
Keesokan paginya, saat Naura terbangun, dia mendengar ada suara samar orang berjalan di dalam kamar.
Dia kemudian membuka matanya dan melihat Aaron yang baru keluar dari ruang ganti dengan mengenakan pakaian formal.
Padahal Aaron sudah berusaha sebisa mungkin memelankan langkah kakinya. Mungkin karena suasana kamar yang terlalu sunyi Naura masih bisa mendengar suaranya.
Saat Aaron keluar dari ruang ganti, tatapan matanya langsung jatuh ke atas ranjang dan kebetulan bertatapan dengan mata Naura yang baru bangun.
Aaron tertegun sejenak kemudian berjalan menghampirinya. "Sudah bangun."
Naura mendengus. "Apa matamu tidak bisa melihat?"
Selesai berucap, dia langsung membalikkan tubuhnya memunggungi Aaron.
Semalam saat pulang, dia dalam suasana hati yang buruk. Tapi Aaron masih saja ......
Semakin dipikirkan, semakin membuat Naura kesal.
Aaron hanya bisa menatap belakang kepala Naura dengan raut wajah yang sedikit tidak terbaca. Kemudian dia berucap dengan datar. "Aku harus pergi dulu ada urusan, tapi akan kembali dengan cepat."
Naura juga membalas dengan datar. "Oh."
Aaron tidak menyukai sikapnya yang seperti ini. Dia sedikit mengerutkan alisnya, tangannya sedikit mengepal. Namun kemudian kembali melepaskan kepalan tangannya. Dia langsung bangkit berdiri, membalikkan bahu Naura dan menciumnya dengan serampangan. Setelah mencium Naura akhirnya membuat perasaannya membaik.
Naura bangkit duduk dan berteriak pada Aaron karena tidak tahan untuk meledakkan emosinya. "Aaron, apa kamu masih belum puas?! Kalau ada urusan, cepatlah pergi!!"
Naura yang baru bangun, rambutnya terlihat sangat berantakan, tapi poni didepan keningnya terlihat lebih berantakan. Ditambah lagi dengan wajahnya yang terlihat sedikit kekanakan.
Aaron tidak hanya tidak marah, malah dia merasa penampilan istrinya ini sangat menggemaskan membuat dia menyunggingkan sudut bibirnya tersenyum.
Berbeda dengan Naura, dia malah merasa pria tampan ini terlihat seperti tidak waras.
Mengenai Aaron yang tidak tau malu, tentu saja dia tidak akan bisa melakukan hal yang memalukan melebihi Aaron.
Naura yang merasa tidak bisa mengalahkan pria ini, maka lebih baik dia akan mengabaikannya saja!
Naura turun dari ranjang melupakan kakinya yang masih sakit. Saat kakinya menapak, langsung muncul rasa sakit hingga membuat keningnya mengeluarkan keringat dingin.
Aaron mengerutkan alisnya, menghampiri dan memapahnya. "Apa kamu seekor babi?"
"Aku bukan babi, kamu sebagai suamiku masa tidak tau?!" Balas Naura dengan tajam.
Walau dia merasa dirinya sedikit bodoh karena menginjakkan kakinya yang masih sakit, tapi dia juga tidak bisa menerima makian Aaron begitu saja.
Aaron mengangkat alisnya tidak mengatakan apapun, namun dia tidak segera pergi dan malah berdiri didepan pintu kamar mandi menunggu Naura yang sedang mandi seolah takut jika wanita bodoh itu kembali menginjakkan kakinya yang masih sakit.
Naura keluar setelah selesai mandi dan melihat Aaron sedang melemparkan satu set pakaian olahraga ke atas ranjang.
"Kamu sedang apa?" Tanya Naura heran.
"Pakai ini." Jawab Aaron.
"Untuk apa kamu mengaturku?!" Naura merasa pria ini sedikit plin plan. Bukankah tadi Aaron mengatakan ingin pergi karena ada urusan? Namun hingga sekarang masih saja belum pergi, bahkan mengambilkan pakaian untuk dirinya.
Aaron tidak mengatakan apapun hanya menatap lekat pada Naura. Iris matanya yang hitam terlihat dalam saat menatap Naura yang sedikit tidak menurut.
Memikirkan hal ini, Naura merasa pagi ini dirinya bertindak sangat semena-mena dihadapan Aaron, dan terus melawannya. Namun pria ini malah tidak marah sedikitpun.
Apa karena masalah kemarin malam, dia merasa bersalah, jadi membiarkan Naura bersikap seperti ini padanya?
__ADS_1
Saat Naura sedang tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba terdengar suara pintu kamar yang dibuka kemudian ditutup kembali.
Naura mendongakkan kepalanya, melihat bayangan Aaron yang sudah menghilang dibalik pintu.
Akhirnya pergi juga.
……
Naura akhirnya memutuskan untuk mengenakan pakaian olahraga yang diberikan Aaron.
Pakaian olahraga yang longgar, ditambah lagi modolnya untuk musim dingin. Saat dipakai Naura terlihat sangat gemuk, tidak terlihat cantik sama sekali. Namun dia hanya bisa mengenakan pakaian ini.
Saat turun ke bawah, ruang tengah terlihat kosong. Namun dengan cepat muncul seorang pengawal entah dari mana. "Nyonya Muda, kamu ingin makan apa?"
"Terserah." Naura tertegun sejenak, gayanya mirip seperti Aaron.
Naura duduk dimeja makan, sambil makan sambil menelpon Evelyn.
"Semalam, kamu membiarkan Aaron membawaku begitu saja? Bukankah kita ini sahabat baik selamanya?"
