Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#22


__ADS_3

Naura mengikuti Fajar masuk kedalam ruang kerjanya.


Fajar menatapnya dengan serius. "Sebenarnya, ada hubungan apa antara kamu dengan 'Samuel'?"


"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengannya." Jawab Naura dengan wajah polos dan menggelengkan kepalanya.


"Waktu itu kamu pulang kerumah bersama dia! Ibumu dan Marsha melihat apa yang kalian berdua lakukan didalam mobil!" BRAKKK!


Fajar pun menjadi emosi hingga menggebrak mejanya membuat Naura terperanjat kaget.


"Kamu ini sudah menikah dengan Aaron Daffa! Baik-baiklah menjadi Nyonya Muda Ardinata! Kenapa masih berhubungan dengan adik sepupunya?!" Bentak Fajar dengan emosi.


Naura tersenyum dingin dalam hatinya. Sejak dulu, Fajar tidak pernah memperhatikan dirinya. Dia mengangkat wajahnya menatap Fajar dengan wajah tidak bersalah. "Tidak Ayah."


Fajar menatap wajah Naura. Sorot matanya memperlihatkan kalau dia sedang memandang rendah Naura.


Fajar merasa bahwa dirinya dan Merlin memiliki paras yang tidak jelek. Tapi, kenapa bisa memiliki anak jelek seperti Naura?


Kalau bukan sudah melakukan tes DNA, dia akan terus mempertanyakan apa Naura benar anak kandungnya atau bukan.


Dengan melihat paras Naura yang seperti ini, bukankah sama sekali dia tidak memiliki modal untuk menggaet seorang laki-laki?


Setidaknya, Naura masih ada gunanya bagi dia.


"Baguslah kalau tidak. Kalau ada kesempatan, kamu ajak kakakmu ke kediaman keluarga Ardinata biar dia bisa mengenal lebih banyak teman lagi." Ucap Fajar. "Adik sepupu Aaron yang bernama 'Samuel' itu, dia lumayan juga.


Naura masih mengingat ucapan Fajar barusan. Dulu, Fajar juga pernah mengatakannya. "Bukankah, kakak sudah punya banyak teman? Dia juga sudah ada Lucky." Ucap Naura dengan wajah polosnya.


"Tau apa kamu?!" Ucap Fajar dengan wajah dinginnya. "Sudah, turun sana!"


Naura memperlihatkan wajahnya yang ketakutan. Dia kemudian mengangguk dan segera pergi turun kebawah.


...


"O ya, apa posisimu diperusahaan Ardinata? Sepertinya, aku belum pernah melihat Tuan Muda 'Samuel' di kota ini." Tanya Fajar ketika sudah berada di meja makan.


Aaron mengangkat wajahnya menatap Fajar dan menjawab dengan pelan. "Aku baru pulang dari luar negeri dan diperusahaan, aku tidak melakukan apa-apa. Hanya menghabiskan waktu saja."


Mata Fajar tampak berbinar dan dia kembali bertanya dengan lembut. "Lalu bagaimana dengan orang tuamu? Apa mereka masih diluar negeri?"

__ADS_1


Aaron terlalu malas menanggapi pertanyaan Fajar. Dia mengambil mangkuk didepannya lalu memberikannya pada Naura. "Kakak ipar, bantu aku ambilkan supnya."


Naura mengangkat wajahnya dan melihat mangkuk yang disodorkan oleh 'Samuel' dihadapannya.


Dia merasakan perawakan 'Samuel' dari atas kepala hingga kaki, benar-benar perawakan seorang Tuan Muda. Dia menatap dalam mata 'Samuel'. Tidak mengatakan apa-apa lalu meraih mangkuknya dan berdiri mengbilkan sup kemudian meletakkan dihadapannya.


"Terimakasih." Ucap 'Samuel' terlihat sedang tersenyum kepadanya.


Naura terpaku sesaat. Dia merasa kalau Tuan Muda yang satu ini memang pandai berakting.


Pertanyaan Fajar tidak dihiraukan oleh 'Samuel', raut wajahnya menjadi tidak enak dipandang.


Melihat kedekatan Naura dengan 'Samuel' seperti ini membuatnya menjadi semakin ingin meminta Naura untuk mendekatkan Marsha dengan 'Samuel' tentu saja adalah cara yang tepat.


Lucky adalah kekasih Marsha. Dia hanya dijadikan cadangan saja oleh Marsha.


