
Aaron sama seperti biasanya, mengenakan setelan jas yang dipesan khusus dengan raut wajahnya yang serius dan auranya begitu kuat.
Kedua mata hitamnya menatap Naura. Meskipun Aaron tidak mengatakan apa-apa, tapi Naura dapat dengan jelas merasakan aura kuat yang menekan keluar dari dirinya.
Naura teringat akan hal yang dilakukan padanya semalam di Bar Star Light. Tanpa sadar, Naura melangkah mundur sambil menarik pelan baju Samuel kecil dan berbisik padanya. "Apa kamu tau pintu belakang di warnet ini?"
Samuel kecil telah mengira bahwa Naura takut setelah bertemu Aaron, sebenarnya Samuel kecil juga sangat takut. Tapi, dia seorang laki-laki, tidak boleh kehilangan image di depan perempuan.
Dia pura-pura dengan tenang menenangkan Naura. "Kamu jangan takut, yang dia cari itu aku. Dia tidak akan melakukan apapun terhadapmu."
Naura berpura-pura mengusap airmata, dia merasa seharusnya ucapan ini dia yang mengatakan.
Selesai bicara, Samuel kecil maju menghalangi Naura, lalu menengadahkan kepala dan berteriak pada Aaron. "Aku bisa pulang denganmu sekarang, kamu jangan cari masalah dengannya!"
Begitu ucapannya berlalu, Samuel kecil menatap Aaron dengan tatapan dingin.
Samuel kecil meregangkan lehernya, tapi masih mengumpulkan keberaniannya. Tidak ada rasa takut diwajahnya, dia berdiri didepan Naura.
Kalau bukan karena sampai sekarang Samuel kecil belum tau apa yang sebenarnya terjadi, Naura masih akan merasa terharu.
Setelah mendengar ucapan Samuel kecil, Aaron terlihat lebih marah. Kalau membiarkan Samuel kecil bicara lagi, maka Naura akan berakhir dengan lebih tragis.
Naura menarik Samuel kecil berlari masuk ke dalam warnet.
Samuel kecil mengikuti dia berlari, tapi belum berlari jauh Samuel kecil bertanya pada Naura. "Untuk apa kamu lari? Kakak sepupuku meskipun dia seorang Raja Setan, tapi dia tidak akan menyakiti perempuan."
Raja Setan?
Naura juga merasa panggilan ini cocok sangat cocok untuk Aaron.
Tapi, Aaron tidak menyakiti perempuan? Hehe, itu bohong. Naura tidak percaya!
"Jangan bicara omong kosong! Kamu tau pintu belakang warnet tidak?" Naura tidak memiliki banyak waktu untuk menjelaskan kepadanya.
Samuel kecil menganggukkan kepala. "Tau!"
Kemarin malam, saat dia keluar ke toilet, dia melihat pintu belakang warnet.
Hanya saja, saat mereka berdua lari ke pintu belakang warnet, mereka dihadang oleh bodyguard Aaron.
Naura mengerutkan alis. "Apa yang kalian lakukan?"
Naura tidak menyangka, bahkan dipintu belakang warnet Aaron juga menyuruh bodyguard untuk menjaga!
"Kalian lepaskan kami pergi!" Samuel berkata dengan marah kepada mereka.
Bodyguard itu masih tidak bergerak. "Tuan Muda, Nyonya, tolong kalian jangan menyulitkan kami!"
"Apanya yang Nyonya?" Samuel kebingungan.
Bodyguard itu hanya melirik ke arah Naura tidak mengatakan apa-apa.
Naura juga tau, hari ini dia ditakdirkan tidak bisa lepas dari Aaron. Naura menepuk pelan pundak Samuel. "Aku adalah istri Aaron yang jelek dan aneh itu."
"(⊙o⊙)"
Samuel langsung terbelalak sangat terkejut.
…
__ADS_1
Samuel dan Naura, mereka berdua tidak memiliki kekuatan dan akhirnya ikuti bersama bodyguard itu.
Naura melihat kembali mobit sport mewah milik Aaron yang dipesan khusus itu.
Kedua tangan Aaron dimasukkan kedalam saku celana dan wajahnya yang tanpa ekspresi menatap Naura. "Tidak lari lagi?" Suaranya sana sekali tidak lembut.
Sebenarnya, dalam lubuk hati, Naura tidak ingin menurut. Tapi meskipun sudah kalah, tetap masih harus berusaha. Naura mengangkat dagu, menatap Aaron tanpa rasa takut. "Belum makan, tidak kuat lari."
Sedangkan Samuel masih terbenam dalam pikirannya dengan apa yang baru saja Naura katakan padanya bahwa dirinya adalah istri Aaron yang jelek dan aneh, masih belum merespon.
Aaron tidak banyak bicara, langsung membuka pintu mobil dan mendorong Naura masuk ke dalam mobil.
Kemudian Aaron membalikkan kepala menatap Samuel yang masih dalam kebingungan. "Nanti aku akan mencarimu lagi, untuk buat perhitungan."
Seketika, tubuh Samuel gemetar dan dengan cepat masuk kedalam mobil.
…
Di dalam mobil, Naura duduk bersandar di pintu mobil. Karena merasa bosan, dia bermain ponsel.
Meskipun Naura takut ketahuan, tapi dia masih berpura-pura tenang.
Kalau dibandingkan dengan apa yang telah dilakukan Aaron, yang Naura lakukan tidak berarti apa-apa.
Aaron tiba-tiba bersuara memecahkan keheningan di dalam mobil. Suaranya terdengar dingin dan berat. "Apa ada yang ingin kamu katakan?"
"Tidak ada yang perlu dikatakan." Naura meletakkan ponselnya, mengangkat pandangannya dan menatap Aaron. "Kalau kamu?"