Evelyn menjawab: "Menjadi sahabat baik selamanya, harus menjamin keamanan nyawa juga! Sekarang, Aaron itu bosku. Jika aku berani melawannya, bukankah dia akan langsung membunuhku?"
"......" Naura merasa, mungkin dia dan Evelyn hanya sahabat palsu.
Kedua wanita cantik itu saling melemparkan ejekan sejenak, kemudian menutup telepon.
Ada sebuah notifikasi di ponselnya.
Naura melihatnya sejenak, menyadari ada orang yang ingin berteman di sosial media. Foto profilnya adalah lautan lepas dan nama panggilannya hanya satu kata, yaitu "Kai".
Jari tangan Naura terhenti sejenak, kemudian mengabaikan perasaan ragu yang muncul.
Masalah yang terjadi kemarin malam, membuat Naura merasa sedikit muak pada Kairav dan Aaron.
Setelah merasa ragu sejenak, akhirnya Naura memutuskan untuk menerima pertemanannya.
Begitu Naura menerima pertemanannya, dengan cepat "Kai" mengirimkan pesan padanya.
["Naura, aku Kairav."]
Naura hanya membacanya saja dan tidak langsung membalasnya. Kairav kembali mengirimkan pesan padanya.
["Masalah kemarin malam, aku minta maaf dan tidak akan terjadi lagi."]
["Apakah kamu dan Aaron baik-baik saja?"]
Kairav mengirimkan tiga pesan sekaligus, Naura tidak membalas semuanya.
Sebenarnya, dia tidak tau apa yang terjadi.
Beberapa saat kemudian, Naura baru membalas. ["Hmm."]
Akhirnya dia mengerti mengapa Aaron sering membalas pertanyaan dengan "Hmm". Ternyata sangat mudah dan praktis, juga bisa menghindari situasi canggung yang tidak diinginkan.
Kairav membalas lagi: ["Baguslah kalau begitu."]
["Aku ingin mencari waktu untuk mentraktirmu dan Aaron makan."]
Kali ini tanpa berpikir panjang, Naura menjawab: ["Masalah ini, kamu tanyakan saja pada Aaron."]
__ADS_1
Naura menatap ponselnya sedikit tidak fokus.
"Kak Naura."
Tiba-tiba terdengar suara Samuel dari belakang tubuhnya.
Naura menolehkan kepala, menatapnya. "Apa kamu sudah makan?"
Samuel menguap sejenak dan duduk dihadapannya. "Sudah."
Tadi dia sudah makan, kemudian kembali tidur dikamarnya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku kemarin."
Seketika Samuel membeku mendengar perkataan Naura.
"Pertanyaan apa?"
"Mengenai Caroline." Ucap Naura dengan pelan. Dia merasa pertanyaan ini paling cocok ditanyakan pada Samuel.
Samuel sedikit tercengang, raut wajahnya tidak terbaca. "Dia itu tetangga kami, sering datang ke rumah kami untuk bermain. Dia juga sangat baik."
Sejak awal Naura sudah menebak bahwa Caroline memiliki hubungan yang cukup baik dengan mereka. Jadi, mendengar jawaban Samuel ini, dia tidak merasa terkejut.
Naura kembali menanyakan pertanyaan yang sangat ingin diketahuinya. "Aaron juga mengenalnya?"
"Iya, kakak sepupu juga mengenalnya. Saat itu kakak sepupu dan kakakku, dan juga dia seperti tiga sekawan. Mereka sangat baik padanya...."
Selesai Samuel berucap, dia baru menyadari sepertinya dirinya mengatakan hal yang tidak seharusnya dia ucapkan.
Samuel mengangkat kepalanya, melihat raut wajah Naura dengan hati-hati dan menemukan raut wajah Naura yang seperti biasanya, dia kembali berucap. "Kakak Caroline itu seorang fotografer, dan pernah sekali saat dia pergi untuk memfoto pemandangan salju tiba-tiba terjadi longsor salju, tim penyelamat tidak berhasil menemukannya....."
Saat berucap hingga akhir, suara Samuel semakin mengecil.
Naura tertegun sejenak, seketika tidak tau harus mengatakan apa. Kemudian Naura mengangkat kepala dan bertanya kepadanya. "Kapan itu terjadi?"
"Lima tahun yang lalu." Jawab Samuel.
"Kakakmu dan dia....."
Samuel menipiskan bibirnya, menurunkan tatapannya dan terlihat sedih. "Dia adalah tunangan kakakku."
Naura ternganga, seketika terkejut hingga tidak bisa mengatakan apapun.
Dia menundukkan kepala melihat sekilas pesan yang dikirimkan Kairav, jarinya bergerak mengetik sebuah kalimat: ["Baik, aku akan membicarakannya dengan Aaron."]
Terjadi longsor salju, tim penyelamat tidak bisa menemukannya. Kemungkinan besar pasti sudah meninggal dan terkubur didalam salju. Sulit untuk ditemukan.
Naura menjadi sedikit marah. Sebelumnya, perasaan itu sudah tidak ada lagi.
Sejak awal, Naura sudah merasakan bahwa Aaron seperti tidak suka jika dirinya terlalu sering berhubungan dengan Kairav.
Sekarang Naura menjadi teringat, mungkin inilah penyebabnya.
Naura kembali bertanya pada Samuel. "Apa aku sangat mirip dengannya?"
Samuel melihat wajah Naura yang biasa saja, dia pun berucap dengan jujur. "Menurutku sangat mirip."
Naura terdiam, tidak mengatakan apapun.
__ADS_1
...----------------...