Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#101


__ADS_3

Selesai makan makan, Naura kembali ke kamar dan berbaring di atas tempat tidurnya. Dia berguling ke kanan dan ke kiri mencari posisi nyaman, tapi tetap saja merasa tidak nyaman dan tidak bisa terlelap.


Walaupun dia telah memastikan kalau Marsha tidak pergi ke Star Light malam ini, tapi selama 'Samuel' tidak pulang, Naura pun tidak bisa merasa tenang seutuhnya.


Naura selalu tidak bisa menahan diri untuk memeriksa apakah ada bunyi mesin mobil yang datang. Tapi sampai tengah malam, dia tetap tidak mendengar ada suara mesin mobil yang datang.


Itu artinya, 'Samuel' belum pulang!


Dengan kesal, Naura mengambil ponselnya untuk menelepon pria itu. Jemarinya yang lentik berseluncur dengan ragu-ragu di layar ponselnya sampai akhirnya, dia tidak jadi menelepon.


Naura teringat dengan wajah 'Samuel'. Semakin dipikirkan, dia semakin merasa bersalah.


Terus seperti itu sampai lewat tengah malam, Naura sudah tidak bisa lagi menahan rasa kantuknya dan tertidur.


Keesokan harinya.


Karena tidak bisa tidur dengan baik semalaman, pagi harinya Naura pun bangun dengan tidak bergairah seperti hantu.


Dia turun ke lantai bawah dan tetap merasa tidak tahan untuk bertanya pada pengawal. "Apakah semalam 'Samuel' pulang?"


Pengawal itu menggelengkan kepala. "Tidak."


Hati Naura menjadi sedikit murung.


Di perjalanan ke kantor, Naura masih menderukan keberanian. Dia mengeluarkan ponselnya dan menelepon 'Samuel'.


Telepon itu berdering beberapa kali, baru kemudian di angkat oleh 'Samuel'.


"Ada apa?"


Suara pria itu terdengar sedikit serak, sepertinya baru bangun tidur.


Jika diingat dari kebiasaan waktu bangun 'Samuel', Naura tau bahwa pria itu tidak memiliki kebiasaan bangun siang.


"Ti..tidak apa. Tidak sengaja kepencet. Kamu lanjutkan saja tidurmu.." Naura dengan gugup menutup teleponnya dan menggigit bibirnya.


Tidak mungkin Marsha benar-benar mendapatkannya, bukan?


Terpikir akan kemungkinan 'Samuel' tidur dengan Marsha, hati Naura pun memberontak hebat, sampai-sampai dia merasa sedikit menyesal.

__ADS_1


Di sisi lain, setelah mendapat telepon dari Naura, dia sedikit menyunggingkan senyumnya.


Tidak tahan untuk tidak meneleponnya?


Kalau begitu, biarkan saja dia merasa cemas untuk sejenak.


Dengan suasana hati Aaron yang sudah merasa jauh lebih baik, dia pun menelpon jaringan internal. "Antarkan segelas air panas untukku."


Semalam, dia tidak menyalakan penghangat ruangan di kamarnya. Jadi sekarang, dia sedikit flu.


...


Sesampainya Naura di kantor, hal pertama yang dia lakukan adalah pergi mencari Marsha.


Tqpi saat dia pergi menghampiri, tidak ada siapapun didalam ruangan kantor Marsha.


Naura pun bertanya pada asistennya. "Apa Bu Manajer belum datang?"


Asisten itu menggeleng.


Suasana hati Naura menjadi semakin rumit.


Naura termenung sejenak. Bagaimana ya, kalau memang benar diantara 'Samuel' dan Marsha terjadi sesuatu? Dia merasa, akan ada bunga yang tumbuh di dalam kandang sapi.😆


...


Karena masalah pabrik perusahaan Affandi yang terekspos, kredibilitas pasar pun menurun drastis. Perdebatan di internet pun sangat sengit, dan begitu orang lain mengungkit perusahaan Affandi, yang ada hanyalah caci maki.


Sudah 48 jam berlalu semenjak masalah pabrik terekspos sampai sekarang. Jika tidak segera memikirkan cara untuk menyelesaikannya, masalah ini hanya akan terfermentasi semakin hebat.


Departemen sosial sudah unjuk muka, namun tetap tidak bisa menekan masalah ini. Mungkin karena pergerakan yang terlalu cepat.


