
Selesai makan, Naura menarik Samuel ke kamarnya.
Setelah masuk kamar, Naura menutup pintu kamar dengan misterius, membuat Samuel menatap bingung. "Apa yang kamu lakukan? Tadi saat kamu menarikku, tatapan mata kakak sepupu seperti ingin membunuhku, dan kamu sekarang malah menutup pintu kamar, nanti dia mungkin akan langsung melemparku keluar."
"Tidak akan." Singkat Naura.
Meskipun Aaron sangat kejam kepada Samuel, tapi dia bersedia membiarkan Samuel tinggal di sini bersamanya, itu berarti dia masih menyukai Samuel.
"Kalau dia benar-benar melemparku keluar, kamu harus membantuku!" Samuel melompat ke atas meja dan duduk disana. "Sekarang katakan ada masalah apa yang membuatmu begitu misterius? Apa kamu sudah memutuskan ingin bercerai dengannya?"
"Kamu, dasar bocah! Kenapa selalu mengatakan tentang hal perceraian?" Naura sambil mengetuk kepalanya dengan kuat.
"Eh, sakit!" Teriak Samuel sambil menyentuh kepalanya.
Naura tidak ingin becanda dengannya. "Apakah sifat kakak sepupumu selalu seperti ini?"
Ketika Aaron menjadi 'Samuel', meskipun Naura bisa merasakan emosinya tidak baik, tetapi sikapnya juga tidak sedingin seperti sekarang ini.
Setelah Naura memulihkan statusnya sebagai Aaron Daffa, Aaron semakin sulit ditebak, dan keinginannya ingin mengontrol orang menjadi sangat kuat.
Dia tau semua hal yang dia lakukan, tapi dia tetap diam. Sekarang dia kembali menjadi Aaron Daffa, dia malah menjadi tidak takut apapun dan semakin menjadi-jadi.
"Dia memang selalu seperti itu. Sangat menyeramkan." Samuel tampaknya teringat akan sesuatu yang mengerikan dan dia menciutkan lehernya. "Sungguh, aku sarankan kamu untuk ceraikan saja dia. Bagaimana menurutmu dengan kakakku?"
Naura merasa canggung. "Bukankah kamu sebelumnya memintaku untuk menjadi pacarmu?"
"Aku pikir mungkin kamu tidak menyukaiku. Kakakku orangnya sangat lembut, dia lebih cocok denganmu dan dia pasti lebih baik daripada Aaron. Aaron itu terlalu galak!" Ucap Samuel kemudian meringis memperagakan wajah hantu. 👹
Naura tidak bisa menahan tawanya, dia sengaja ingin menggodanya. "Apakah kamu tau berapa banyak wanita di seluruh negara ini yang ingin menikah dengan kakakmu? Bahkan jika kakakmu bersedia menikah denganku, tapi aku adalah seorang janda, itu sangat tidak cocok dengannya."
"Kamu sangat baik, bagaimana tidak cocok dengannya?" Samuel bicara dengan santai, tapi nada suaranya terdengar sangat tulus.
Naura sedikit tertegun. Apakag dirinya sebaik itu?
__ADS_1
Melihat Naura tidak bicara, Samuel juga merasa sedikit canggung. kemudian menggaruk kepalanya dan menjelaskannya. "Bukankah sebelumnya, aku pernah tinggal di rumahmu? Pada saat kamu pergi, aku pikir kamu akan memanggil seseorang untuk memukuliku, tidak disangka kamu malah memasak untukku..."
"……"
Naura memutuskan untuk memutuskan fantasinya. "Karena kamu bilang namamu Samuel Ardinata, jadi aku baru meminta seseorang untuk memukulimu."
"Bahkan jika aku bukan Samuel Ardinata, kamu juga tidak akan menyuruh orang untuk memukuliku."
"Bagaimana kamu tau?"
"Untuk apa kamu peduli bagaimana aku mengetahuinya." Samuel kemudian mendorong Naura keluar dari kamarnya. "Pergi sana, aku ingin mengerjakan PR. Kalian para wanita memiliki begitu banyak masalah."
