Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#51


__ADS_3

Naurq mengulurkan tangannya merangkul pundak Marsha. Terlihat seperti sepasang kakak adik yang akur. Naura masih dengan senyumnya yang manis. "Kakak, ayo kita ke ruangan ayah dulu. Jangan membuat ayah menunggu lama." Ucap Naura dengan lembut. "Di sini ada karyawan dimana-mana, kalau kita bertengkar, tidak baik menjadi tontonan semua orang." Lanjutnya berbisik pada Marsha.


Marsha pun tidak banyak bicara lagi. Dia menuruti Naura dan mereka berjalan menuju pintu lift bersama.


Tapi, saat mereka berjalan, mereka mendengar bisikan dari beberapa karyawan di belakangnya. Sepertinya beberapa karyawan sedang berdiskusi membicarakan tentang siapa yang paling cantik diantara mereka berdua.


"Menurutku, Nona Ketiga lebih cantik. Dia tidak mungkin melakukan operasi plastik kan?"


"Aku rasa juga begitu. Terlihat sangat alami."


"Mungkin saja kalau bukan karena operasi wajah, dia jauh lebih cantik dari Nona Marsha."


Mendengar sampai disini, Marsha langsung menyingkirkan tangan Naura dari pundaknya. Tatapan matanya seolah sedang melihat kotoran dan merasa jijik. "Jangan menyentuhku!"


Naura kemudian menepuk-nepuk lengannya seolah menyingkirkan debu yang menempel pada lengannya dengan wajah santai. "Oh."


Dia juga merasa kalau Marsha ini sangat memuakkan. Di luar selalu dengan sembarangan bergaul. Ternyata pergaulan bebas.


Melihat tingkah laku Naura, Marsha hanya bisa diam menahan segala rasa karena mengingat pesan dari Fajar-ayahnya.


Setelah sampai diruangan kantor Fajar Affandi, Fajar berusaha tersenyum ramah menyambut Naura walaupun dia tidak suka dengan putri kampungnya ini. "Selamat datang Naura."


Sikap Fajar terlihat begitu hangat terhadap Naura, tentu saja membuat Marsha tidak merasa senang. Marsha menuangkan teh ke dalam cangkir kemudian sengaja meletakkannya dengan keras dihadapan ayahnya untuk menunjukan rasa ketidakpuasannya.


Semua yang terjadi ini hanya disimpan di dalam hati Naura. Dia merasa sedikit lucu, Marsha benar-benar tidak bisa menahan kemarahannya.


"Jadi, ayah berencana ingin memberikan aku jabatan apa di perusahaan ini?" Naura duduk disofa diseberang Fajar dengan sikapnya yang sopan.


"Dibagian pemasaran sedang kekurangan orang untuk penelitian pemasaran. Aku rasa Naura orang yang suka menerima tantangan, jadi kamu terima saja pekerjaan ini." Ucap Marsha tanpa menunggu Fajar menjawab, dia sudah dengan cepat mendahuluinya.


Naura menatap Marsha sejenak. "Kakak salah. Aku bukan orang yang suka menerima tantangan. Aku ingin pekerjaan yang ringan." Ucap Naura dengan datar.


Naura baru saja lulus kuliah dam yang dia pelajari jurusan perfilman. Mengenai pemasaran dan semacamnya, sudah pasti dia tidak bisa.


Tapi, dia mengetahui dengan jelas kalau bagian penelitian pemasaran sudah pasti pekerjaan yang sangat melelahkan.

__ADS_1


"Naura, kamu masih muda dan memang harus dilatih. Kamu coba dulu saja. Kalau tidak cocok, kamu datang lagi kesini untuk bicara." Ucapan Fajar ini kedengarannya sangat enak. Tapi, sebenarnya dia memang sudah menetapkan posisi Naura di bagian penelitian pemasaran.


Selama ini Naura sudah terbiasa selalu mengalah dengan Marsha. Naura yang sangat penurut, jadi mereka mau menguji kesabaran Naura?


Permaian kecil seperti ini, begitu Naura melihatnya, dia sudah langsung mengerti.


"Kalau begitu terimakasih atas kasih sayang ayah yang begitu mendalam." Ucap Naura.


"Marsha, kamu ajak Naura ke bagian pemasaran." Ucap Fajar kemudian bangkit berdiri dan beranjak duduk dikursi kebesarannya untuk mengecek dokumen.


"Ayo, ikut aku!" Ucap Marsha dengan tenang menahan hatinya yang merasa puas karena dia sudah memikirkan kesulitan apa yang akan dihadapi Naura.


