Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#61


__ADS_3

Setelah mendengar ucapan Fajar yang mengatakan "Hari senin kita bicarakan di kantor!" Sejak awal, Naura sudah menduga kalau masalah ini masih belum berakhir.


Naura berani bekerja di perusahaan keluarga Affandi, tentu saja tidak ada hal lain yang dia takuti.


Evelyn-sahabat baiknya sedang syuting di luar negeri. Naura juga tidak punya banyak teman di sini.


Saat weekend, Naura juga jarang sekali pergi keluar. Hanya didalam rumah menulis naskah skenario film dan drama.


Profesionya ini tidak akan pernah dia tinggalkan dan dia juga tidak akan lama bekerja di perusahaan Affandi.


Dua hari ini dia juga tidak melihat 'Samuel' di rumah. Entah laki-laki itu sedang sibuk apa.


Selama satu minggu ini jarang melihat 'Samuel' di rumah. Hal itu cukup membuat Naura merasa tenang.


Hari senin telah tiba.


Kemarin malam hampir jam satu malam, Naura mendengar suara mesin mobil datang. Jadi, dia mengira kalau 'Samuel' seharusnya berada di rumah. Dia pun membuat sarapan untuk dua orang.


Saat Naura ingin membawa sarapan yang dibuatnya ke ruang makan, dia melihat 'Samuel' memakai setelan jas terlihat sangat rapi sudah duduk di depan meja makan.


Setelah makan malam di hari jumat lalu, dua hari kemarin mereka tidak bertemu. Pagi ini, mereka berdua bertemu kambali.


Naura masih merasa tidak senang dengan ucapan 'Samuel' hari itu. Dia membawa sarapannya sendiri dan duduk lalu melihat sekilas pada 'Samuel'. "Kamu ambil sendiri sarapan kamu di dapur."


Aaron tidak menjawab. Tatapan matanya jatuh pada sarapan Naura.


Naura membuat nasi goreng dengan tambahan telur mata sapi diatasnya.


Naura menyadari tatapan 'Samuel'. Dia merasa kalau laki-laki yang duduk dihadapannya ingin merebut makanannya. Karena itu, Naura menundukkan kepala dan langsung menggigit telur mata sapi miliknya agar tidak direbut.


Setelah menggigit telur mata sapinya, dia merasa kalau dirinya sedikit kekanak-kanakan.


Tapi, Naura tidak menyangka kalua 'Samuel' lebih kekanak-kanakan lagi daripada dirinya.


'Samuel' langsung berdiri dan merebut makanan Naura lalu meletakkan dihadapannya.


Tak hanya itu, 'Samuel' juga menggigit telur mata sapi bekas gigitan Naura.


Wajah Naura seketika memerah. "Kamu! Kamu memang tidak tau malu!"


Aaron menatapnya dengan ekspresi begitu datar. "Aku tidak kurang ajar kepadamu, lalu kenapa kamu memaki aku?"


Naura mengatupkan bibirnya dan terdiam. "....."


Naura tidak bisa membalas ucapan 'Samuel'. Dia mendengus kemudian beranjak ke dapur lagi mengambil sisa nasi goreng yang dia buat tadi dan langsung memakannya di sana.


Saat Naura keluar dari dapur, 'Samuel' menatapnya dengan tatapan yang aneh.


Naura tidak menghiraukan tatapan anehnya. Dia langsung pergi.


Melihat bayangan Naura menghilang, Aaron menyeringai.


Naura tidak tau kalau dia adalah Aaron Daffa dan sepertinya sangat menyenangkan.


Meskipun dua hari ini Aaron sangat sibuk. Tapi, dia masih ingat saat Naura pulang cepat.


Marsha adalah wanita yang licik. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu untuk Naura.


Kalau belum diperlukan, Aaron tidak akan turun tangan.


Dalam hati berpikir seperti ini, tapi tubuhnya yang tinggi tegap sudah bereaksi. Bangkit berdiri dan pergi.

__ADS_1


...


Naura keluar dari rumah mewah Aaron, belum melangkah terlalu jauh, dia mendengar suara klakson mobil di belakangnya.


Naura menoleh ke belakang, kebetulan mobil itu sudah berhenti disampingnya.


Kaca jendela mobil diturunkan, terlihatlah wajah tampan 'Samuel' didalam mobil. Tapi, tetap saja dimata Naura, wajah itu terlihat sangat menyebalkan.


'Samuel' menyipitkan mata menatap dia. "Naiklah, aku antar kamu kerja."


"Tidak perlu." Tolak Naura karena dia tidak ingin diawasi lagi.


Naura bisa membayangkan kalau 'Samuel' mengantarnya sampai perusahaan, sudah pasti akan dilihat oleh banyak orang. Kemudian akan ada banyak gosip tentangnya.


