Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#8


__ADS_3

Sudah jelas kalau Marsha dan Aaron Daffa sudah terikat dengan perjanjian perjodohan. Tetapi pada akhirnya, Nauralah yang menikah dengan Aaron menggantikan Marsha karena Marsha tidak mau menikah dengan laki-laki jelek dan impoten.


Kemudian menjadikan Naura sebagai papan lompatan dan mencarikan Marsha anak laki-laki dari keluarga Ardinata yang tampan dan hebat untuk dijadikan suami Marsha.


Semua orang-orang yang tinggal di kota Besar ini tidak ada yang tidak tau dengan keluarga Ardinata. Selain Aaron Daffa Ardinata, beberapa saudara sepupu dari Aaron adalah orang-orang yang hebat.


Memikirkan semua ini, Naura ingin sekali tertawa. Menertawakan dirinya sendiri. Marsha adalah anak kandung Fajar. Lalu apa dia bukan anak kandungnya? Bagaimana bisa pilih kasih seperti ini?


Narua menahan rasa sakit dihatinya. Tapi dia berusaha untuk tenang. "Sebenarnya, aku juga ingin mengajak kakak ke rumah keluarga Ardinata. Tapi, aku sendiri sampai sekarang masih belum bertemu dengan Aaron." Ucap Naura menanggapi ucapan Fajar.


Seketika, Fajar menjadi emosi mendengarnya. "Apa yang kamu katakan? Bahkan suami sendiri belum kamu temui tapi kamu masih tidak tau malu untuk pulang ke rumah?!"


Mata Naura memanas menahan tangisnya. Menahan supaya air matanya tidak jatuh. Dia tetap masih bisa untuk bicara dengan tenang. "Kalau begitu, ayah antar saja kakak ke keluarga Ardinata. Siapa tau, Aaron mau menemuinya. Aku ini sangat jelek, untuk apa Aaron mau bertemu dengan aku?"


Kebetulan, Aaron mendengar ucapan Naura barusan ketika dia keluar dari kamar mandi.


Naura sedang duduk ditempat tidur, rambutnya yang hitam terurai, jari-jari tangannya yang putih menggenggam erat teleponnya hingga terlihat dengan jelas urat ditangannya. Matanya sudah dipenuhi cairan bening dan dia berusaha menahannya agar tidak menetes. Terlihat begitu rapuh membuat orang yang melihatnya merasa kasihan.


Aaron menyipitkan matanya memandangi Naura. Dia pun menyadari kalau istrinya ini semakin enak dipandang.


Entah apa yang diucapkan orang diseberang telepon kepada Naura. Aaron hanya melihat Naura mematung dengan wajah yang memucat penuh kesedihan. Naura tidak mengatakan apa-apa lagi juga tidak menutup teleponnya.


Aaron berjalan menghampirinya lalu mengambil telepon dari tangan Naura kemudian menutup panggilan telepon tersebut. Dia mengerutkan alisnya. Gadis jelek ini dijaman yang sudah modern ini masih memakai telepon genggam seperti ini.


Aaron menunduk menatap Naura. "Ucapan yang tidak mau kamu dengar, maka jangan didengar!" Ucapnya dengan datar.


Seketika, Naura mengangkat kepalanya tapi pandangannya kabur tidak bisa melihat wajah laki-laki. yang menyebalkan ini didepannya karena matanya masih dipenuhi dengan air mata. Tapi, Naura merasakan ada kehangatan dalam ucapan 'Samuel' barusan.


Beberapa saat kemudian, Naura terbelalak terlihat terkejut. "Kenapa aku bisa ada diatas kasur?"


Seingat Naura, semalam dia tidur disofa karena kasurnya dia berikan kepada 'Samuel' yang sedang terluka.


"Kamu sendiri semalam tidur sambil berjalan naik ke atas kasur." Jawab Aaron dengan wajah tanpa ekspresi kemudian berjalan naik keatas kasur dan berbaring disamping Naura.

__ADS_1


Ini sangat aneh! Naura belum pernah tidur sambil berjalan. Dia menoleh menatap laki-laki menyebalkan disampingnya dengan wajahnya yang memerah karena marah. "Kamu..."


"Aku sedang terluka." Sahut Aaron menyambar ucapan Naura sambil menoleh menatapnya.


Seumur hidupnya, Naura belum pernah tidur seranjang dengan laki-laki. Nafas Aaron yang berada disampingnya begitu dekat. Aroma harum dari tubuhnya membuat kemarahan Naura menghilang dan berubah menjadi tegang.


Naura menggigit bibir bawahnya, membuka selimut dan ingin beranjak turun dari kasur. Tapi tanpa dia duga, tangannya dipegang oleh laki-laki yang sedang berbaring disampingnya.


Aaron menatap lekat wajah Naura dan tersirat dimatanya rasa ingin tau. "Kenapa kulit tanganmu sangat putih, tapi wajahmu tidak?"


Naura terlihat terkejut mendengarnya dan dengan cepat menghempas tangan 'Samuel' lalu beranjak turun dan berjalan masuk kedalam kamar mandi.


