
Evelyn mendapatkan banyak uang dari hasil syuting filmnya. Tapi, dia juga merasa kesulitan untuk menghabiskannya.
Setiap pergi jalan-jalan, dia menghabiskan uang sebanyak puluhan juta, terkadang juga menghabiskan ratusan juta.
Meskipun pengeluaran Naura tidak sama dengan Evelyn, tapi dia merasa sebagai seorang wanita punya pemikiran bagaimana cara menghabiskan uang yang dihasilkannya sendiri ya terserah kita.
Mereka berdua sudah hampir seharian pergi jalan-jalan dan berbelanja hingga waktu malam tiba. Naura mengajak Evelyn makan malam dulu baru berpisah.
Setelah pulang ke rumah, begitu Naura masuk, dia melihat 'Samuel'.
"Apa kamu sudah makan? Kalau belum, aku akan memasak untuk kamu." Naura sengaja pulang karena dirinya selalu teringat harus memasak untuk 'Samuel'.
Dan sekarang baru jam enam sore.
'Samuel' menganggukkan kepala dengan ekspresi tersanjung. Tapi, dia berusaha menutupi perasaan senangnya dan menjawab dengan serius. "Aku belum makan."
Bodyguard yang ada disampingnya tersentak dengan wajah tanpa ekspresi. Sudah pasti, dia tidak akan memberitau Nyonya kalau Tuan Muda baru pulang makan dari restoran Star Light.
Setelah Naura selesai memasak, dia meletakkan makanan ke baki, menyuruh bodyguard mengantarkannya untuk Aaron.
'Samuel' saja belum makan, apalagi Aaron? Dia pasti belum makan juga.
Kemudian, Naura kembali ke kamarnya.
Aaron duduk di depan meja makan, melihat ada beberapa masakan yang sangat sedap, lalu bertanya pada bodyguard yang sedang menuangkan minum untuknya. "Kamu rasa, bagian mana sikap dari Nyonya yang berbeda dengan sebelumnya?"
Bodyguard itu berpikir sejenak dengan serius, kemudian menjawab dengan jujur. "Sebelumnya, begitu Nyonya pulang pasti bertanya apakah Tuan Muda ada dirumah, tapi hari ini tidak bertanya."
Tuan Muda yang dimaksud bodyguard itu adalah Aaron Daffa yang belum pernah dilihat oleh Naura.
Selesai menjawab, bodyguard itu merasa jawabannya kurang jelas, kemudian menjelaskannya kembali. "Yang aku maksud Tuan Muda itu bukan kamu, tapi Tuan Muda itu....Nyonya...."
Bodyguard itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal karena merasa semakin lama penjelasannya malah semakin rumit.
"Aku sudah tau, kamu boleh pergi." Aaron memotong ucapannya dan menyuruhnya pergi.
...
Keesokan harinya, hari senin.
Pagi ini, Naura sudah berdandan. Saat turun dari tangga, Ivan sudah menunggunya.
Naura melihat sekeliling, tapi tidak melihat 'Samuel'. Dia berjalan ke arah Ivan. "Berberapa waktu ini, sudah sangat merepotkan kamu. Lebih baik, aku pergi kerja naik taksi saja." Ucap Naura kemudian membalikkan badan dan pergi.
"....." Ivan hanya terdiam.
Sedikitpun tidak merepotkan. Ivan merasa, pekerjaan yang paling ringan adalah mengantar dan menjemput Nyonya kerja.
Setelah Naura pergi, 'Samuel' yang berdiri di lantai dua, pelan-pelan turun dari tangga.
"Tuan Muda." Ivan membungkuk dengan hormat. Dia tau kalau Aaron sudah mendengar ucapan Nyonya barusan, tidak banyak menjelaskan.
Aaron berjalan menuju pintu untuk melihat sebentar. "Terserah dia." Ucapnya dengan senyum yang dipaksakan.
Awalnya Aaron mengira kalau Naura hampir mengetahui identitasnya. Yang tidak dia sangkah adalah ternyata sekarang ini Naura sengaja mulai menjaga jarak dengan Aaron Daffa.
...
Taksi yang mengantar Naura sudah sampai di perusahaan Affandi.
Naura turun dari mobil dan berdiri di depan pintu perusahaan. Raut wajahnya sangat dingin, sorot matanya penuh kepercayaan diri.
Nasib Naura sangat baik, dia sangat bersyukur karena bisa kembali.
__ADS_1
Naura berjalan menuju ke pintu, karyawan yang dilewatinya tanpa sadar melirik Naura beberapa kali.
