Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#97


__ADS_3

Keluar dari ruangan Fajar, Naura langsung pergi ke toilet untuk mencuci wajahnya.


Untung saja hari ini dia tidak memakai make-up. Kalau tidak, mungkin wajahnya sudah terlihat berantakan.


Selesai mencuci wajah, dia menyadari kalau mata dan hidungnya memerah.


Dia pun kembali ke meja kerjanya.


Rekan kerja yang ada disampingnya melihat dia dan bertanya dengan perhatian. "Naura, ada apa denganmu?"


Naura menggelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa."


Rekan kerja itu juga tidak bertanya lagi Kembali rekan kerja lainnya yang tadi melihat sekertaris Fajar datang mencari Naura berbisik. "Tadi, Pak Presdir mencarinya."


"Untuk apa Pak Presdir mencarinya?"


"Entahlah, aku juga tidak tau. Mungkin karena masalah pabrik. Bukankah, dia sudah menikah dengan Aaron Daffa Ardinata? Pak Presdir mungkin saja ingin memanfaatkan hubungan ini......."


"......."


Naura diam-diam mendengarnya. Dia merasa orang-orang di departemen perencanaan benar-benar hebat. Bisa menebak hal ini dengan benar!


Selanjutnya apa yang mereka katakan, Naura tidak terlalu mendengarnya dengan jelas. Namun, hanya terdengar samar-samar.


"Keterlaluan.......Bagaimana bisa Pak Presdir seperti ini........" Dan kalimat sejenisnya.


Naura merasa penasaran dengan dua rekan kerja ini. Sebenarnya, apa yang ada di otak mereka?


Tapi, sepertinya mereka sedang mengatakan hal buruk mengenai Fajar.


...


Di perusahaan AD Entertainment.


"Aaron, apa siang ini kamu ingin meminta restoran Star Light mengantar makan siang ke sini?" Hal yang paling membuat Christian setiap harinya bersemangat adalah soal makan.


"Tidak perlu." Jawab Aaron tanpa mengangkat kepalanya.


"Memangnya, kamu mau pergi kemana?" Tanya Christian lagi, tapi Aaron tidak menggubrisnya.


Christian memutar kedua bola matanya dengan malas.


Jika dia tidak mengenal Aaron selama bertahun-tahun, mungkin sikap Aaron yang selalu dingin seperti gunung es ini, dia pasti sudah menghajar sejak awal.


Kebetulan, Aaron sudah menyelesaikan pekerjaannya. Dia mengangkat kepala dan menatap Christian dengan raut wajahnya yang dingin. "Kamu bisa memukulku?"


Seketika, Christian menatapnya dengan terkejut seperti melihat hantu. "Sial! Tidak tidak! Tidak bisa! Kamu bisa menebak pikiranku?!"


Aaron tertawa pelan sejenak, kemudian mengambil ponselnya dan berjalan keluar.


Pada dasarnya, Christian memiliki sifat yang suka bicara dan aktif. Saat di bangku SMA dulu, dia sering terlibat pertengkaran dan orang yang mengenalnya baik, dapat menebak pikirannya dengan mudah.


Aaron mengendarai mobilnya pergi ke perusahaan Affandi.


Masalah pabrik perusahaan Affandi telah meledak kemarin, setelah pemberitaan satu malam penuh, sekarang seluruh dunia pun sudah mengetahuinya.


Sulit bagi Fajar untuk menebaknya jika yang ada dibalik semua masalah ini adalah Naura.

__ADS_1


Aaron merasa tidak tenang, jadi dia berencana pergi ke perusahaan Affandi untuk melihat situasi.


Dia memarkirkan mobilnya di parkiran perusahaan Affandi, mengeluarkan ponselnya dan menelepon Naura. Tapi, tidak diangkat.


Aaron turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam gedung perusahaan.


Karena masalah pabrik, jalur keluar masuk Perusahaan Affandi semakin diperketat.