Sedangkan Naura, didalam hatinya merasa bingung. Dulu di dalam keluarga Affandi, dia sesabar apa, sampai-sampai sekarang mereka merasa, mereka mau melakukan apapun terhadapnya juga tidak masalah?


Memberikan dia posisi di bagian pemasaran, bekerja sebagai peneliti lapangan dengan posisi yang paling bawah? Dia hanya bisa berterimakasih kepada Fajar "atas kasih sayangnya yang begitu mendalam". Apakah dia ingin mengatakan kalau pasti dirinya bisa bekerja dengan baik?


Sesampainya di departemen pemasaran, Marsha langsung membawa Naura ke ruangan kantor manager.


Manager departemen pemasaran merupakan seorang laki-laki paruh baya berkepala botak. Saat melihat Marsha masuk ke ruangannya, dia tersenyum hingga matanya menyipit. Selain botak, manager itu berbadan gemuk.


Marsha bersedekap dan menunjuk Naura dengan dagunya. "Dia anggora baru dibagian peneliti pemasaran. Kamu bawa dia berkeliling untuk melihat-lihat dan jaga dia baik-baik!"


Saat mengatakan "jaga dia baik-baik", sikap yang ditunjukkan Marsha ke Naura sangat aneh.


Manager pemasaran langsung paham dan tersenyum lebar. "Aku pasti akan 'menjaganya dengan baik'!"


Marsha sekali lagi menatap Naura, kemudian berbalik melangkah pergi meninggalkannya.


Ucapan Marsha barusan membuat manager merasa yakin kalau kata-kata 'jaga dia baik-baik' yang dimaksud oleh Marsha pasti seperti apa yang dia pikirkan.


Setelah Marsha pergi, manager itu menatap Naura dengan serius. "Siapa namamu?"


"Naura Kemala Affandi." Jawab Naura.


Manager itu berjalan menuju kebelakang meja kerjanya dan duduk di kursinya. Kemudian kembali menatap Naura.

__ADS_1


Matanya menjelajahi tubuh Naura sampai bola matanya ingin lepas. "Apa kamu dari keluarga Affandi? Kamu punya hubungan dengan atasan perusahaan?"


Naura merasa muak dan risih dilihat seperti ini. Dia menjawab dengan dingin. "Ada sedikit hubungan."


Dimata Naura, manajer ini terlihat seperti seorang idiot yang hanya pintar menjilat orang. Pantas saja perusahaan Affandi tidak ada perkembangan sama sekali.


Ada sedikit hubungan ya? Itu artinya kalau hubungan dia dengan keluarga Affandi tidak dekat. Gumam manajer dalam hati.


Manajer itu merasa sudah mengerti bagaimana situasinya kemudian tersenyum kecut. "Baiklah, 'bekerjalah' dengan baik! Aku tidak akan memperlakukanmu dengan buruk."


Dia sengaja menekankan kata 'bekerjalah' membuat Naura merasa mual mendengarnya.


Tapi, Naura juga tidak banyak bicara lagi. Dia langsung diantar ke ruangan kecilnya untuk bekerja.


Setelah perkenalan singkat, Naura duduk dikursi kerjanya. Dia merasa rekan kerja disekitarnya masih memperhatikannya.


Mendapat rekan kerja baru yang terlihat sangat cantik dan tadi mereka melihat Naura diantarkan oleh Nona Marsha, tentu saja mereka merasa sangat penasaran.


Naura tidak menghiraukan hal tersebut. Dia juga merasa tidak ada yang perlu dijelaskan. Dia duduk, mengambil ponselnya, memotret meja kerjanya lalu mengirimkannya ke Evelyn dengan pesan teks berisi: "Aku sudah mulai bekerja di perusahaan keluarga Affandi."


Dengan cepat Evelyn langsung membalas pesan Naura.


"Kamu dapat jabatan apa? Wakil Direktur?"


Naura tersenyum geli membacanya. Dia membalas pesan Evelyn lagi.


"Peneliti di departmen pemasaran."


Evelyn mengirim gambar tanda tanya besar dengan pesan teks: "Masih lebih baik kalau kamu jadi asisten pribadiku! Aku bisa memberimu gaji sebesar 1 Miliar!"


'Pffff!'


Naura hampir saja kelepasan mengeluarkan suara tawanya. Bagaimana mungkin Evelyn mencari asisten pribadi seperti dirinya ini?


...__________...

__ADS_1


__ADS_2