
Mendengar perkataan Marsha, Naura sangat tidak suka. "Jangan ngawur kalau bicara!"
"Aku bicara ngawur atau tidak, kamu yang tau." Ucap Marsha dengan tersenyum sinis. "Lalu, apa kamu berani bilang? Kalau kamu tidak menyukai Lucky?" Lanjutnya. dengan dingin.
Naura pun terdiam menundukkan wajahnya dan menggigit bibirnya. Tidak berani bicara. Karena selama ini, laki-laki yang disukainya adalah Lucky.
Marsha terlihat terkejut saat melihat Lucky. "Lucky?" Panggilnya dan seketika Naura mengangkat wajahnya melihat Lucky yang entah sejak kapan Sudan kembali dari toilet.
Naura merasa sangat cemas melihat Lucky. Dia tidak tau apakah Lucky mendengar pembicaraannya dengan Marsha atau tidak.
Lucky memalingkan wajahnya tidak ingin menatap Naura. Naura menduga, kalau Lucky pasti sudah mendengar pembicaraannya.
Marsha tersenyum penuh kemenangan melihat reaksi Lucky dan dia merasa puas. "Lucky, tidak perlu kamu pikirkan. Naura sudah menikah. Jadi, tidak akan ada penghalang lagi untuk kita." Ucap Marsha dengan tersenyum menenangkan Lucky.
Dalam pikiran Marsha, ini baru reaksi yang normal menghadapi perempuan yang sangat jelek dan juga bodoh seperti Naura. Dia hanya merasa heran, tidak tau kenapa adik sepupu Aaron masih saja mendekatinya.
Atau mungkin saja, dia ingin mencari sensasi baru untuk kesenangannya.
"Apa? Jadi, kamu sudah menikah?" Tanya Lucky yang langsung menoleh menatap Naura.
"Iya. Sebelumnya, dia sudah mengatakan sendiri kepadaku kalau dia ingin menikah. Dia menikah dan masuk kedalam keluarga Ardinata yang sangat kaya raya, aku yang membujuknya. Tapi, menikah dengan laki-laki seperti itu...." Ucap Marsha tidak melanjutkan kalimat terakhirnya dan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi menunjukan belas kasihan kepada Naura.
Naura sangat mengerti maksud dari perkataan Marsha yang ingin mengatakan kalau dirinya adalah perempuan yang haus akan harta hingga mau menikah dengan Aaron Daffa.
Lucky menatap Naura dengan mengerutkan alisnya. Terlihat wajahnya yang begitu kecewa. "Aku juga sudah tidak peduli dia menikah dengan siapa. Yang jelas, aku berterimakasih kamu sudah mau menggantikan Marsha untuk menikah dengan Aaron Daffa."
"Iya. Kalau bukan kamu yang menggantikan aku menikah dengan Aaron, mungkin aku tidak akan bisa bersama Lucky." Sahut Marsha menatap Naura dengan wajah yang dipenuhi dengan rasa terimakasih.
Naura ingin sekali marah, tapi dia masih bisa bersabar dan menggigit bibirnya dengan kuat. "Yang dikatakan Marsha tidak benar." Ucap Naura ingin membela diri.
__ADS_1
Meski Naura tidak bisa lagi bersama Lucky, dia tidak ingin Lucky salah paham dan mempercayai perkataan Marsha yang mengira kalau dirinya perempuan yang haus akan harta.
"Naura cukup! Kamu tidak perlu lagi menjelaskan apapun. Aku bisa mengerti perasaanmu. Meski kamu menikah dengan Aaron Daffa dengan tubuhnya yang.....em seperti itu. Tapi, sudah pasti keluarga Ardinata tidak akan membuatmu merasa rugi."
Ucap Lucku dengan menaikkan alisnya menatap Naura.
Mendengar perkataan dari Lucky yang seperti ini kepadanya, seketika hati Naura berubah menjadi sangat dingin.
Tapi, tiba-tiba saja telepon genggamnya bergetar dan dia segera mengambilnya, melihat pesan yang masuk. Dia mengerutkan keningnya. saat membaca pesan yang berisi deretan nama-nama sayuran. Entah siapa yang telah mengiriminya pesan seperti ini.
Tapi, dengan ini dia menjadi punya alasan untuk pergi.
