
Fajar duduk di atas sofa, mengusap keningnya sambil menghela napas, lalu berkata dengan suara yang terdengar lelah. "Ada orang yang ingin melawan perusahaan Affandi."
"Iya. Dimulai sejak Kairav Robinson menerima undangan perusahaan Affandi secara langsung, ini adalah salah satu rencananya." Naura tenggelam dalam pikirkannya, dan berkata lagi. "Atau mungkin sudah lebih awal."
Fajar menolehkan kepala menatap Naura, seperti pertama kali mengenalnya. Dia menatapnya, menilainya dengan teliti.
Naura menatap tatapannya dan kembalikan berucap. "Karena Kairav tidak bisa menerima kerjasama dengan perusahaan Affandi, sepertinya ada yang salah. Pasti ada pengkhianat."
Fajar menatap lekat Naura, kemudian menganggukkan kepalanya. "Ucapanmu ada benarnya."
Saat itu, setelah Aaron membantu perusahaan Affandi, Fajar merasa puas. Dia melihat kemampuan yang ada pada diri Aaron Daffa. Tentu saja dia merasa jika Kairav Robinson hanyalah orang yang mengandalkan kemampuan aktingnya untuk memenuhi kehidupannya, yang menerima kerjasama perusahaan Affandi. Tentu saja, hal ini bukanlah masalah besar.
Namun, tidak disangka muncul masalah sebesar ini. Untuk perusahaan Affandi yang baru saja membaik, ini sama saja seperti sudah jatuh tertimpa tangga.
Marsha yang melihat Fajar setuju dengan Naura, seketika dia merasa tidak senang.
"Ayah, apanya yang benar dari ucapannya? Sikap Kairav sangat berbeda terhadapku. Kurasa dia pasti menyukaiku. Masalah ini, biar aku yang menyelesaikannya. Aku akan mencari cara agar dia di depan media mengatakan karena dia menyukaiku, maka dia setuju menjalin kerjasama dengan perusahaan Affandi!"
Marsha terlihat sangat percaya diri. Membuat Naura terkejut mendengarnya.
Percaya diri boleh saja. Namun jika berlebihan seperti Marsha, ini adalah pertama kalinya Naura melihat hal seperti ini.
Naura tidak tau, jika Kairav Robinson bisa menyukai wanita seperti ini.
Mungkin Kairav akan tertarik dengan wanita yang memiliki ketenaran yang setara. Mungkin latar belakang dan penampilan wanita yang sederhana, namun pasti ada sisi baiknya.
Pasti tidak mungkin wanita seperti Marsha. Apa sisi baik dari Marsha? Pernah tidur dengan banyak pria? Atau kepercayaan diri yang melebihi batas normal?
'Brakkk!'
Fajar menggebrak meja dengan keras, dan berteriak dengan marah. "Jangan ribut!"
"Aku tidak ribut." Marsha mengangkat dagunya dengan percaya diri dan melirik sekilas pada Naura, kemudian langsung pergi keluar.
"Aku keluar dulu." Naura juga tidak tinggal untuk menenangkan Fajar.
Putri yang sudah dibesarkan, sungguh sangat mengesalkan!
……
Siang harinya saat keluar untuk makan siang, Naura berjalan keluar dari gedung perusahaan Affandi dan menemukan Aaron yang sedang berdiri bersandar pada mobilnya yang tidak jauh dari sana.
Aaron mengenakan jas hitam yang pas ditubuhnya. Didalamnya, mengenakan kemeja putih tanpa dasi, dua kancing teratas dibuka, membuatnya terlihat menggoda.
Seketika, Naura menghentikan langkah kakinya, tertegun.
Aaron telah melihat kearahnya, dia menegakkan tubuhnya, tanpa banyak bergerak, dan tanpa membuka mulut untuk berucap. Hanya menatap lurus kearah Naura.
Maksud dari tatapannya itu agar Naura cepat menghampirinya.
__ADS_1
Naura menipiskan bibirnya, sedikit mengangkat dagunya dan berjalan ke arahnya.
Setelah mendekat, dia bersedekap dengan kedua alisnya yang menyatu. "Tuan Besar Direktur Aaron Daffa Ardinata ada urusan apa datang kemari?"
Walaupun nada bicaranya pelan, namun hatinya merasa sedikit tegang.
Setelah 'Samuel' menjadi Aaron Daffa, sikap Naura seperti ini saat pertama kali berhadapan dengannya.
Saat berhadapan dengan Aaron, kebanyakan dia lebih merasa takut padanya. Itu adalah sifat ketakutan yang alami saat seseorang berhadapan dengan yang lebih kuat darinya.
Aaron yang mendengar hal itu, sedikit mengerutkan alisnya. "Kamu memanggilku apa?"
"Tuan Besar Direktur AD Entertainment." Naura menatapnya dengan senyum dingin. "Terimakasih karena anda tertarik padaku, hingga mengirimkan undangan untuk interview kerja kepadaku."
Aaron sedikit memicingkan matanya. Raut wajahnya yang datar tidak menunjukkan ekspresi apapun. Hanya suaranya yang berat, menunjukkan sedikit ketidak senangan. "Siapa yang memberitahumu?"