"Bukannya kamu sudah tau semua?" Nada suara Aaron terdengar tenang. Seolah kebohongannya terhadap Naura, dia tidak merasa bersalah sama sekali.
Naura sangat marah, tapi dia masih tertawa. "Iya, kamu mengeluarkan uang sebesar tiga milyar untuk membeli sebuah mainan. Kamu ingin seperti apa memperlakukan dia, itu hak kamu."
Dia tidak suka mendengar ucapan Naura yang menghina dirinya sendiri seperti ini.
"Kenapa? Kamu bisa melakukannya. Masih tidak membiarkan aku bicara?" Naura tidak ingin menunjukkan kelemahannya. Dia terlihat sedikit arogan.
Sindiran, setajam-tajamnya gigi, masih lebih tajam ucapan!
Seketika, Aaron menatapnya, menyipitkan mata dan bicara dengan nada mengancam. "Coba katakan sekali lagi."
"Aku bilang kamu bisa melakukan...hemphh..."
Belum selesai berucap, bibir Naura sudah langsung ditutup oleh Aaron.
Laki-laki bajingan!
Tangan dan kaki Naura berusaha memberontak, tapi tidak berhasil. Aaron mendekap erat dia dalam pelukannya dan terus menciumnya. Membuat dia tidak bisa bergerak.
Mana bisa menyakiti orang dengan cara seperti ini?!
Sudah membohongi dia sampai seperti itu, sekarang masih melakukan hal yang mesra kepadanya.
Semua hal baik sudah dilakukan oleh Aaron. Mana ada lebih banyak hal baik lagi!
Naura kemudian menggigit bibirnya dengan keras dan Aaron merasa kesakitan lalu melepaskan tangannya dari Naura.
Kebetulan, mobil sudah berhenti. Naura mendorong dia dan turun dari mobil. Dengan cepat masuk kedalam rumah.
Aaron turun dari belakang, mengulurkan tangan dan menyentuh bibirnya, melihat jari tangannya ada bekas darah yang menempel.
__ADS_1
Ivan yang berada di samping, memberikan saputangan kepadanya.
Aaron menerima saputangan yang diberikan Ivan, lalu menghapus bekas darah yang ada di bibirnya. Baru kemudian perlahan masuk ke dalam rumah.
Samuel mengikuti dari belakang, dengan terpaksa ikut masuk ke dalam rumah.
Dia melihat Aaron duduk di sofa, dia juga ingin duduk. Tapi kemudian mendengar Aaron bicara dengan suara datar. "Apa aku menyuruhmu duduk?"
Samuel gemetar dan langsung berdiri lagi, sangat patuh seperti seekor burung.
Sebenarnya, dia tidak takut apapun. Hanya satu yang dia takuti, yaitu kakak sepupunya yang bernama Aaron Daffa ini.
Naura sama sekali belum kembali ke kamarnya, melainkan bersembunyi didekat tangga melihat ke arah ruang tamu.
Melihat Samuel yang berdiri diam di sana tidak berani bergerak, Naura merasa kesal. Kalau seandainya Aaron hidup di dunia hewan, dia pasti seorang Raja buas yang berada di puncak rantai makanan.
"Apa kakakmu tau kalau kamu sudah kembali?"
Tante Aaron saat berumur 18 tahun, melahirkan Kairav Robinson dan saat usianya 34 tahun, baru melahirkan Samuel Bryan Ardinata. Tante sekeluarga terhadap Samuel, sama sekali tidak mengekang.
Samuel, seorang anak yang tidak putuh dan sering sekali kabur dari rumah. Tante sekeluarga, sejak awal sudah terbiasa dengan kelakuan Samuel.
Tapi, kalau tantenya tau kali ini Samuel kembali ke Kota B, pasti akan menelpon Aaron.
Anak berusia 14 tahun seorang diri kabur dari rumah dan pulang ke negaranya, mereka pasti tidak akan tenang.
Tapi, tantenya sampai sekarang masih belum menelponnya. Pasti belum tau kalau Samuel sudah kembali.
Sedangkan kakak Samuel, Kairav Robinson, saat ini juga ada di Kota B.
Samuel menggelengkan kepala. "Dia tidak tau."
Aaron tertawa dingin. Kalau bukan karena Samuel dan Naura bersama, mungkin dia akan memuji keberanian Samuel.
"Apa yang terjadi antara kamu dengan Naura?"
Pantas saja beberapa hari belakang ini, perilaku Naura terlihat aneh. Ternyata sudah tau identitasnya.
Meskipun dia pernah memikirkan hal ini, tapi dia tidak menyangka kalau Naura bisa bertemu dengan Samuel.
Samuel balik bertanya dengan terbata-bata. "Apa dia itu...benar-benar istri kamu?"
"Kalau tidak?" Aaron menaikkan alisnya, menahan tawa melihat dia.
Samuel kemudian berkata dengan marah. "Bukannya istrimu orang yang jelek dan aneh?"
"Katakan sekali lagi." Nada suaranya tidak berubah, tidak marah.
Samuel tentu saja tidak berani mengatakannya lagi. Kemudian dengan patuh menceritakan kejadian beberapa hari terakhir dengan detail kepada Aaron.
Di akhir, dia masih memuji masakan buatan Naura. "Masakan buatan Naura sangat enak."
Aaron melirik dia. "Kamu panggil dia apa?"
Samuel yang ditatap dengan tatapan seperti itu, membuka mulut dan bicara dengan terbata-bata. ".....kakak ipar sepupu."
Naura yang masih bersembunyi dibelakang tangga lantai dua, melihat penampilan Samuel seperti itu merasa familiar.
Sepertinya, terkadang saat dihadapan Aaron.....dia juga sama seperti itu.
__ADS_1
...__________...