Aaron merasa semakin tertarik dengan istrinya ini.


Didalam kamar mandi, Naura menatap wajahnya yang tampak gelap dengan beberapa jerawat yang berwarna kuning dan sepasang mata yang bersinar dari cermin.


Dia membuka lemari dibawah wastafel dan mengambil cairan pembersih make-up dan membersihkan make-up diwajahnya. Setelah bersih, tampak wajah yang putih dan bersih di depan cermin. Seorang gadis atau Nona Muda dari keluarga Affandi yang sangat cantik.


Naura sampai lupa dengan wajah aslinya kalau bukan karena dia lulus kuliah, menyewa rumah sendiri di luar dan setiap hari harus menghapus make-up diwajahnya.


Naura menjadi teringat dulu saat dia masih kecil. Dia selalu terlihat lebih unggul dari Marsha. Merlin selalu mengatakan kepadanya kalau dia tidak boleh unggul dari kakaknya. Merlin juga tidak pernah membelikan dia pakaian yang bagus.


Demi ingin menyenangkan hati ibunya, Naura selalu berusaha keras.


Dia merubah diriya menjadi bodoh. Disekolahnya, dari peringkat pertama menjadi peringkat paling akhir. Dari seorang gadis favorite, menjadi gadis yang sangat jelek hingga semua teman-temannya menjauhinya.


Tapi ternyata, usahanya selama ini sia-sia. Ibunya sama sekali tidak merasa senang dan tidak. menyukainya.


Naura tidak pernah percaya kalau ibunya tidak menyayanginya sama sekali.


Kurang lebih setengah jam kemudian, Naura telah selesai merias wajahnya kembali lalu keluar dari kamar mandi. Dia melihat 'Samuel' duduk bersandar diatas kasurnya terlihat fokus dengan ponselnya. Tidak tau dia sedang melihat apa diponselnya. Wajahnya tidak ada ekspresi.


"Aku mau pergi keluar. Kamu cepat panggil orang untuk jemput kamu pulang." Ucap Naura dan tidak mendengar ada jawaban dari laki-laki itu.

__ADS_1


Naura. juga tidak peduli dengannya. Dia meraih tasnya kemudian pergi keluar.


Sebelumnya, Naura punya pekerjaan. Tapi setelah Merlin memaksanya menikah, dia keluar dari tempat kerjanya.


Dan sekarang, dia harus mulai mencari pekerjaan lagi untuk menghidupi dirinya sendiri.


Setengah hari sudah berlalu. Naura sedang berdiri dihalte menunggu bis datang.


Tiba-tiba ada sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepannya. Seorang laki-laki didalamnya menurunkan kaca jendela mobilnya. "Naura, kamu mau pergi kemana?" Serunya kepada Naura dengan lembut dan tersenyum.


Seketika mata Naura melebar dan dia terlihat senang. "Lucky? Kamu, kenapa ada disini?"


"Ayo naik dulu! Disini tidak bisa berhenti terlalu lama." Ucap Lucky sambil membukakan pintu mobil untuk Naura. "Aku tidak sengaja lewat dan melihatmu. Kebetulan, aku mengajak kakakmu keluar makan. Kita makan bersama saja ya?" Lanjutnya setelah keduanya masuk kedalam mobil.


Naura terpaku sesaat mendengarnya. Ternyata Lucky mengajak Marsha. Kenapa tidak terpikirkan olehnya?


Sejak lama, selalu ada orang yang mengatakan kalau Marsha dan Lucky pasangan yang sangat serasi. Tapi mereka berdua tidak pernah menjadi sepasang kekasih. Jadi, Naura bisa tetap menyembunyikan perasaannya dan tetap berteman dengan Lucky.


"Maaf, aku masih ada urusan, jadi tidak bisa ikut kalian." Ucap Naura menolak dengan halus.


"Ayolah Naura. Sudah lama kita tidak makan bersama kan? Kamu ikut aku ya?" Lucky memaksa Naura dan tidak memberinya kesempatan untuk menolak lagi.


Dengan cepat, mobil Lucky sudah sampai didepan restoran.


Ternyata Marsha sudah sampai lebih dulu. Dia melihat Lucky datang bersama Naura, seketika wajahnya berubah menjadi dingin.


"Marsha, tadi dijalan aku tidak sengaja bertemu Naura. Lalu aku ajak sekalian dia kemari. Kita makan bersama. Kamu tidak keberatan kan?" Tanya Lucky dengan raman.


Marsha pun tersenyum kepada Lucky. "Tentu saja tidak keberatan." Jawab Marsha dengan lembut.


"Kalau begitu, aku mau ketoilet dulu sebentar. Kalian mengobrol saja dulu." Ucap Lucky dengan tersenyum kemudian pergi ketoilet.


Wajah Marsha seketika berubah menjadi sangat dingin menatap Naura begitu Lucky pergi. "Apa suamimu yang tidak berguna itu tidak bisa memuaskanmu? Lalu sekarang, kamu berusaha mendekati Lucky?!"

__ADS_1


................


__ADS_2