Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#24


__ADS_3

Selesai memasak beberapa hidangan yang disebutkan oleh 'Samuel' tadi, Naura mendengar suara mesin mobil yang datang.


Apa Aaron sudah pulang?


Tanyanya dalam hati.


Kalau dia keluar dari dapur sekarang, apa dia bisa langsung bertemu dengan Aaron?


Hati Naura pun merasa tegang saat memikirkan ini. Dia melepaskan apronnya dan menggantungnya kembali ditempat semula.


Dia keluar dari dapur hanya melihat Ivan saja dengan membawa setumpuk dokumen ditangannya berjalan masuk.


Ivan menghentikan langkahnya ketika melihat Naura. Dia terpaku menatap Naura dengan mengerutkan keningnya. "Nyonya Muda." Sapa Ivan dengan hormat.


Naura hanya mengangguk dan sedikit tersenyum. "Apa Aaron sudah pulang?"


"Tuan Muda, sudah naik keatas." Jawab Ivan yang sudah terbiasa membatu Aaron berbohong.


Naura sedikit terkejut, tapi dia tidak berpikir banyak. "Dia pasti belum makan kan? Aku sudah memasak untuknya."


"Kalau begitu aku antar dokumen dulu ke ruang kerja Tuan Muda sekalian menanyakan mau turun kebawah untuk makan atau mau diantar ke atas?" Ucap Ivan dengan ramah.


"Kalau begitu, terimakasih." Ucap Naura juga dengan tersenyum ramah.


Ivan pun naik keatas masuk ke ruang kerja Aaron. Dia melihat Aaron sedang berbicara dengan orang melalui poselnya.


Tidak perlu menoleh, Aaron sudah tau kalau yang membuka pintu dan masuk kedalam ruang kerjanya adalah Ivan.


Setelah Aaron selesai menelpon, Ivan juga baru saja selesai menata semua dokumen yang dibawanya diatas meja kerja Aaron.


Melihat Ivan masih berdiri diam dan tidak pergi, Aaron mengernyitkan keningnya menatap Ivan. "Masih ada urusan lain?"


"Nyonya Muda memasak untukmu." Jawab Ivan.


Aaron terdiam sepersekian detik baru dia merespon. "Oh, oke." Ucapnya dengan datar.

__ADS_1


Ivan merasa, sejak Nyonya Muda tinggal dirumah ini, sikap Tuan Mudanya ini semakin aneh.


Dilantai bawah, Naura masih menunggu Ivan yang belum juga turun. Dia pun beranjak naik keatas.


Ketika ingin menaiki tangga, Naura melihat keatas ada 'Samuel' yang berjalan menuruni tangga. Dia dengan waspada melangkah mundur dan bertanya. "Bukannya kamu bilang malam ini mau pergi ke pesta makan?"


"Iya." Jawab Aaron sambil terus berjalan melewati Naura menuju ruang makan.


Aroma sedap makanan yang telah tertata diatas meja makan hasil masakan Naura begitu menggugah selera. Selain dua hidangan yang Aaron sebutkan tadi, Naura juga masih membuat ayam goreng.


Naura mengerutkan alisnya dan berjalan mengikuti 'Samuel'. "Lalu kenapa kamu masih belum pergi?"


Aaron menatap Naura dengan datar. "Apa tadi aku ada bilang mau pergi?"


Naura mendengus. Dia merasa kalau 'Samuel' sedang mempermainkannya.


Sebenarnya siang tadi saat datang dan makan dirumah keluarga Affandi, Aaron hanya makan sedikit. Jadi, dia masih merasa lapar dan sekarang sudah kelaparan. Dia duduk dikursi makan, mengambil pisau dan garpu untuk memakan beef steak yang telah tersaji dihadapannya.


Naura dengan kesal mendekatinya ingin merebut pisau dan garpu yang dipegang 'Samuel'. "Aku masak semua ini bukan untuk kamu!"


Aaron sudah menebak gerakan Naura yang ingin merebut pisau dan garpu ditangannya. Dengan cepat dia menaikkan tangannya menghindari tangan Naura yang ingin merebutnya. Alhasil tangan Naura meleset menangkap udara dan tubuh kecilnya terhuyung lalu jatuh dipangkuan 'Samuel'.


'Samuel' menyeringai menatap Naura. "Wah, kakak sepupuku ada dirumah dan kamu berani duduk dipangkuanku, memelukku seperti ini. Apa kamu mau melihat kami bertengkar?"


