Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#88


__ADS_3

Penculik itu memberinya alamat, tempat yang dituju merupakan sebuah gudang terlantar yang berada di pinggir kota. Tempat itu sangat sepi.


Setelah Naura menemukan tempatnya, dia langsung mengirimkan alamat itu ke Evelyn, meminta Evelyn untuk membantunya lapor polisi.


Naura sekarang buru-buru pergi ke alamat tersebut. Kemungkinan besar, penculik itu berada di jalan sedang mengawasinya.


Karena itu, dia hanya bisa meminta tolong kepada Evelyn untuk melaporkannya ke polisi.


Setelah pesannya terkirim, Naura langsung menghapusnya.


Naura menyetir sambil memperhatikan apakah mobil Fajar mengikutinya dari belakang.


Saat hampir tiba ke gudang terlantar tersebut, ada sebuah tikungan.


Setelah Naura berbelok, mobil Fajar sudah tidak terlihat lagi.


Naura menghentikan mobilnya didepan pintu gudang tersebut.


Pintu besar yang terbuat dari besi yang ada di depan gudang itu dibuka dari dalam, kemudian keluarlah seorang laki-laki bertubuh besar dan tinggi. Laki-laki itu memakai masker dan menatap Naura dengan tatapan suram.


"Apa kamu Naura?"


Naura menganggukkan kepala. "Benar."


"Kamu membawa uangnya?"


"Aku mau lihat ibuku dulu!" Ucap Naura dengan dingin.


Lelaki itu melihat sekeliling, memastikan Naura datang sendirian, kemudian membalikkan badan dan melangkah masuk kedalam. "Kamu ikut aku."


Naura mengikutinya masuk kedalam.


Gudang ini sudah lama sekali tidak terpakai. Kosong dan berantakan. Lantainya penuhi dengan debu yang tebal. Tergeletak barang-barang yang sudah tidak terpakai.


Naura mengikutinya dari belakang. Dari jauh, terlihat Merlin yang sedang disandera duduk dibangku dengan tangan diikat.


Rambut Merlin yang biasanya tertata rapi, sekarang terlihat sangat berantakan. Raut wajahnya pucat, terlihat sedikit tua.


Secantik apapun rupanya, tetap saja dikalahkan oleh usia.


Merlin melihat Naura, seketika sorot dalam matanya terpancar kegembiraan. "Naura, akhirnya kamu datang juga!" Ucap Merlin dengan suaranya yang sedikit serak.


"Ibu tidak apa-apa?" Naura melangkah maju beberapa langkah, menatapnya tanpa ekspresi.


Merlin menggelengkan kepala sambil tersenyum. "Karena kamu sudah datang, maka ibu akan baik-baik saja. Cepat kamu berikan uangnya kepada mereka. Mereka hanya menginginkan uang!"


Tiba-tiba, laki-laki yang tadi membawanya masuk, mengulurkan tangan untuk menghadang Naura. "Sudah! Mana uangnya?!"


"Waktu yang kamu berikan terlalu singkat, aku belum mendapatkan uang tunai sebanyak itu." Jawab Naura dengan tenang. "Kamu juga tau kalau aku Nyonya Ardinata, pasti kamu juga tau Perusahaan Ardinata mempunyai blackcard yang hanya dimiliki beberapa orang saja, apa bisa aku menggunakannya?"

__ADS_1


Seketika raut wajah laki-laki itu berubah ketika mendengar ucapan Naura. "Kamu mempermainkan aku?! Kamu anggap aku orang bodoh?! Kalau aku mengambil blackcard ini, kamu bisa menyuruh orang untuk memblokirnya, kemudian lapor polisi untuk menangkap kami?!"


Raut wajah Naura pun seketika berubah. Dia memang berpikir seperti ini!


Tiba-tiba anak buahnya yang berdiri dibelakang laki-laki itu mendekatinya dan mengatakan sesuatu.


Laki-laki tadi mengulurkan tangannya. "Bisa saja aku melepaskan wanita tua ini, tapi kamu harus mengambil uangnya bersamaku!"


"Baiklah." Jawab Naura. Dia sedikitpun tidak melihat ke arah Merlin dan langsung menyetujuinya.


Setelah mereka melepaskan Merlin, Merlin melihat ke arah Naura. "Naura, kamu harus berhati-hati!" Ucapnya dengan panik, kemudian berlari dengan cepat.


Naura menggigit bibirnya, tidak berkata apa-apa.


Naura mengeluarkan blackcardnya dan memberikannya kepada laki-laki itu. Laki-laki itu mengulurkan tangan mengambil blackcardnya.


Laki-laki itu baru mengulurkan setengah tangannya, tapi tiba-tiba mengangkat tangannya dan berbalik ke arah belakang Naura lalu memukul leher Naura dengan keras.


Naura belum sempat berkata apa-apa, pandangannya menjadi gelap. Saat hampir pingsan, Naura kembali mengingat semua peristiwa yang terjadi hari ini.


Dia baru sadar ternyata banyak sekali keganjilan. Tapi, sudah terlambat.


...


Saat Naura tersadar, dia sudah berada ditempat lain dan bukan di gudang itu.


"Yang membayar jasa kami juga berasal dari keluarga Affandi?"


"Keluarga wanita ini?"


