Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#136


__ADS_3

Naura mengerutkan kening dan menatap dingin wanita gemuk itu. "Ada anak-anak disini, tolong bicara dengan baik."


"Apa maksudmu? Kamu memarahiku?" Wanita gemuk itu mendekat ke Naura, tampak agresif seperti ingin melompat dan menampar Naura.


Melihat situasi seperti itu, guru wali kelas dengan cepat menahannya. "Ibu Sean Tandi, tolong tenang."


Salah satu anak yang berkelahi dengan Samuel bernama Sean Tandi. Wanita gemuk ini adalah ibu dari Sean Tandi.


Ibunya saja begitu tidak masuk akal, apalagi anaknya?


Ini bukan maksud dari Naura. Tetapi sebagian besar anak-anak akan terpengaruh oleh kata-kata dan perbuatan orang tua mereka.


"Aku tenang? Lihat anakku!" Wanita gemuk itu melepaskan diri dari guru wali kelas dan berjalan mendekati Sean Tandi lalu menariknya ke depan, menunjuk luka diwajahnya dan berkata. "Jika putramu terluka seperti ini, bisakah kamu tenang?!"


Wanita gemuk itu meremas lengan anaknya, Sean Tandi dan terlihat sangat kuat.


Naura melihat dengan jelas Sean Tandi kesakitan, tetapi tidak bersuara.


Wanita yang mengancam seperti ini, guru wali kelas jelas tidak bisa menyangkalnya. Dia mundur dua langkah ke belakang. Mendorong kacamatanya dan berkata. "Aku...aku belum menikah..."


Wanita gemuk itu berteriak. "Apa?! Ibu, kamu terlihat lebih dari tiga puluh tahun, tapi kamu belum menikah?!"


Mendengar itu, wajah guru wali kelas berubah menjadi tidak senang, kemudian dia berkata. "Karena Samuel tidak ingin mengatakannya, biarkan Sean yang menceritakan tentang situasi saat itu."


Mendengar namanya disebut, Sean mengangkat kepalanya dan melirik ke arah Samuel.


Samuel mengangkat alisnya dan membuang pandangannya.


Sean Tandi menggelengkan kepalanya dan menundukkan kepalanya, lalu dengan suara yang tidak jelas berkata. "Kami tadi hanya becanda saja dengan Samuel, kemudian dia mulai memukuli kami."


"Becanda?" Samuel memiringkan kepalanya untuk melihat Sean Tandi, lalu kembali berkata. "Kamu becanda dengan kata-kata seperti itu? Kamu percaya atau tidak, kamu akan aku pukul lagi, jika kamu mengatakan itu lagi?"


Setelah berbicara, sepertinya Samuel merasa tidak cukup puas. Dia menggertakkan giginya dan menambahkan lagi. "Aku akan pukul sampai kamu setengah mampus!"


Seketika wajah Naura berubah, dan berkata dengan dingin. "Samuel!"


Samuel menoleh menatap Naura. "kak Naura, aku tidak ada salah disini. Kalau dia berani mengatakannya lagi, aku juga berani memukulnya lagi. Lagipula, kakak sepupuku akan membantuku."


Wajah Naura makin dingin. "Diam!"


Meskipun Naura tidak selalu membiarkan wajahnya tetap dingin seperti Aaron, tetapi ketika dia sedang marah memang terlihat cukup menakutkan. Membuat Samuel menundukkan kepalanya dan berhenti bicara. Tetapi, dia menoleh ke samping, tidak mau melihat Naura. Jelas dia tidak merasa senang.


Ada banyak orang disini, ini bukan waktu yang tepat untuk memarahi dan mengajar Samuel.


Ketika seseorang datang mencari masalah, tentu saja tidak bisa dibiarkan begitu saja.


Namun, pemikiran Samuel ada yang salah. Dia baru berusia 14 tahun, tetapi sekali dia berbicara, berkataan yang mengerikan keluar dari mulutnya. Bahkan dia mengatakan bahwa Aaron akan membantunya.


Pemikiran seperti itu, jelas tidak boleh!


