
Naura baru sampai di depan kantor, dia bertemu dengan Marsha.
Marsha melihat sejenak mobil yang ditumpangi Naura, sekilas dimatanya ada rasa iri.
Kalau saja saat itu dia yang menikah dengan Aaron dan masuk ke dalam keluarga Ardinata, sekarang ini yang duduk didalam mobil itu adalah dirinya.
Naura mengusap rambutnya lalu berjalan ke hadapan Marsha yang memakai sepatu high heels yang sama tingginya dengan dirinya. Naura tersenyum kepadanya. "Pagi, Bu Manajer Marsha."
Marsha hanya mendengus dan tidak mempedulikannya.
Sampai di kantor, Naura masih sama seperti kemarin. Meneruskan pekerjaan fotocopy berkas yang tersisa kemarin.
Perbuatan Marsha ini, jelas ingin menyulitkan Naura. Semua karyawan bagian proyek bisa melihatnya dengan jelas, tapi tidak ada satu pun diantara mereka yang berani berkata apa-apa.
Tapi, ini tidak menghalangi mereka untuk diam-diam membicarakan masalah ini hingga membuat masalah ini sampai terdengar oleh Fajar Affandi.
Sebelum jam makan siang, Fajar memanggil Marsha untuk keruangannya.
"Meskipun kamu sangat membenci Naura, tapi jangan juga terlihat terlalu jelas seperti ini! Kalau sampai orang lain melihat ini, bisa menjadi bahan gosip!" Ucap Fajar.
Tapi, Marsha tidak peduli. "Aku ini putri dari Presiden Direktur Utama perusahaan ini. Aku juga Manajer Proyek. Siapa yang akan berani?"
"Kamu mau menekan Naura? Kamu bisa melakukan itu dengan cara yang benar!" Fajar berharap, Marsha bisa berubah sedikit lebih baik.
Dia merasa, dulu Marsha sangat cerdas. Tapi, kenapa sekarang kelihatanannya jadi bodoh seperti ini?
"Oke oke! Sore ini aku akan ajak dia pergi untuk mebicarakan tentang proyek." Ucap Marsha kemudian langsung berbalik dan pergi keluar karena malas mendengarkan argumen yang panjang dari Fajar.
Sudah dua hari ini, Naura hanya melakukan pekerjaannya di dalam ruang fotocopy.
Ada karyawan wanita yang datang untuk fotocopy berkas. Naura dengan senyum cerahnya menyapa.
Sudah cantik dan sifatnya baik, juga masih ada hubungan dengan Presiden Direktur Utama. Dengan begini, kesan rekan kerja terhadapnya akan bertambah baik.
Rekan kerja itu berniat baik mengingatkannya. "Sebenarnya, kamu tidak perlu fotocopy setiap lembarnya. Berkas-berkas ini semuanya sudah tidak terpakai."
Seketika, Naura mengeluarkan ekspresi kaget. Dia tidak berani percaya. "Ah? Ini, ini semua sudah tidak terpakai?"
Tiba-tiba sekertaris Marsha datang mencarinya. "Naura, Bu Manajer Marsha memanggilmu."
"Kalau begitu, aku pergi menemui Bu Manajer dulu." Ucap Naura dengan tersenyum kepada rekan kerja tadi dan menghentikan pekerjaan ditangannya, kemudian pergi ke ruangan kartor Marsha.
__ADS_1
Begitu Naura masuk, Marsha langsung melemparkan setumpuk berkas kepadanya. "Ini adalah berkas kerjasama proyek yang akan dibicarakan hari ini. Kamu ambil dan pelajari dulu. Sore nanti pergi denganku."
Naura mengambilnya dan melihatnya sejenak. Dia tidak mengerti sama sekali. Di dalam berkas tersebut, tertulis banyak sekali kata-kata yang tidak dia mengerti.
Naura tidak pernah belajar tentang proyek. Jadi, wajar saja kalau dia tidak mengerti.
Naura sendiri tidak punya niat baik pindah ke bagian proyek. Marsha mengajak dia pergi untuk meeting membahas mengenai proyek, pastinya juga tidak mempunyai niat baik.
Naura harus mendalami perusahaan ini terlebih dahulu.
Dia membaca dan memeriksa sebentar berkas tersebut, tapi tidak mendapatkan apa-apa.
Ingin tanya Evelyn, dia juga pasti tidak mengerti.
Lucky? Mungkin dia mengerti. Tapi, tidak mungkin Naura bertanya kepadanya.