'Samuel' tiba-tiba menyeringai dan sorot matanya sedikit menakutkan. "Apa yang kamu takutkan?"


Naura terpaku. Apa yang aku takutkan? Gumamnya dalam hati.


Dia baru menyadari kalau dia selalu sengaja bersikap dingin terhadap 'Samuel', sebenarnya karena takut.


Meskipun Naura selalu menunjukkan sikap ketidak sukaannya terhadap 'Samuel', tapi Naura tidak bisa untuk tidak mengakui kalau 'Samuel' adalah seorang laki-laki yang sangat luar biasa.


Keangkuah seolah tumbuh di dalam tulang-tulangnya, membuat orang lain merasa kalau laki-laki seperti dia memang seharusnya memiliki rasa penuh percaya diri. Dilahirkan menjadi seorang yang berbakat, pasti sangat menarik perhatian semua orang.


Terkadang, dia sedikit menyebalkan.Tapi, sikapnya terhadap Naura benar-benar sangat tulus.


Laki-laki sperti 'Samuel' ini, sebenarnya mudah sekali membuat hati wanita tergerak.


Jadi, karena itu Naura selalu berusaha menghindari dia dan bersikap dingin ke dia.


Naura membawa nama 'Nyonya Ardinata' dan mungkin nama ini akan mengikuti dia seumur hidup. Jadi, dia harus tau diri juga lebih bisa jaga diri.


Naura hanya takut kalau dirinya sampai tergoda.


"Jangan sembarangan bicara!" Bantahnya dengan cepat.


Dia kemudian mambuka pintu mobil, masuk dan duduk di dalam mobil disamping 'Samuel'.


Dalam hati Aaron tersenyum. Matanya terus menatap ke depan. Ekspresinya tenang, tapi dari sorot matanya memperlihatkan rasa kepuasan karena sudah mengungkapkan pikirannya.


Naura merasa sedikit bersalah, tidak berani melihat dia. Dia memalingkan wajahnya dan melihat ke luar jendela. "Berapa harga mobilmu ini?" Tanyanya memulai pembicaraan lebih dulu.


"Tidak mahal." Jawab singkat 'Samuel'.


Naura sedikit terkejut karena jarang melihat mobil semewah ini. Dulu waktu dirinya masih sekolah, ada banyak anak orang kaya yang membawa mobil untuk menjemput pacar mereka di sekolah. Diantaranya banyak mobil bermerek dan juga mobil sport mewah. Tapi, belum pernah melihat mobil model seperti ini.


Naura merasa harga mobil ini pasti sangatlah mahal.


Aaron menoleh menatap Naura sekilas. "Tapi, mobil ini hanya dibuat satu unit saja di seluruh dunia."


"Aku hanya..... "


Belum selesai bicara, Aaron sudah langsung memotong ucapan Naura. "Kalau kamu mau, bersikap baik sedikit, mungkin aku bisa mempertimbangkan untuk memberikannya kepadamu."


Merasakan raut wajah Naura yang berubah dalam sekejap, Aaron baru menyadari apa yang dia ucapkan.


Kalau dia memakai identitas Aaron Daffa untuk memberikan mobil kepada Naura, itu bisa dimengerti. Tapi, kalau 'Samuel' yang bicara seperti ini, rasanya sedikit tidak cocok.


Mobil pun telah sampai diperusahaan. Mereka tidak saling bicara lagi.


Saat turun dari mobil, Naura menoleh kearah 'Samuel'. "Terimakasih." Ucapnya dengan sangat sopan.

__ADS_1


Tapi justru kedengarannya kalau Naura sangat ingin menjaga jarak dengan 'Samuel'.


Naura menutup pintu mobil dan berbalik. Dia berpapasan dengan Marsha.


Wajah Marsha melihat Naura dengan ekspresi mengejek. Pandangan matanya jatuh pada mobil yang ada dibelakangnya. "Kelihatannya, hubunganmu dengan adik sepupu Aaron sangat baik. Bahkan dia sering mengantar jemput kamu ke tempat kerja. Terlihat sangat harmonis."


"Kami ini satu keluarga, tentu saja hubungan kami harus harmonis. Apa harus seperti kamu ......." Ucap Naura kemudian melangkah maju mendekati Marsha dan berbsisik kepadanya. "Di Bar 99 seperti itu, tidak semua orang bermain ke sana. Aku peringatkan! Lain kali, kakak jangan lagi menipuku untuk bermain ke sana!"


Wajah Marsha langsung sedikit kaku, tapi seketika kembali seperti semula. "Aku sama sekali tidak tau apa yang sedang kamu bicarakan."


Naura tersenyum cerah. Ucapannya barusan mengandung ancaman yang harus diwaspadai. "Ayah sangat tidak suka kamu pergi main ke Bar 99, jadi kamu sendiri harus sedikit berhati-hati."