Saat Aaron masuk ke dalam, dia langsung dihentikan oleh penjaga. "Anda siapa? Ingin mencari siapa?"


Penjaga ada di mana-mana. Mereka takut kalau ada orang yang datang untuk membuat keributan.


Aaron yang bertubuh tinggi, biasanya orang yang ada dihadapannya akan mendongakkan kepala.


Dia sedikit menundukkan kepala, bicara dengan wajah tanpa ekspresi dan dengan wibawa kepemimpinan. "Mencari orang."


Penjaga itu merasa wibawa orang ini terlalu kuat. Jika dilihat, orang ini bukanlah orang biasa.


Tidak ingin mencari masalah, penjaga itu langsung mengantar Aaron ke resepsionis. "Kamu beritau mereka dulu siapa yang ingin kamu cari."


Wanita yang berada di resepsionis, hari ini juga terlihat sangat ketat. Tadi, hampir saja ada seorang reporter yang menerobos masuk. Kali ini, dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi lagi.


Tapi, saat dia melihat wajah Aaron, dia pun menjadi sedikit gagap. "Pe permisi...anda...anda ingin mencari siapa?"


"Naura." Jawab Aaron singkat. Dia menurunkan tatapannya, menyembunyikan kekesalan dimatanya.


Batas kesabarannya sering kali tidak baik. Tapi, saat berhadapan dengan masalah yang berhubungan dengan Naura, dia menyadari kalau batas kesabarannya sedikit meningkat.


"Naura?" Wanita resepsionis itu merasa nama ini terdengar familiar.


Tanpa menunggu wanita resepsionis itu bicara, Aaron mendengar suara seorang wanita yang sangat familiar di telinganya. "Samuel?"


Naura berjalan dengan pelan, seperti tidak yakin kalau yang dia lihat adalah dirinya. Kemudian segera berlari kecil menghampirinya.


Saat ini adalah jam makan siang. Naura bersiap untuk pergi makan. Tapi, saat keluar dari lift dia melihat seorang laki-laki dengan tubuh yang tinggi tegap, seperti 'Samuel' yang saat ini sedang berdiri didepan meja resepsionis untuk bertanya.


Seorang laki-laki arrogant seperti 'Samuel', bagaimana bisa bersedia untuk bertanya pada resepsionis?


Tapi, semakin dilihat, semakin terlihat mirip. Akhirnya, Naura memanggilnya.


Tidak disangka, ternyata memang benar-benar 'Samuel'.


Naura berlari kecil hingga kehadapannya. Wajahnya penuh dengan kebingungan. "Ternyata benar kamu, kenapa kamu bisa ada di sini?"


Wanita resepsionis itu saat melihat Naura langsung mengenalinya dan tersenyum. "Nona Naura, Tuan ini datang untuk mencari anda."


Kebingungan di wajah Naura semakin bertambah. "Ada apa mencariku?"


Tapi, Naura tau ini bukanlah tempat yang tepat untuk bicara. Jadi, dia langsung menarik 'Samuel' berjalan keluar.


Aaron hanya bisa pasrah ditarik olehnya. Karena tubuhnya yang tinggi, dia berjalan satu langkah, Naura harus berjalan dua langkah. Hal ini, tidak membuat nafasnya terengah-engah.


Setelah keluar dari gedung perusahaan, Naura langsung menanyakan pertanyaan sebelumnya. "Ada urusan apa kamu mencariku?"


Menurutnya, 'Samuel' tidak akan mencarinya kalau tidak ada urusan.


'Samuel' tidak langsung menjawab pertanyaannya. Tapi, dia menatap Naura dari atas sampai bawah tanpa bersuara.

__ADS_1


Sebelumnya, Naura sempat menagis. Tapi, walaupun sekarang tidak terlihat bekasnya, Aaron yang memperhatikannya dengan teliti menyadari kalau mata Naura sedikit membengkak dan terlihat sedikit kemerahan yang tidak wajar.


