Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#6


__ADS_3

Mereka berdua dengan cepat sudah sampai didepan rumah kontrakan Naura yang sangat kecil. Naura masih berdiri didepan pintu rumahnya, melihat sekeliling depan seperti seorang pencuri lalu membuka pintunya dan masuk.


"Sebenarnya, kamu itu..."


Belum selesai Naura bicara ingin menanyakan sesautu kepadanya, setelah menutup pintu dan berbalik, dia melihat tubuh tinggi dan kekar 'Samuel' ambruk jatuh kelantai.


"Sam..kamu kenapa?" Pekiknya dengan wajah yang sudah berubah menjadi panik. Dia pun langsung menopangnya.


Naura yang bertubuh kecil, merasa tidak kuat menopang tubuh Aaron yang tinggi dan berotot. Tangannya terkena darah dari Aaron. Dia baru menyadari kalau wajah 'Samuel' terlihat sangat pucat. Pakaian yang dipakainya berwarna hitam. Darah yang mengalir keluar dari tubuhnya tidak terlihat.


Aaron bisa melihat kecemasan dan kepanikan dari wajah Naura. Dia mengukurkan tangannya dan memegang tangan Naura. "Tidak perlu cemas. Kalau pun aku mati, paling mereka hanya akan memintamu untuk menguburkan aku."


Naura mendengus menatapnya dengan sinis. Bahkan dia tidak bisa membedakan ucapan laki-laki menyebalkan ini sedang becanda atau tidak. Dia hanya tidak mau mendengarnya bicara seperti itu lagi.


Naura teringat, tadi dia mendengar suara tembakan. Dia khawatir, mungkin saja 'Samuel' tertembak. "Kamu lepaskan aku dulu. Aku mau mengambil handphon untuk memanggil ambulance."


"Jangan memanggil ambulance atau siapapun!" Ucap Aaron dengan dingin dan semakin mengeratkan tangannya memegang tangan Naura.


Naura merasakan tangannya sakit dipegang erat oleh 'Samuel'. Tapi dia tidak berani melawan saat melihat wajahnya semakin pucat.


"Kalau begitu..aku akan bantu membalut lukamu."


"Kamu ambil korek api, pisau, lilin, handuk dan plester!" Ucap Aaron memberi perintah pada Naura.


Naura terbelalak mendengarnya. "Apa? Apa kamu berniat ingin mengambil pelurunya sendiri? Kamu tidak boleh melakukannya! Nanti kamu bisa mati!" Teriak Naura dengan wajah paniknya.


"Siapa bilang aku ingin mengambil sendiri?" Tanya balik Aaron dengan menatap serius Naura. "Kamu bantu aku mengambilnya." Lanjutnya.


"Hah?" Naura sangat terkejut hingga bangkit berdiri. "Aku tidak mau! Aku tidak bisa!"


Meski dia sangat tidak suka dengan laki-laki menyebalkan ini, tapi Naura tidak ingin dia mati, apalagi mati ditempat tinggalnya ini. Dia juga sangat menghargai kehidupan.

__ADS_1


Dulu, Ibu dan ayah kandungnya tidak pernah berencana ataupun menginginkan untuk punya anak lagi. Merlin tidak meminum obat kontrasepsi dengan baik hingga dia hamil dan melahirkan Naura. Anak yang tidak pernah diharapkan selama ini dan hingga kini masih memperlakukannya seperti seorang pelayan. Naura juga selalu dimanfaatkan oleh Marsha. Tapi Naura masih bisa berjuang untuk kehidupannya sendiri.


Naura merasa heran. Dia tidak tau kenapa 'Samuel' bisa mengatakan itu dengan sangat mudah. Naura tidak bisa melakukan apa yang telah diminta olehnya.


"Jadi kamu lebih memilih ingin menguburkan aku?" Tanya Aaron dengan mengerutkan alisnya menatap Naura tanpa rasa ragu.


Wajah Naura pun juga memucat mendengar ucapan 'Samuel'. Dengan terpaksa dia berjalan kedapur mengambil apa yang diminta 'Samuel' tadi.


Semenjak Naura menikah dan masuk kedalam keluarga Ardinata, dia merasa kehidupannya menjadi hancur. Dia ingin sekali bisa memulihkan kembali kehidupannya. Dia juga tidak tau bagaimana caranya untuk mencegah supaya tidak menjadi lebih buruk lagi.