Sean Tandi merasa Naura dapat menahan Samuel, keberanian menjadi sedikit meningkat.


Dia mendengus dan berkata, "Aku mengatakan yang sebenarnya! Waktu itu, ketika Nyonya Ardinata diculik tidak jauh dari pabrik tua dekat rumah kami, seseorang melihat bahwa dia diperkosa oleh sekelompok orang! Hanya saja, orang-orang yang tau ini disogok oleh keluarga Ardinata dan tidak ada yang berani mengatakan itu! Kami mengatakan itu tidak ada urusannya dengan kamu! Kamu bangsat memukuli kami karena hal seperti itu...Ah!"


Sebelum Sean Tandi menyelesaikan ucapannya, seluruh orang menjerit.


Ketika Naura mendengar nama "Nyonya Ardinata", dia sedikit terkejut dan tidak memperhatikan reaksi Samuel.

__ADS_1


Pada saat dia melihatnya, Samuel sudah menarik pakaian Sean Tandi dan memberikan tinjunya di wajah Sean Tandi.


Samuel berkata dengan keras. "Kamu katakan sekali lagi, aku akan memukulimu lagi!"


"Samuel, hentikan!" Naura bergegas menarik Samuel.


Meskipun Samuel masih seorang anak remaja, dia juga suka berolahraga. Kekuatannya tidak kecil, membuat Naura tidak bisa menahannya.


Naura melepaskannya dan berkata dengan tenang. "Jika kamu memukulnya lagi, kakak sepupumu akan datang."


Mendengar itu, seketika Samuel langsung berhenti.


Ibu Sean Tandi berlari untuk memeluk Sean Tandi dan menangis dengan ingus dan airmata. "Sudah ku katakan kalau anak ini memang brengsek!"


Samuel mendengar makiannya, kemudian ingin bergegas kesana, tapi Naura dengan cepat menariknya.


Naura mengambil uang dari dompetnya dan langsung melemparkan uang itu ke sofa. "Ini biaya pengobatan untuk Sean!"


Sean Tandi masih mampu bergerak, tubuhnya hanya mengalami luka kecil dan berdarah, tetapi tidak sampai ke tulangnya. Biaya pengobatan yang berikan Naura sebanyak empat juta sudah cukup.


Namun, tentu Ibu Sean Tandi merasa tidak terima. "Kamu memberi kamu uang makan ya?!"


Naura tidak ingin berbicara dengannya lagi, kemudian berkata dengan dingin. "Jika kamu merasa tidak puas, kamu boleh menuntut kami!"


Wanita gemuk itu jelas langsung kaget. Tapi, dia justru malah menggertak. "Kamu pikir, aku tidak berani?!"


"Kalau begitu, aku akan tunggu!"


Selesai berbicara, Naura menarik Samuel keluar tanpa menoleh kembali.


……


Semua luka kecil di wajahnya ditutupi dengan plester.


Setelah ditempel, Samuel menoleh dan bertanya pada Naura. "Kak Naura, apa kamu punya cermin?"


"Kenapa?" Tanya Naura lalu mengeluarkan cermin rias kecilnya dari tas dan memberikannya pada Samuel.


Samuel mengambilnya dan melihat wajahnya dari kiri ke kanan, kemudian mengangguk dan berkata dengan penuh percaya diri. "Aku terlihat lumayan keren!"


Naura menatapnya dengan ekspresi menangis tersenyum dan berdiri. "Ayo pergi."


Samuel mengikuti dari belakang sambil memasukkan cermin kecil itu ke dalam tas Naura, lalu bertanya. "Kamu bilang kakak sepupu juga datang? Kapan dia datang? Dimana dia?"


Naura berjalan dengan tangan terlipat. "Sementara, dia tidak akan datang."


Samuel menghela napas. "Oh."


"Nyonya Ardinata yang Sean katakan....." Naura mengerutkan bibirnya dan diam beberapa detik sebelum melanjutkan. "Apakah dia ibunya Aaron?"


