Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#141


__ADS_3

Christian mengantar Samuel pulang ke rumah, baru ke AD Entertainment.


Begitu sampai, dia langsung pergi ke kantor CEO.


Aaron sedang duduk di kursinya mengurus dokumen, Christian masuk ke ruangannya dan duduk. "Kamu tidak ingin tau bagaimana urusannya?"


"Toh, bukan Samuel kecil yang melakukan. Tidak ada bukti, mereka tidak bisa bertindak apapun terhadap Samuel kecil." Selesai Aaron berbicara, baru perlahan. mengangkat kepala. Sepasang matanya terlihat tenang.


Christian terdiam beberapa saat, kemudian berkata. "Masalah ini, apa kamu yang melakukan?"


Aaron menyipitkan mata. "Masalah apa?"


"Kamu sangat tau masalah apa yang aku maksud!" Christian menghela nafas. "Aaron, bukan hanya aku yang mencurigaimu. Aku rasa, Naura juga mencurigaimu."


Aaron menjawab tanpa ada keraguan. "Aku tidak melakukannya."


"Benarkah?" Christian terlihat jelas tidak percaya.


Meskipun raut wajah Aaron datar tidak ada bedanya dengan orang pada umumnya, tapi Christian sudah lama mengenal bagaimana Aaron. Dia sangat jelas, kasus ibu Aaron sangat mempengaruhi Aaron.


Meskipun Aaron mengatakan tidak, Christian juga tidak banyak bertanya.


……


Naura kembali ke kantor, bertemu dengan Marsha.


"Heh! Ayah tidak ada di kantor, terus kamu kira tidak ada yang mengatur? Ingin datang tinggal datang, dan ingin pergi tinggal pergi begitu saja? Tidak bisa bekerja dengan tenang!"


Marsha tidak melihat Naura, dan nada bicaranya terdengar aneh.


Naura tertawa. "Kalau tidak, apa kamu yang mengurus aku?"


"Kamu...." Marsha berdehem, dan tidak bisa berkata-kata lagi.


Dalam hati, semakin Naura memikirkan, semakin merasa tidak benar.


Dia terus kepikiran dan merasa, kasus ini ada hubungannya dengan Aaron.


Sean Tandi bisa tau masalah ibu Aaron, ayah Sean mungkin adalah orang yang mengetahui para penculik saat itu.


Selang beberapa hari, polisi kembali mencari Samuel. Dan kali ini, tetap Naura yang menemani Samuel pergi.


Polisi masih belum ada bukti baru, hanya menanyakan beberapa pertanyaan.


Setelah keluar dari kantor polisi, Naura menerima telepon dari Evelyn. "Sudah lama tidak bertemu, malam ini nonton bioskop, yuk."


Naura tidak menolak, langsung menentukan tempat untuk bertemu dengan Evelyn.


Evelyn sibuk bekerja, Naura ada urusan atau tidak, tidak berani sembarang mencari dia, takut mengganggunya. Hanya kalau dia ada atau tidak ada urusan, mengajak Naura makan bersama atau berbelanja bersama.

__ADS_1


……


Mereka berdua makan di Mall. Setelah makan,langsung pergi nonton bioskop.


Sebelum masuk ke ruang bioskop, tiba-tiba Evelyn berkata. "Aaron adalah bos besar perusahaan AD Entertainment, kamu tau kan?"


Sebenarnya, hari itu setelah dia keluar dari ruangan kantor Aaron, dia langsung ingin menelpon Naura. Tapi, karena tiba-tiba ada urusan yang mendadak, dia jadi lupa.


Naura mengangguk. "Iya, tau."


"Kapan kamu tau? Hal sebesar seperti ini, kamu tidak memberitahu aku?!" Evelyn menepuk pundaknya.


Naura teringat suasana hatinya saat itu, seketika raut wajahnya berubah. "Tidak terpikir untuk memberitahu kamu."


"Baiklah, kira nonton bioskop dulu." Evelyn juga tidak bicara banyak lagi dengannya dan bergegas masuk ke ruang bioskop dengannya.


Mungkin, karena mengungkit tentang Aaron, saat menonton bioskop Naura tidak konsentrasi.


Saat film hampir selesai, dia menerima telepon dari Aaron.


"Jam berapa pulang? Aku jemput kamu."


Awalnya, Naura ingin menolak. Tapi setelah berpikir beberapa saat, dia menjawab. "Sudah mau pulang, kamu kesini saja."


Selesai menonton dan keluar dari ruangan bioskop, Evelyn mau mengantar dia pulang.


Evelyn juga ikut tertawa. Dia mendekati Naura dan berkata. "Rupanya, sekarang kamu sudah mau membiarkan Aaron menjemputmu ya. Jujur katakan padaku, kalian sudah sampai tahap mana?"


