Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#96


__ADS_3

Saat tiba di depan pintu ruangan Fajar, sekertaris itu mengetuk pintunya sejenak. "Pak Presdir, Nona Naura sudah datang." Ucapnya sambil membukakan pintu untuk Naura, kemudian membungkuk hormat.


"Terimakasih." Naura tersenyum sejenak pada sekertaris itu, kemudian melangkahkan kakinya masuk kedalam dan menutup pintunya.


Fajar yang duduk dibalik meja kerjanya mengangkat kepalanya, memperlihatkan senyuman hangat. "Naura, kamu sudah datang? Apa kamu sudah sarapan?"


Di atas mejanya masih terdapat berberapa kotak sarapan dengan logo yang terlihat familiar, yaitu restoran di dekat sini.


"Sudah. Ayah mecariku, ada perlu apa?" Naura duduk dikursi seberangnya dengan raut wajah yang serius.


Wajah Fajar terlihat sangat lesu, terlihat jelas kalau semalaman tidak tidur. Dia menggelengkan kepalanya dan raut wajahnya sedikit berubah. "Perusahaan sedang mengalami masalah sebesar ini, kamu juga mengetahuinya. Semua karyawan di departemen sosial semalaman lembur juga tidak mendapatkan hasil apapun. Kemarin malam juga ada orang yang menghancurkan toko perusahaan."


Fajar memasang wajah pahitnya sambil bercerita kepada Naura, terlihat sangat sangat menyedihkan!


Tapi Naura tau, Fajar menyuruhnya kemari pagi-pagi, bukan hanya untuk bercerita saja. Pasti dia memiliki tujuan lain.


Seperti yang diduga! Fajar yang terus bicara, akhirnya membicarakan dirinya. "Perusahaan Affandi adalah perusahaan milik keluarga kita. Walaupun kamu sudah menikah, kamu masih tetap bagian dari keluarga Affandi. Sekarang ini, perusahaan sedang mengalami masalah yang besar, tidak ada yang bisa membantu kita, kecuali........"


Ucapannya sampai disini, Naura sudah sangat mengerti. Fajar ingin Naura meminta bantuan kepada keluarga Ardinata.


Naura adalah orang yang membuat masalah ini, bagaimana mungkin dia membantu Fajar?


Naura pun terlihat seperti tidak mengerti, dan bicara dengan wajah serius. "Oh iya, masalah ini sangat parah. Kemarin malam, aku melihat di internet semua orang sedang memaki perusahaan kita. Kalau seperti ini, kita harus berubah menjadi lebih baik lagi, dan berusaha mendapatkan maaf dari para konsumen."


Kalimat ini mudah untuk diucapkan. Tapi sekarang, masalah yang paling penting untuk Perusahaan Affandi adalah, semua mitra kerja ingin memutuskan kerja sama. Bahkan sampai ada yang ingin menuntut Perubahan Affandi. Hal ini untuk Perusahaan Affandi, bagaikan sudah jatuh masih tertimpa tangga pula.

__ADS_1


Namun, saat ini jika keluarga Ardinata dapat membantu Perusahaan Affandi, maka para mitra itu tidak akan berani memutuskan kerja samanya.


Karena, bagaimanapun tidak ada yang berani melawan keluarga Ardinata.


Fajar mlihat Naura yang tidak mengerti, raut wajahnya menjadi sedikit berubah. Nada biacaranya mulai manjadi serius, dan tidak lagi berbasa-basi. "Semua itu, urusan belakangan. Sekarang yang paling penting adalah mempertahankan perusahaan beroperasi seperti biasanya. Kamu cukup meminta Aaron untuk mengutus orang memberikan instruksi, maka perusahaan Affandi dapat melewati kesulitan ini."


"Apa bisa dengan begitu saja?" Tanya Naura dengan mata berbinar.


Fajar mengira kalau dirinya telah mempengaruhi Naura. Dia langsung menganggukkan kepala. "Iya, benar. Semudah ini."