"Apa hubungannya dengan siapa yang memberitahuku?" Wajah Naura semakin terlihat dingin. "Karena kamu memilih untuk menyembunyikannya, pasti akan ketahuan pada akhirnya."
Mendengar ucapan Naura ini, Aaron sama sekali tidak terlihat marah. Dia bertanya dengan santai. "Jadi? Apa yang kamu inginkan?"
Aaron yang terlihat lugas, membuat Naura terdiam.
Memang apa yang bisa dia inginkan?
Walaupun Aaron telah membohonginya, dia juga tidak bisa melakukan apapun padanya.
Namun, hatinya merasa tidak nyaman. Tidak bisa berhubungan dengannya seperti tidak terjadi apapun.
Naura menipiskan bibirnya, berbalik dan melangkah pergi.
Aaron menatap punggungnya beberapa detik, kemudian mengikutinya dengan pelan.
Kedua orang itu, satu berjalan didepan dan satunya lagi berjalan dibelakang memasuki restoran.
Saat Naura duduk, Aaron juga ikut duduk didepannya.
"Untuk apa kamu ikut kesini?!" Ucap Naura dengan kesal.
Aaron menatapnya dengan serius. "Kamu tidak menjawab pertanyaanku tadi. Kamu ingin aku melakukan apa?"
"Memangnya aku bisa menyuruhmu melakukan apa?"
"Apapun."
Naura mulai pusing menghadapi Aaron. Jika usia mereka berdua disatukan, maka hampir mencapai setengah abad.
Namun disini, mereka berdua seperti anak kecil yang terus berputar-putar.
"Aku ingin kamu menjauh dariku!" Sekarang Naura merasa muak melihat Aaron.
__ADS_1
Duduk dihadapan Aaron saat ini, Naura merasa dirinya menjadi sangat bodoh.
Sejak awal hingga akhir, seluruh hidupnya dikendalikan oleh Aaron.
Setiap pergerakannya, keseluruhannya, Aaron mengetahui semuanya.
Sedangkan masalah mengenai Aaron, Naura tidak mengetahui apapun.
Dulu, saat Aaron masih menjadi 'Samuel', walaupun Naura merasa sedikit takut, tapi karena hubungan antara kakak dan adik ipar, dia bisa merasa sedikit tenang.
Namun, setelah pria itu menjadi Aaron yang sesungguhnya, rasa takut dalam hati Naura menjadi berakar, hingga tumbuh dedaunan.
"Oh." Aaron menjawab sejenak, lalu melanjutkan. "Yang itu tidak bisa kulakukan."
"Kamu......"
Naura berpikir sejenak, kemudian bertanya dengan ragu. "Kenapa kamu harus memaksa kakekku untuk kembali?"
Aaron menatapnya. Iris matanya yang hitam itu menatapnya dalam.
Naura yang ditatap olehnya menjadi gugup.
Aaron kemudian berucap dengan santai, dua mengucapkan dua kata. "Coba tebak."
Naura tercengang sejenak, kemudian tersenyum dan seperti tidak peduli dengan jawabannya. "Oh."
Arti dari dua kata "coba tebak", Aaron tidak ingin memberitahunya.
Aaron selama ini bisa memperlakukannya dengan baik, mungkin karena dia adalah istrinya. Atau karena Aaron tertarik padanya. Mungkin juga karena dia bagian dari keluarga Affandi.
Saat ini, tiba-tiba Naura mengerti. Alasan Aaron melakukan seperti yang dijanjikan di kontrak pernikahan dengan Marsha, tidak lebih karena Marsha adalah bagian dari keluarga Affandi.
Bukan karena keluarga Ardinata tidak mempedulikan wanita yang dinikahi Aaron, tapi Aaron tidak peduli asalkan Putri dari keluarga Affandi. Entah apa itu Marsha atau Naura, dia tidak peduli sama sekali.
Kesedihan yang tiba-tiba muncul itu, membuat Naura tidak memiliki napsu untuk makan.
Saat pesanan makanan diantarkan, Naura hanya makan beberapa suap, kemudian meletakkan sumpitnya.
Aaron menatapnya sekilas, lalu mencapitkan lauk ke atas piring Naura. Dia berkata dengan suara rendah dan tenang. "Semalam kamu sudah bekerja keras, makanlah yang banyak."
Seketika, wajah Naura memerah. "Tidak mau makan, tidak bernafsu!"
"Apa karena tidak istirahat dengan baik?" Aaron bertanya dengan sungguh-sungguh. "Kalau begitu, siang ini pulanglah untuk beristirahat. Lagipula kamu juga tidak senang bekerja di perusahaan Affandi."
Naura sedikit tertegun.
Hanya sedikit orang yang memperdulikan apa dia merasa senang atau tidak.
Saat Aaron memperlakukannya dengan baik, benar-benar sangat baik.
__ADS_1
Namun, Naura merasa, pria tukang tebar pesona seperti Aaron saat memperlakukan wanita dengan sangat baik, bagi wanita itu, sama seperti racun.
...----------------...