
Waktu masih menunjukkan sangat pagi saat Naura tiba di rumah.
Semalam dia hanya tidur sebentar. Dia merasa sangat lelah dan juga sedikit mengantuk.
Saat naik ke atas, dia melihat Samuel dengan tas ranselnya sedang berjalan turun ke bawah.
Samuel menguap dan melihat Naura dengan wajah terkejut. "Oh, Kak Naura, apa kamu semalam tidak pulang?"
"Iya, aku pergi ke tempat teman, ada sedikit urusan." Raut wajah Naura terlihat sedikit gugup.
Samuel mengira, dirinya takut jika Aaron mengetahui dia tidak pulang semalaman. Kemudian, dengan sombong dia menepuk dadanya seperti menjamin. "Tenang saja, aku tidak akan memberitahu kakak sepupu. Bagaimanapun aku ada dipihakmu!"
"Iya. Kamu cepat sana berangkat ke sekolah."
Dengan cepat, Naura segera berlari ke kamarnya sendiri.
Sambil memeluk pakaiannya, dia masuk kedalam kamar mandi.
Melihat wajahnya yang pucat didepan cermin, tiba-tiba wajahnya memerah.
Hal tergila yang pernah dia lakukan seumur hidup, yaitu semalam bersama Aaron.......
Di pikirannya kembali terbesit ucapan Christian, bahwa Aaron adalah bos besar di balik AD Entertainment.
Dalam kurang lebih sepuluh tahun, AD Entertainment berdiri, telah menjadi pusat dari dunia hiburan.
Namun, tahun ini usia Aaron baru dua puluh enam tahun.
Jika bukan karena mendengar ucapan dari Christian, sampai sekarang dia juga tidak akan tau jika Aaron adalah bos besar dibalik AD Entertainment.
Memiliki banyak rahasia yang disembunyikan? Dia sungguh pria yang menakutkan!
Naura kepikiran, keputusannya semalam untuk menyerahkan diri sepenuhnya pada Aaron, apakah terlalu bodoh?
……
Naura yang kurang tidur semalaman, wajahnya terlihat buruk.
Dia merias wajahnya sejenak dan berganti pakaian, kemudian segera pergi ke perusahaan Affandi.
Di perjalanan, dia baru ingat dengan topik pembicaraan di internet kemarin malam.
__ADS_1
Pasti kemarin malam perusahaan Affandi kembali mengadakan rapat darurat.
Masalah kali ini, ditambah lagi dengan efek kepopularitasan Kairav Robinson, sepertinya tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah.
Mungkin, masalah kali ini, benar-benar akan memaksa Fajar Affandi untuk meminta kakek Affandi kembali ke tanah air.
Saat memasuki gadung perusahaan Affandi, Naura merasakan suasana tegang di dalam perusahaan.
Saat di pantry, dia bertemu dengan Marsha.
Mata Marsha terlihat memerah, sepertinya tidak tidur dengan baik semalam.
Saat Marsha melihat Naura, dia langsung menghentakkan hak tingginya dan berjalan ke arahnya. "Kamu sengaja ingin menghancurkan perusahaan Affandi kan? Sejak kamu datang kesini, tidak ada hari yang tenang di perusahaan ini!"
Naura hanya diam tidak mengucapkan apapun.
Sejak dia dilahirkan di dalam keluarga Affandi, apa dia pernah memiliki hari yang tenang itu?
Saat dia dipaksa menikah dengan keluarga Ardinata, apa pernah dia melewati harinya dengan tenang?
"Aku tidak berpikir untuk menghancurkan perusahaan Affandi. Kupikir, aku juga tidak memiliki kemampuan sehebat itu. Kakek yang telah mendirikan perusahaan Affandi, selama puluhan tahun sudah menjadi merek yang baik di industri ini, hingga berubah menjadi seperti ini. Apa kamu tidak pernah memikirkannya?" Naura tidak begitu mengerti dengan bisnis. Namun, mengenai kondisi perusahaan Affandi secara garis besar, dia mengetahuinya.
Saat itu, Kakek Affandi berusaha mendirikan perusahaan Affandi, dia selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk kesejahteraan orang-orang. Kemampuan berbisnisnya memang tidak terlalu baik, namun demi orang lain dia berusaha melakukannya, dan karakternya yang juga sedikit keras kepala.
Sampai pada akhirnya, kakek Affandi menyerahkan perusahaan Affandi kepada Fajar Affandi.
Beberapa tahun awal, Fajar juga hanya menghasilkan produk seperti biasanya. Namun, beberapa tahun ini, perlahan-lahan mulai membengkak dan mulai memalsukan produk.
