
Di dalam ruangan kantor Presiden Direktur Utama, setelah Naura dan Jayus keluar, Fajar menatap Marsha dengan kemarahan yang memuncak. "Ayah pernah mengatakan apa ke kamu?! Ayah minta kamu untuk tidak membuat masalah lagi! Tapi, kamu masih juga pergi ke Bar 99! Sebenarnya, apa kamu masih menganggap ayah ini sebagai ayahmu?!"
"Yah!" Rengek Marsha. Dia tidak menyangka kalau Naura akan menggunakan cara ini untuk menyerangnya. Dia pun menatap Fajar dengan wajah terlihat cemas. "Mereka yang ada disana teman-temanku. Keluarga mereka punya kekuatan dan kekuasaan. Siapa tau suatu saat bisa membantu kita kan? Kalau aku tidak pernah lagi menghadiri acara perjamuan, mungkin saja mereka tidak akan mau berteman denganku lagi. Kalau begitu, aku bisa kehilangan banyak kesempatan."
"Begitu ya? Kamu bilang teman? Teman dari generasi kedua orang kaya yang hanya tau bersenang-senang saja? Kamu masih merasa kalau reputasimu tidak cukup buruk? Apa kamu pikir, ayah masih kurang banyak kehilangan image? Yang paling penting untuk kamu sekarang ini, kamu harus jaga baik-baik hubungan kamu dengan Lucky!"
Fajar sudah terjun kedalam dunia bisnis sudah sangat lama. Sudah punya banyak pengalaman. Mengenai Bar 99, dia sudah sangat mengetahuinya jauh melebihi Marsha.
Marsha sudah dimarahi oleh Fajar. Tentu saja dia sangat tidak terima. Tapi, dia tau kalau Fajar sangat menyayanginya. Jadi, dia ingin masalah ini dilimpahkan ke Naura.
Meskipun dia merasa kalau dirinya tidak bersalah, tapi untuk bisa meredakan kemarahan ayahnya, dia pun mengakui kesalahannya. "Ayah, aku tau kalau aku salah. Ayah tidak perlu khawatir. Aku akan menjaga hubunganku dengan Lucky baik-baik."
Fajar menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. "Sudahlah. Lanjutkan pekerjaanmu sana!"
...
Naura kembali ke ruangannya untuk bekerja. Dia merasa tidak konsentrasi dengan datanya.
Dia sudah menyimpan nomor telepon Aaron Daffa. Tapi, semalam saat pulang, dia merasa ragu-ragu dan akhirnya tidak berani menelpon maupun mengirim pesan ke Aaron Daffa.
Sekarang ini jam sembilan pagi dan di Kanada sana seharusnya jam delapan malam. Saat ini, seharusnya Aaron juga belum tidur.
Naura berpikir sejenak ingin mengirim pesan kepada Aaron.
Dia mengetik pesan : "Ini aku Naura, apa kamu di Kanada baik-baik saja?"
Naura kembali terdiam dan berpikir. Mengirim pesan seperti ini, pantas tidak? Apa tidak terlalu tiba-tiba?
Naura pun menghapus ketikannya itu dan menggantinya lalu langsung mengirimkannya ke Aaron : "Ini aku Naura. Terimakasih atas ponsel yang sudah kamu berikan. Aku sangat menyukainya."
Setelah mengirim pesan, dia pun merasa gugup menunggu balasan dari Aaron.
Padahal, dulu dia tidak pernah merasa gugup ketika mengirim pesan kepada Lucky.
Tiba-tiba, Naura mendengar suara bisikan dari teman-teman kerjanya.
"Aku dengar, Pak Jayus meminta ijin pulang untuk beristirahat di rumah."
"Iya aku juga dengar."
"Memangnya apa yang terjadi dengannya selama dua hari ini? Biasanya, Pak Jayus selalu semangat bekerja setiap hari."
Naura hanya bisa terdiam pura-pura tidak mendengar mereka. Dalam hati, dia merasa sangat senang.
Ada satu lagi teman kerja yang bergabung dengan percakapan mereka dan lebih mengecilkan suaranya. Tapi, Naura mendengar beberapa kata dengan suara samar-samar.
"Kemarin...yang melakukan...Naura..."
Tiba-tiba, Naura terbatuk. Apa mereka sedang membicarakannya?
__ADS_1
...
Di Perusahaan AD Entertainment Group.
Aaron sedang duduk diruang rapat. Suasana didalam ruang rapat sangat hening.
Aaron dengan mata tertunduk dan wajah tanpa ekspresi sedang membolak-balik halaman dokumen memeriksa laporan proyek dan evaluasi.
Semua manajer yang hadir dalam rapat merasa dalam bahaya. Bahkan untuk bernafaspun tidak berani. Lagi pula, temperamen Bos besar ini jauh lebih buruk dibanding Christian.
Orang luar mengira kalau Christian adalah Bos besar AD Entertainment Group. Tapi nyatanya, hanya staf senior perusahaan yang mengetahui kalau orang yang duduk dihadapannya inilah Bos besar sesungguhnya perusahaan AD Entertainment Group.
Keberadaan dan identitasnya sangat rahasia. Dia yang mengambil keputusan besar di perusahaan dan rapat kali ini, dia yang memimpin.
Selama beberapa waktu, Aaron tidak berada di perusahaan. Jadi, semua masalah perusahaan ditangani oleh Cristian. Sangat sulit memang, mengelola perusahaan dan menghadiri semua kegiatan.
Naura telah bekerja di perusahaan keluarga Affandi, kerena itu Aaron bisa memiliki waktu untuk menangani urusan di perusahaan.
Ada beberapa sutradara yang bergabung dengan atasan diperusahaan yang ingin membuat masalah. Tapi itu bukanlah masalah besar.