Setelah dipikir-pikir, sepertinya Naura hanya bisa bertanya kepada 'Samuel'.
Entah kenapa, meskipun setiap hari 'Samuel' terlihat tidak pernah bekerja, tapi yang pasti dia anggota dari keluarga Ardinata. Seharusnya, dia mengerti tentang ini.
Saat jam istirahat siang, Naura mengambil kesempatan untuk menelpon 'Samuel'.
Naura merasa sedikit khawatir teleponnya tidak diangkat oleh 'Samuel'. Tapi, diluar dugaan, baru tersambung teleponnya sudah langsung diangkat oleh 'Samuel'.
"Ada apa?" Tanya singkat 'Samuel'.
"Mau traktir kamu makan siang...." Jawab Naura.
"Langsung katakan saja mau bicara apa?" Tanya 'Samuel' lagi dengan santai.
Hah? Apa matanya bisa melihat sampai sejauh ini?
Batin Naura merasa heran.
Naura juga tidak sungkan dan bicara dengan tidak sabar. "Ingin minta bantuan kamu!"
'Samuel' juga tidak seperti biasanya yang akan mengejek dia malah langsung ingin mendatangi Naura. "Aku ke Perusahaan Affandi sekarang jemput kamu."
"Baiklah." Jawab Naura menyetujui.
Setelah menutup telepon, Naura baru merasakan ada yang tidak benar.
__ADS_1
Naura menelpon 'Samuel' meminta bantuan, bukankah seharusnya dia yang datang menemuinya?
Ternyata 'Samuel' yang mengendarai mobil mewahnya datang menjemput Naura!
'Samuel' datang dengan cepat. Naura tidak menunggunya didepan Perusahaan. Dia pergi ke tempat disekitar Perusahaan yang agak sepi untuk menunggunya.
Saat 'Samuel' datang dan melihatnya, raut wajah 'Samuel' tidak enak dipandang. "Naik ke mobil!"
Naura bisa menebak kenapa raut wajah Tuan Muda ini tidak enak dipandang. Setelah naik ke mobil, Naura sedikit berbisik kepadanya. "Maaf, sudah banyak orang di perusahaan Affandi yang melihat kamu. Takutnya, ada yang diam-diam mengambil foto dan menyebarkan gosip lagi tentang hubungan kita."
Aaron tidak berkata apa-apa, hanya tertawa dingin.
Dalam pikirannya, sembunyi-sembunyi seperti ini memang tidak enak. Seharusnya, saat Naura mabuk waktu itu, langsung saja dia mengajaknya bercinta!
Mendengar suara tawa dinginnya, Naura dibuat gemetar seolah-olah ingin menelan dia hidup-hidup. Naura segera menutup mulutnya, tidak banyak bicara lagi.
Aaron melajukan mobilnya mengajak Naura ke sebuah restoran yang agak sepi.
Mereka berdua duduk berhadapan dan memesan makanan. Tatapan Aaron tertuju pada dokumen yang ada di tangan Naura. "Berikan!" Ucapnya dengan suara rendah.
Naura dengan kaget melihat dia kemudian memberikan dokumen yang dibawanya kepada 'Samuel'. "Bagaimana kamu bisa tau yang ingin aku minta tolong adalah ini?"
Aaron melihat Naura seperti sedang melihat orang bodoh.
Aaron menerima dokumen yang ada ditangan Naura. "Kamu tidak tau jurusan yang kamu pelajari?" Tanyanya dengan datar.
"......" Naura hanya diam.
Dia teringat, setelah menikah dan masuk ke dalam keluarga Ardinata, mereka sudah memeriksa semua datanya dengan teliti. Tentu saja mereka tau jurusan apa yang sudah dipelajarinya. Mengenai bisnis, Naura sama sekali tidak paham.
Setelah melihat isi dokumen itu, Aaron mengerutkan alisnya lalu meletakkan dokumen itu.
Naura bertanya dengan ragu-ragu. "Ada apa?"
Aaron menatap dia sejenak. "Tidak perlu melihat dokumen ini, proyek ini tidak mungkin bisa bekerja sama dengan Perusahaan Affandi."
Kebetulan, makanan yang mereka pesan datang. Aaron langsung mengambil sumpit dan mulai makan.
Naura menatap dokumen itu dengan perasaan percaya dan tidak percaya. Dia sungguh tidak mengerti dengan apa yang dilihatnya.
Tapi, karena dia sudah meminta bantuan kepada 'Samuel', sudah seharusnya dia mempercayainya dan tidak banyak bertanya lagi.
__ADS_1
...__________...