Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#89


__ADS_3

Kemudian penculik itu menendang perut Naura, lalu mengulurkan lengannya, menarik rambut Naura sampai Naura berdiri.


Kaki penculik itu menendang dengan tenaga yang kuat, membuat Naura mengeluarkan keringat dingin.


Sekarang otaknya sudah tidak bisa berpikir lagi. Naura hanya mau melepaskan diri dari tangan penculik yang menjijikkan itu.


Penculik itu ingin menarik kembali rambut Naura, tapi belum sampai dia menarik, tiba-tiba pintu ruang itu ditendang dari luar oleh seseorang hingga mengeluarkan suara "brakk!" begitu keras.


Rambut Naura yang ditarik terasa sangat sakit, sampai Naura menggigit bibirnya lalu melihat ke arah pintu.


Saat Naura melihat sosok yang sangat dikenalnya berdiri di depan pintu, seketika rasa takutnya pun tenggelam begitu saja. Airmatanya seperti kalung manik-manik yang putus, jatuh satu demi satu.


Meskipun Naura sedang menangis, tapi sama sekali dia tidak mengeluarkan suara tangisnya. Malah tersenyum menatap kearah seseorang yang berada didepan pintu. "Samuel, kamu datang?"


Saat melihat 'Samuel', Naura baru mengakui sebelumnya dia selalu mempertahankan sikap dingin. Di alam bawah sadarnya, dia merasa akan ada seseorang yang datang menolongnya.


Seseorang yang bisa menolongnya itu, sudah pasti orang yang dia kenal dan yang paling hebat.


Tapi, seseorang yang dia kenal dan yang paling hebat adalah 'Samuel'.


Aaron berdiri di depan pintu sedang melihat keadaan yang ada didalam. Tangannya mengepal dengan tatapan tajam dan membunuh. Siapapun yang melihatnya, akan merasa was-was dan ketakutan.


Tiga orang penculik itu terkejut. "Kamu.....kamu siapa?!"


Orang yang membayar dan menyuruh mereka menyekap Naura tidak mengatakan kalau akan ada seseorang yang datang menolongnya.


"Dikehidupan selanjutnya, silahkan tanyakan kepadaku pertanyaan itu lagi." Ucap Aaron dengan suara rendah dan sangat dingin sedingin es. Aaron berjalan selangkah demi selangkah ke arah mereka sambil menatap mereka. "Karena dikehidupan ini, kalian tidak akan memiliki kesempatan untuk mengetahuinya."


Begitu ucapannya terlontar, tiba-tiba langkah kakinya menjadi cepat, dalam tiga langkah sudah bisa sampai dihadapan mereka.


Saat mereka masih belum melihat jelas gerakannya, Aaron sudah langsung menjatuhkan mereka bertiga ke lantai dan terdengar suara dari mereka yang mengerang kesakitan.


Aaron kemudian berjongkok, dengan hati-hati melepaskan ikatan tali yang melingkar di kursi dan tubuh Naura. Dengan sangat cepat, Aaron melepaskan ikatan tali itu.


Di wajahnya tidak terlihat ekspresi sama sekali, tapi terasa aura yang tidak enak keluar dari dirinya. Terlihat lebih menakutkan dari hari-hari biasanya.


Tapi, Naura sedikitpun tidak merasa khawatir, karena dia melihat tidak ada orang lain yang masuk selain 'Samuel'.


'Samuel' datang seorang diri?


"Kamu tidak apa-apa?" Tanya 'Samuel' kepadanya.


"Aku tidak apa-apa. Kamu kenapa sendirian?" Meskipun Naura juga tidak tau bagaimana 'Samuel' bisa menemukannya disini, tapi ini terlalu bahaya kalau 'Samuel' datang kesini sendirian.

__ADS_1


"Aku sendiri, sudah cukup." Jawab Aaron sambil sedikit menurunkan pandangannya, membuat Naura tidak bisa melihat dengan jelas tatapannya.


"Kamu tunggu aku di luar!" Ucapnya lagi dengan nada memerintah.


Naura melihat dia begitu percaya diri, membuatnya merasa tenang.


Tapi, begitu Naura melangkahkan kaki, dia baru sadar kalau tubuhnya terasa sangat lemas. Benar-benar tidak kuat berjalan.


Meskipun tidak terlihat dari sikapnya yang tenang, tapi gerakan tubuhnya menunjukkan semuanya.


Naura sangat takut.