Ketika peristiwa itu terjadi, Naura baru berusia sekitar enam atau tujuh tahun. Meskipun penculikan Nyonya Ardinata adalah kasus yang besar, itu tidak ada hubungannya dengan seorang gadis kecil. Hal paling dia pikiran saat itu, mungkin ketika Merlin akan memeberikan dia sebuah rok bunga.


Dia samar-samar mendengar para pelayan di rumah membicarakannya, tetapi tidak menyebutkan apa yang sebenarnya terjadi.


Samuel mengangguk dan menjawab dengan pelan. "Iya."


Keduanya tidak berbicara lagi dalam beberapa waktu.

__ADS_1


Setelah bertahun-tahun, ini adalah pertama kalinya Naura mendengar hal ini, tapi dengan cara yang seperti ini.


Jika itu benar.....


Tiba-tiba, ponsel Naura berdering.


Dia mengambilnya dan melihat ternyata Aaron meneleponnya.


Samuel juga melihat nama Aaron di layar ponsel Naura, wajahnya seketika berubah. "Jangan katakan ini pada kakak sepupu. Aku dengar dari ibuku, hubungan kakak sepupu dengan bibi sangat baik."


Ibu Samuel adalah adik dari ayah Aaron, dan ibu Aaron adalah bibi Samuel.


Naura mengangguk. "Aku tau."


Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum menjawab telepon dari Aaron.


Dan kalimat pertama yang diucapkan Aaron: "Ada masalah apa?"


Ini terdengar seperti, Naura tidak akan mencarinya jika Naura baik-baik saja.


Naura berpikir sebentar, kedengarannya itu memang benar.


Biasanya, dia tidak akan menelepon Aaron jika tidak ada masalah.


"Tidak ada apa-apa." Jawab Naura kemudian bertanya. "Apa kamu sedang sibuk dengan pekerjaanmu?"


Aaron tidak mudah untuk dibodohi. Dia tidak percaya dengan kata-kata Naura. "Kamu menelponku ketika tidak ada masalah?"


Naura melemparkan pertanyaan lagi. "Jadi, apakah maksudmu kalau tidak ada masalah tidak bisa meneleponmu?"


Mereka saling diam selama beberapa detik sebelum Aaron lanjut berkata. "Jadi, kamu menelepon untuk memeriksa keadaan?"


Naura tidak bereaksi untuk beberapa waktu. "Apa itu memeriksa keadaan?"


Aaron menjawab: "Tidak ada. Kalau kamu tidak ada kerjaan, kamu bisa meneleponku sebanyak-banyaknya."


"Pfff..." Samuel yang mendengar pembicaraan mereka, tidak bisa menahan tawa.


Naura berbalik dan menatap Samuel. Meskipun tatapannya tidak mengerikan, Samuel langsung membuat gerakan menutup resleting dimulutnya.


Aaron mendengar suara Samuel. "Apa kamu sedang bersama Samuel kecil?"


Naura panik dan menjawab. "Iya. Hari ini, aku pulang kerja lebih awal, jadi aku datang menjemput Samuel dan berencana untuk pulang bersama Samuel."


"Kamu bisa pulang kerja lebih awal, Samuel kecil juga boleh meninggalkan sekolah lebih awal?"


Tampaknya memang tidak bisa.....


Samuel menatap Naura dengan jijik, lalu mengambil ponselnya tanpa mengubah wajahnya dan berbohong. "Jam pelajaran terakhirku adalah olahraga, tidak masalah jika aku tidak hadir."


Untungnya, Aaron tidak bertanya lebih banyak lagi. "Aku akan menyuruh Ivan untuk menjemput kalian."


"Tidak perlu, kita naik taksi saja." Naura sudah berbicara ketika dia belum sepenuhnya sadar.


Maksud Aaron adalah membiarkan Ivan menjemput dia dan Samuel pulang ke rumah. Tetapi, Naura mengira akan diantar pergi ke perusahaan AD Entertainment untuk menemui Aaron.


Aaron terdiam sebentar, kemudian berkata dengan nada yang meragukan. "Lebih baik, tetap menjemput kalian saja."

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2