Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#130


__ADS_3

Naura mengulurkan tangannya, merasa ragu sejenak, kemudian dengan keberanian dia membuka pintu kamar mandi dan masuk kedalam.


Di dalam kamar mandi, lampu tidak dinyalakan. Namun, sinar lampu dari dalam kamar masuk ke dalam kamar mandi yang membuatnya melihat dengan jelas bayangan tubuh Aaron.


Pria tampan itu berdiri dibawah guyuran air shower dengan membelakanginya, tidak bergerak sama sekali dan tubuhnya seperti sedikit membeku.


Beberapa saat kemudian terdengar suaranya yang serak. "Naura, apa yang kamu lakukan?"


"Kamu pikir aku sebagai istrimu, masuk ke sini disaat seperti ini, sedang apa memangnya?"


Naura berjalan perlahan menghampirinya, suaranya yang lembut menggema di dalam kamar mandi yang gelap, dan membuyarkan lamunannya.


Dia berjalan hingga ke belakang tubuh Aaron. Air yang mengalir dari shower diatas ikut membasahi tubuhnya membuat tubuhnya bergemetar karena dingin.


Kesadaran Aaron seperti baru saja kembali, dia langsung mematikan keran air dan memakai jubah mandinya, lalu menarik Naura keluar dari kamar mandi.


Jantung Naura berdetak dengan cepat saat berjalan keluar mengikutinya.


Hasilnya......Aaron langsung mendorongnya keluar kamar.


Naura menatapnya dengan terkejut, tidak mempercayai Aaron yang bisa bertahan seperti ini.


Sebelumnya, bukankah pria ini sangat ingin dengan dirinya?


Naura mengigit bibirnya, mengulurkan tangan untuk memeluk Aaron. "Aaron, kamu benar-benar ingin mengusirku?"


Naura merasakan tubuh bergetar pria ini seketika menjadi menegang. Tubuh mereka berdua menempel dengan sangat erat.


Naura bisa merasakan jika tubuh Aaron langsung bereaksi.


Aaron masih diam, belum mengucapkan apapun, juga tidak mendorongnya untuk menjauh.


Naura merasa sedikit tidak berdaya. Dia menggertakkan giginya, berjinjit dan mencium ringan leher Aaron. "Sudah diantar sampai ke depan pintu juga tidak mau?"


Selesai mencium dan sedikit berbisik, Naura menarik kembali dirinya untuk menjauh.


Namun, seketika Aaron langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping Naura. Detik berikutnya, bibirnya langsung mencium bibir manis Naura dengan nafas yang memburu, seperti ingin menelannya. Aaron menciumnya dengan kasar dan terburu-buru.


Mereka terus berciuman, hingga akhirnya kedua orang itu jatuh ke atas ranjang.


Naura terlihat berantakan setelah diciumnya. Tiba-tiba, Aaron membangkitkan tubuhnya dan menatapnya. "Naura, lihat aku."


"Hmm?" Naura mendongakkan kepala, menatapnya dengan wajah yang memerah, terlihat sangat cantik hingga membuat Aaron terpukau.

__ADS_1


"Apa kamu ingat dengan apa yang pernah aku ucapkan? Setelah di cap sebagai milik Aaron, maka jangan pernah berpikir untuk kabur dari genggamanku elamanya."


Terlihat urat-urat yang mencuat keluar di kening Aaron. Kedua matanya memerah, sekujur tubuhnya menegang. Saat dia mengucapkan kalimat ini, nada bicaranya terdengar sangat tenang.


Naura mengedipkan matanya sejenak, lalu berkata dengan suara yang lembut. "Bukankah sudah tidak bisa....." Kabur?


Satu kata terakhir belum sempat terucap, sudah langsung tertelan begitu saja karena ciuman Aaron.


Seluruh kesabaran dan pertahanan dirinya langsung lepas begitu saja. Tanpa menunggu lama, Aaron langsung melucuti seluruh pakaian yang ada ditubuh Naura.


Aaron menatap lehernya yang jenjang, putih mulus, dan terus turun kebawah. Dia menciumnya dengan sabar dan perlahan.


Cara ciuman Aaron sangat mengganggu, membuat Naura tidak bisa untuk menahan dirinya dan mendorong pria itu.


Aaron langsung mengangkat tangannya, memperangkap kedua tangannya, menarik kedua tangannya dan menekannya ke atas kepalanya.


Dengan seperti ini, Naura terlihat sangat tidak berdaya dihadapannya.


Naura menolehkan kepalanya, tidak berani menatap mata Aaron, melemaskan bahunya dan mundur dengan perlahan.