Dengan cepat, Aaron mengulurkan tangannya, menarik dasinya sendiri. Dia menutup mata Naura dan mengikat dasi itu dikepala Naura, mendudukkan Naura kembali dikursi, lalu mendorong kursi itu sampai ke pojok ruangan.


"Aku akan membereskannya dengan sangat cepat." Ucap Aaron dengan pelan ditelinga Naura.


Lalu, Naura mendengar suara tinju dan teriakan, dan juga---bau darah.


Semakin lama, bau darah itu semakin kuat. Suara teriakan juga sudah hilang.


Akhirnya, ruangan itu menjadi. sangat hening.


Naura kemudian merasakan tangannya digenggam oleh kepalan tangan yang besar, lalu diikuti suara 'Samuel'. "Sudah, ayo kita pergi."


"Keluar dulu, ikuti aku."


Dengan mata yang tertutup, pandangan yang ada dihadapannya hanya kegelapan. Naura digandeng oleh 'Samuel' dan baru kali ini Naura merasakan ketenangan.


Ini malah membuat dirinya sendiri menjadi sedikit takut.


Setelah keluar dari pintu, 'Samuel' membuka penutup matanya.


Naura mengerjapkan matanya beberapa kali.


Langit sudah gelap, tapi masih bisa melihat rumput kering yang ada disekitar.


Jelas lokasi mereka masih berada di pinggiran kota. Hanya saja dari gudang yang sudah terbengkalai tadi, berpindah ke tempat ini.


Tangan mereka berdua masih saling bergenggaman. Tangan Naura sangat dingin, tapi tangan 'Samuel' sedikit hangat.


Dan untuk pertama kalinya juga, Naura tidak berusaha menghindarinya. Tidak melawannya juga ketika 'Samuel' menggenggam tangannya.


Untuk kali ini saja.....

__ADS_1


Sebelum pergi, Naura melihat kebelakang dengan sedikit takut.


Kebetulan dari sela-sela pintu yang ada didalam, dia melihat ketiga penculik tadi terbaring diatas lantai yang dipenuhi darah. Salah satu dari penculik itu menatap ke arahnya. Terlihat seperti orang mati, tapi matanya tidak tertutup.


Mati, tapi tidak menutup matanya?


Seketika, tubuh Naura menjadi merinding karena pemikirannya sendiri.


Tiga orang yang tadi masih hidup---sudah dihajar sampai mati oleh 'Samuel'?


Merasa Naura menajdi agak aneh, 'Samuel' menoleh melihatnya, tidak tau dia sedang memikirkan apa. 'Samuel' membungkuk dan tiba-tiba menggendongnya.


"Eh kamu...aku bisa jalan sendiri!" Naura menolaknya dan reflek memukul lehernya.


'Samuel' hanya diam tidak mengatakan apapun.


Naura pun menyadari, sejak 'Samuel' muncul tadi sampai sekarang, sepertinya dia tidak terlalu banyak bicara.


'Samuel' langsung menggendong Naura sampai ke mobil.


Naura ingin menanyakan banyak pertanyaan, tapi didalam mobil terlalu hangat. Disampingnya juga ada 'Samuel'. Dia yang dari tadi merasakan tegang, sekarang menjadi tenang, laly tertidur karena kelelahan.


Setelah Aaron melajukan mobilnya agak jauh, dia baru menyadari kalau Naura sudah tertidur.


Naura terlihat tidak terlalu menyedihkan. Rambutnya sedikit berantakan, sama sekali tidak ada luka atau goresan di wajah dan juga tangannya.


Naura terlihat ketakutan sampai seolah nyawanya hampir melayang dari tubuhnya.


Hal yang paling Aaron benci adalah---penculik!


Mereka sudah seharusnya mati!


Tiba-tiba, ponsel Aaron berdering. Ivan yang meneleponnya.


Aaron langsung mengangkatnya.


"Tuan Muda, Tuan ada dimana?" Tanya Ivan terdengar sedikit cemas karena tadi dia mendengar kalau Tuan Mudanya pergi dengan mengendarai mobilnya sendiri, tidak tau kemana.


"Aku akan memberikan alamatnya kepadamu, bawa orang kesana untuk bereskan sisany." Jawab Aaron dengan suara yang terdengar tenang.


Ivan termenung sejenak, kemudian baru menjawab dengan hormat. "Baik."


...__________...

__ADS_1


__ADS_2