Mereka menyadari kalau hari ini Naura tampak berbeda. Meskipun wajahnya masih sama, tetap cantik, tapi mereka merasa kalau ada sesuatu yang berbeda dari Naura.
Naura melewati rekan kerjanya dibagian pemasaran yang kenal dengannya dulu. Rekan kerja itu menyapanya. "Naura, pagi."
"Pagi." Balas Naura sambil menoleh dan tersenyum ke arah rekan kerja yang menyapanya.
Sepasang matanya yang Indah, bibirnya yang merah, kulit putih halus, semuanya begitu sempurna.
Orang yang ada disampingnya dibuat terpana. Setelah beberapa saat, baru balas tersenyum.
Beberapa orang masuk ke dalam lift. Naura mengobrol dan bercanda dengan mereka.
"Bagaimana weekend kalian? Apa yang kalian lakukan?"
"Aku menemani anakku pergi ke taman bermain."
"Aku berkencan dengan pacarku."
"Pantas saja di lehermu ada bekas merah. Aku kira digigit nyamuk!"
Mereka saling bercanda tawa satu sama lain.
Pintu lift baru saja tertutup, tapi terbuka lagi.
Ada orang yang masuk dan orang itu adalah Marsha.
Begitu Marsha masuk, suara obrolan dan canda tawa mereka seketika terhenti. Tiba-tiba suasana di dalam lift menjadi hening.
Naura yang pertama masuk lift, dia berdiri di sudut belakang.
Marsha mengangkat dagu dengan sombong melihat sekilas semua orang yang ada di dalam lift. Dia tidak menyadari keberadaan Naura di sana.
Naura mencibir, lalu menyapa dengan pelan sambil tersenyum. "Selamat pagi kak."
Lift naik dengan pelan. Suasana di dalam juga sangat hening. Suara Naura yang pelan, terdengar di dalam lift dan kedengarannya sedikit aneh.
Marsha menoleh dengan tidak percaya. Saat melihat Naura kembali, seketika raut wajahnya berubah seolah sedang melihat monster yang sangat menakutkan. Kakinya terasa lemas dan hampir terjatuh. Dia memegang pegangan lift, menatap Naura dengan mata yang melotot. "Kenapa kamu bisa ada disini? Bukankah kamu......."
Menyadari kalau saat ini dirinya sedang berada di dalam lift. Marsha berusaha menenangkan hatinya dan pura-pura bersikap tenang. "Naura, hari ini kamu pagi sekali."
Saat Naura bicara, karyawan yang ada disampingnya sedikit mundur.
Naura masih menamati Marsha dan menjawab dengan samar-samar. "Sedikit lebih pagi dari kakak."
Orang di dalam lift memperhatikan sikap Marsha yang terlihat tidak normal, tapi mereka juga tidak ada yang bersuara.
Dengan perlahan Naura berjalan mendekati Marsha. Kemudian satu tangannya di lingkarkan di lengan Marsha, dan tangan satunya lagi menyentuh jaket yang dipakai Marsha. "Kakak baru beli jaket ini ya? Cantik sekali. Kelihatannya mahal sekali ya?" Tanya Naura dengan nada iri.
Biasanya, Marsha akan memamerkan apa yang dipakainya. Tapi, orang yang dilihatnya adalah Naura yang dia pikir sudah mati.
Keinginannya untuk memamerkan sudah tidak ada lagi.
Malahan, pakaian yang dipakainya ini, dibeli dengan menggunakan blackcard Naura.
"Ti..tidak begitu mahal." Jawab Marsha sedikit tergagap.
Lengan Naura menghimpit lengannya, terasa seperti sedang dililit oleh seekor ular yang beracun. Kalau dia bergerak, bisa-bisa dia digigit mati olehnya.
"Mungkin menurut kakak tidak begitu mahal. Kemarin aku di Mall sempat melihat jaket yang sama. Harganya lebih dari tiga puluh juta dan juga harus pesan lebih dulu. Orang biasa walaupun mampu untuk membeli juga tidak bisa langsung membelinya..."
Marsha sudah memesan jaket itu. Dia juga sudah merencanakan ingin menggunakan blcakcard Naura dari hasil penipuannya.
__ADS_1
Dilihat dari pandangan orang lain, Naura terlihat sedang iri dengan pakaian yang dipakai oleh Marsha. Tapi, hanya Marsha yang tau kalau dia sudah dikagetkan Naura sampai tidak bisa berkata-kata.
Naura merasa puas dengan respon yang diberikan Marsha. Ini barulah respon yang benar dari perlakuan buruknya.