Terbesit dalam pikiran Naura, jika laki-laki yang sangat menyebalkan ini meninggal ketika dia membantu mengambilkan peluru ditubuhnya, mungkin dia tidak merasa dirugikan bisa mengubur laki-laki setampan ini.


...


Naura berusaha untuk tetap tenang. Tetapi, dia tidak bisa menyembunyikan tangannya yang gemetar saat membelah kulit 'Samuel' menggunakan pisaunya.


Dia terus memperhatikan wajah 'Samuel' yang pucat. Selain wajah 'Samuel' yang pucat dengan keringat dingin dikeningnya, tidak ada lagi reaksi yang lain yang dilihatnya.


Aaron terus menatap Naura. Dia sama sekali tidak tau untuk mengatakan sesuatu yang istimewa. Hanya bisa terus memandanginya saja.


"Kamu jangan menatapku seperti itu!"


Sejujurnya, Aaron juga merasa tidak setenang ini. Dia hanya manusia biasa dan jika terluka, dia akan merasakan sakit. Peluru yang masuk kedalam bahunya terasa sangat sakit, dan dia mengeluarkan banyak darah. Dia juga merasa ingin pingsan.


Hanya saja, dengan memandangi Naura, dia merasakan sakitnya menjadi berkurang.


"Jangan tegang. Aku tidak akan mati karena aku percaya kepadamu." Ucap Aaron terdengar sangat tenang.


Naura belum pernah diberi kepercayaan seperti ini. Dia berusaha untuk mengeluarkan peluru itu sambil menggigit bibir bawahnya dengan keras.


Naura merasakan, kenapa waktu berputar dengan sangat lambat? Hingga akhirnya, dia berhasil mengeluarkan peluru itu dengan tubuh yang sudah penuh dengan keringat.

__ADS_1


Kemudian dia mencuci tangannya yang terkena darah dibaskom yang dia letakkan disampingnya.


"Apa kamu tidak merasakan sakit?" Tanyanya kepada 'Samuel' sambil mencuci tangannya.


Ada rasa kagum dalam hati Naura terhadap laki-laki yang dianggapnya sangat menyebalkan ini. Tidak berteriak kesakitan ketika dia mengambil peluru itu, juga tidak pingsan. Naura hanya sering melihat ditelevisi orang yang sekuat ini.


Naura merasa bahwa laki-laki didepannya ini sangat misterius dan menakutkan.


"Kamu sambil bolpoin dan catat semua resep obat yang aku sebutkan." Ucap Aaron. Meski terlihat sangat pucat, tapi suaranya masih terdengar sangat bertenaga.


Dengan gesit, Naura mengambil bolpoin dan kertas lalu mencatat resep obatnya. Kemudian dia bergegas pergi mencari apotek.


Naura sangat hati-hati membeli obat yang dibutuhkan oleh 'Samuel'. Dia memebeli tidak disatu apotek saja tapi dibeberapa apotek di daerah yang berbeda.


Setelah Naura kembali, dia menyerahkan semua obat kepada 'Samuel'.


Aaron melihat kantong kresek yang diserahkan Naura tidak dari satu apotek saja. Dia pun menyunggingkan sedikit senyumnya.


Mungkin Aaron mengira Naura kalau dirinya sedang dikejar oleh musuhnya. Agar tidak membuat orang curiga, jadi sebisa mungkin Naura mendatangi beberapa apotek untuk membeli obat yang dibutuhkannya.


Benar-benar gadia yang sangat pintar dan baik hati.


Aaron hanya bisa memuji dalam hati saja.


Aaron tau kalau Naura sangat membencinya. Lebih tepatnya Naura sangat membenci 'Samuel'. Tapi Naura masih tetap berbaik hati mau membantunya.


Naura berjongkok didepannya dan membuka satu kantong kresek lalu mengambil obat oles didalamnya. "Aku bantu mengolesi lukamu. Kalau terasa sakit, kamu bilang aku ya?"


Aaron hanya diam saja sampai Naura selesai mengoleskan obat pada lukanya, dia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.


Saat Naura ingin bangkit berdiri, Aaron meraih tangannya dan menahannya. Dia memdekatkan wajahnya kemudian langsung menciumnya.

__ADS_1


"Aku sudah bilang kepadamu, tidak boleh memakai kacamata!" Ucap Aaron dengan menatap lekat Naura setelah menciumnya.


...__________...


__ADS_2