
Perusahaan Affandi terjadi krisis karena urusan Kairav Robinson.
Namun, karena reputasi Kairav Robinson sangat besar dan punya banyak penggemar, krisis ini tidak berpengaruh.
Perusahaan Affandi tidak bisa menahan tekanan.
Perusahaan Affandi mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir adalah sesuatu yang dapat dilihat semua orang.
Naura mendapatkan kesempatan untuk berkata kepada Fajar Affandi. "Ayah, lebih baik, biarkan kakek kembali saja."
Mendengar perkataan Naura, Fajar langsung jatuh kedalam perenungan.
Setelah beberapa saat, dia menggelengkan kepalanya. "Tidak bisa."
"Ayah, situasi saat ini sudah tidak baik. Betapa pentingnya citra sebuah merek untuk perusahaan. Ayah lebih tau itu daripada aku. Beberapa waktu ini, semua yang telah terjadi memiliki banyak dampak pada perusahaan Affandi....."
Belum selesai berucap, tiba-tiba Fajar memotong ucapan Naura. "Bagaimana hubunganmu dengan Aaron?"
"Aku tidak tau bagaimana Naura dengan Aaron. Naura justru sangat dekat dengan Samuel, bahkan siang tadi mereka berdua makan bersama dan terlihat sangat mesra di depan umum." Sahut Marsha kemudian menoleh menatap Naura dengan senyum di wajahnya. "Apakah yang aku katakan benar?"
Naura tidak mau melihat Marsha, hanya menoleh ke Fajar dan berkata kepadanya. "Aaron bersikap biasa saja kepadaku. Begitulah adanya."
Naura juga tidak tau mengapa dirinya berbohong untuk membantu Aaron.
Fajar mengerutkan kening dengan sengit. "Naura, Aaron itu suamimu. Kenapa kamu....."
"Apakah ayah ingin Aaron membantu perusahaan Affandi lagi? Tidak mungkin. Jika perusahaan Affandi terus seperti ini, cepat atau lambat akan diakuisisi. Lebih baik, aku mengambil keuntungan dari perusahaan Affandi sekarang yang masih bernilai, aku akan langsung menjual saham milikku." Naura menyela ucapan Fajar dengan tegas, karena dia tau bahwa Fajar sependapat dengan Aaron. Dan Naura sudah jengkel dengan ucapannya itu.
Mendengar itu, wajah Fajar seketika berubah. "Naura, kamu sudah gila!"
"Aku khawatir bukan hanya aku saja yang menjual saham. Orang lain yang memiliki saham perusahaan ini, mungkin sependapat denganku. Membiarkan saham perusahaan Affandi membusuk ditangan, lebih baik mencari pembeli yang murah hati."
Kata-kata Naura ini seperti pedang yang tajam dan langsung menusuk kepala Fajar Affandi.
Fajar memelototinya dan menunjuk ke arah Naura dengan marah. "Kamu berani?!"
"Kenapa aku tidak berani? Saham di tanganku legal, jadi aku bisa membeli dan menjualnya sendiri!"
Fajar sangat marah mendengarnya, hingga dia terdiam untuk waktu yang lama.
"Ayah pikirkan saja sendiri." Naura kemudian berbalik dan melangkah keluar.
Begitu dia keluar, ponselnya berdering.
__ADS_1
Saat melihat layar ponselnya, nomor tidak dikenal memanggilnya.
Naura mengangkat telepon dan terdengar suara seorang wanita ditelepon.
"Maaf, apakah ini kakaknya Samuel?"
Naura terdiam sejenak, kemudian menjawab. "Iya, aku kakaknya."
"Begini, saya adalah guru wali kelas Samuel. Ada yang terjadi dengannya di sekolah. Kami perlu meminta walinya untuk membantu kami menyelesaikannya."
Naura bertanya dengan cemas. "Apa yang terjadi dengan Samuel?"
"Samuel baik-baik saja, tapi dia....." Guru wali kelas itu terdiam sejenak kemudian melanjutkan ucapannya. "Ada konflik diantara dia dan teman sekelasnya, kemudian bertengkar. Dia sendiri baik-baik saja, tapi kondisi temannya yang dipukul olehnya, lumayan parah."
Naura menghela napas lega. "Baik, aku akan segera kesana."
……
Naura keluar dari gedung perusahaan Affandi dan menghentikan taksi di pinggir jalan.
Ketika dia menaiki taksi, dia menghubungi Aaron.
Namun, mungkin Aaron sedang sibuk, dia tidak menjawab teleponnya.
Sekolah Samuel tidak jauh dari perusahaan Affandi, dan Naura telah sampai dalam waktu sepuluh menit.
"Oh, silahkan." Wali kelas Samuel mengangguk saat melihat Naura.
Samuel sudah termasuk anak yang tampan dikelas. Tidak disangka, kakak perempuan Samuel juga sangat cantik. Memang gen keluarganya sangat bagus.
