
Ivan segera menjemput Naura dan Samuel. Dia membawanya ke perusahaan AD Entertainment atas perintah Aaron.
Sesampainya di sana, Ivan langsung membawa mereka ke lift pribadi Presdir.
Naura hanya bekerja di perusahaan kecil. Di sana juga tidak ada lift pribadi. Bangunan gedung perusahaan Affandi sudah dibangun sejak lama, jadi tidak ada lift pribadi.
Pertama naik lift ini, Naura merasa cukup baru.
Ivan hanya mengantar mereka sampai ke depan pintu ruangan Aaron kemudian pergi.
Naura mendorong pintu dan langsung melihat Aaron sedang duduk dibelakang meja kerjanya.
Dia baru saja menutup dokumen ditangannya dan bersiap untuk berdiri.
Begitu mengangkat pandangannya, dia langsung melihat Naura. "Sudah datang."
"Iya." Naura meresponnya dengan sedikit canggung, lalu berjalan ke sofa dan duduk disana.
Sedangkan Samuel penasaran dengan benda-benda di ruangan Aaron, dia menyentuh sana sini.
Aaron berjalan ke belakang Naura, dia meletakkan tangannya di belakang sofa, menyandarkan kepalanya dan menatap wajah cantiknya, kemudian bertanya. "Mau minum apa?"
"Tidak mau. Jam berapa kamu pulang kerja?"
Aaron mengangkat tangannya dan melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "Sudah mau."
Sebenarnya, Aaron masih ada pertemuan dengan klien. Tapi, jika Naura ingin cepat pulang, dia bisa mengubah waktunya.
Pada saat ini, sekertaris Aaron mengetuk pintu. "Presdir, saya sudah menyiapkan bahan untuk pertemuan sore ini."
Naura menatapnya. "Kamu masih ada rapat?"
"Tidak terlalu penting." Jawab Aaron dengan suara yang melembut.
Naura juga merasa suara Aaron berbeda dari biasanya. Hatinya pun melonjak dengan tidak nyaman, kemudian berkata. "Kalau kamu masih ada urusan, lebih baik selesaikan dulu. Aku akan menunggumu disini."
Jelas dia malu.
Tetapi, dia terlihat baik karena mengatakan mau menunggunya disini.
Aaron seperti ingin menciumnya.
Dia melihat ke arah Samuel, Samuel sedang mengambil buku dan melihat arah sana.
Aaron mengangkat tangannya dan memberinya isyarat untuk menoleh ke belakang.
Samuel memutar bola matanya dan berbalik dengan enggan, lanjut berpura-pura mempelajari buku-buku di rak.
Naura tidak bisa melihat gerakan menoleh Merasa Aaron masih belum pergi, terpaksa dia menoleh dan berkata: "Kenapa kammph..."
Tiba-tiba Aaron menciumnya.
Ciuman yang terlalu mendadak, Naura tidak bisa menghindar.
__ADS_1
Aaron mengusap bibir Naura setelah berciuman. "Aku akan segera kembali."
Naura tidak memikirkan apa yang Aaron katakan, Naura menoleh melihat ke arah Samuel dan dia menemukan bahwa Samuel masih sedang membaca membelakangi mereka, barulah Naura merasa sedikit lega.
Setelah Samuel mendengar suara pintu tertutup, dia melirik ke belakang, kemudian meletakkan kembali buku ditangannya. Ekspresi wajahnya tampak begitu indah.
*Wow! Kakakku benar-benar berperasaan! Bisa mencium!
Seharusnya aku mengambil foto untuk ku tunjukkan kepada ibu*!
Ibu Samuel terus mengatakan kepadanya bahwa dia khawatir kakaknya tidak dapat menemukan pasangan dalam hidupnya.
……
Aaron mengatakan akan segera kembali, dan ternyata benar-benar sangat cepat.
Hanya butuh waktu sepuluh menit dari dia keluar sampai kembali.
Mereka bertiga kemudian naik lift turun ke parkiran bawah tanah.
Aaron melirik Samuel. "Berkelahi dengan orang?"
Samuel cemberut. "Iya."
Meskipun alasan perkelahiannya tidak bisa membiarkan Aaron tau, tetapi dengan begitu banyaknya plester diwajahnya, jangan bilang bahwa Aaron baru saja melihatnya?
Dia akhirnya merasakan apa arti dari lawan jenis yang tidak memiliki rasa kemanusiaan.
Mungkin yang dikatan adalah seseorang seperti kakaknya ini.
"Kalau tidak? Bagaimana bisa menelpon....."
Kata terakhir tersangkut di tenggorokannya. Samuel tidak tau harus lanjut mengatakannya atau tidak.
