
Keduanya tiba di rumah Evelyn. Dia tidak punya banyak waktu dirumah, jadi rumahnya agak berantakan.
Pemanas ruangan sangat cukup, begitu masuk, Evelyn langsung menuangkan air hangat kepada Naura.
Evelyn tidak memperhatikan ketika berada di pintu gerbang tadi, sekarang lampu ruangannya terang. Dia baru menyadari mata Naura merah.
Evelyn mengerutkan keningnya dan duduk disamping Naura. "Ada apa denganmu?"
"Ah? Tidak ada apa-apa. Tadi, ketika aku turun dari taksi, paman pengemudi melihat pakaianku terlalu terlalu terbuka, dia mau memberikan jaketnya kepadaku, aku menjadi terharu."
Evelyn melihat Naura seperti tidak sedang becanda, dia pun mengangguk. "Tentu saja ada banyak orang baik di dunia ini."
Selesai berbicara, Evelyn seperti teringat sesuatu dan berkata: "Sedikit perbuatan baik dari orang asing dapat membuat orang lain tersentuh, sedangkan jika orang terdekat kita melakukan sedikit kesalahan, maka akan dibesar-besarkan, tidak peduli dia sebaik apa kepadamu, itu tidak akan berguna."
"Apa kamu sedang membicarakan Christian?" Tanya Naura.
"Siapa yang membicarakan pria busuk itu?!" Evelyn tersenyum dingin. "Haha, dasar pria!"
Naura bersandar kebelakang dengan perlahan, dia tidak lagi berbicara.
"Minumlah sedikit anggur jika kamu tidak bahagia, kita sudah lama tidak minum bersama." Evelyn kemudian pergi mengambil anggur.
Sedangkan Naura hanya menatapnya dengan diam dan mengingat saat mereka terakhir kali pergi minum ke bar ........
……
Evelyn suka minum anggur, tetapi bukan berarti dia pecandu anggur.
Minum diwaktu yang tepat. Saat bekerja, dia tidak pernah minum, dia juga tidak pernah minum bersama orang yang tidak dia kenal.
Naura bisa minum juga belajar dari Evelyn.
Saat ini, mereka berdua sudah menghabiskan setengah botol anggur merah dan keduanya sudah agak mabuk. Kepala mereka saling berhadapan dan bersandar di sofa sambil berbicara.
"Aku merasa bahwa Christian adalah seorang bajingan."
"Ya, Aaron juga."
"Si brengsek Christian banyak sekali berita miring, tapi dia masih bisa mengatakan bahwa dia tidak bersalah. Apa dia pikir aku ini buta?!
"Iya, Aaron ...... sepertinya tidak."
"Christian, dia--"
Tiba-tiba ucapannya terhenti ketika mendengar suara nada dering ponselnya.
Dia menyipitkan matanya dan melihat siapa yang menelpon. Sebuah nomor asing.
Evelyn mengangkat teleponnya. "Hallo, ada apa? Mau menawarkan asuransi, ya? Aku tidak minat!"
Kemudian terdengar suara pelan seorang laki-laki di telepon. "Aku Aaron."
Aaron???
Seketika Evelyn bersemangat, mabuknya sudah hilang setengah.
__ADS_1
Dia baru ingin berbicara, tapi Aaron yang ada diujung telepon sudah lebih dulu berkata: "Jangan bersuara, aku tanya dan kamu jawab, hanya jawab iya atau tidak."
Evelyn tanpa sadar menjawabnya: "Oke."
Kemudian dia tercengang, mengapa dia harus mendengarkan kata-kata Aaron?
Aaron sepertinya tau apa yang sedang Evelyn pikirkan. Dia lalu berkata: "Christian ingin menjadi manajermu."
Evelyn langsung meledak. "Itu mimpi!"
"Ya."
Evelyn baru sadar bahwa Aaron adalah bosnya sendiri!
"Apakah Naura ada ditempatmu?"
Evelyn kemudian melihat kearah Naura yang sedang minum, lalu menjawab: "Iya."
"Apakah dia naik taksi pergi kesana sendiri?"
"Kalau tidak, apakah kamu yang akan mengantarnya pergi kesini?" Evelyn menjadi marah ketika mengungkit hal ini.
Naura sudah memberitahunya tentang masalah yang terjadi diperjamuan juga tentang dugaannya. Watak Evelyn sangat polos, ketika dia mendengar pertanyaan Aaron, rasanya dia ingin sekali menghajarnya.
Namun sepertinya Aaron tidak mendengar nada marah dalam perkataannya, dia langsung berkata: "Jangan biarkan dia minum, cepat tidur."
"Haha, sudah menghabiskan setengah botol, aku masih punya banyak anggur!"
Naura menyipitkan mata dan berjalan kearah Evelyn. "Kamu menelpon siapa?"
Dia menghampiri dan bersandar pada Evelyn, lalu berkata: "Aku ingat sekarang. Meskipun Aaron tidak ada berita miring, tapi dihatinya ada cahaya bulan. Haha, dasar lelaki!"
Terdengar keheningan ditelepon.
Evelyn gemetaran dan dia mendorong Naura ke samping. "Jangan bicara lagi!"
