Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#60


__ADS_3

Aaron pergi ke restoran Star Light. Begitu masuk, dia melihat Ivan disana.


Ivan baru saja pulang dari luar negeri. Sebelumnya, dia diutus Aaron pergi ke sana karena suatu urusan.


Dia berjalan menghampiri Aaron dan menyapanya dengan hormat. "Tuan Muda."


Aaron melihat jam tangannya sekilas lalu menatap dia. "Apa kakak sudah sampai?"


"Dia baru sampai." Jawab Ivan.


Aaron langsung pergi ke private room yang sudah dipesan sebelumnya.


Kairav menoleh saat kearah pintu ketika mendengar suara pintu ruangan dibuka. Dia tersenyum ramah saat melihat Aaron. Terlihat jelas kalau dia seorang yang sangat ramah.


"Aaron." Kairav menyapa.


Aaron berjalan menghampiri, mengambil buku menu dan memberikannya kepada Kairav sambil duduk dihadapannya. "Kakak belum pesan makanan?"


Kairav Robinson adalah anak dari adik perempuan ayahnya. Kai juga yang sudah menandatangani perjanjian kerjasama utama dengan perusahaan AD Entertainment Group.


"Tidak perlu buru-buru." Jawab Kairav tidak membuka buku menu itu. "Bagaimana hubunganmu dengan istrimu?" Lanjutnya bertanya dengan penuh semangat.


Mendengar pertanyaan yang menyangkut Naura, Aaron sedikit mengerutkan keningnya. "Biasa saja."


Kairav meraih gelas didepannya yang berisi sampanye dan kembali bertanya dengan asal. "Kenapa? Apa sulit ditaklukkan?"


Dia tidak tau Naura wanita itu sulit ditaklukkan atau tidak. Yang pasti, dia tidak pernah menyentuhnya.


Kairav adalah orang yang suka bermalas-malasan. Tapi, masalah hari ini cukup banyak.


Aaron menyandarkan punggungnya kebelakang menatap Kairav. "Jadi, kamu kembali karena mengkhawatirkan kehidupan pernikahanku?" Tanyanya.


Kairav menyadari kalau dirinya bertanya cukup banyak. Dia tertawa lalu mengalihkan pembicaraan. "Ibuku mengatakan, kalau aku tidak mencari pacar, ibuku menyuruhku untuk ikut blind date."


Wajah Aaron jarang menunjukkan ekspresi yang baik. "Perusahaan tidak akan membiarkan kamu mengikuti acara blind date. Tapi sebagai Bos, kapan pun aku bisa mempersiapkan blind date untuk kamu."


Kairav terkejut mendengarnya sampai terbatuk, lalu berdehem. "Kalau aku punya pacar, penggemarku bisa berkurang."


Aaron mengangangkat pandangannya dan melihat Kairav. "Kamu kira, kamu itu artis idola?"


Kairav terdiam. "....." Apa selama dua puluh delapan tahun menjadi artis idola itu adalah kesalahannya?


...


Menjelang malam, selesai kerja Aaron langsung pulang kerumahnya. Dia bukan hanya melihat Naura sudah berada dirumah, bahkan Naura sudah memasak untuk makan malam.


Biasanya, saat dia pulang kerja, Naura juga baru pulang. Hari ini, kenapa dia bisa pulang lebih cepat?


Aaron berjalan ke dapur. Saat sampai di pintu dapur, dia melihat Naura memakai heat resistant gloves memegang mangkuk besar yang berisi sup.


Naura mengerutkan keningnya saat melihat 'Samuel' berdiri di pintu dapur. "'Samuel', awas minggir!"

__ADS_1


Aaron bukannya menyingkir, dia malah melepas jasnya lalu meletakkannya dilengan Naura, mengulurkan tangan dan mengambil semankuk sup ditangannya.


Naura melihat dia mengambil semangkuk sup begitu saja merasa tidak tahan untuk mengingatkannya. "Hei! Ini masih sangat panas!"


Aaron tidak menghiraukannya, dia membawa dan meletakkan semangkuk sup itu diatas meja makan.


Naura terpaku dan terdiam. Manusia ini benar-benar terbuat dari besi, tidak diragukan lagi! Gumamnya dengan heran.


Saat mereka duduk berdua diruang makan, Aaron basa basi membuka obrolan. "Tumben pulang cepat hari ini?"


Naura sedang menyendok sup ke mangkuknya sedikit memiringkan kepalanya menatap 'Samuel'. "Memangnya, aku harus lapor ke kamu?"


Aaron tertawa marah. "Mulut yang tajam!" Dia menyadari kalau sekarang ini, dia sedang memakai identitas 'Samuel'.


"Terimakasih atas pujiannya." Ucap Naura dengan santai. Dia merasa dirinya tidak salah. Asalkan tidak terlihat lemah, maka 'Samuel' tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap dirinya.


Aaron menyipitkan matanya dan menatap lekat Naura.


Dia sendiri seorang yang sombong. Saat melihat orang, pandangan matanya berdeda dengan orang lain.


Naura merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan 'Samuel'. Saat ingin bicara, dia mendengar 'Samuel' bicara dengan suara pelan.


"Naura, aku Aaron Daffa."


Naura terdiam menatapnya dengan penuh tanda tanya. "?????"


Ruang makan pun tiba-tiba menjadi hening. Mereka berdua hanya dipisahkan oleh meja makan. Raut wajah mereka juga menjadi serius.


Aaron masih menatap lekat-lekat Naura, tidak ada ekspresi di wajah tampannya.


Saat Aaron menatapnya, Naura juga sedang menatap dia. Mereka berdua saling menatap dalam diam seperti sedang mengikuti kontes diam.