Namun dengan cepat, raut wajah Naura kembali berubah. Wajahnya terlihat sedikit ketakutan. "Sebelumnya, Aaron memberikan blackcard kepadaku. Tapi, blackcard itu sudah diambil oleh penculik. Bahkan, sampai saat ini aku masih belum berani memberitaunya. Kalau dia sampai tau masalah ini, pasti dia tidak akan melepaskan aku." Ucap Naura sambil memperhatikan raut wajah Fajar.


Saat Naura mengungkit soal blackcard, Naura bisa melihat dengan jelas raut wajah Fajar terlihat merasa bersalah.


Jadi sekarang, sudah tau rasa bersalah?


Fajar melihat ketakutan Naura yang terlihat tidak sedang berpura-pura, hatinya pun menjadi merasa serba salah. "Kamu bisa kan, tidak membicarakan dulu masalah blackcard?"


Dalam hati, Naura tersenyum dingin. Sudah sampai di titik seperti ini, Fajar masih saja tidak ingin mengeluarkan blackcardnya.


Walaupun benaknya berpikir seperti itu, tapi ketakutan di wajahnya semakin terlihat.


Diam-diam, Naura mencubit pahanya sendiri. Terasa sakit hingga matanya dipenuhi airmata. Naura kembali mencubitnya lebih keras lagi, dan air matanya langsung menetes keluar.


Naura menggigit bibirnya, lalu berbicara dengan suara parau. "Kalau blackcard itu, Aaron hanya meminjamkannya kepadaku, dan aku akan mengembalikan kepadanya. Walaupun aku tidak mengatakannya, cepat atau lambat, dia pasti akan mengetahuinya."

__ADS_1


Seperti teringat akan masalah yang sangat mengerikan, tangisan Naura menjadi semakin keras. "Ayah tidak tau...bagaimana mengerikannya orang itu. Dia sama saja seperti iblis. Dia pasti tidak akan melepaskan aku..."


Tangisan Naura sedikit tidak bisa dikendalikan.


Sekarang, dia baru mengetahui kalau dia punya banyak air mata.


Mungkin, dia bisa masuk ke perusahaan entertainment dan menjadi seorang artis.


Fajar yang dari awal merasa kesal, kehangatan yang sebelumnya dia tunjukkan kepada Naura hanyalah kepura-puraan karena dia membutuhkan bantuan darinya, sekarang melihatnya tidak berhenti menangis, membuat Fajar semakin merasa kesal.


"Kamu jangan menangis!" Ucap Fajar berteriak kepada Naura dengan raut wajah yang terlihat tidak mengenakkan.


Naura pun langsung menghentikan suara tangisannya, tapi masih terisak.


Fajar melihat dengan tatapannya yang sarat akan penghinaan. Bodoh tetaplah bodoh! Walaupun berubah menjadi cantik, tapi tetap saja tidak berguna!


Fajar mengira, Naura sudah membuat Aaron tergila-gila padanya, jadi dia bisa mendapatkan blackcard dari Aaron. Tidak disangka, ternyata hanya dipinjamkan saja untuknya!


Naura sendiri juga tidak menyukai dirinya sendiri. Dia juga tidak ingin seperti ini. Dia hanya menangis yang terlalu menghayati.🤦‍♀️


Fajar seperti telah membuat sebuah keputusan yang besar. "Bagaimana kalau seandainya blackcard itu bisa ditemukan?"


"Memangnya, apa bisa ditemukan?" Seketika, wajah Naura menunjukkan sebuah kegembiraan. Tapi, dengan cepat langsung menghilang dan tersenyum miris. "Mana mungkin bisa ditemukan lagi? Bahkan, aku tidak ingat wajah penculik itu."


Fajar mengamati wajah Naura dalam diam, memastikan Naura tidak mengetahui apapun kalau semua peristiwa itu adalah perbuatannya. "Ayah akan memikirkan caranya." Ucap Fajar sambil mengerutkan alisnya.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2