkah maju mendekat sambil membawa sebotol bir ditangannya. "Apanya yang keras?"


Seketika wajah Aaron menjadi marah. Dia mendorong kepala Naura ke belakang punggungnya lalu menendang dengan keras orang itu.


Laki-laki itu langsung jatuh terhempas ke lantai dengan suara "bruk!" terdengar sangat menyakitkan.


Sekelompok orang-orang itu melihatnya dan mulai mengepungnya. "Hanya becanda, Nak. Kalau sekarang kamu mau berlutut dan memanggilku kakek, kami akan melepaskanmu. Kalau tidak......."


Tiba-tiba terdengar suara "prakkk!"


Sekelompok orang-orang itu dan juga orang-orang yang ada disana melihat ke sumber suara.


Mereka melihat seorang wanita yang memecahkan setengah botol bir sedang berdiri diatas meja.


Naura melihat semua orang sedang menatapnya, dia menunjuk ke orang yang baru saja bicara. "Hei cucu! Ayo kamu kesini, pukul kepalamu sendiri dan mengaku salah kepada kakek! Kakek hari ini akan melepaskanmu! Kalau tidak, kamu akan langsung diseret keluar!"


Naura memiringkan kepalanya dan menyipitkan matanya. Dia terlihat sangat mengesankan.


Aaron terlihat semakin marah sampai otot-otot biru didahinya terlihat. "Naura, cepat turun dari sana!"

__ADS_1


...__________...


__ADS_2