"Dendam apa yang ada diantara mereka ini? Kalau kita membuat wanita ini........apakah keluarga Ardinata tidak mencari masalah dengan kita?"


"Apa kamu lupa dengan masalah penculikan Nyonya Ardinata sepuluh tahun yang lalu? Pada akhirnya masalah itu tidak bisa membuat orang merasa tenang. Orang kaya semacam ini, yang diingkan hanyalah harga diri."


Tiba-tiba, Naura teringat dan seluruh tubuhnya membeku. Rasa dingin masuk ke seluruh tubuhnya.


Saat dia pergi ke rumah Affandi, dia memecahkan mangkuk Marsha, tapi Marsha tidak marah?


Marsha juga melarang dia lapor polisi.


Saat itu, Naura benar-benar sedang merasa cemas, karena menyangkut nyawa ibunya sendiri. Meskipun dalam hatinya sudah tidak mengharapkan Merlin, dia tetap tidak bisa membiarkan Merlin mati begitu saja.


Naura masih kurang berpengalaman. Dia tidak bisa menandingi mereka berdua, Fajar dan Marsha.


"Bos, dia sudah sadar!"


Salah satu anak buah dari penculik itu melihat Naura sudah sadar.


Wajah Naura begitu dingin membeku. Ketenangannya tidak seperti orang yang sedang disandera. "Aku sudah mendengar ucapan kalian tadi! Orang yang membayar kalian untuk melakukan ini, Fajar Affandi dan anak perempuannya kan?!"

__ADS_1


Anak buah penculik itu mendengus dengan tidak sabar. "Sudah hampir mati, untuk apa bertanya seperti ini?!"


"Sebelum mati, aku harus mengetahuinya dulu!" Ucap Naura sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya.


Naura berada di sebuah ruang tamu. Ada sofa dan ruang makan.


Saat ini, Naura duduk dikursi, diikat dengan kencang dan tubuhnya terasa sakit.


"Untuk apa memberitau kamu? Anggap saja mereka membayar kami dan kalau kamu mati, jangan menyalakan kami. Salahkan saja nasib kamu yang tidak baik." Bos penculik itu menatap Naura sangat cantik, jadi dengan senang hati berbicara dengannya.


Naura merasa, memang nasibnya tidak baik.


Dia terlalu meremehkan strategi Marsha.


Dalam peristiwa penculikan Merlin ini, peran apa yang sedang dia mainkan?


Apakah dari awal, dia sudah mengetahui rencana Marsha, lalu dengan senang hati mau bekerjasama dengannya untuk menipu Naura demi mendapatkan blackcard dan tidak mempedulikan keselamatan Naura?


Bos penculik itu melangkah maju dan menatap Naura dengan waspada. "Jangan bicara omong kosong lagi! Makin cepat menyelesaikan pekerjaan ini, makin cepat kita meninggalkan kota ini! Siapa yang ingin mulai lebih dulu?"


"Bos, kamu duluan!"


Seketika, Naura menggerakkan tubuhnya. Hatinya menciut, menggunakan instingnya, dia memberontak beberapa kali. Tapi, ikatannya terlalu kencang dan dia sama sekali tidak bisa bergerak.


Saat di Bar 99 waktu itu, Marsha ingin mencelakainya. Karena keberuntungan nasibnya, akhirnya dia bisa lolos. Kali ini, apa dia benar-benar tidak bisa lolos?


Naura merasa sangat tidak rela!


Naura memaksa dirinya untuk tetap tenang. Dia mengangkat sedikit kepalanya, membuat dirinya terlihat lebih percaya diri. "Kalian benar-benar mengira Keluarga Ardinata begitu mudah diusik? Apakah orang-orang yang terlibat dalam peristiwa penculikan Nyonya Ardinata dulu, masih hidup sampai sekarang? Meskipun keluarga Ardinata sangat menjaga harga diri, tapi apa mereka bisa bersabar terhadap orang-orang yang mencoba menginjak harga dirinya?"


Orang yang disebut "Nyonya Ardinata" adalah ibu dari Aaron Daffa.


Melihat perubahan sikap dari penculik-penculik itu, Naura melanjutkan bicara. "Meskipun Marsha sudah memberi kalian banyak uang, belum tentu kalian bisa hidup dan berfoya-foya. Kalau kalian melepaskan aku sekarang, kalian bisa langsung meninggalkan Kota B. Keluarga Ardinata tidak akan mempersulit kalian."


"Hmm, wanita ini sedang mencoba menakut-nakuti kita!"


"Mungkin aku tidak mau hidup terlalu lama. Anggap saja keluarga Ardinata tidak mencari masalah denganku, posisi juga tidak akan melepaskan aku. Aku belum pernah tidur bersama seorang wanita sesempurna ini dan hari ini, aku harus memperkosa kamu....." Ucap Bos penculik itu sambil mengulurkan tangan, merobek baju Naura.


Seketika, wajah Naura langsung memucat.


Jangan takut! Tidak boleh takut! Pasti ada cara lain untuk melepaskan diri! Batin Naura.


Jaket yang dipakai Naura ada resleting. Penculik itu bisa membukanya dengan mudah. Tangannya dengan cepat langsung meraih dan masuk kedalam baju sweater Naura.


Insting untuk bertahan hidup, terus memberontak, Naura berjuang dengan keras, sampai kursinya terjatuh.


"Sialan!" Bos penculik itu memakinya.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2