
Saat mereka berdua turun ke lantai bawah, Samuel sedang membawa tas sekolah berdiri di ruang tamu dengan raut wajah yang serius menatap mereka.
Dia menggelengkan kepala dan berkata, "Kalian berdua, akhir-akhir ini makin lama makin keterlaluan. Awalnya kak Naura yang bangun kesiangan, kemudian sekarang kalian berdua sama-sama bangun kesiangan?"
Naura merasa bersalah, dan hanya bisa tersenyum, tidak mengatakan apa-apa.
Sedangkan Aaron dengan tatapan matanya yang dingin melihat sekilas Samuel, lalu dengan segera membalikkan badan pergi keluar sambil berkata, "Cuaca makin hari makin dingin, semuanya ingin bangun siang, ini sangat normal."
……
Naura pergi ke perusahaan Affandi mendapati hari ini Fajar dan Marsha tidak datang.
Saat siang hari, Naura menerima telepon dari Merlin.
"Naura, kakekmu sudah kembali. Siang ini kamu pulang dan makan bersama dirumah ya."
"Baik." Naura langsung mengiyakan.
Dia terhadap kakek Affandi tidak ada kesan. Dalam ingatannya, kakek Affandi seorang yang baik hati. Kalau dibandingkan dengan anggota keluarga lain, sikap kakek Affandi terhadap Naura termasuk baik.
Tapi waktu itu, karena kesibukan pekerjaan kakek Affandi, juga di rumah masih ada Marsha dan kakak laki-lakinya, perhatian kakek Affandi terhadap Naura juga tidak banyak.
Naura menyimpan ponselnya lalu keluar. Dari pintu perusahaan, dia melihat Aaron sedang berdiri bersandar pada mobil. Tubuhnya tinggi dan tegap.
Naura berlari kecil menghampiri lalu bertanya. "Untuk apa kamu datang kesini?"
"Apa anggota keluarga Affandi menelepon dan memintamu pulang untuk makan siang dirumah?"
"Iya."
"Kalau begitu aku pergi denganmu."
Selesai berbicara, Aaron membuka pintu mobil dan mendorong pelan Naura masuk ke dalam mobil.
Dalam perjalanan, diam-diam Naura menolehkan kepala untuk mencuri pandang pada Aaron.
Aaron hanya menatap lurus kedepan, fokus menyetir.
Tapi, sepertinya dia memiliki mata diatas kepalanya karena tiba-tiba bertanya. "Kenapa menatapku?"
"Tidak...." Dengan cepat Naura memalingkan kepalanya.
Dia merasa Aaron adalah seseorang yang sangat hebat.
Setelah kakek Affandi kembali ke negara ini, keluarga Affandi bisa saja menelepon Naura dan meminta untuk datang makan bersama. Tapi juga tidak harus siang hari ini, bukan?
Apalagi kalau mereka hanya menduga, bukankah seharusnya mereka menelepon untuk meminta persetujuannya?
Sedangkan Aaron langsung datang menjemputnya, menandakan bahwa dia tidak memiliki rasa ragu sedikitpun dan dia juga tidak merasa dugaannya akan salah.
Dia benar-benar seseorang yang sangat percaya diri.
Tak lama, mereka berdua sampai di kediaman Affandi.
Ketika para pelayan penjaga pintu melihat Naura, mereka membungkuk dengan hormat dan menyapa. "Nona Naura."
Naura langsung menuntun Aaron masuk ke dalam.
__ADS_1
Tidak ada siapapun di ruang tamu, namun terdengar suara dari arah dapur.
"Naura, kamu sudah datang!"
Merlin keluar dari dapur dan begitu melihat Naura, matanya menyipit karena tersenyum.
Naura menyapa. "Ibu."
Setelah berjalan mendekat, Merlin baru melihat Aaron yang berdiri dibelakang Naura. Perawakan pria itu terlihat sudah banyak berubah.
Merlin melirik Aaron, lalu menarik Naura dengan keras dan berjalan menjauh ke tepi. "Naura, kenapa kamu membawanya pulang? Apa yang kamu lakukan? Kamu dan dia....."
Merlin berhenti bicara sebentar karena dia merasa ucapan berikutnya sulit untuk diucapkan. Kemudian dia berbicara lagi. "Meskipun kamu memiliki hubungan yang tidak biasa dengannya, tapi kamu juga tidak bisa seenaknya membawanya pulang! Bagaimana kalau Aaron tau?!"
Bagaimana kalau Aaron tau? Batin Naura.
Entahlah, lagipula pria itu sendiri yang ingin ikut dengannya.
"Mau bagaimana lagi? Kalau Aaron tau ya tau saja!" Jawab Naura tidak peduli.
Merlin masih mengira bahwa Aaron adalah 'Samuel', sehingga ketika dia melihat Naura pulang bersamanya, dia mengira ada hubungan yang tidak biasa diantara mereka berdua.
Meskipun begitu, terlihat jelas sikap Merlin tidaklah sama dengan sebelumnya.
Sebelumnya, dia akan langsung memarahi Naura, apabila melihat Naura bersama dengan 'Samuel'.
Sekarang, walaupun masih terdengar tanda dia tidak setuju dalam nada bicaranya, tapi sebenarnya Merlin hanya khawatir apabila Aaron tau dan memergokinya.
