
Setelah kemarin Aaron membicarakan mengenai pengunduran diri dengan Naura, Naura telah memikirkannya, dan memutuskan untuk mengundurkan diri.
Saat ini dia berada di Perusahaan Affandi hanya melakukan pekerjaan kecil, seperti mencetak data, merapikan dokumen, tidak ada sedikitpun hubungan dengan jurusannya.
Apa yang dikatakan Aaron memang benar, jika terus bertahan di Perusahaan Affandi, hanya akan membuang waktu tanpa arti.
Naura sudah yakin dengan keputusannya, dia tidak akan menundanya lagi. Dengan cepat dia pun menulis surat pengunduran diri. Saat dia masuk kerja, dia langsung menyerahkannya pada Fadhil Affandi.
Sejak kakeknya kembali, semuanya baik masalah kecil maupun besar diurus oleh kakeknya. Semua pengambilan keputusan juga harus melalui persetujuan kakeknya baru dijadikan keputusan akhir.
Ini sama saja seperti, Fajar Affandi sudah tidak memiliki kekuasaan lagi di Perusahaan Affandi.
Naura mendorong pintu ruangan kantor Fadhil Affandi dan masuk, kemudian meletakkan surat pengunduran dirsandaran atas meja. "Kakek."
Fadhil Affandi yang sedang membaca dokumen mengangkat kepalanya, melihat sekilas surat pengunduran diri. Dia terdiam sejenak, kemudian berkata. "Apa maksudnya ini?"
"Seperti yang kakek lihat, aku ingin mengundurkan diri. Silahkan Presdir Affandi setujui." Naura menatapnya dengan tenang, suara dan raut wajahnya juga terlihat sama tenangnya.
"Duduklah." Fadhil Affandi menunjuk kursi yang ada di seberang meja kerjanya.
Naura duduk di sana.
Setelah Fadhil Affandi kembali dari luar negeri, dia cukup sering berhubungan dengan Naura. Namun, baru kali ini dia melihatnya dengan teliti.
Saat dia pergi ke luar negeri, Naura masih berusia tujuh tahun. Naura adalah gadis kecil yang sangat cantik dan berprestasi. Gadis kecil itu juga terlihat sangat menggemaskan saat memanggilnya kakek.
Bagaimana pun, Merlin adalah ibu tiri. Dalam benaknya, dia lebih menyayangi Marsha dan saudaranya, hingga membuatnya tidak begitu memperhatikan Naura.
Kemudian beberapa tahun ini, terkadang dia sering mendengar kabar mengenai Naura. Dia semakin merasa jika pemikirannya benar.
Hanya saja, setelah dia benar-benar kembali dan melihat Naura, dia baru menyadari sangat berbeda dengan apa yang ada di pikirannya.
Merlin yang sejak kecil dia sayangi, tanpa disadarinya telah menyimpang.
Sedangkan Naura yang selalu dia abaikan, malah menjadi orang yang paling membahayakan Perusahaan Affandi.
Naura menerima tatapan menilai dari Fadhil Affandi, tidak bereaksi apapun, tidak terlihat panik, justru terlihat lebih kuat dibandingkan Marsha.
Fadhil Affandi menarik tatapannya kembali, melirik sejenak pada surat pengunduran diri yang ada di hadapannya, kemudian bertanya pada Naura. "Kenapa ingin mengundurkan diri?"
"Pekerjaan yang kulakukan sekarang, tidak sesuai dengan jurusanku. Dan keberadaanku di Perusahaan Affandi sekarang, tidak lebih seperti memelihara orang yang tidak memiliki pekerjaan."
Selesai Naura mengatakan hal itu, dia pun merasa sedikit terkejut. Berada cukup lama di Perusahaan Affandi, ternyata membuatnya bisa mengucapkan hal seperti ini.
"Apa yang kamu katakan? Kamu itu bagian dari keluarga Affandi. Bekerja di perusahaan sendiri, bagaimana bisa menjadi orang yang tidak tidak memiliki pekerjaan?" Nada bicara dan raut wajah Fadhil Affandi terlihat serius.
__ADS_1
Naura sedikit menyipitkan matanya, memperhatikan dengan teliti maksud dari ucapan Fadhil Affandi.
Ucapan dari Fadhil Affandi terlihat jelas jika tidak menginginkan Naura untuk pergi.
Seketika Naura menjadi sedikit mengerti, kenapa Fadhil Affandi tidak ingin dirinya mengundurkan diri.
...
Pengunduran diri gagal!
Setelah keluar dari ruangan kantor Fadhil Affandi, Naura menerima telepon dari Aaron.
Dia berjalan ke sudut sambil menerima telepon.
