
Aaron membawa Naura naik kelantai dua restoran itu dan memilih meja yang dekat dengan jendela agar Naura bisa melihat Merlin dari sana.
Seorang pelayan datang membawakan buku menu untuk mereka. Aaron langsung memberikan buku menunya pada Naura.
Naura menoleh kearah 'Samuel'. Meskipun Naura hanya diam tidak mengatakan apa-apa, sepertinya 'Samuel' tau apa yang sedang dipikirkan oleh Naura.
"Lihat apa? Cepat pesan makanan!"
Jelas-jelas 'Samuel' sedang menunduk menatap ponsel, apa dia tau kalau Naura sedang menatapnya?
Naura pun segera memesan makanan. Setelah itu, Aaron juga ikut memesan dua menu makanan.
Sebelum makanan disajikan, Naura terus melihat kearah Merlin di restoran seberang dengan perasaan campur aduk. Sedangkan 'Samuel' hanya diam saja dan tidak banyak bicara.
"Ini pertama kalinya Ibuku mengajakku makan siang." Setelah mengatakan itu, Naura melihat ada sebuah mobil berhenti didepan restoran seberang dan muncul Marsha dari dalam mobil.
"Aku tau kalau Ibuku tidak mungkin hanya mengajakku makan siang saja." Lanjutnya mencibir.
Marsha terlihat langsung menuju meja Merlin. Karena jaraknya terlalu jauh, jadi Naura tidak dapat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Tapi, dilihat dari gerakannya, sepertinya Marsha sedang marah-marah dan Merlin menenangkannya.
Setelah berdebat, terlihat Merlin menunduk mengambil ponselnya. Sesaat kemudian ponsel Naura berdering. Naura tau kalau Merlin sedang menelponnya.
Dia langsung mengangkatnya. "Hallo?"
"Naura, kenapa kamu belum datang? Bukannya kamu sudah mengatakan kalau kamu mau makan siang bersama?" Tanya Merlin terdengar marah dan tidak sabar.
"Aku masih didalam bus, jalanan sedikit macet." Jawab Naura sengaja berbohong.
Terdengar helaan nafas lega dari seberang telepon. "Baiklah, kalau begitu cepat sedikit ya!"
Setelah menutup telepon, Naura melihat Merlin sedang bicara dengan Marsha lagi. Kemudian Marsha terlihat pergi meninggalkan meja itu, tapi tidak keluar dari restoran.
Naura pun merasa, kejadian kemarin malam di Bar 99 membuat Marsha tidak sabar meminta Merlin mengajak Naura keluar. Apa mungkin Marsha mengira kalau Naura sudah dihancurkan oleh para lelaki hidung belang di sana, jadi Marsha ingin melihat wajah Naura yang menyedihkan?
Kalau memang benar seperti itu, apa Naura harus muncul dan memberi pelajaran ke Marsha?
Pelayan datang mengantarkan pesanan. Suara 'Samuel' pun membuyarkan lamunan Naura. "Makan dulu!"
__ADS_1
Naura tiba-tiba menjadi teringat saat 'Samuel' sakit waktu itu. Dia memanggil dirinya "Ibu". Naura merasa penasaran dan ingin bertanya pada 'Samuel'. "O ya, kamu selalu tinggal di rumah Aaron, lalu bagaimana dengan orang tuamu?"
Saat Naura menanyakan itu, dia bisa melihat dengan jalas wajah 'Samuel' saat mengambil lauk terlihat seperti sedang menyimpan sesuatu.
Naura merasa, seharusnya dia tidak menanyakan itu. Kemudian Naura membantu mengambilkan lauk untuk 'Samuel'. "Kamu harus makan lebih banyak." Ucapnya dengan lembut.
Mereka berdua pun makan dalam keheningan hingga selesai.
Saat Naura ingin membayar makanan mereka di kasir, Aaron menariknya kebelakang dengan satu tangan dan membayarnya. Setelah membayar dia melihat Naura. "Wajar bagi seorang pria untuk membayar saat makan bersama seorang wanita."
Naura mendengus dengan wajah serius menatap 'Samuel'. "Aku ini kakak iparmu! Wajar kalau aku yang membayarnya!"
"Aku sudah membayarnya, kalau kamu merasa tidak enak hati karena aku yang membayar....." Aaron kemudian sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya pada Naura. "Kamu boleh menciumku." Lanjutnya dengan berbisik.
Naura terdiam dengan wajah kesal. Dia benar-benar tidak tau malu! Lebih baik, biarkan saja dia mati!
Naura mendengus kesal menahan kemarahannya kemudian berbalik dan pergi meninggalkan restoran itu.
Aaron menatap punggung Naura dan dia tersenyum.
Akhirnya Naura tidak pergi menemui Merlin ke restoran seberang. Dia pun kembali pulang ke rumah bersama 'Samuel'.