Perubahan sikap ini benar-benar menarik.
Dia dan Aaron ingin bertemu dengan kakek Affandi.
"Kakekmu ada di ruang kerja, di lantai atas. Ibu antar kamu." Jawab Merlin lalu berjalan menaiki tangga.
Baru berjalan dua langkah, Merlin menolehkan kepalanya dan melihat 'Samuel' yang berjalan dibelakang Naura. Raut wajah Merlin pun berubah. "Naura, kamu...."
Sepertinya Naura belum bisa membaca pikiran Merlin sehingga dia bertanya. "Ada apa?"
Merlin jarang sekali berujar dengan tegas seperti ini. "Silahkan Tuan Samuel duduk di ruang tamu dan minum teh. Naura hanya naik untuk bertemu dengan kakeknya sebentar saja."
"Tidak masalah. Aku pergi bersamanya saja." Jawab Aaron datar.
Dia lalu dengan segera menarik tangan Naura dan berjalan menaiki tangga meninggalkan Merlin begitu saja.
Rumah keluarga Affandi yang dibangun oleh kakek Affandi saat masa mudanya, sangat besar dan ada banyak kamar dilantai dua.
"Dimana ruang kerja kakekmu?" Tanya Aaron pada Naura.
Walaupun selama ini kakek Affandi tinggal di luar negeri, tapi dia masih menggunakan ruang kerjanya di rumah ini. Karena sesekali, akan ada pelayan yang datang dan membersihkan ruangan ini.
"Disini." Jawab Naura.
Naura membawa Aaron sampai dipintu ruang kerja kakek Affandi. Dia dan Aaron saling menatap, lalu menjulurkan tangan dan mengetuk pintu.
"Masuk!"
Dari dalam ruangan terdengar suara seseorang yang sudah tua, namun masih bertenaga.
__ADS_1
Naura mendorong pintu hingga terbuka. Matanya langsung menangkap sosok kakeknya yang sedang berdiri di depan rak buku sambil membalikkan halaman sebuah buku yang berada dalam genggamannya.
Nama kakek Affandi adalah Fadhil Affandi. Dia merupakan salah satu dari sekelompok senior orang terjun berbisnis pada masanya.
Punya keberanian dan pengetahuan, tapi tidak memiliki otak bisnis.
Dapat dilihat bahwa kakek Affandi menjaga penampilannya dalam beberapa tahun terakhir dengan baik.
Meskipun rambutnya sudah menipis, tapi rambutnya tersisir rapi.
Kakek Affandi mengenakan kemeja yang rapi beserta rompi dengan sepasang kacamata bacanya yang bertengger di hidungnya. Terlihat seperti seorang profesor senior di sebuah universitas.
Pada dasarnya, Naura tidak memiliki kesan apapun terhadap Fadhil Affandi. Namun kali ini dengan melihatnya berdiri, dia akhirnya memiliki kesadaran terkait kakeknya ini.
Naura pun menyapa dengan lantang. "Kakek."
Mendengar suara Naura, Fadhil Affandi pun menengadahkan kepalanya dan menatap Naura.
Meskipun dia sudah berusia lebih dari 70 tahun, tapi sepasang matanya masih sangat tajam.
Dia menatap mata Naura dengan tatapan asing sesaat, lalu berpikir sejenak dan baru kemudian berkata. "Cucu ketiga? Naura?"
Istilah cucu ketiga ini terdengar sangat akrab.
Naura menganggukkan kepala. "Iya kakek, ini aku."
"Ketika aku pergi, kamu baru setinggi ini." Ujar Fadhil Affandi sambil membandingkan dengan tinggi meja. "Dalam sekejap, kamu sudah tumbuh sebesar ini."
Fadhil Affandi berjalan memutari meja dan menghampiri Naura. Raut wajahnya terlihat emosional.
Tepat pada saat itu, dia baru menyadari keberadaan Aaron di belakang Naura.
Mata Fadhil Affandi seketika menegang dan raut wajahnya berubah.
Aaron mengambil satu langkah mendekat, memberikan kesempatan Fadhil Affandi untuk melihatnya dengan lebih jelas.
Dia lalu berkata pelan. "Kakek Affandi, sudah lama tidak berjumpa."
Raut wajah Fadhil Affandi berubah beberapa kali sebelum akhirnya menjadi tenang dan bertanya dengan ragu. "Kamu....Aaron? Aaron Daffa Ardinata?"
"Iya." Aaron mengangkat sedikit bibirnya, namun tidak ada senyum yang menghiasi wajah tampannya.
Suasana di dalam ruangan itu mendadak menjadi dingin.
Naura tidak menyangka, kakeknya ternyata mengenal Aaron.
"Kamu...."
Fadhil Affandi hendak mengatakan sesuatu, tapi terhenti ketika tiba-tiba mendengar suara pelayan dari luar. "Tuan, sekarang waktunya makan."
"Lebih baik, kita makan dulu." Fadhil Affandi melirik Aaron sekilas, lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar.
Naura menatap Aaron dan berjalan bersamanya dibelakang, lalu bertanya padanya. "Kamu dan kakek, pernah bertemu sebelumnya? Kakek masih mengenalimu."
Aaron tidak menampiknya, justru dia mengakui dengan cepat. "Iya."
...----------------...
__ADS_1