"Apakah kakekmu sudah menyetujuinya?" Terdengar suara Aaron dari seberang telepon, suara yang berat dan pelan membuat orang yang mendengarnya merasa tenang.
Naura yang awalnya mengira Fadhil Affandi akan setuju begitu saja, akhirnya merasa kecewa. Namun sekarang, setelah mendengar suara Aaron, terdengar nada bersalah dari ucapannya. "Tidak."
Aaron yang ada di seberang sana terdiam sejenak, entah apa yang sedang dia pikirkan. "Pulang kerja nanti aku akan menjemputmu."
"Hmm."
Setelah Naura menutup telepon, dia merasa jika Aaron tidak hanya akan menjemputnya. Sepertinya, Aaron akan datang kemari untuk membantunya mengurusi permasalahan pengunduran dirinya.
Naura kembali ke ruangannya, dia terlihat bosan karena tidak ada yang bisa dikerjakan. Dia kemudian membuka akun chattingnya.
Baru saja masuk ke akun chattingnya, dia langsung menemukan sebuah berita dengan foto screenshot.
Evelyn yang mengirimkannya.
Dari sebuah akun, Aaron menggunakan akun Christian membalas komentar "matamu buta", hal itu membuat banyak komentar dari netizen mengenai tebakannya pada Christian dan Kairav Robinson.
Naura melihatnya beberapa kali, kemudian melihat sosial media yang terdapat akun Christian, dan menemukan jika itu benar-benar terjadi!
Gosip terhangat dari "Kekasih Misterius Kairav Robinson" telah berubah menjadi "Kairav Robinson dan Christian Raymond".
Dampak nama di dunia hiburan sangat luar biasa. Belum beberapa jam, masalah mengenai Christian dan Kairav sudah menjadi topik gosip terhangat.
Naura kembali ke akun chattingnya, menerima pesan yang dikirimkan oleh Evelyn. ["Aku sudah tahu jika Christian si brengsek itu tidak akan berubah!"]
["Apakah Christian dulu juga menyukai pria?"] Naura merasa terkejut.
Dia kembali teringat Aaron yang begitu menekan Christian, dan Christian juga hanya bisa menerima dengan pasrah. Tiba-tiba, Naura merasa sedikit khawatir.
'Christian tidak mungkin memiliki maksud lain pada ... Aaron, kan???'
__ADS_1
Evelyn sibuk memakin Christian, satu demi satu pesan terus berdatangan sama seperti sebuah meriam, dan mengabaikan pertanyaan Naura itu.
Kerena hal ini, Naura pun terus tenggelam dalam perasaan tegangnya.
Hingga hampir jam pulang kerja, dia menerima telepon dari Aaron.
"Aku sudah ada di bawah Perusahaan Affandi."
Naura dengan cepat langsung membawa tasnya turun ke bawah.
Mobil Aaron berhenti di tempat parkir yang ada di seberang Perusahaan Affandi, dia menurunkan. setengah kaca jendela mobilnya, menunjukkan sisi samping wajahnya yang dingin.
Naura berlari menghampirinya, menarik pintu mobil, kemudian masuk ke dalam.
Aaron menolehkan kepala menatapnya, tidak terlihat raut apapun di wajahnya. Dia mengulurkan tangannya merapikan poni Naura yang berantakan tertiup angin saat dia berlari menghampirinya.
Setelah Naura menahan perasaannya seharian tadi, akhirnya dia bertemu dengan Aaron, namun dia tidak tahu harus bagaimana memulainya.
Dia membuka mulutnya dengan ragu-ragu. "Kamu...merasa Christian itu orang yang bagaimana?"
"Christian?" Aaron berpikir sejenak, kemudian berucap, "Emosinya sedikit meledak-ledak, tapi kemampuannya untuk menyelesaikan masalah tidak buruk."
'Terdengar sangat akrab saat menceritakan tentang Christian, bahkan sampai memujinya!'
Hati Naura pun menjadi cemas. "Sebelumnya, gosip kekasihnya itu, benar atau palsu?"
"Palsu." Aaron melihat Naura yang terus menanyakan Christian, raut wajahnya mulai berubah menjadi tidak enak.
'Gosip itu palsu? Itu pasti untuk menyembunyikan masalah dia yang menyukai pria.'
Raut wajah Naura berubah. "Kalau begitu dia..."
"Naura." Aaron dengan suara beratnya memotong ucapan Naura.
Naura langsung terdiam, mengangkat kepalanya menatap Aaron.
Aaron sedikit menyipitkan matanya, tatapannya terlihat suram. "Sejak kamu naik ke mobil, kamu terus membicarakan pria lain denganku."
"Aku hanya..."
Aaron berucap dengan raut wajah yang datar. "Kuberi waktu tiga menit untuk membujukku."
'Tiga menit?'
...----------------...
__ADS_1