Hingga beberapa saat yang lalu terjadi kebocoran rencana, muncul masalah pada modal perusahaan, kemudian ditambah lagi dengan masalah pabrik gelap perusahaan Affandi, dan perusahaan Affandi mulai memasuki keadaan kritis.
"Dasar licik!" Marsha tidak menganggap ucapan Naura. "Kamu harus ikut aku untuk bicara dihadapan ayah!"
"Ayo ikut!!"
Sebenarnya, Naura tidak ingin melihat perusahaan Affandi hancur seperti ini. Banyak karyawan diperusahaan Affandi yang sudah bekerja disini sejak kepemimpinan kakek Affandi. Bekerja di perusahaan selama setengah hidup, mereka memiliki perasaan yang mendalam pada perusahaan Affandi.
Naura merasa dirinya bukanlah orang suci. Jika dibicarakan melalui sisi dendamnya, jika perusahaan Affandi bangkrut, mungkin saja dia akan merasa senang.
Namun, perasaan senang dalam hatinya itu hanyalah sesaat.
Jika perusahaan Affandi bangkrut, pasti banyak karyawan yang akan kehilangan pekerjaan. Dengan ini, dia mengetahui bagaimana akhirnya.
__ADS_1
Dia tidak bisa menulikan telinganya dan berpura-pura tidak mengetahuinya.
Aaron Daffa adalah bos besar dari perusahaan AD Entertainment. Masalah Kairav Robinson, pasti itu juga rencananya.
Aaron demi memaksa kakek Affandi kembali, diam-diam dia melakukan tindakan. Jika kakek Affandi masih tidak kembali, mungkin saja dia benar-benar akan menghancurkan perusahaan Affandi.
Seorang pria kebal, berusia dua puluh enam tahun yang menjadi kepala di dunia hiburan, bagaimana bisa Fajar menjadi tandingannya?
……
"Ayah, ini Naura sudah datang!"
Marsha menarik paksa Naura pergi ke ruangan kantor Fajar Affandi.
"Naura, kemarin kamu pergi menemui Kairav Robinson, apa yang kalian bicarakan? Kenapa bisa menjadi seperti ini?" Fajar bangkir dari balik meja kerjanya.
Naura menggelengkan kepala. "Tidak membicarakan apapun."
"Tidak membicarakan apapun? Tapi kenapa bisa menjadi seperti ini?" Marsha memandang remeh pada Naura. "Kamu pasti telah mengatakan sesuatu pada Kairav, kamu telah memancingnya, sampai berita di internet itu dengan jelas mengatakan jika orang-orang membeli daftar itu ditulis oleh seorang blogger."
"Lalu, saat itu bagaimana kamu membujuk Kairav? Apa dia mengatakan akan menandatangani persetujuan kerjasama dengan perusahaan Affandi? Pakai otakmy untuk pikir baik-baik! Dia memiliki posisi yang sangat penting. Kenapa ingin menyetujui kerjasama dengan perusahaan Affandi?"
Naura sangat yakin, kalau masalah ini ada hubungannya dengan Aaron. Tidak perlu curiga, ini pasti rencana yang sudah disiapkan.
"Cih! Setiap orang memiliki hati yang baik. Walupun Kairav memiliki posisi yang tinggi, tapi dia juga seorang pria." Maksud dari ucapan Marsha ini adalah Kairav menyukainya, maka dia menyetujui kerjasama dengan perusahaan Affandi.
Jangankan Naura, bahkan Fajar pun tidak mempercayainya.
Fajar mengibaskan tangannya. "Marsha, saat itu apa yang dikatakan Kairav padamu?"
"Dia...memujiku. Katanya aku sangat berkharisma, kemudian mengatakan akam mencobanya." Ucap Marsha, wajahnya telah merona.
Naura tersenyum mengejek. Marsha menyukai Kairav?
Saat itu, bukankah kamu mengatakan jika Kairav sudah setuju akan menandatangani kerjasama dengan perusahaan kita?" Fajar mengejutkan alisnya dalam, suaranya terdengar sedikit berat.
Sekarang, Marsha merasa sedikit mengesal. Karenanya hingga membuat Naura pergi membahas kerjasama. Yang terpenting adalah Kairav Robinson telah tertarik padanya. Dia tidak boleh terlihat terlalu bersemangat, harus sedikit mengabaikan Kairav Robinson dan menunggu pria itu yang mencarinya sendiri. "Kupikir, ini sudah cukup. Jika aku tau akan terjadi masalah seperti ini, di keesokan harinya aku pasti akan pergi sendiri menemuinya untuk menandatangani....."
Melihat raut wajah Fajar yang semakin menyeramkan, Marsha tidak berani lagi mengeluarkan suaranya.
Menurutnya, semua masalah ini karena perbuatan Kairav Robinson!
__ADS_1
...----------------...