Ketika Fajar ingin berbicara lagi, Aaron melirikny sekilas kemudian menoleh kearah Naura. "Kakak ipar, aku sudah kenyang. Ayo kita pulang." Aaron kemudian berdiri. "Terimakasih." Lanjutnya terdengar seperti nada memerintah.


Aura yang terpancar dari Aaron Daffa yang begitu kuat, sudah bawaan sejak dia lahir. Tetapi, juga membuat orang sangat kagum kepadanya.


Naura merasa setelah ditampar oleh Marsha, dirinya menjadi bodoh seperti ini hingga dia merasa 'Samuel' sangat memikat.


Lagi-lagi Fajar belum sempat mengatakan apa yang ingin dia katakan, tapi Naura sudah lebih dulu bicara berpamitan kepadanya.


Fajar pun menjadi tersulut emosi menatap Naura dengan marah. "Cepat pergi sana!"


Naura menunduk, mengambil tasnya kemudian bergegas pergi.


Fajar, Merlin dan Marsha mengantar kepergian Naura dan 'Samuel' sampai depan.


Mau bagaimana lagi? Tadi dia tidak diberi muka oleh 'Samuel'. Tapi, karena 'Samuel' memiliki kekuasaan, dengan terpaksa dia harus tetap bersikap baik dan mengantar Naura dan 'Samuel' dengan tersenyum.


"Tuan Muda 'Samuel' lain kali datang lagi ya?" Ucap Merlin dengan sangat lembut.


Aaron hanya meliriknya sekilas lalu menoleh kearah Naura yang sudah berdiri disamping mobilnya. "Masih belum masuk?"


Seketika, Naura membuka pintu mobil dibagian penumpang. Tapi, tidak bisa dibuka. Dia menatap 'Samuel' dengan bingung.


Aaron menatapnya dengan tatapan dingin. "Dasar bodoh! Kamu pikir aku ini supirmu?"

__ADS_1


Naura berdecak merasa kesal. Dia hanya tidak mau duduk disamping 'Samuel' saja. Tapi, laki-laki ini sudah berkata seperti itu, dia pun membuka pintu mobil bagian depan dan masuk.


Aaron segera melajukan mobilnya keluar dari pintu gerbang kediaman keluarga Affandi. Didalam mobil terasa sangat hening.


Naura merasa ada yang aneh dengan kedatangan 'Samuel' kerumahnya hari ini.


"Apa benar, Aaron yang menyuruhmu datang untuk menjemput aku?" Tanya Naura memecahkan keheningan didalam mobil.


Setelah dipikir-pikir olehnya, dia masih tidak bisa menebak apa tujuan 'Samuel' datang kerumahnya.


Aaron tidak menoleh. Pandangannya tetap fokus kedepan. "Kalau tidak? Apa kamu kira aku ingin datang dengan sendirinya?" Jawabnya dengan datar.


Naura tidak ingin terlalu menanggapinya lagi. "Oh." Baguslah kalau begitu.


Selama bertahun-tahun, Naura berpura-pura menjadi jelek dan bodoh. Keluarganya sudah terbiasa dengan penampilannya yang bodoh seperti ini.


Tapi, keluarga Ardinata, untuk mencari pelayan dirumahnya saja pasti akan mencari orang yang pintar.


Jadi, setelah Naura menikah dengan Aaron Daffa dan keluar dari keluarga Affandi, dia tidak perlu lagi menutup-nutupinya.


Aaron menoleh kearah Naura. Melihat Naura menghela nafasnya dengan wajah datar memalingkan wajah.


Naura merasa takut terlalu banyak berhubungan dengan 'Samuel'.


Meskipun tau kalau Naura sangat tidak menyukai 'Samuel', tapi di dalam hati Aaron ada kekesalan yang sulit dijelaskan.


Tiba-tiba Aaron menambahkan kecepatan laju mobilnya hingga membuat tubuh Naura terpental.


"Apa-apaan sih kamu ini?!" Pekik Naura sambil menatap 'Samuel' dengan tatapan penuh emosi.


"Aku tidak sengaja." Jawan 'Samuel' dengan santai.


"Dasar kamu ......." Naura sampai tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Dia kemudian menghela nafasnya panjang.


Menghadapi Tuan Muda macam dia, selain harus bisa menahan kesabarannya, dia juga tidak bisa berkata apa-apa lagi.


Melihat Naura yang sedang menahan emosi, Aaron ingin sekali tersenyum.


Naura merasa, kalau dirinya tidak pernah bisa akur dengan 'Samuel'. Tidak pernah ada hal baik setiap kali bertemu dengannya. Keinginan untuk menjauhinya pun semakin kuat.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2