Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#74


__ADS_3

Beberapa hari kemudian.


Aaron tidak mengeluarkan suara lagi setelah melihat rekaman video yang ditunjukkan oleh Merlin kepadanya.


Naura melihat Merlin dengan raut wajah yang mengejek. Dia membalikkan badan dan langsung keluar.


Merlin masih belum mengerti sebenarnya apa yang terjadi, tiba-tiba Ivan sudah berjalan ke hadapannya. "Nyonya Affandi, silahkan....."


Ivan mempersilahkan Merlin dengan jelas memaksanya untuk segera pergi.


Merlin yang selama ini pengecut, begitu tau rekaman yang dibawa dia rekaman palsu, wajahnya terlihat sangat malu. Merlin menundukkan kepalanya dan pergi keluar.


Sampai dipintu, dia melihat Naura sedang berpangku tangan, bersandar di pintu menatapnya.


Merlin melangkah mendekatinya. "Naura, kamu......"


"Tidak keberatan kan mengajak aku?" Tanya Naura dengan wajah dingin menjaga jarak.


Bagi Merlin, Naura yang seperti ini, sangat asing. Tapi, dia tetap menganggukkan kepala.


Di dalam mobil, Merlin dan Naura duduk berdampingan di kursi penumpang.


Naura masih dengan wajah dinginnya membuka pembicaraan terlebih dahulu. "Apa Marsha yang meminta Ibu datang?"


Naura bertanya dengan suara yang terdengar dingin dan datar membuat Merlin yang tadinya ingin menjawab 'tidak', dia pun menjawab dengan "Iya, dia."


Merlin seketika memucat. Dia masih tetap membela Marsha. "Waktu itu, dia hanya ceroboh. Biasanya dia baik terhadap Ibu. Naura, ibu lihat kalau Aaron seperti sangat mempercayai kamu. Hubungan kalian pasti sangat baik kan? Kamu jangan membuat kakakmu merasa tidak senang. Kamu mengalah saja dengan dia. Belakangan ini karena urusan kamu, dia menjadi sangat marah sampai tidak selera makan dan......."


"Sudah cukup!" Teriak Naura menghentikan ucapan Merlin.


Naura selama ini tidak pernah berteriak seperti ini kepada Merlin. Sejak dia lahir hingga dia tumbuh dewasa sampai sekarang ini, ini pertama kalinya Naura berteriak histeris kepada ibunya, membuat Merlin langsung terkejut.


Kedua mata Naura memerah, tapi setetespun tidak mengeluarkan air mata.


"Kalau pun kamu tidak pernah menganggap aku sebagai putri kandungmu, setidaknya kamu bisa menganggap aku sebagai seorang manusia! Aku juga punya hati, aku bukan barang yang tidak bisa sedih kalau diperlakukan seenaknya olehmu! Aku ini manusia! Aku juga punya perasaan! Aku tau rasa sakit hati dan juga sedih!"


"Aku tau...... " Merlin dikagetkan dengan nada suara Naura. Tapi, dia tetap ingin bicara. "Beberapa tahun ini, Ibu di keluarga Affandi juga tidak mudah. Ibu hanya ingin kamu bisa membantu Ibu......."


Naura kembali memotong ucapannya. "Kalau begitu, apa beberapa tahun ini kamu kira aku melaluinya dengan mudah?! Sejak aku tau kalau kamu tidak pernah membelikanku pakaian, semua yang aku pakai adalah pakaian bekas dari Marsha dan pelayan dirumah, setiap kali kamu membuat kue dan memotong buah untuk Marsha, yang aku makan sisa dari dia hingga sampai sekarang aku dipaksa menikah dengan Aaron Daffa, kalian masih tidak mau melepaskan aku......."

__ADS_1


Naura menghentikan ucapannya, menutup matanya rapat-rapat, mendongakkan kepala sambil menghela nafas dalam-dalam, menahan agar air matanya tidak keluar. Dia kemudian berteriak pada supir. "Berhenti!"


Merlin melihat Naura ingin turun, dia segera menarik Naura. "Naura, kamu jangan turun dulu. Kamu dengar Ibu bicara......"


"Lepas!" Naura dengan sekuat tenaga melepaskan tangannya. "Jangan sentuh aku!"


Naura takut melihat Merlin lebih lama lagi. Dia takut akan melakukan sesuatu yang keterlaluan terhadap ibunya.


...


Tempat Naura turun sudah tidak jauh dari Perusahaan Affandi. Naura berjalan menuju ke sana.


Saat ini sedang musim dingin dan suhu udara di luar mencapai lima derajat celsius. Angin bertiup ke wajahnya membuat Naura merasa kesakitan.


Tapi, sakitnya ini masih belum seberapa dibandingkan dengan sakit didalam hatinya.