Walaupun perusahaan sudah bernegosiasi dengan media, namun pihak media juga tidak setuju menerima sogokan uang untuk menekan semua topik hangat perusahaan Affandi ini.


Sekarang ini, Perusahaan Affandi berada dalam kondisi yang sangat pasif.


Siang ini, Naura mendengar kalau Perusahaan Affandi akan mengadakan konferensi pers sore nanti.


Tapi, hari ini Marsha tidak datang ke kantor. Malah kini Fajar yang meneleponnya dan menyuruhnya datang ke ruangannya.

__ADS_1


Beberapa hari ini, Fajar melalui hari-hari yang menyulitkan. Dia menjadi terlihat bertambah tua belasan tahun. Ubannya juga mulai banyak terlihat.


Begitu Naura masuk kedalam ruangannya, dia dengan tergesa-gesa menyambut kedatangannya. "Naura, aku sudah menyuruh orang untuk membantumu mencari blackcard itu. Perusahaan memutuskan untuk menggelar konferensi pers sore ini. Setelah itu, kamu mintalah Aaron untuk datang membantu kita. Setelah semua ini berlalu, masalah ini pasti akan lebih lancar kedepannya."


Naura langsung menanggapi ucapannya. "Kalau begi, apa blackcardnya sudah ketemu?"


Blackcard itu, jelas-jelas ada di tangan Fajar. Namun sampai sekarang, dia masih tidak bersedia untuk menyerahkannya. Dia juga berbohong telah menyuruh orang mencari blackcard itu. Pria tua ini jelas-jelas tidak ingin terbongkar kedoknya dan terlihat tidak bersalah.


Naura tentu saja tidak akan tertipu lagi olehnya!


"Bukankah sekarang ini sedang dicari? Seharusnya bisa ditemukan. Yang terpenting sekarang ini adalah kita harus lebih dulu menyelesaikan masalah Perusahaan Affandi yang sangat genting ini." Fajar menekuk wajahnya. Dia merasa tidak terlalu puas dengan respon Naura.


Naura tidak lagi memiliki kesabaran untuk membuang waktu dengan Fajar. Dia pun tersenyum tipis. "Blackcard itu adalah kartu di tangan Aaron. Dia tau setiap informasi transaksi. Kemarin dia bertanya kepadaku, barang apa yang aku beli sampai menghamburkan uang sebanyak itu dan dia menyuruhku mengembalikan kartu itu padanya. Kalau tidak, dia akan langsung membekukan rekening banknya."


Berhadapan dengan orang yang berasal dari keluarga Affandi, membuat Naura sekarang ini juga mengatakan kebohongan. Ini merupakan kesamaan dengan mereka.


Seketika wajah Fajar menjadi pusat pasi. Belakang ini, dia dan Marsha memang terus menerus menggunakan uang dari kartu itu. Kalau Aaron berniat menyelidiki rekeningnya, maka sumber masalahnya akan langsung terungkap. Perbuatannya akan dengan mudah tertelusuri.


Walaupun Naura tidak tau apa-apa, namun Aaron tidak mungkin sebegitu mudahnya dikelabui.


Sedangkan masalah yang ada di depan mata, bukan hanya tentang uang saja. Tentu saja solusi untuk menyelesaikan masalah pabrik perusahaan Affandi adalah yang terpenting.


Sebelumnya, Fajar juga merasa panik. Dia terpengaruh dengan perkataan Marsha dan melangkahi batasannya. Dia benar-benar lupa akan Aaron Daffa.


Sekarang, barulah dia merasa takut.


"Ayah pasti akan menyuruh orang untuk secepatnya menemukan blcakcard itu."


"Terimakasih, ayah."


...


Tidak lama setelah Naura pergi, Fajar menelepon dan memberitahunya bahwa blackcardnya sudah ditemukan.


Berakting haruslah dengan totalitas. Dengan ekspresi wajah berhutang budi, Naura bertanya. "Bagaimana bisa ditemukan? Lalu, bagaimana dengan ketiga penculik itu?"


"Sudah ditangkap polisi." Jawab Fajar dengan ambigu.🥴


"Aku akan memohon pada Aaron dengan sungguh-sungguh. Masalah perusahaan Affandi adalah masalahku juga." Seandainya saja.

__ADS_1


Fajar pun menganggapinya dengan sungguh-sungguh dan menunjukkan ekspresi wajah berterima kasih. "Semuanya, mengandalkanmu."


...__________...


__ADS_2