Namun Naura malah berbicara dengan penuh semangat, dia terus mendekatinya. "Aku kasih tau kamu, orang seperti Aaron itu sangat tidak mudah untuk mendapatkan seorang istri. Dia seperti bom waktu dan ini lebih mengerikan dari wanita menopause...."
Evelyn diam-diam merasa cemas untuk Naura di dalam hatinya. Dia ingin menutup teleponnya, tapi dia mendengar Aaron berkata dengan pelan. "Jangan tutup teleponnya, biarkan dia terus bicara."
Evelyn: "......"
Di satu sisi adalah bos besarnya, di satu sisi lain adalah teman baiknya. Apa yang harus dia lakukan?
Akhirnya, Evelyn masih belum memutuskan akan memihak kepada siapa, hingga kemudian tiba-tiba Aaron sudah datang kerumahnya.
Evelyn membukakan pintu dan berdiri didepan pintu dengan ekspresi wajahnya seperti sedang melihat hantu. "Bos besar? Kamu...kapan kamu datang?"
Aaron tidak berbicara, tetapi dia melewatinya dan melihat kedalam.
Evelyn bergeser sedikit membiarkan Aaron mencari kedalam dan melihat Naura yang mengenakan pakaian rumahan yang longgar sedang meringkuk di sofa sambil memegang gelas dan minum anggur.
Raut wajahnya berubah.
Evelyn panik sambil menelan ludahnya, dan dia berniat ingin membela diri.
__ADS_1
Tapi sepertinya Aaron sudah lupa bahwa dia sebelumnya mengatakan jangan membiarkan Naura minum, malah dia bertanya dengan suara pelan. "Apakah harus buka sepatunya?"
Dengan panik, Evelyn menjawab: "Harus...."
Setelah Aaron mendengarnya, dia membungkuk dan melepas sepatunya. Kemudian dia masuk dan berjalan kearah Naura.
Evelyn tertegun dan terpaku ditempat, memandangi sepasang sepatu kulit yang dipesan secara khusus, matanya melotot dengan bodoh.
Seorang bos besar masuk kedalam rumahnya dan bahkan bertanya apakah harus membuka sepatu atau tidak?!
Sepertinya, Aaron tidak terlalu menyebalkan!
Kesopanan seperti ini, sama sekali tidak sombong! Tapi Evelyn merasa dirinya akan di blacklist lagi!
Sekarang siapa yang suka dengan bos yang suka memerintah dan tidak masuk akal? Semua pasti suka orang yang tenang dan terkendali!
Evelyn kemudian berjalan kearah sudut dinding, melihat Aaron dan Naura.
Setelah beberapa detik, dia baru sadar bahwa ini adalah rumahnya!
Ini adalah rumahnya, kenapa dia harus diam-diam bergerak seperti seorang pencuri?!
Setelah berpikir seperti itu, dia berdehem dan berjalan menghampiri.
Aaron berdiri didepan Naura dan memanggil namanya. "Naura."
Naura hanya merasa sedikit mabuk, ketika mendengar suara yang akrab ini, dia sangat gembira, otaknya langsung sadar separuh.
Aaron berdiri tegak di depannya, tertutup cahaya, wajahnya yang tampan tampak agak suram.
Naura meraih bantal dan memeluknya, dia baru merasakan sedikit aman, kemudian memiringkan kepalanya dan bertanya dengan santai. "Apa yang kamu lakukan disini?"
"Mau bawa kamu kedokter." Aaron berkata sambil matanya melihat ke bawah. Dia menatap kaki Naura yang sudah bengkak seperti bakpao.
Naura mengikuti arah pandang Aaron dan melihat ke bawah. Dia tidak menyadarinya ketika dia mengobrol dan minum dengan Evelyn tadi. Sekarang sepertinya bengkak pada kakinya lumayan parah.
"Aku punya tangan dan kaki, aku akan pergi sendiri." Naura berkata dengan tidak sabar. "Kamu seorang pria, kenapa kamu datang kerumah seorang gadis ditengah malam begini? Selain itu, Evelyn juga seorang artis!"
"Iya." Aaron menjawabnya dengan samar.
Reaksi yang lembut seperti ini, membuat Naura merasa aneh.
Saat berikutnya, Aaron membungkuk dan menggendongnya. "Benar apa yang kamu katakan, kita akan segera pergi." Ucap Aaron sambil berjalan keluar kearah pintu.
Ketika Aaron melewati Evelyn, dia berkata dengan sangat sopan. "Maaf, sudah menganggumu."
Evelyn tertegun dan mengangguk. "Tidak, tidak apa-apa...."
"Aku tidak mau pulang! Aku akan pergi ke dokter sendiri! Kamu turunkan aku!" Naura tidak bisa menganggap tidak terjadi apa-apa dan pulang seperti ini dengan Aaron.
Aaron tidak mendengarkan kata-katanya, dan dia tidak bermaksud menurunkannya.
Evelyn berjalan kearah pintu, dia melihat Naura yang terus memberontak dan memarahi Aaron, tetapi Aaron seperti tidak bergerak dan menggendongnya dengan erat masuk kedalam lift.
Evelyn bersandar pada pintu dan berkata: "Bos besar yang galak masih sangat energik!"
__ADS_1
...----------------...