Fajar-ayahnya tidak menyayangi Naura. Tapi, Fajar suka memperalat dia. Memakai identitas dia sebagai Nyonya Ardinata, masih bisa memberikan keuntungan yang besar untuknya. Kalau Fajar tau apa yang diperbuat Marsha terhadap Naura, Fajar pasti akan memarahi Marsha.


Naura mengerti hal ini, tentu saja Marsha juga mengerti.


Tapi, terlihat dengan jelas kalau Marsha sama sekali tidak takut dengan ancaman Naura. "Hanya sekedar omongan tanpa bukti, siapa yang akan percaya denganmu?" Ucapnya dengan bangga.


"Naura, nanti pulang jam berapa? Aku akan jemput kamu."


Tanpa diduga, tiba-tiba terdengar suara 'Samuel'. Naura menoleh kebelakang melihat dia dengan tatapan kosong. Di wajahnya seakan tertulis pertanyaan. "Kenapa kamu belum pergi?"


Aaron pura-pura tidak mengerti maksud dari tatapan Naura. Dia masih berdiri di tempat tanpa bergerak.


Sepertinya, kalau belum mendapatkan jawaban yang membuatnya merasa puas, dia akan tetap berdiri disana dan tidak akan pergi.


Naura merasa tidak berdaya dibuat olehnya. Hanya bisa menganggukkan kepala. "Baiklah."


Aaron mendapatkan jawaban yang membuatnya merasa puas. Dia menatap Marsha dengan tatapan dingin sekilas kemudian masuk kedalam mobil dan pergi.


Tatapan Aaron yang dingin, membuat Marsha gemetar. Tersirat keserakahan di sorot mata Marsha.


Kalau saja dulu dia tau, bahwa Aaron memiliki adik sepupu seperti 'Samuel', kalau dulu dia yang masuk kedalam keluarga Ardinata, apa 'Samuel' juga akan mengantar jemput dia ke tempat kerja?


Dia pun teringat saat di Star Light. B**lackcard yang dibawa Naura waktu itu, membuat matanya hampir lepas saat melihatnya.


Marsha merasa sedikit menyesal. Yang seharusnya masuk kedalam keluarga Ardinata itu dia!


Naura kembali menatap Marsha. Dia melihat wajah Marsha yang serakah sedang menatap ke arah 'Samuel' yang sudah pergi.


Naura menyeringai dan mengejeknya. "Apa sekarang kakak merasa menyesal sudah memberikan calon suami kakak untuk menikah denganku? Tapi, untuk menyesal juga sudah tidak ada gunanya. Anggap saja kalau Aaron mau menceraikan aku, lalu dia akan menikah dengan siapapun juga tidak mungkin menikahi kamu."


Walaupun badai video tentang Marsha yang tidak sopan itu sudah berlalu, tapi yang pasti, nama baik Marsha sudah hancur. Kalau keluarga Ardinata membiarkan seorang wanita yang nama baiknya sudah hancur masuk kedalam keluarganya, itu baru aneh.


Apa yang telah dipikirkan oleh Marsha sudah ditebak oleh Naura dengan benar. Seketika, wajah Marsha pun berubah menjadi tidak enak dilihat.


Tapi, raut wajahnya sudah kembali lagi seperti semula dengan cepat. Dia membelai rambutnya sendiri dengan rasa bangga. "Aku tidak pernah mau menikah dengan Aaron Daffa orang yang tidak berguna itu."


Yang dia inginkan adalah 'Samuel'.


'Samuel' laki-laki yang sangat luar biasa. Kalau 'Samuel' bisa bersama dengannya, rasanya pasti tidak akan ada habisnya.


Sedangkan Naura perempuan kampungan ini? Anggap saja dia sudah berubah menjadi cantik, lalu kenapa? Kemampuannya diatas ranjang, sudah pasti tidak bisa menandinginya.


Naura yang belum tau apa-apa, tentu saja tidak bisa menebak rencana jahat apa yang sedang dipikirkan oleh Marsha.


Tapi, Marsha mangatakan kalau Aaron Daffa orang yang tidak berguna. Naura sangat tidak suka!


"Kalau Aaron orang yang tidak berguna, lalu kenapa? Dia tetap suamiku! Kamu tidak pantas mengatakan hal-hal yang buruk tentang dia!" Setelah bicara, Naura masih merasa belum puas. Dengan sekuat tenaga dia menginjak kaki Marsha kemudian mengangkat pandangannya dengan angkuh dan berjalan masuk kedalam perusahaan.


"Naura sialan!!" Teriak Marsha sambil mengejar Naura.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari, ternyata Aaron masih belum pergi. Dia keluar dari balik pilar dengan wajah tanpa ekspresi.


...__________...


__ADS_2