Seketika Naura melepaskan pelukannya dileher 'Samuel' dan ingin bangkit berdiri. Tapi, 'Samuel' malah memeluk pinggang rampingnya dan menahannya untuk tetap duduk di pangkuannya.


Dengan Naura yang masih duduk dipangkuan 'Samuel' dan terlihat jarak mereka sangat dekat seolah ingin berciuman. Kalau ada orang lain melihat, apa tanggapan mereka?


Naura berusaha ingin berdiri melepaskan diri. Disaat itu, Ivan berjalan keruang makan ingin memberitau. "Tuan Muda bilang ....."


Ivan tampak terkejut melihat pemandangan didepan matanya ini. Tapi, dengan segera dia merubah ekspresinya menjadi tenang. "Tuan Muda bilang kalau dia tidak lapar."


Ivan pun segera berbalik dan pergi meninggalkan ruang makan.


"Apa yang barusan aku lihat?" Gumamnya dengan suara sangat pelan sambil memperlambat langkahnya.

__ADS_1


Ivan melihat Tuan Mudanya dengan Nyonya sedang bermesaraan diruang makan. Tapi, baru saja dia membuat kebohongan mengatakan kalau Tuan Mudanya tidak lapar.


Ini sangat tidak benar. Tuan Mudanya saat ini sedang berpura-pura menjadi 'Samuel'. Apa reaksi terkejutnya barusan terlihat terlalu datar?


Apa perlu Ivan kembali lagi masuk keruang makan? Ah, sudahlah! Ivan tidak berani kembali dan mengganggu Tuan Mudanya.


Naura yang masih berada diatas pangkuan 'Samuel' terbelalak saat melihat Ivan masuk kemudian dengan cepat pergi lagi. Ada kepanikan dalam hatinya.


Aaron kembali menyeringai merasa senang menatap Naura yang raut wajahnya berubah. "Coba kamu tebak. Apa Ivan akan memberitau kakak sepupuku tentang apa yang terjadi dengan kita berdua ini?"


Dengan wajah marah Naura langsung membantahnya. "Kita berdua tidak melakukan apa-apa!"


Naura memberontak berusaha melepaskan diri dari 'Samuel'. Tapi, 'Samuel' tidak mau melepaskannya. Padahal, 'Samuel' tidak mengeluarkan banyak tenaga menahan tubuh kecil Naura. Tapi, Naura masih belum bisa melepaskan diri darinya.


Naura semakin marah dan telinganya terlihat menjadi merah. "'Sam'! Lepas! Kamu sangat keterlaluan!"


Aaron merasa aneh saat melihat raut wajah Naura yang tidak berubah merah karena marah, sedangkan telinga Naura terlihat merah. Dia mendekatkan wajahnya, menyipitkan matanya memperhatikan wajah Naura seperti diolesi sesuatu.


Merasa penasaran, Aaron menyentuh wajah Naura sedikit dia tekan dengan jari tangannya. Dia terbengong mendapati bagian wajah Naura yang berubah menjadi putih saat dia sentuh. Apa ini?


Naura pun mengambil kesempatan ini untuk segera melepaskan diri dari 'Samuel' dan berdiri melangkah mundur menjauhi 'Samuel' sambil menutupi sisi wajahnya yang baru saja disentuh oleh dia.


Seketika, Aaron tersadar dari lamunannya. Dia menundukkan kepalanya dan melihat jari tangannya. Ada seperti cream berwarna coklat gelap yang menempel.


Aaron berdiri dan melangkah mendekati Naura. Langkahnya sangat pelan sambil terus menatap Naura.


Naura terlihat panik dan ketakutan ditatap seperti itu oleh 'Samuel'.


Saat Aaron berjalan maju selangkah, Naura berjalan mundur selangkah. Hingga punggungnya membentur tembok langkahnya pun terhenti.


Aaron menatapnya dengan sorot mata yang berubah dingin dan menakutkan bagi Naura. "Apa ini?" Tanya Aaron sambil mengangkat jarinya dan menunjukkan pada Naura.


Untuk menutupi wajah ketakutannya dan takut ketahuan, Naura menjawab dengan mengeraskan volume suaranya. "Ini kosmetik yang dipakai perempuan! Apa kamu tidak tau?"


Tentu saja Aaron tidak akan percaya dengan jawaban Naura ini.

__ADS_1


Dia menatap tajam Naura dan tersenyum sinis. "Apa kalian para wanita suka memakai cream dengan warna gelap seperti ini?"


...__________...


__ADS_2