"Aku masih ada urusan, jadi aku harus pergi." Ucap Naura lalu bangkit berdiri dan menatap Lucky dengan wajah tanpa ekspresi. "Dulu, aku memang pernah menyukaimu dan aku tidak akan menyangkal. Tapi setelah ini, tidak akan pernah lagi. Tentang bagaimana aku bisa menikah dengan Aaron, Marsha yang paling tau. Kamu mau percaya atau tidak, itu terserah kamu!" Lanjut Naura kemudian segera beranjak pergi.
Alasan Naura bisa menyukai Lucky, karena Lucky adalah laki-laki satu-satunya yang tidak merasa jijik dengannya. Lucky juga masih selalu memberi perhatian kepadanya.
Tapi sekarang, sikap Lucky terhadapnya hanyalah sekedar simpati yang palsu.
Tidak heran baginya. Merlin yang ibu kandungnya saja tidak pernah percaya kepadanya. Lalu untuk apa Lucky yang hanya orang luar harus mempercayainya?
Saat Naura berjalan sampai pintu restaurant, dia mendengar perkataan dari Lucky kepada Marsha.
"Aku benar-benar tidak percaya. Dulu, aku merasa kalau Naura gadis yang polos dan baik hati. Tapi aku tidak menyangka, sekarang dia bisa berubah seperi ini."
"Aku juga tidak menyangka." Ucap Marsha dengan berlagak sedih.
Naura menahan rasa marah dan kecewanya. Dia mengepalkan tangannya dan menggertakkan giginya tanpa sedikitpun menolehkan kepalanya. Kemudian keluar dari restaurant.
Telepon genggamnya kembali bergetar dan berdering. Dia mengangkatnya dan suara yang sangat familiar berdengung ditelinganya.
__ADS_1
"Sayur yang aku tulis dipesan tadi, kamu belikan semua."
Naura tertegun sesaat. Kemudian dia baru menyadari kalau suara ini adalah suara 'Samuel'. "Kamu? Kenapa kamu belum pergi?" Tanya Naura dan yang menjawabnya suara nada telepon yang ditutup.
Naura menatap teleponnya yang sudah ditutup. Dia merasa sangat kesal lalu memegang kepalanya dan berjongkok. Merasa bahwa sepertinya semua orang ingin sekali membuatnya susah.
Merlin dan Fajar melahirkan dia. Tapi mereka sama sekali tidak menyayangi dia. Hingga dia dipaksa menikahi Aaron Daffa menggantikan Marsha.
Dia merasa bahwa Aaron juga sangat tidak menyukainya dan tidak ingin bertemu dengannya.
Naura tidak ingin membuat masalah dengan 'Samuel' yang masih saja mengganggunya. Tapi, kalau dia tidak mempedulikan permintaan 'Samuel' tadi, dia merasa takut. Apa 'Samuel' akan benar-benar memberitau Aaron kalau dia menggoda adik sepupunya itu?
Membayangkan kemungkinan yang bisa saja akan terjadi ini, Naura menghela nafasnya panjang dan berdiri.
Meskipun Naura juga pernah mengancam Merlin dan Marsha dengan cara seperti ini dan seandainya saja kalau 'Samuel' bicara ngawur tentangnya, sudah pasti keluarga Ardiana akan mengorbankan dirinya untuk melindungi nama baik keluarga Ardinata.
Naura tidak berbelanja sayur seperti yang diinginkan 'Samuel'. Dia hanya membeli bahan makanan saja dipasar.
Saat pulang kerumah, ketika membuka pintu dan masuk, dia melihat 'Samuel' yang bertubuh tinggi sedang duduk disofa kecilnya.
Laki-laki berwajah tampan itu menoleh kearahnya. Dia duduk dengan kaki yang disilangkan terlibat sangat santai. Kalau saja bukan karena wajahnya yang begitu pucat, ekspresinya yang dapar itu sama sekali tidak memperlihatkan kalau dia baru saja terluka karena tertembak.
Meski begitu, Aaron masih merasa belum terbiasa dengan rumah sempit Naura.
Seorang Tuan Muda yang dibesarkan dari keluarga Ardinata yang sangat kaya raya, meski karakternya agak buruk, tetap saja tidak bisa menyembunyikan martabat dan keanggunannya.
Naura meletakkan belanjaannya disamping lalu membungkuk dan melepas sepatunya.
Dia tiba-tiba merasakan ada hembusan angin yang terasa dingin kemudian mengangkat kepalanya.
__ADS_1
Entah sejak kapan laki-laki tampan yang duduk bersandar dengan posisi santai disofa kecilnya sudah berdiri didepannya sedang menunduk melihat barang bawaannya.
...__________...