"Cepat pergi sana!" Naura mendorong Evelyn.


"Apa kalian sudah......"


Naura tidak berdaya. "Iya iya iya. Cepat pergi sana!"


Evelyn melangkahkan kaki mau pergi, Aaron datang.


Aaron mengendarai mobil sport mewahnya yang dipesan khusus dengan harga ratusan milyar, berhenti di depan Mall, menjadi pusat perhatian banyak orang.


Naura segera membuka pintu mobil dan naik, lalu berkata kepadanya. "Cepat jalan."


Aaron tidak langsung melajukan mobil, melainkan memiringkan badan membantu Naura memakai sabuk pengaman, kemudian satu tangannya memegang kursi belakang Naura, satu tangannya lagi memegang pintu mobil dengan posisi yang sangat dekat. "Raut wajahmu tidak bagus, Evelyn mengajakmu menonton film apa?"


Naura memundurkan kepala dan menjawab. "Film fantasi."


"Apa kisahnya sangat tragis?"


"Tidak...."


"Kalau begitu, kenapa raut wajahmu buruk seperti ini?" Aaron bertanya dan mengulurkan tangan menyentuh wajahnya.

__ADS_1


Naura dengan sadar langsung mengalihkan wajahnya membuat tangan Aaron tidak sampai menyentuh wajahnya dan terhenti di udara.


Di wajahnya tidak tampak ekspresi canggung. Tapi sebaliknya, malah membuat orang merasa ketakutan. Hal ini membuat Naura merasa sangat tidak nyaman.


Syaraf yang menegang selama beberapa hari ini, saat ini rasanya seperti putus.


Raut wajah Naura putus asa. "Ayah Sean Tandi meninggal, apa ada hubungannya denganmu?"


Aaron mengangkat matanya. Bola matanya yang hitam menatapnya sangat dalam. "Kamu masih menebak apa lagi?"


"Apa kamu ini sedang mengaku?" Suara Naura sedikit bergetar dan dengan tidak percaya menatap Aaron.


Dia benar-benar tidak terlalu mengenal Aaron.


Meskipun dari kecil hingga dewasa hidupnya tidak baik, tapi tindakannya yang dengan sembarang mempermainkan hidup orang lain, tidak bisa diterima begitu saja.


Ketiga orang penculik yang saat itu menculik Naura, meskipun bisa kabur, tapi begitu tertangkap polisi, polisi juga akan menembak mereka. Jadi, respon Naura tidak sampai seperti ini.


Tapi kali ini, Aaron dengan sangat cepat meminta orang untuk menghabisi ayah Sean Tandi, membuat Naura merasa ketakutan.


"Sudah seharusnya dia mari." Sudut bibir Aaron terangkat, senyumnya terlihat kejam. "Orang-orang itu patut mati, Jefri Tandi bukan orang yang terakhir."


jefri Tandi adalah ayah dari Sean Tandi.


"Kamu sangat pintar, kamu bisa menemukan pembunuhnya dan serahkan saja mereka ke polisi....." Naura sedikit takut dengan Aaron yang seperti ini, tapi masih dengan berani membujuknya.


Senyum di wajah Aaron makin dalam. Wajah tampan yang terkena sinar cahaya lampu di luar terlihat asing. "Aku pintar? Tapi sudah berlalu selama 15 tahun aku masih belum menemukan pembunuhnya. Jadi, setiap aku menemukan orang yang berhubungan, aku akan langsung menghabisi orang itu."


Tanpa sadar, Naura mengepalkan kedua tangannya.


Aaron mendekat beberapa senti, dengan lembut menyentuh wajahnya, dan berbicara ditelinganya. "Kalau kamu tidak setuju dengan yang aku lakukan, kamu boleh lapor polisi."


Seketika, tubuh Naura menjadi kaku. Dia menggigit bibir tidak berbicara. Hanya saling bertatapan dengan Aaron.


Meskipun dia tidak setuju dengan apa yang dilakukan oleh Aaron, tapi Aaron tau dengan jelas Naura tidak akan lapor polisi.


Aaron dalam menghadapi kasus ibunya, sudah bertindak terlampau jauh.


Kalau saja polisi menangkap Aaron, dia berani memastikan. Meskipun Aaron Aaron meringkuk di dalam penjara, dia masih punya cara untuk membunuh orang yang berhubungan dengan kasus ibunua.


Karena Aaron punya kemampuan ini!


Tiba-tiba, raut wajah Aaron berubah. "Ini masih di monilr, jangan menatapku seperti itu."


Aaron benar-benar sangat menyukai kedua mata Naura yang bersinar dan menggoda.


Naura segera mengalihkan pandangannya, lalu membalikkan kepala melihat sekeliling.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2