Naura berjalan terlalu cepat, angin bertiup cukup kencang membuatnya merasa kesulitan bernapas. Ada rasa seperti ingin mati lemas.


Sesampainya di Perusahaan Affandi, Naura langsung menuju ke ruangan kantor Marsha.


Wajah Marsha masih sedikit bengkak, ditutup dengan make-up yang begitu tebal, sudah tidak terlihat lagi.


Tapi, dengan cepat dia menyadari raut wajah Naura tidak seperti biasanya.


Saat dia menyadari itu, Naura sudah berjalan mendekati meja kerjanya dan langsung menarik kerah bajunya, mengangkatnya hingga berdiri dari kursinya.


"Memanfaatkan Ibuku untuk melawan aku?! Orang sepertimu yang setiap hari hidupnya selalu memiliki rencana jahat, sangat menyedihkan! Kamu benar-benar berpikir kalau Aaron dan Lucky sama-sama mudah untuk dipermainkan?! Aaron suami aku! Bahkan satu jarinya pun lebih kuat dari dia! Kalau ada masalah denganku, maka langsung saja cari aku! Kalau kamu berani mengganggu Aaron lagi, kita lihat saja nanti!"


Dalam hati, Naura sangat berterimakasih atas kepercayaan Aaron terhadapnya.


Karena ini, dia sedikit merasa bersalah.


Sfat Aaron pendiam. Tidak suka bertemu orang. Marsha punya niat ingin mengganggu dia dan meminta Merlin untuk mengganggunya.


Selesai bicara, Naura melepaskan cengkramannya dengan kuat dan membuat tubuh Marsha kembali terduduk di kursinya.


Pinggangnya terbentur pegangan kursi terasa sakit, tapi dia tidak berteriak. Melihat tatapan Naura yang dingin di depan matanya, dalam sekejap Marsha tidak berani mengeluarkan suara.


Melihat Marsha yang seperti ini, Naura tersenyum dingin kemudian pergi keluar.

__ADS_1


Setelah Naura keluar sampai pintu tertutup kembali, baru Marsha merasa lega.


Mengingat ucapan Naura barusan, dia segera menelpon Merlin.


Dengan cepat, Merlin langsung mengangkat telepon dari Marsha.


"Marsha...."


Merlin baru memanggil namanya, dengan cepat Marsha sudah langusng memotongnya dengan tidak sabar. "Bagaimana tadi? Apa Aaron marah besar? Oh iya, apa sudah melihat bagaimana wajah Aaron?"


Marsha sengaja menyuruh Merlin mencari Aaron, bukan saja ingin membuat Aaron marah besar dengan menggunakan rekaman palsu itu, dia juga ingin memastikan apakah Aaron Daffa sungguh sangat jelek?


Yang pasti didepan matanya, Naura sudah berulang kali membela Aaron. Sekarang, Naura sudah berubah menjadi cantik. Bahkan sangat cantik. Seharusnya, dengan kecantikan yang dimiliki, Naura bisa berpaling dan menyukai laki-laki lain. Tapi, bagaimana mungkin masih mau dengan Aaron Daffa?


Karena itu, timbullah perasaan curiga di hati Marsha.


"Dia, membelakangi aku. Aku tidak melihat wajahnya." Merlin menyadari kalau dirinya tidak bisa melakukan perintah Marsha dengan baik. Dia biacara dengan suara kecil. "Masalah rekaman itu, dia sama sekali tidak percaya. Bahkan dia mengatakan kepadaku kalau Naura sudah menjadi anggota keluarga Ardinata, kamu tidak punya hak untuk mengurusnya....."


Mendengar itu, kemarahan di dalam hati Marsha langsung membuat Merlin tenggelam.


"Seorang yang cacat seperti dia bisa bicara dengan begitu sombong?! Tunggu sampai dia ditendang dari kedudukan sebagai penerus Perusahaan Ardinata nanti, apakah dia masih bisa sombong?!"


Mengetahui kalau Marsha sedang marah, Merlin semakin merasa bersalah. "Marsha, maaf......"


"Sudah diam! Bukankah kamu memang selalu seperti ini? Selalu tidak bisa melakukan apapun dengan baik!"


Tut--


Telepon diputus.


Merlin menatap ponsel ditangannya, tiba-tiba di dalam otaknya tersirat kebencian dan ketidaksukaan pada Naura.


Sepertinya, dia memang tidak pernah melakukan apapun dengan baik.


Tapi, dia sungguh hanya menginginkan bisa tinggal di dalam keluarga Affandi dengan baik. Apakah salah kalau dia selalu berusaha mengambil hati Fajar Affandi, Marsha dan juga kakak laki-laki Marsha?


Sedangkan Naura yang merupakan putri kandungnya sendiri, apakah tidak bisa mengerti kesulitannya?


...__________...

__ADS_1


__ADS_2