Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#157


__ADS_3

Saat perjalanan pulang, Naura mengirimkan pesan pada Evelyn. Setelah mendapatkan balasan pesan dari Evelyn, dia baru bisa merasa tenang. Kemudian dia menatap keluar jendela mobil dengan tidak fokus.


Masalah mengenai perasaan sering kali membuat merasa bingung dan tidak mengerti, dan juga hanya membohongi diri sendiri dan orang lain.


Perasaan sendiri, hanya diri sendiri yang mengetahui.


Saat kamu merasakan ragu dan tidak yakin pada suatu perasaan, tidak perlu bingung, pasti karena dia tidak mencintaimu, atau kamu tidak mencintainya.


Orang yang tidak memiliki perasaan yang tidak terburu-buru, pasti tidak akan sebingung itu, karena tidak yakin dengan dirinya yang juga mencintai dan sungguh-sungguh sepertimu. Jadi, kamu akan meragu, tidak tenang, merasa sedih....


Sama seperti yang dirasakan Naura saat ini.


Karena mempedulikan, maka dia mengejarnya hingga ke akar, memikirkan seberapa penting dirinya dihati Aaron.


Evelyn dan Christian selalu bersama sejak kecil, mereka memiliki perasaan yang begitu dalam pun juga hanya berjalan hingga ke titik ini.


Sedangkan Naura dan Aaron tidak memiliki perasaan yang dalam seperti Evelyn dan Christian. Naura merasa dirinya bagi Aaron hanya seorang wanita yang mirip dengan Caroline saja.


Selama ini, Naura adalah orang yang selalu diabaikan. Namun, dia juga memiliki kebanggaannya sendiri.


Naura mengulurkan tangannya, menekan bagian depan dada yang terdapat jantungnya dengan pelan sambil sedikit menipiskan bibirnya, tidak mempedulikan maka tidak akan sedih, juga tidak akan menjadi kejam.


Naura menolehkan kepalanya dan bertanya pada Aaron. "Kamu kenal dengan Pak Hardi?"


Saat ini Naura baru menyadari jika kecepatan mobil sangat lambat. Walaupun Aaron terus fokus menyetir, namun sesekali dia mencuri pandang padanya. Sehingga tanpa disadari kecepatan mobil menjadi melambat.


Mendengar Naura yang tiba-tiba mengajaknya bicara, tatapan Aaron seolah berkilat dan menjawab dengan deheman saja. "Hmm."


"Oh." Naura hanya bertanya dengan asal saja. Tidak benar-benar ingin mengetahui bagaimana Aaron bisa mengenal Pak Hardi.


Sebenarnya, orang seperti Aaron sangat normal jika mengenal seorang polisi. Hanya saja mereka terlihat sangat akrab.


Kemarin malam, Naura bersitegang dengannya. Dia juga tidak menyangka jika Naura akan secepat ini membuka pembicaraan dengannya. Bagaimanapun dia adalah orang yang keras kepala.


Tatapannya kemarin malam, terlihat jelas kesedihan dan terluka.


Dengan kondisi dan nada bicara yang sama, namun Aaron merasa ada sesuatu yang berbeda dari Naura.


Dimana letak pastinya, dia juga tidak bisa mengatakannya.


Naura belum makan, saat kembali ke rumah waktu masih menunjukkan belum larut. Pengawal memanaskan lauk dan mengantarkannya ke meja makan.


Naura dan Aaron duduk berhadapan disana untuk makan.


Naura telah mengerti dengan sesuatu hal membuat nafsu makannya menjadi meningkat. Melihat sayur yang disukainya, dia langsung mencapit dengan sumpitnya ke dalam mangkuk, terus makan hingga mulutnya terisi penuh.


Sepertinya, suasana hatinya sedang baik.

__ADS_1


Aaron mengerutkan alisnya, meletakkan sumpitnya dan tiba-tiba bertanya padanya. "Apa yang telah terjadi?"


Apa yang telah terjadi hingga membuatnya berubah drastis dalam waktu singkat?


"Masalah di kantor polisi?" Naura terus bertengkar dengan tulang-tulang yang ada di mangkuknya, tanpa mengangkat kepalanya dia berkata: "Ada orang yang ingin mencelakai Evelyn, dia mengambil pakaiannya dan ingin memotretnya seperti itu...."


"Kamu tau yang aku tanyakan bukan hal itu." Aaron memotong perkataannya dengan dingin, suasana disekelilingnya pun menjadi terasa dingin.


Naura tiba-tiba kehilangan minat untuk melanjutkan makan. Dia menyeka tangannya, bangkit berdiri dan berkata: "Aku sudah kenyang."


Semalam ketika Aaron membanting pintu dan keluar, mengapa tidak bertanya dan mengapa tidak mengatakannya?


Sekarang dia malah datang untuk menanyainya.


Aaron sangat jelas tidak bermaksud untuk melepaskan Naura begitu saja. Dia bangkit berdiri, kakinya yang panjang melangkah maju dan menyusul Naura hanya dalam 3 langkah.


Aaron meraih pergelangan tangannya dan menariknya kedalam pelukannya. Tangan satunya mencubit dagunya, dan dia berkata dengan suara berat. "Naura, kamu lihat aku."


Naura menatap wajahnya dengan serius selama beberapa detik, lalu mengangguk dan berkata: "Masih setampan kemarin."


Mendengar nada bicara Naura yang acuh tak acuh membuat Aaron tidak bisa mengendalikan kekuatan tangannya yang semakin kuat.


Naura mengerutkan keningnya dan berkata dengan sinis. "Sakit, kamu tidak hanya membuat kakiku terkilir, dan sekarang kamu masih ingin mematahkan pergelangan tanganku dan daguku?"