Dia sempat menangis?


Aaron memicingkan matanya, tidak dapat memikirkan apa hubungannya Naura dengan menangis?


Ditambah lagi, Naura masih berada di perusahaan Affandi. Dia tidak akan menangis di hadapan Fajar kan?


Setelah terdiam sejenak, Aaron baru mengeluarkan suaranya berucap. "Kebetulan lewat. Kamu traktir aku makan."


Nada bicaranya, tentu saja terdengar seenaknya.


Tapi, bagaimana pun juga Naura sangat berterimakasih pada 'Samuel'. Asalkan permintaannya tidak keterlaluan, Naura akan selalu memenuhinya.


Naura mengajaknya pergi ke restoran yang sedikit jauh dari perusahaan. Disana, tidak akan bertemu dengan rekan kerjanya. Jadi, tidak akan menambah masalah.


Saat tiba direstoran dan kedua orang itu duduk, walaupun 'Samuel' tidak mengatakan apapun, Naura dapat merasakan kalau 'Samuel' tidak terlalu menyukai tempat ini.


Sebenarnya, Naura sangat mengerti dirinya.


Dia adalah Tuan Muda di keluarganya. Biasanya untuk makan saja, dia pergi ke tempat seperti Star Light, menjadikan restoran Star Light sebagai dapurnya.


Dia sendiri yang ingin Naura mentraktirnya. Restoran seperti ini juga bisa menghabiskan uang ratusan ribu. Bagi Naura........ini termasuk sangat mahal!


Naura yang memikirkan hal ini, tanpa sadar mengusap dompetnya sendiri dan wajahnya terlihat meringis.


Aaron menyadari raut wajah Naura. Tanpa sadar, sudut bibirnya tersungging sebuah senyuman. Tentu saja dia tau kalau istrinya ini sangat miskin. Tapi, masih saja memaksanya untuk mentraktirnya makan.


Menggodanya, baginya ini adalah hal yang sangat menarik.


Sang pelayan datang untuk mencatat pesanan.


Naura mendorong buku menu ke hadapan 'Samuel'. "Kamu pesan duluan."


'Samuel' tanpa sungkan membuka buku menu. Bahkan langsung menyebutkan tiga menu sekaligus.


Naura tau, jika yang dipesan 'Samuel' adalah menu yang sedang direkomendasikan dan juga harganya sangat mahal.


Aaron kembali membalikkan halaman dan memesan satu menu lagi. Kemudian dia mendongakkan kepalanya menatap Naura. "Apa aku pesan terlalu banyak?" Tanyanya dengan wajah serius.


Naura menggelengkan kepalanya. "Tidak....."


Dia ingat waktu itu saat makan bersama dengan mereka di restoran Star Light empat hingga lima orang yang makan, satu meja besar penuh dengan makanan, sama seperti jamuan makan pada masa kerajaan.


Aaron menganggukkan kepala setuju. "Kalau begitu, aku pesan dua lagi."


"......" Naura terdiam.


Aaron melihat sekilas buku menu itu, lalu mengerutkan alisnya. "Tidak ada yang enak lagi."


Kemudian dia menyerahkan buku menu itu pada Naura.


Prinsip hidup Naura sebenarnya sangat sederhana. Dua orang menyantab tiga lauk dan seporsi nasi, sebenarnya sudah sangat cukup.


Tapi, duduk berhadapan dengan seorang Tuan Muda 'Samuel', maka dia kembali memesan dua lauk dan satu makanan ringan. Jika tidak, dia akan merasa bersalah pada 'Samuel'.


Selesai memesan, Naura bangkit berdiri dan pergi ke toilet.

__ADS_1


Aaron melihat bayangan tubuh Naura yang menghilang, kemudian memanggil pelayan. Dia memberikan sebuah kartu. "Bayar."


...__________...


__ADS_2