Naura kemudian lebih dulu mengalihkan pandangannya.


'Samuel' adalah Aaron Daffa?


Mau dipikir seperti apapun juga, Naura merasa hal ini sangat tidak masuk akal.


Aaron melihat raut wajah Naura yang berubah, hatinya juga mengerti. Dirinya yang dengan tiba-tiba bicara seperti ini juga terlalu mendadak.


Aaron kemudian mengalihkan pandangannya. Perlahan menelan ludahnya dan bicara dengan sabar. "Kalau aku bilang bukan, apa kamu akan percaya?"


Mendengar ucapan Aaron yang kedengarannya seperti sedang becanda, hatinya merasa lega. "Tentu saja tidak! Kamu pikir, aku mudah kamu permainkan?"


"Tidak." Jawab Aaron dengan datar.


Aaron sama sekali tidak mempermainkan Naura. Tapi sebenarnya, Naura memang mudah dipermainkan.


Setelah selesai makan, Naura langsung kembali ke kamarnya. Naura masih memikirkan ucapan 'Samuel'.


Naura dan 'Samuel' belum lama kenal. Tapi, darah kesombongan yang mengalir didalam tubuh 'Samuel' tidak mungkin membuatnya menikahi perempuan yang tidak dia sukai.

__ADS_1


Tidak peduli saat itu, Naura atau Marsha yang dinikahi, keluarga Ardinata pasti bisa dengan mudah menemukan data tentang mereka berdua.


Pada saat itu, Naura masih 'sangat jelek dan bodoh'. Sedangkan Marsha, kehidupan pribadinya sangat kacau. Suka bermain diluar.


Mereka berdua bukanlah pasangan yang baik.


Kalau memang benar 'Samuel' adalah Aaron Daffa, dia sama sekali tidak perlu menikahi Naura atau Marsha.


Terlebih lagi, Aaron seorang yang cacat. Dan sikap acuh tak acuhnya terhadap Naura terasa begitu nyata.


Dengan analisis seperti ini, Naura menjadi merasa lebih tenang.


Dia menghela nafasnya panjang kemudian mengambil piyama didalam lemarinya dan pergi ke kamar mandi untuk mandi.


Setelah keluar dari kamar mandi, dia mendengar ponselnya berdering.


Tidak melihat siapa yang menelpon, dia langsung mengangkat teleponnya. "Kamu hari ini bolos kerja?!"


Naura terkejut saat mendengar suara dari Fajar Affandi. Dia menyalakan loudspeaker dan meletakkan ponselnya di atas tempat tidur. "Informasi ayah cepat sekali. Pagi tadi begitu aku keluar, aku langsung pulang ke rumah. Sekarang sudah malam dan ayah baru tau kalau aku bolos kerja." Ucap Naura sambil mengusap-usap rambutnya yang masih basah dengan handuk.


Pagi tadi, laki-laki yang pergi bersamanya melakukan riset ke pasar dan supermarket, pasti orang suruhan Pak Jayus yang mau balas dendam kepadanya.


Kalau tidak, bagaimana Marsha yang suka mencari masalah dengannya itu, baru memberitau masalah ini sekarang kepada Fajar?


Naura merasa kalau masalah ini, ada campur tangan Marsha. Mungkin saja setelah memastikan orang suruhan Jayus tadi tidak berhasil, dia baru melapor ke Fajar Affandi.


Sepertinya, Marsha benar-benar berusaha keras dalam menghadapi Naura.


Sebelumnya, masalah di Bar 99, Naura masih belum mencari Marsha untuk membuat perhitungan!


Kemudian waktu diruangan kantor Fajar, Naura sengaja mengungkit lagi masalah Marsha pergi ke Bar 99. Dia hanya ingin mencari tau apakah benar kalau saat itu Marsha datang ke sana.


Meskipun dalang dari masalah itu adalah Marsha dan bukan orang lain, Naura tetap ingin memastikannya terlebih dahulu.


Fajar tidak tau masalah yang terjadi pada Naura hari ini dan mendengar ucapan Naura yang terdengar sombong, kemarahan Fajar pun semakin memuncak. "Naura! Apa kamu benar-benar mengira dengan statusmu yang sekarang sebagai Nyonya Daffa Ardinata, aku tidak bisa lagi mengatur kamu?!"


"Tidak kok yah. Kalau ayah mau mengurus aku, kapan saja juga silahkan." Ucap Naura dengan acuh.


Tapi, dari Naura kecil hingga dia dewasa, jangankan mengatakan Fajar mengurus dia, hanya pada saat mau memanfaatkan Naura saja, Fajar baru akan mengingatnya.


Fajar tidak tau lagi harus menjawab apa. "Oke oke! Hari senin, kita bicarakan di kantor!" Ucapnya dengan dingin kemudian langsung menutup teleponnya.


Marsha mengambil segelas air dan meletakkannya diatas meja lalu melihat ayahnya. "Ayah, apa yang dikatakan Naura sampai membuat ayah semarah ini?"


"Ayah lihat, dia merasa kalau sudah tidak ada orang yang berani mengatur dia lagi. Sekarang dia menjadi sombong!" Ucap Fajar sambil memukul meja dengan keras penuh emosi.


"Ayah, aku rasa kali ini Naura benar-benar sudah keterlaluan. Ayah sudah begitu baik kepada dia, tapi dia malah tidak menghormati Ayah. Aku rasa, perlu beri dia pelajaran." Ucap Marsha menenangkan ayahnya sambil mengusap-usap lengannya.


Mendengar ucapan Marsha, Fajar terdiam sejenak tampak berfikir kemudian menganggukkan kepalanya.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2