Naura menatapnya dan bertanya. "Bisakah anda memberitahuku masalahnya?"
"Begini, terjadi sedikit pertengkaran antara Samuel dengan temannya. Namanya juga anak-anak, mereka masih tidak sabaran. Hanya saja Samuel memukul temannya cukup parah. Sebagai walinya, harus bisa mendidiknya..."
Naura mengerutkan kening, tidak suka dengan ucapan wali kelas Samuel ini. Dia berkata dengan serius. "Ibu, anda bahkan tidak tau dengan jelas masalah ini, lalu menyuruhku untuk mendidik Samuel? Apakah itu adil?"
Ketika Naura tersenyum, sepasang matanya terlihat begitu indah. Tapi, ketika dia menatap seseorang dengan dingin, itu juga membuat orang itu merasa merinding.
Wali kelas itu dengan cepat menjelaskan. "Aku tidak bermaksud begitu, tapi aku pikir Samuel memukulnya terlalu parah...."
"Aku mengerti, tapi aku ingin menemui adikku dulu." Kata Naura.
Wali kelas itu mengangguk. "Meraka ada diruanganku, mari kita kesana."
__ADS_1
Naura melihat Samuel di dalam kantor. Ada sedikit warna di wajahnya, rambut yang sangat berantakan, dan pakaian ditubuhnya tercabik-cabik, seperti kucing liar yang baru saja diambil dari tempat sampah.
Dia menegakkan punggungnya dan berdiri disana. Ekspresinya sangat keras kepala, dan dia tampak menolak.
Mungkin karena hidup bersama dengan Aaron, muka dengan tanpa ekspresi juga seperti menunjukkan kekuatan. Tetapi beda jauh dari Aaron.
Begitu dia melihat Naura, ekspresinya melihat kebawah, dan mengedipkan matanya, menatap Naura dengan sedih. "Kakak Naura."
Naura menatapnya seperti itu, merasa sedikit sakit hati. Dia berjalan lalu menyentuh rambut keriting kecilnya. "Kamu terluka?"
"Tidak." Samuel menggelengkan kepalanya, kemudian berkata dengan suara yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Aku hanya baju saja yang sobek. Mereka lebih menderita."
Mereka?
Naura menoleh dan melihat kebelakang kemudian baru melihat dua anak laki-laki lain juga ada di dalam kantor.
Tapi, kedua wajah anak itu memiliki lebih banyak luka daripada Samuel. Kedua anak itu duduk, hanya Samuel yang berdiri sendiri.
Samuel bukan anak yang tidak masuk akal, apalagi sembarangan memukul orang. Hanya karena dua orang anak itu sedikit lebih terluka, mereka bisa duduk, tetapi Samuel harus berdiri?
Naura menoleh ke arah wali kelas itu. "Bukannya, lukanya sangat parah? Kenapa tidak diantar ke rumah sakit?"
"Ini...permintaan dari orang tua mereka." Kata wali kelas itu dengan canggung.
Samuel tidak belajar di sekolah anak orang kaya. Keluarga para siswa juga keluarga yang biasa-biasa saja. Ketika anak-anaknya terluka, perilaku kedua anak orangtua tidak lain adalah menginginkan uang.
Naura tertawa mengejek, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita di luar pintu. "Apa anakku ada disini?"
Ketika kata-kata itu terdengar, seorang wanita gemuk mendorong pintu dan masuk. Tatapan matanya langsung tertuju pada seorang anak laki-laki yang duduk di sofa, menyeka air matanya kemudian dengan cepat memeluknya. "Kesayanganku kenapa dipululi sampai seperti ini?"
Dia menangis dengan suara keras membuat Naura menutupi telinganya dan melirik wali kelas itu.
Kepala sekolah mendekat dan membujuknya. "Jangan menangis, kita perjelas dulu."
"Memperjelas? Bagaimana bisa kita memperjelas masalah ini? Anakku sudah seperti ini, tentu saja mereka harus membayar biaya pengobatan!" Kata wanita gemuk itu dengan keras.
Naura mendengar kata-kata itu, lalu berkata. "Kita bisa membayar biaya pengobatan, tapi sekarang perlu mengetahui dengan jelas semuanya terlebih dahulu." Naura menatap Samuel. "Samuel, kamu katakan, kenapa kamu berkelahi dengan mereka?"
Samuel tidak langsung menjawab, dia kemudian menundukkan kepalanya.
Naura terkejut. "Kenapa?"
Samuel masih tidak menjawab.
__ADS_1
Wanita gemuk itu sudah tidak menangis lagi saat ini, dan berkata dengan nada yang aneh. "Ada alasan apa lagi? Karena dia bandal! Bagaiman mungkin ada yang memukul temannya hingga seperti ini? Lihatlah anak kesayanganku yang malang ini..."
...----------------...