Dia pun melangkah mundur ke belakang lift untuk meminimalisir kehadirannya.
Kenapa...katakan itu?!
Naura menatap Samuel seolah mengatakan sesuatu lewat tatapan matanya bahwa dirinya tidak bisa membantunya.
Aaron tiba-tiba tersenyum tanpa alasan membuat Samuel gemetar dan bersembunyi di belakang Naura.
Naura menatap ujung sepatunya, berpura-pura tidak tau apa-apa.
Pintu lift terbuka dan meraka keluar dengan Aaron yang berjalan didepan, Naura dan Samuel mengikutinya.
Naura merasa dia dan Samuel seperti dua anak yang telah melakukan kesalahan dan takut dimarahi oleh orang tua mereka. Dan Aaron adalah orang tua mereka.
Dia terkejut dengan pemikirannya sendiri.
Naura berbalik dan diam-diam menarik lengan Samuel. "Samuel kecil, berhati-hatilah."
"……"
__ADS_1
Ketika masuk ke mobil, Naura masih memutuskan untuk membantu Samuel dan berinisiatif untuk duduk bersama Aaron dibelakang.
Namun, dia baru duduk di sebalah Aaron selama tiga detik, dia menyesalinya.
Pria tampan yang tidak tau malu itu meraih tangan Naura begitu Naura masuk ke mobil dan menyentuh wajahnya...
Yang duduk di depan ada Ivan dan Samuel. Lalu, dimana dia mau menyembunyikan wajahnya?
Ketika Naura melambaikan tangannya untuk yang kesekian kalinya, pria tidak tau malu itu tersenyum lebar. "Kamu terlalu baik hari ini, aku hanya ingin menyentuhmu saja."
Naura menatapnya dengan tersenyum. "Apakah aku seekor kucing? Terlihat baik, baru mau menyentuh?"
"Tentu saja bukan." Aaron meremas tangannya sebelum berkata. "Hanya menyentuhnya sebentar saja tidak cukup."
Naura menggerakkan bibirnya, dan melihat ke arah dua orang yang duduk didepan.
Ivan dan Samuel duduk menghadap dan menatap lurus ke depan. Tapi, bahu mereka bergetar.
Mereka sedang tertawa!
Naura emosi dan langsung menendang Aaron.
Tidak terlalu sakit. Tapi, Aaron juga tau, jangan mengganggunya.
……
Ketika mobil berhenti di depan pintu rumah mewah milik Aaron, Naura adalah orang pertama yang langsung keluar dari mobil, seolah-olah ada hantu yang mengejar di belakangnya, dengan cepat berjalan masuk ke dalam rumah.
Samuel mengikuti.
Tetapi, dibelakangnya ada sebuah suara yang terdengar seperti kehidupan di kerajaan. "Samuel, pergi ke ruang baca dan tunggu aku disana."
Seketika langkah Samuel terhenti dan melihat ke arah Aaron dengan senyuman. "Kakak, aku janji tidak akan berkelahi lagi. Aku tau aku salah."
"Iya." Aaron menanggapinya dengan tidak biasa, tetapi tidak mengatakan bahwa Samuel tidak perlu pergi ke ruang baca.
Akhirnya, Samuel pergi ke ruang baca.
Dia merasa gelisah untuk beberapa saat di dalam ruang baca sebelum Aaron masuk.
"Katakan, mengapa kamu berkelahi?" Tanya Aaron dengan datar dan langsung berjalan ke arah Samuel lalu duduk.
Biasanya, Aaron terlihat santai. Tetapi, orang yang akrab dengannya dapat dengan mudah merasakan perubahan emosinya.
"Hanya bertengkar dengan teman, kemudian berkelahi." Setelah Samuel selesai berbicara, dia berkata lagi dengan serius. "Kakak, aku benar-benar tau kalau aku salah. Aku tidak akan berkelahi dengan temanku lagi."
Dia terus berjanji dan mengakui kesalahannya. Tapi, itu tidak membuat Aaron berhenti bertanya. "Aku tanya, mengapa kamu berkelahi?"
Aaron menatap Samuel dengan tenang. Matanya yang gelap begitu tenang sehingga Samuel tidak bisa melihat suasana hatinya yang berubah. Tetapi, ada yang berubah.
Tatapan mata Aaron membuat Samuel merasa tidak bisa menyembunyikan apapun darinya.
Namun, dia tau jelas, jika Aaron mendengarnya, Aaron akan sedih.
__ADS_1
Samuel berhenti berbicara dan Aaron juga tidak bertanya lagi.
...----------------...