Naura mengira kalau masalah itu sudah selesai. Tapi ternyata, keesokan paginya, pagi-pagi sekali Fajar Affandi menelponnya.
"Naura, apa kamu sedang mencari pekerjaan? Kamu bisa datang ke perusahaan keluarga." Ucap Fajar terdengar tulus membuat Naura hampir percaya.
"Tapi, aku sudah mendapat pekerjaan." Jawab Naura dengan santai.
Antara perusahaan Affandi dan AD Entertainment Group, Naura lebih memilih AD Entertainment Group tanpa ragu dan tanpa harus mempertimbangkannya terlebih dahulu.
Fajar terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sebuah rencana. "Begini saja, kalau kamu mau datang untuk bekerja di perusahaan, ayah akan memberimu saham. Bagaimana?"
"Saham?" Naura terbengong apa dia tidak salah dengar.
Baik Marsha maupun kakak laki-lakinya, semua pemegang saham perusahaan milik keluarga Affandi. Setiap tahun pasti akan ada pembagian hasil. Bahkan Merlin juga memiliki sedikit saham meskipun jumlahnya sangat menyedihkan, tapi setidaknya masih punya.
Dari seluruh keluarga Affandi, hanya Naura saja yang tidak termasuk didalamnya. Tidak mendapatkan saham.
__ADS_1
Naura pernah berharap kalau Fajar-Ayahnya akan memberinya saham. Meskipun hanya satu persen, setidaknya bisa membuat Naura merasa kalau dirinya adalah bagian dari keluarga Affandi.
Tapi sekarang, disaat dia sudah tidak lagi berharap Fajar memberinya saham, Fajar tiba-tiba ingin memberi saham kepadanya.
Kalau dipikir-pikir, ini sedikit lucu dan Naura benar-benar tertawa.😅
Meski dalam hati dia tau kalau Fajar ingin memberinya saham, pasti ada tujuan tertentu. Naura pun merasa tertarik ingin bertanya. "Memangnya ayah berencana ingin memberiku berapa persen saham?"
Fajar pun menjawab dengan sekenanya. "Yang pasti lebih banyak dari ibumu. Kamu tidak perlu khawatir, ayah tidak akan merugikan kamu."
Lebih banyak dari Ibu? Kalau begitu sangat sedikit. Batin Naura.
Tapi, karena Fajar sendiri yang ingin memberinya, mana mungkin Naura tidak mempercayainya?
"Bagaimana pun juga, sekarang ini aku adalah Nyonya Ardinata. Kalau memang ayah benar-benar ingin memberiku saham, beri aku lima belas persen. Kalau terlalu sedikit, bisa menjadi lelucon orang kan?"
Meskipun Naura tidak mendapat saham dari perusahaan keluarga Affandi, tapi dia tau dengan sangat jelas pembagian saham perusahaan Affandi.
Fajar Affandi memiliki saham perusahaan tiga puluh persen. Marsha dan kakak laki-lakinya masing-masing memiliki sepuluh persen saham perusahaan. Sedangkan Merlin-Ibunya memiliki lima persen saham perusahaan.
Jika semua dijumlahkan, ada lima puluh lima persen saham perusahaan keluarga Affandi dan sisanya milik pemegang saham lain.
Kalau saja Fajar memberikan lima belas persen dari saham miliknya, maka bisa berubah menjadi sangat berbahaya.
Karena saat rapat pemegang saham berikutnya, kalau Naura tidak memilih Fajar Affandi, maka Fajar tidak akan menjadi komisaris utama diperusahaan lagi.
Saham lima belas persen, bukanlah angka yang kecil.
Fajar pun sangat mengerti apa yang dia pertaruhkan kalau dia memberikan saham sebanyak itu kepada Naura. Dia pun menahan amarahnya. "Naura, ayah tidak jahat kepadamu. Tapi, permintaan kamu ini sudah keterlaluan."
Tidak jahat katanya?😅
Naura pun tersenyum menanggapinya. "Ayah, usia ayah sudah lanjut. Jangan cepat marah. Tidak baik untuk kesehatan. Aku hanya asal bicara saja, kalau ayah tidak setuju juga tidak masalah. Yang pasti, aku masih bisa cari kerja sendiri. Aku masih ada urusan. Sampai jumpa Ayah."
Tidak ingin berlama-lama lagi bicara dengan Fajar, Naura akhirnya langsung menutup teleponnya tanpa menunggu jawaban dari ayahnya.
Sebenarnya, ada masalah apa di keluarga Affandi? Ini yang ada dalam pikiran Naura saat ini.
__ADS_1
Fajar mencoba merayu Naura dengan menggunakan saham dan memintanya bekerja di perusahaan keluarga. Pasti ada maskud dibalik itu semua.
...__________...