Ding--
Lift sudah berhenti dan dengan otomatis pintu terbuka.
Marsha ingin bergerak melangkah keluar. Tapi, dia tidak berani bergerak karena Naura tidak melepaskannya.
Orang-orang didalam lift memperhatikan Marsha yang tidak bergerak, mereka juga tidak berani melangkah kedepan.
Kemudian Naura dengan sengaja mengeluarkan suara kagetnya. "Kakak sedang memikirkan apa? Kenapa masih tidak keluar? Semuanya sedang menunggu kakak."
Naura bicara sambil menarik Marsha keluar.
Saat keluar, Naura tidak lupa menoleh ke belakang melihat orang-orang di dalam lift. "Sampai jumpa." Ucapnya.
Setelah sampai di ruangan kantor Marsha, setelah Naura mengunci pintunya, baru dia melepaskan Marsha.
"Kakak sepertinya sangat takut denganku? Kalau kakak begini, akan membuatku kesulitan. Orang lain masih mengira kalau aku membenci kakak." Ucap Naura dan Marsha langsung melangkah mundur.
Naura tertawa dingin sambil menarik kerah baju Marsha dan bicara dengan suara galak. "Jangan takut lah. Dari awal aku selalu mendengar ucapan kakak. Mana mungkin aku berani membencimu?"
Naura memperhatikan Naura yang sejak tadi terus berbicara, juga tidak membahas masalah kemarin, dalam hati merasa beruntung kalau Naura sepertinya tidak tau hari itu terjadi karena perbuatannya.
Dengan pikirannya yang seperti ini, Marsha mulai memiliki kekuatan lagi.
Marsha melepaskan tangan Naura dan memasang wajah curiga. "Naura, apa kamu salah minum obat? Dari tadi meracau tidak jelas ke aku!" Ucap Marsha sambil memutar tubuhnya dan berjalan menuju kursi kerjanya lalu duduk, merapikan dokumen. "Sudah, sekarang jam kerja. Kamu kembali kerja dulu sana! Kalau ada sesuatu, saat pulang kerja nanti baru temui aku lagi."
Naura sama sekali tidak terkejut melihat Marsha yang berpura-pura seperti tidak pernah melakukan sesuatu.
"Baiklah, saat jam pulang kerja nanti aku akan menemuimu lagi." Ucap Naura sambil tersenyum manis kemudian mambalikkan badan dan pergi keluar.
Setelah melihat Naura keluar, Marsha dengan marah langsung menjatuhkan dokumen-dokumennya ke lantai.
Dia tidak menyangka kalau Naura bisa muncul hidup-hidup!
Penculikan yang terjadi di hari sabtu kemarin, itu rencana Fajar dan Marsha. Mereka menipu demi mendapatkan blackcard Naura.
Marsha dan Fajar benar-benar-benar membenci Naura sampai ke tulang-tulang. Secara alami, mereka tidak bisa melepaskan Naura begitu saja.
Marsha diam-diam telah memberi bayaran tambahan kepada para penculik itu, menyuruh mereka melakukan apa saja yang ingin mereka lakukan terhadap Naura. Setelah puas bermain, baru membunuhnya!
Ketiga penculik itu merupakan buronan, mereka putus asa, hati dan perbuatan mereka sangat kejam.
Setelah itu, Marsha juga tidak lagi menghubungi mereka untuk menanyakan bagaimana hasilnya, karena takut akan terkena imbasnya. Dari awal, dia merasa yakin kalau Naura pasti mati.
Tapi, tidak disangka ternyata mereka gagal melakukan pekerjaannya.
Naura sudah tidak sama seperti dulu lagi. Begitu dia mengetahui kalau kasus penculikan itu direncanakan olehnya, Naura pasti tidak akan pernah melepaskannya!
...__________...
**Hallo semuanya, apa kabar?😍
Semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan dan kebahagiaan ya.🥰
Author ingin mengucapkan banyak-banyak terimakasih atas semangat dan dukukan dari kalian semua. 🙏🥰
Author juga mohon maaf apabila masih banyak typo di penulisan ceritanya.🙏🥰
Semoga cerita ini bisa menghibur hati kalian semua dan author meminta untuk jangan lupa selalu meninggalkan jejak kalian di setiap episode-nya ya, sekali lagi terimakasih banyak.🙏😍😍😍
__ADS_1
Salam sayang dan cinta dari author untuk kalian semua yang selalu setia mengikuti cerita ini.💋❤️❤️❤️**