Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#57


__ADS_3

Naura menunggu lama sampai Aaron membalas pesannya.


Meskipun Aaron hanya membalas dengan satu kata saja, bagi Naura itu sudah cukup baik.


Saat jam makan siang, beberapa teman kerja wanita menghampiri untuk mengajaknya makan siang bersama.


"Naura, ayo kita makan siang bersama."


Naura merasa sepertinya mereka tau kalau dirinya yang memberi pelajaran Pak Jayus.


Naura sendiri juga tidak tau berapa lama dirinya bisa tinggal di perusahaan Affandi. Dia mengangguk sambil tersenyum. "Oke."


Dia tidak peduli kalaupun mereka semua perempuan. Senyuman Naura terlihat begitu mempesona membuat beberapa rekan kerjanya merasa terpana melihatnya.


Saat mereka masuk kedalam restoran, kebetulan melihat Presiden Direktur sedang bersama anak perempuannya-Marsha juga sedang makan bersama.


Mereka menghampiri dan menyapa atasan mereka dengan sopan. "Pak Presiden Direktur, Bu Marsha!"


Marsha adalah manajer departemen proyek. Tentu saja dia tidak memiliki kemampuan itu. Dia punya orang-orang yang ahli dibidang itu dan semua orang-orang itu dibawah kendalinya.


Naura juga ikut menghampiri dan menyapa. "Ayah, kakak!"


Karena ada orang lain, jadi Fajar menjaga image. Dia berlagak sok ramah dan ngasal bicara kepada Naura. "Ayo makan bersama."


Tidak disangka kalau Naura akan menjawab "Baiklah." Wajah Fajar pun langsung berubah tidak enak dipandang.


Tapi, Naura yang menyadari itu dia melanjutkan ucapannya. "Tapi, aku tidak bisa hari ini. Aku mau makan bersama rekan-rekan kerjaku. Lain kali saja makan bersama dengan Ayah."


Hubungan Fajar dengan Naura tidak dekat. Fajar tidak pernah menyukai Naura. Tentu saja tidak ingin makan bersama dengan Naura.


Mendengar Naura menolak, raut wajahnya kembali berubah seperti semula dan terlihat lebih ramah. "Baiklah kalau begitu, kamu pergi saja dulu."


Marsha dengan tersenyum mengambilkan makanan untuk ayahnya. "Ayah, coba ini. Ini menu baru disini dan sepertinya sangat enak."


Fajar juga tersenyum menanggapi Marsha. "Kamu juga makan yang banyak. Akhir-akhir ini, kamu terlihat kurus."


Benar-benar ayah dan anak yang sangat harmonis.


Marsha menoleh menatap kearah Naura dengan pandangan mengejek. Dari sorot mata Marsha seakan dia mengatakan: "Orang tuamu semuanya tidak ada yang menyayangi kamu."


Dalam hati, Naura terpaksa mengatakan kalau Marsha memang tau kelemahannya.

__ADS_1


Naura sendiri merasa kalau dirinya sudah berkali-kali dimanfaatkan dan dibuang oleh keluarga Affandi. Hatinya sudah ditempa menjadi kuat. Tapi, hatinya juga masih mudah tertusuk dengan melihat pemandangan seperti ini.


Wajah Naura menjadi tampak tidak baik sampai dia dan teman-teman kerjanya mendapatkan tempat duduk.


Beberapa waktu lalu, masalah antara dia dan Marsha yang ramai dibicarakan di media sosial, tentu saja teman-teman kerjanya tau karena mereka juga aktif di media sosial.


Hal yang terjadi barusan, mereka juga melihatnya sendiri. Sedikit banyak dari mereka juga pasti bisa merasakan, kalau Fajar tidak menyukai Naura.


Ada teman kerjanya yang menyodorkan buku menu ke Naura. "Ini, kamu dulu yang lihat mau pesan apa."


Naura tersenyum ramah dan mengembalikan buku menunya. "Aku tidak pernah pilih-pilih makanan. Kalian pilih dulu saja. Lagipula, aku belum pernah makan disini dan belum tau makanan apa yang enak disini."


Mendengar ucapan Naura, teman-teman kerjanya pun juga tidak sungkan untuk langsung memesan makana.


Mereka merasa kalau Naura adalah seorang yang mudah bergaul. Akhirnya pun ada teman yang bertanya tentang Pak manajer kepadanya. "Naura, apa kamu tau kenapa Pak Jayus hari ini ijin lagi? Lalu tadi, apa yang terjadi di ruangan kantor Pak Presiden Dorektur Utama?"


"Aku tidak tau. Memangnya, apa sebelumnya dia pernah melakukan banyak hal yang buruk? Mungkin karena hukum alam ingin memberi dia balasan." Jawab Naura dengan serius.