Aaron yang menyadari Naura mundur dengan sengaja, dengan kesal Aaron menundukkan kepalanya lalu memberikan sebuah gigitan. di atas dadanya.


Sebuah gigitan yang tidak terlalu kuat, sehingga Naura tidak merasakan sakit. Malah sebaliknya, dia merasakan sedikit geli.


Naura tidak bisa menahan desahannya, hingga membuat Aaron tersenyum diam-diam.


"Belum mulai, tapi kamu sudah ingin cepat-cepat?" Suara Aaron terdengar serak. Dia mencium daun telinga Naura sejenak dan nafas hangatnya berhembus disepanjang garis telinganya, seperti aliran listrik yang mengantarkan getaran ke dalam hatinya.


Lampu di dalam kamar terang benderang. Kulit putih di tubuh Naura telah dipenuhi dengan warna kemerahan yang samar. Suhu tubuhnya juga naik secara perlahan, menguarkan aroma yang menggoda.


Jakun Aaron bergerak, kemudian tangan satunya bergerak turun dari pinggangnya. Jari panjangnya yang lembut masuk ke dalam......


"Ah--"


Tempat yang sama sekali belum pernah disentuh oleh orang lain, kini disentuh oleh benda asing. Membuat Naura memekik terkejut. Namun, suaranya berubah, berubah menjadi lembut.


Nafas Aaron semakin berat, keningnya sudah dipenuhi dengan keringat. Tapi gerakan tangannya tidak berubah terburu-buru karena tidak sabar untuk ingin merobohkan pertahanannya.


Sebaliknya, dia malah menyiksa wanita cantik itu dengan penuh kesabaran, lalu bertanya. "Di sini?"


"Apakah nyaman?"


"Ingin lebih dalam lagi?"

__ADS_1


Naura hanya diam tidak sanggup menjawabnya.


Poni depan Naura telah basah karena keringat, rambut panjang hitamnya yang indah telah berantakan diatas bantal, kulit putihnya telah memerah, matanya telah penuh dengan kabut, kemudian menggigit bibirnya dengan kuat. Namun masih saja terdengar suara yang mempesona.


Suaranya terdengar sangat lembut seperti kucing, membuat orang menahan diri untuk merusaknya.


Aaron kembali mencium bibirnya dengan kasar, di bawah pinggangnya......


……


Naura merasa dirinya seperti masuk kedalam mata air yang hangat, dan semakin panas. Nafasnya juga terasa semakin sulit.


Dia ingin memberontak, namun Aaron tidak memberinya kesempatan untuk itu.


Pria tampan itu malah membawanya kedalam pelukannya, satu tangannya bergerak mengelus pinggang sampingnya. Tangan yang lainnya, mengusap rambutnya yang basah karena keringat. Lalu suara serak yang mengejutkan terdengar ditelinganya. "Rileks sedikit....."


Dia sengaja melembutkan suara seraknya, membuat orang yang mendengarnya seperti tersihir.


Tanpa disadari, Naura merilekskan tubuhnya.


Sedangkan Aaron semakin mencengkram pinggang rampingnya, melepaskan kepuasannya di dalam.


Saat selesai, Naura terlihat setengah sadar. Sekujur tubuhnya telah basah karena keringat, sangat basah hingga seperti baru saja keluar dari air.


Aaron yang masih berada diatas tubuhnya tidak bergerak sama sekali.


Setelah kesadaran Naura kembali, merasakan tubuh mereka berdua menempel tidak ada jarak, rona merah di tubuhnya yang sudah mereda seketika kembali muncul.


Naura mengulurkan tangan dan mendorongnya. "Turun..."


Saat bersuara, dia baru menyadari jika suaranya menjadi serak, terdengar sengau dan serak.


Saat ini, tenggorokannya juga terasa sangat tidak nyaman.


Akhirnya, Aaron bergerak, namun dia tidak menggerakkan tubuhnya, tapi......


Seketika, wajah Naura memerah dan berkata dengan suara seraknya sarat akan permohonan. "Jangan, jangan lagi......"


"Sekali lagi." Aaron bergerak lagi, kembali memberikannya ciuman.


Tentu saja, Naura tidak setuju. Namun Aaron mendominasi, membuatnya tidak bisa menolaknya.


Namun, Aaron kali ini melakukannya sedikit lebih lembut dari sebelumnya.

__ADS_1


Sayang, kelembutannya ini hanya bertahan sementara. Tidak beberapa lama kemudian, gerakannya berubah menjadi kasar, seperti serigala kelaparan yang sedang berhadapan dengan makanannya.


...__________...


__ADS_2