Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#20


__ADS_3

"Apa kamu tidak tau, permasalahan dikeluarga Affandimu itu telah membawa-bawa nama keluarga Ardinata?" Tanya 'Samuel' dengan menatap Naura seperti sedang mencari sesuatu diwajahnya.


"Oh begitu." Naura menanggapinya dengan wajah tanpa ekspresi lalu berjalan melewatinya dan naik ke atas.


"Kamu sepertinya tidak merasa takut sama sekali?" Tanya 'Samuel' lagi dengan memicingkan matanya.


"Aku tidak melakukan sesuatu yang merugikan, jadi untuk apa merasa takut?" Jawab Naura seolah tidak menghiraukan pertanyaan 'Samuel'.


Aaron benar-benar tidak menyangka dengan Naura yang bisa berbicara seperti ini. Ini benar-benar dikuar perkiraannya.


Melihat 'Samuel' terdiam, Naura berbalik dan melangkah naik ke lantai atas.


Aaron menatap punggung Naura yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.


Gadis ini sepertinya sudah mulai tidak berpura-pura menjadi bodoh lagi?


Ucap Aaron dalam hati.


Setelah masuk kedalam kamar, Naura menghela nafasnya panjang. Dia tidak lagi merasakan ketenangan seperti saat menghadapi 'Samuel' barusan.


Dia tau, keluarga Ardinata juga pasti turun tangan untuk menghapus beberapa berita yang menyangkut keluarganya. Dia tidak bisa menebak pemikiran keluarga Ardinata yang membuatnya semakin merasakan tidak tenang.


Naura mengambil ponselnya dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab dari keluarga Affandi. Dia menyeringai dan menekan nomor Merlin untuk menelponnya.


Sesuai dengan tebakannya, begitu telepon tersambung langsung diangkat oleh Merlin. "Naura, cepat palang kerumah!"


"Baik..aku akan segera pulang.." Ucap Naura berusaha membuat suaranya agar terdengar tidak tenang.


Tentu saja Naura ingin secepatnya pulang kerumah keluarga Affandi dan melihat wajah mereka yang marah. Terutama melihat Marsha yang dimaki habis-habisan oleh keluarganya.


Tapi, Naura juga tau kalau keluarga Affandi pasti akan menyembunyikannya.


...


Pelayan dirumah keluarga Affandi menyapa Naura dengan sopan ketika melihatnya datang. "Nona Naura. Selamat datang."

__ADS_1


"Apa ayah dan ibu ada dirumah?" Tanya Naura dengan menunjukkan tempramennya yang terlihat bagus.


Pelayan mengangguk dan sikapnya lebih lembut terhadap Naura. "Mereka semua ada diruang kerja."


Naura kemudian berjalan menuju ruang kerja. Dia menghentikan langkahnya ketika sampai didepan pintu karena mendengar suara dari dalam.


"Marsha! Kenapa kamu selalu tidak bisa mengendalikan emosimu itu?! Kalau memang ada apa-apa, kamu bisa memanggilnya kerumah dan bicarakan dirumah! Sekarang, ada orang yang mereka dan mempublikasikannya. Untuk menyelesaikan ini juga akan sulit." Fajar Affandi meskipun sedang memarahi Marsha, tetapi tidak sedikitpun merasa kalau apa yang dilakukan Marsha tidak benar.


"Ayah, mana aku tau akan menjadi masalah seperti ini. Aku yakin, ini pasti sudah direncanakan oleh Naura! Kalau tidak, mana mungkin dengan kebetulan ada orang yang merekam kami?" Ucap Marsha dengan suara sedih lalu berubah menjadi emosi.


"Marsha, ibu tau Naura sejak kecil. Dia itu sangat bodoh. Mana mungkin dia melakukan semua ini?" Sela Merlin yang kedengarannya membela Naura.


Marsha mendengus sinis. "Bodoh? Bisa lulus ujian masuk dijurusan perfilman tanpa menggunakan relasi ayah, masih bisa bilang kalau dia bodoh?!"


"Mungkin, dia mendapat keberuntungan saja. Marsha, kamu jangan marah." Ucap Merlin berusaha menghibur Marsha.


Naura yang masih berdiri didepan pintu, merasa yang diucapkan Marsha memang benar. Merlin benar-benar wanita murahan. Sudah jelas didalam video itu Marsha mengatainya murahan, bukannya marah, tapi malah dia masih berusaha menghibur membuat hati Marsha senang dan tidak marah lagi.


Kali ini Marsha benar-benar sangat marah karena masalah ini. Biasanya, dia bisa bersikap lebih tenang menghadapi Merlin. Tapi sepertinya, Marsha sudah enggan untuk berpura-pura baik lagi terhadapnya. "Diam kamu! Kalian ibu dan anak memang tidak ada bedanya! Sama-sama murahan dan tidak berguna!"