Aaron terdiam dengan wajah yang muram dan terlihat menakutkan.


Naura dipaksa untuk mengangkat dagunya, tapi dia tidak terlihat panik sedikitpun. Sebaliknya, dia malah menjadi angkuh seperti seorang ratu yang memiliki kekuasaan dan bertatapan dengan Aaron dengan galak.


"Karena kamu menyalahkanku, jadi jangan berpura-pura acuh, itu sangat jelek." Aaron melonggarkan tangannya yang memegang dagunya dan meletakkan di atas kepalanya lalu membelainya dengan lembut dua kali.


Wajah Aaron masih dingin dan suram, tetapi gerakannya malah menunjukkan kelembutan yang tidak bisa dijelaskan.


Sikap Aaron yang mengendalikan segalanya dan tidak dapat ditebak, membuat Naura merasa kesal.


Di depan Aaron, keahlian Naura terlalu rendah. Dia sulit untuk berhasil menutupi dirinya sendiri.


"Aku tidak berpura-pura, aku hanya sudah memahaminya saja." Naura masih memalingkan wajahnya dan melihat kesamping. "Caroline adalah teman lamamu, terjadi kejadian seperti itu, aku merasa menyesal untukmu. Kamu melihatku mirip dengannya, jadi normal jika kamu merasa sedikit suka kepadaku. Aku mengerti akan kebenaran yang sederhana seperti itu."


Iya, kebenarannya memang sederhana.


Dia terlihat mirip dengan Caroline, jadi Aaron baru bersikap spesial kepadanya, itu normal.


Aaron baik kepadanya, itu karena dia mirip dengan Caroline, itu juga .... normal.


Naura sangat mengerti akan hal itu, tetapi....kenapa Naura masih merasa kesal?


"Sangat bagus." Aaron melepaskan genggaman tangannya dan mundur setengah langkah, menatap Naura dengan mata yang suram.

__ADS_1


Di wajahnya yang tampan itu, Naura tidak bisa melihat suasana hatinya.


Naura merasa tidak ada yang bisa menebak suasana hatinya dengan ekspresinya seperti sekarang ini, karena Aaron tidak ingin orang lain memahaminya.


Sama seperti Aaron yang dapat menyelidiki Naura sampai begitu jelas, tetapi Naura malah tidak tau apa-apa tentangnya. Aaron mengendalikan orang lain, tetapi tidak pernah mengungkapkan dirinya yang sebenarnya di depan orang lain.


Ini adalah permainan yang tidak seimbang, dia berpikir terlalu naif.


Kali ini konflik antara mereka berdua menjadi titik demarkasi.


Beberapa waktu setelah itu, keduanya bersikap acuk tak acuh dan saling menjauh. Keduanya juga tidur di kamar yang terpisah.


Saat bangun pagi, mereka pergi bekerja di perusahaan masing-masing dan mereka kembali untuk makan malam bersama tanpa ada pembicaraan diantara mereka berdua.


Itu membuat Samuel merasa menderita. Dalam suasana tertekan seperti itu, dia bisa membayangkan liburan musim dinginnya pasti akan menjadi sangat menyedihkan. Jadi dia memutuskan untuk pergi mencari kakak kandungnya, Kairav Robinson.


Naura teringat waktu itu Kairav pernah mengatakan ingin mentraktir Aaron dan dirinya untuk makan bersama. Tidak tau apakah Kairav ada menelpon Aaron atau tidak, Aaron tidak pernah mengatakan apa-apa kepadanya. Seharusnya, Kairav tidak menelpon.


Atau, Aaron sudah menolaknya?


Hari yang dipilih Samuel adalah hari sabtu, dan Kairav kebetulan memiliki waktu untuk menjemput adiknya sendiri.


"Kakak." Begitu Samuel melihat Kairav, dia langsung berlari kearahnya.


Naura membantu Samuel untuk merapikan barang-barang keperluan sehari-harinya dsn turun ke lantai bawah, dia melihat Kairav sudah berdiri di ruang tamu.


Perjamuan terakhir kali sudah berlalu seminggu yang lalu. Ketika Naura melihat Kairav lagi, Naura pikir dia akan merasa canggung. Tetapi dia tidak merasa ada perasaan canggung.


Kairav tersenyum lembut pada Naura. "Naura."


Senyumnya selalu memiliki kekuatan ajaib yang membuat orang merasa menyejukkan hati.


"Aku membantu Samuel mengambil sedikit barangnya lagi." Bagaimana pun, Kairav adalah seorang pria. Tidak akan seteliti dirinya.


Kairav menurutinya, dia mengambil barang di tangan Naura dan berkata: "Maaf, sudah merepotkanmu."


"Ini hanya hal sepele."Naura menoleh untuk melihat Samuel. "Kamu harus lebih patuh sedikit, ingatlah untuk menulis PR liburan musim dinginmu. Jika kamu ingin kembali, hubungi kakak sepupumu untuk menjemputmu."


Sekarang ini adalah akhir tahun, setiap perusahaan sangat sibuk. AD Entertainment juga tidak terkecuali.


Akhir-akhir ini, Aaron sering keluar rumah lebih awal dan kembali larut malam. Sekarang akhir pekan, dia bahkan harus bekerja lembur di perusahaan.


Samuel si bocah nakal, dia memegang barang-barangnya dan pergi duluan begitu saja meninggalkan Kairav dan Naura di ruang tamu.


Kairav menarik senyumannya, dan ekspresi wajahnya menjadi serius. "Aku minta maaf untuk kejadian terakhir."


Naura tersenyum dan memperlihatkan senyuman yang santai. "Kamu sudah pernah minta maaf sekali dan aku juga sudah menerimanya."

__ADS_1


Kairav menunduk dan tersenyum. "Baiklah."


...----------------...


__ADS_2