Mereka semua juga tidak peduli dan ikut tertawa dengan jawaban Naura. Kemudian mereka mulai membahas tentang manajer pemasaran yang bernama Jayus Adibrata itu.


Naura juga sering menanggapi obrolan mereka dan suasananya terasa begitu harmonis.


"Naura, kamu kan sudah menjadi Nyonya Muda Ardinata, lalu kenapa kamu masih bekerja di perusahaan Affandi?"


Naura tau, sebenarnya teman kerja yang menanyakan ini sama sekali tidak punya niat jahat. Hanya saja, pertanyaannya benar-benar sulit untuk dia jawab.


Naura terpaku sejenak dan menjawab dengan ragu-ragu untuk menjawab. "Eum..."


Ada teman kerja lainnya yang membantu Naura mencairkan suasana. "Sudah sudah! Jam makan siang tidak banyak lagi. Cepat selesaikan makan kalian lalu kembali ke kantor!"


Teman yang bertanya tadi juga tidak melanjutkan bertanya lagi.


Sebenarnya, rekan-rekan kerjanya merasa kalau Naura tidak terlalu diterima oleh keluarga Ardinata.


Sedangkan Tuan Muda yang dirumorkan sebagai seorang yang cacat dari keluarga Ardinata itu merupakan penerus utama perusahaan Ardinata.


Tapi, kondisi kesehatannya sama sekali tidak memungkinkan dia menjadi penerus perusahaan keluarga Ardinata.


Ada banyak orang yang menduga kalau penerusnya sangat mungkin akan digantikan oleh anggota keluarga Ardinata yang lain. Hanya saja, berita ini masih belum tersebar sampai keluar.


Mundur dari ahli waris perusahaan keluarga Ardinata, Tuan Muda keluarga Ardinata hanya seorang yang tidak berguna. Sedangkan Naura, tidak diterima keluarga Ardinata dan masih harus bekerja diluar.

__ADS_1


Bagi Naura, bekerja diluar tidak masalah, masih harus bekerja sebagai peneliti pemasaran yang melelahkan. Kelihatannya benar-benar sangat menyedihkan.


Naura masih terpaku dengan tatapan kosong melihat rekan-rekan kerjanya mengambilkan makanan untuknya. Mereka melihat Naura dengan tatapan seperti merasa.....kasihan?


Dipikir kembali, dia pun mengerti apa yang sudah terjadi.


Kalau dilihat dari sudut pandang yang lain, sepertinya sangat menyedihkan.


...


Di Perusahaan AD Entertainment Group.


Aaron seharian ini berada didalam ruangan kantornya.


Saat jam pulang kerja, Christian terlihat buru-buru menemuinya. "Aaron, ayo kita ke Club dan minum bersama!"


Pekerjaan Christian terasa jauh lebih ringan karena ada Aaron. Suasana hatinya pun menjadi baik. Jadi, dia ingin pergi untuk bersantai.


"Tidak mau!" Aaron langsung menolak tanpa menoleh melihatnya.


Christian melangkah menghampirinya. "Lalu, untuk apa kamu pulang cepat? Kamu juga hanya diam saja dirumah. Selesai kerja langsung pulang dan tidak ikut serta dalam acara apapun. Kehidupanmu ini seperti lansia saja!"


"Seorang pria yang sudah beristri ya seperti ini." Jawab Aaron dengan singkat.


Christian pun hanya menyeringai. "He..."


Kebetulan, Daniel masuk kedalam ruangan Aaron. Dia tidak tau apa yang dibicarakan Christian kepada Aaron. "Apa sudah bisa pergi sekarang?" Tanyanya.


"Ayo kita pergi!" Ucap Christian sambil berbalik dan berjalan keluar. "Pria yang sudah beristri, dilarang hidup didunia malam!" Lanjutnya dengan sengaja memberi sindiran terhadap Aaron.


Seperti dugaan Christian. Daniel menunjukkan ekspresi terkejut seperti bertemu dengan hantu.


"Ayo jalan! Kita berdua saja yang pergi minum! Siapa suruh kita berdua belum punya istri?!" Ucap Christian lagi sambil merangkul pundak Daniel dan menariknya pergi.


Daniel mengerutkan alis, melepaskan rangkulan Christian dan berbalik melihat Aaron. "Memangnya kalau sudah punya istri kenapa? Bukankah hanya bisa dipandang saja?" Ucapnya dengan nada kasihan.


Aaron tertawa dingin. "Jangan pernah berharap lagi kalian bisa makan dirumah kami!"


Wajah Daniel berubah menjadi serius. "Kita merasa iri dengan kalian yang sudah menikah."


...__________...

__ADS_1


__ADS_2