Aaron baru saja selesai memeriksa dokumen-dokumen itu, kemudian meletakkannya dengan rapi disampingnya dan beberapa dokumen dia lempar ke tengah meja rapat hingga mengeluarkan bunyi "Brak!"
Semua orang didalam ruangan rapat pun terkejut.
Aaron mengangkat pandangan matanya dan perlahan melirik orang-orang yang hadir dalam rapat ini. "Kita semua adalah senior perusahaan dan sudah bekerja sama begitu lama. Aku akan memberikan satu kesempatan terakhir untuk kalian. Bawa pergi dokumen kalian dan bawa kembali saat kalian sudah memperbaiki semuanya sesui aturan!" Tegas Aaron kemudian dia bangkti berdiri dan beranjak pergi meninggalkan ruang rapat.
Setelah kembali ke ruangan kantornya, Aaron melonggarkan dasinya dan duduk dikursi kebesarannya sambil memijit pelipisnya.
Christian mengikutinya masuk dan meletakkan dokumen-dokumen yang dibawanya di atas meja kerja Aaron. "Apa orang-orang itu bisa mengerjakan semuanya dengan baik?"
Mendengar pertanyaan Christian, raut wajah Aaron menjadi dingin. "Setelah mereka dipecat oleh AD Entertainment Group, perusahaan mana yang berani menerima mereka?" Ucap Aaron terdengar sombong. Tapi, Christian tau kalau sombong adalah modal yang dimilikinya.
Tapi, meskipun menurut Christian kalau Aaron orang yang pemarah dan sombong, sahabatnya ini juga baik hati.
"Kalau sudah tidak ada urusan lagi, silahkan pergi!" Ucap Aaron lagi sambil mengeluarkan ponselnya dari laci mejanya dan menyalakan ponselnya.
Setelah menyala, ada notifikasi pesan masuk yang belum dibaca.
Seperti yang diharapkannya. Ada pesan dari Naura. ["Ini aku Naura. Terimakasih atas ponsel yang sudah kamu berikan. Aku sangat menyukainya."]
Mata Aaron tertuju pada kata "aku sangat menyukainya". Dia pun tersenyum melihat pesan ini.
Christian yang belum pergi, dia melihat Aaron tersenyum seperti ini, membuatnya ingin tau. "Kenapa kamu terseyum seperti itu pada ponselmu? Kamu membuatku takut."
Aaron sedang dalam suasana hati yang baik, dia menanggapi ucapan Christian. "Kalau takut, kenapa masih belum pergi?"
Christian masih merasa penasaran, dia mencari-cari kesempatan untuk mengetahui apa yang sedang di lihat Aaron.
Seolah tau gerak gerik Christian, dengan cepat Aaron membalikkan layar ponselnya diatas meja dan menutupinya dengan telapak tangannya.
__ADS_1
Christian terdiam. 😥
Ya begitulah Aaron Daffa. Pikirnya. Kemudian, Christian pun pergi keluar dari ruangan Aaron.
Setelah Christian pergi, Aaron membuka pesan dari Naura kembali dan mengirim pesan balasan.
["Baguslah kalau kamu suka."]
Dia terdiam sejenak. Dia merasa kalau ini bukan gaya "Aaron Daffa".
Dia menghapus ketikannya dan menggantinya dengan : ["Ivan yang membelinya"]
Aaron kembali terdiam. Ini terlalu disengaja.
Pada akhirnya dia hanya mengirim pesan balasan ["Hmm"]
Setelah mengirim pesan, dia meletakkan ponselnya diatas meja kemudian menyandarkan punggungnya kebelakang. Ada kegelisahan di sorot matanya yang hitam.
Tiba-tiba, Christian masuk lagi kedalam ruangannya. "Aaron, ini ada IP besar yang di investasikan oleh perusahaan baru-baru ini. Aku letakkan disini, kamu bisa memeriksanya nanti." Setelah itu Christian berbalik dan pergi.
Tapi, langkahnya dihentikan oleh Aaron. "Tunggu!"
Christian menoleh menatap kearahnya. "Ada apa lagi?"
Aaron berdehem lalu mengulurkan tangannya dan mengetuk-ngetuk meja beberapa kali. "Apa menurutmu, aku harus memberitahu Naura kalau aku Aaron Daffa?" Tanya Aaron. "Kalau kamu berani tertawa, aku akan membuat artis kecilmu tidak mendapat tawaran main film!" Tambahnya dengan dingin.
Christian pun terpaksa tersenyum meskipun tau kalau Aaron hanya mengancamnya saja.
Christian tersenyum dengan wajah tersipu. "Iya. Sebaiknya kamu segera memberitahunya."
Tentu saja Aaron tau kalau Christian ini sengaja sedang menggodanya.
Dia mengambil dokumen dan melemparkannya ke Christian. "Pergi sana!"
"Iya iya iya, aku pergi! Buahahahaha!" Christian tidak bisa menahan tawanya lagi. Dia tertawa sangat puas.
Dia merasa kalau hidupnya ini ternyataa tidak sia-sia karena dia bisa melihat Aaron bingung oleh seorang wanita. Dia pun tidak sabar ingin berbagi berita menarik dengan Daniel.
Aaron mengatupkan bibirnya. Dengan wajah tanpa ekspresinya dia mengambil tempat pena dan langsung memukulkan kearah Christian yang sudah berjalan sampai pintu.
"Ahh--Aduh!"
Teriakan kesakitan Christian membuat Aaron merasa lebih puas.
Tapi, Aaron kemudian mengerutkan keningnya. Dia berpikir kalau sekarang dia memberitau Naura tentang siapa dirinya yang sebenarnya, tentu bukan waktu yang tepat.
Dia butuh satu kesempatan lagi.
...__________...
__ADS_1