Fajar Affandi membuka suara kembali setelah terdiam. "Sudah sudah! Jangan ribut! Selesaikan dulu masalah ini dan seharusnya Naura sudah sampai."


Kemudian menatap kearah Marsha. "Kak."


Marsha mendengus sinis. "Kenapa hanya berdiri saja disana?! Cepat masuk!" Serunya dengan wajah yang sangat dingin.


Naura melangkah masuk dengan ekspresi wajah yang ketakutan. Dia menatap kearah Merlin tetapi Merlin memalingkan wajahnya seolah enggan melihatnya.


Naura merasa kecewa dalam hati ketika berjalan ingin duduk disofa.


'Plak!'


Tiba-tiba Marsha menamparnya dengan keras hingga Naura terjatuh kelantai.


Naura mengulurkan tangannya dan mememegang sisi wajahnya sendiri yang mati rasa dan kesemutan karena tamparan dari Marsha yang begitu keras.

__ADS_1


Sepertinya Marsha memang benar-benar sangat marah dan ingin menamparnya lagi.


Naura memejamkan matanya sambil menggerakkan tangannya bersiap ingin melawan. Tapi, Fajar Affandi yang tadi hanya diam saja akhirnya bersuara. "Sudah cukup! Sekarang bicarakan dulu hal yang penting!"


"Ayah!" Pekik Marsha dengan menatap Fajar. "Melihat dia membuatku emosi! Kalau bukan karena dia, aku tidak akan seperti ini! Banyak teman-temanku yang mengirim pesan dan menanyakan mengenaik berita yang tersebar itu!"


Fajar menatap Marsha memintanya untuk tenang.


Marsha hanya patuh dengan Fajar Affand dan Fajar Affanri adalah kepala rumah tangga. Semua orang disini sangat menghormatinya.


Fajar Affandi menatap kearah Naura. "Naura, sekarang kamu jelaskan, video yang tersebar di internet, apa maksudnya?"


Naura mengangkat wajahnya terlihat sangat sedih dan kasihan. "Ayah, aku sungguh tidak tau kenapa ada video itu di internet." Ucapnya dengan pelan dan suara yang tersendat lalu air matanya menetes. Namun, Naura berusaha untuk tidak mengeluarkan suara tangisnya. Dia menoleh melihat Marsha. "Kak, percayalah kepadaku. Aku tidak mungkin bisa melakukan hal itu. Tidak mungkin kalau aku berbuat jahat kepadamu. Kita ini kan satu keluarga."


Marsha hanya diam menatap Naura dengan penuh keraguan. Dia mencoba melihat wajah Naura tapi tidak menemukan jejak kebohongan diwajahnya.


Naura yang sedang berpura-pura sedih, orang lain tidak akan ada yang tau kalau dirinya hanya berpura-pura saja.


Marsha kemudian mengalihkan tatapannya kearah Fajar Affandi yang sedang memperhatikan Naura.


Fajar Affandi merasa kalau putrinya ini tidak pernah mendapatkan perhatian darinya. Setelah menikah dengan Aaron Daffa dan masuk ke dalam keluarga Ardinata, Naura menjadi berubah. Tetapi, Naura yang berdiri diam dihadapannya ini masih tetap jelek dan terlihat bodoh.


Mana mungkin orang normal akan diam saja tidak bereaksi ketika ingin ditampar yang kedua kalinya? Sampai disini, pemikiran Fajar Affandi terhadap Naura terhenti dan mempercayai ucapannya.


Dia menyandarkan punggungnya kebelakang dan menatap Naura dengan serius. "Naura benar. Kita ini satu keluarga. Jadi, tidak peduli kapanpun harus memikirkan keluarga. Sekarang ini di internet, semua orang sedang salah paham terhadap kakakmu. Dan yang harus kamu lakukan, kamu harus menjelaskan kepada mereka semua agar mereka tidak salah paham lagi."


Naura hanya diam. Salah paham? Gumamnya dalam hati.


Jelas-jelas didalam video yang telah tersebar itu, Marsha menamparnya. Memakainya. Mengatai dirinya juga Merlin sebagai anjing dan wanita murahan. Memaksanya menikah dengan Aaron Daffa. Semua itu hanya salah paham?


Fajar Affandi benar-benar mempunyai kemampuan yang sangat bagus sekali untuk membalikkan keadaan.


Naura hanya bisa berpura-pura terkejut dengan membelalakkan matanya menatap Marsha. "Kak, aku..aku pasti akan menjelaskan kepada mereka. Kamu tidak perlu khawatir."


Marsha hanya melirik sinis. Sorot matanya terlihat kalau dia sedang memandang rendah Naura.

__ADS_1


Benar-benar lebih patuh dari seekor anjing.


...__________...


__ADS_2