'Brak!'
Pintu langsung ditutup begitu Naura didorong keluar.
Naura menoleh ke arah pintu dan tersenyum. Benar-benar bocah nakal yang tidak mengerti apa-apa!
Tumben sekali dia sudah bersiap ingin tidur? Batin Naura.
Naura juga tidak berbicara dengannya, dia langsung pergi ke kamar mandi.
Ketika dia keluar dari kamar mandi, Aaron sudah tidak memegang dokumen lagi di tangannya. Dia duduk bersandar di atas tempat tidur dan tatapan matanya tertuju pada Naura.
Naura menundukkan kepala dan melihat ke piyamanya yang tertutup dengan baik. Dia kemudian berjalan perlahan ke sisi tempat tidur, menarik selimut dan berbaring.
Begitu dia memejamkan mata ingin tidur, dia merasakan napas Aaron yang dingin tiba-tiba mendekat.
Sontak Naura membuka matanya, melihat Aaron yang tidak tau kapan sudah membungkuk dan terlihat seperti ingin menciumnya.
Ketika Naura masih tertegun, bibir Aaron telah menempel ke bibirnya kemudian memeluknya.
Napasnya yang unik dan dingin seakan membungkus Naura dengan erat, itu membuat Naura sedikit tidak bisa bernapas dan otaknya terasa kosong.
__ADS_1
Ciuman Aaron turun ke leher jenjangnya yang putih mulus, lalu meraih tangannya untuk menekannya ke bagian bawah tubuhnya yang tidak boleh dilukiskan. Suara berat dan serak Aaron terdengar tepat ditelinganya. "Hari itu belajar di Bar Star Light dengan sangat serius, dan malam ini kita akan mengulasnya."
Naura teringat akan apa yang terjadi di Bar Star Light hari itu, darahnya langsung berdesir dan naik ke wajahnya. Wajahnya langsung memerah seketika. Dia berjuang untuk menarik kembali tangannya, tapi itu tidak berhasil.
Naura sangat cemas dan langsung berkata dengan kasar. "Mengulas kentutmu!!"
"Tidak boleh mengatakan perkataan kotor ketika di ranjang." Aaron mengecup bibirnya dengan ringan. "Tapi nanti, kamu boleh berteriak dengan keras."
Naura tau kalau cepat atau lambat, pasti akan ada hari seperti sekarang ini. Namun, hatinya masih sangat menolaknya.
Setelah mendengar perkataan Aaron, tubuh Naura langsung kaku seperti batu.
Aaron merasakan reaksinya, napasnya menjadi sedikit berat seolah-olah ingin marah. Tapi, dia hanya berkata dengan lembut. "Tidak ingin melakukannya juga tidak masalah. Kamu harus bantu aku mengeluarkannya."
Naura sudah tidak bisa lagi berbuat apa-apa selain hanya......pasrah.
Aaron berkata seperti itu juga karena dia memiliki hak atas diri Naura. Dan Naura tidak berani untuk menolaknya lagi.
Dia menahan rasa malu di hatinya, tangan yang ditekan olehnya dibawah bimbingannya membantunya.....
Tidak tau berapa lama kemudian, Naura merasa tangannya sudah keram seolah-olah itu bukan tangannya sendiri lagi, lalu dia merasakan benda ditangannya tampak melompat,kemudian perasaan akrab cairan hangat yang menodai tangannya datang lagi.....
Aaron menarik tisu untuk membantunya membersihkan tangannya.
Dengan cepat Naura memalingkan kepalanya karena malu karena dia tidak ingin melihat hal yang cabul itu...
Tiba-tiba, suara Aaron terdengar di ruangan kamar yang sunyi ini. "Apakah kamu masih berpikir waktunya terlalu singkat?"
"……" Wajah Naura memerah, dia menarik tangannya lalu melompat dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi.
Aaron hanya menatap tubuh bagian belakang Naura, lalu tersenyum.
...__________...
__ADS_1