
Naura mengetuk pintu kamar itu.
"Ada apa?!"
Terdengar suara dari dalam. Suara yang terdengar dingin, lebih dingin dari biasanya.
"Ini aku! Aku membawakan makanan untuk kamu!" Teriak Naura dari depan pintu kamar.
Aaron, sedang membuka kemejanya dan menatap bekas luka tembak yang ada ditubuhnya.
Waktu itu, Naura yang telah membantunya mengeluarkan peluru dari dalam tubuhnya. Aaron baru saja kembali dari rumah sakit untuk memeriksakan lukanya. Dia sangat menghargai kehidupan yang telah diberikan oleh Ibunya. Meminta Naura untuk membantunya, memang sebuah keputusan yang bijak.
Luka tembak ditubuhnya sudah menutup dengan baik. Hanya saja, masih meninggalkan bekas.
Aaron memakai kembali kemejanya kemudian berjalan menuju pintu dan membukanya. Terlihat Naura berdiri dihadapannya.
Naura menatap 'Samuel' dengan penuh ketulusan dan menyodorkan bingkisan yang dibawanya. "Ini, aku bawakan untukmu."
Melihat logo restoran dari bingkisan itu, Aaron menerimanya. "Apa semuanya berjalan lancar?"
"Iya, sangat lancar. Terimakasih." Ucap Naura dengan gembira dan tersenyum manis. Dia terlihat sangat cantik.
Mungkin, senyumannya mampu menggetarkan hati semua orang.
"Ya." Ucap Aaron dengan wajah tanpa ekspresi dan terkesan begitu dingin. Kemudian menutup kembali pintu kamarnya.
Naura terpaku sejenak. "Kenapa barusan, sepertinya...dia takut melihatku?" Gumam Naura dengan suara pelan.
Naura berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Saat masuk kedalam kamar, dia membuka pesan dari 'Samuel'.
'Samuel' mengirimi dia pesan yang isinya nama-nama makanan.
Naura melongo setelah membuka pesan dari 'Samuel' karena laki-laki itu mengiriminya pesan secara berurutan.
Satu pesan, satu nama makanan.
"Dasar kurang kerjaan sekali dia! Mau makan apa, cukup kirim sekali pesan saja kan? Dasar orang aneh!" Gerutu Naura.
Naura pun keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.
Dia turun kebawah dan pergi ke dapur. Sebenarnya, dia ingin melihat bahan makanan di kulkas. Tapi, saat sampai di dapur, dia melihat ada dua orang pengawal sedang mengeluarkan bahan makanan dari kulkas.
Naura berjalan mendekat. "Untuk apa kalian keluarkan semua sayuran itu?" Tanyanya ingin tau.
__ADS_1
"Semua sayur ini diantar kemarin siang dan hari ini harus diganti yang lebih segar." Jawab Salah satu pengawal.
"Kenapa harus diganti? Sayurnya masih terlihat segar, belum rusak dan masih bisa dimakan!" Ucap Nuara kemudian memeriksa semua sayur itu memang masih terlihat segar dan tidak ada satu pun yang rusak.
"Dari dulu memang sudah seperti ini Nyonya, setiap hari harus diganti." Jelas pengawal tersebut.
"Oh..begitu. Baiklah." Ucap Naura.
Setiap kali Naura memasak, bahan makanan memang selalu penuh dan lengkap didalam kulkas. Naura mengira, ada pekerja yang datang secara khusus selalu menambahkan bahan makanan. Tapi, dia tidak menyangka kalau selama ini sayur diganti setiap hari.
Malamnya pun Naura memasak dalam porsi yang sangat besar. Karena dia sudah tau kalau semua bahan makanan ini tidak habis hari ini, maka besok akan dibuang dan diganti dengan yang baru.
Naura merasa, kalau orang kaya punya caranya sendiri dan hal itu merupakan sebuah kemewahan tersendiri.🙄
Saat Naura baru saja selesai masak satu hidangan, dia seperti mendengar suara keributan dari arah depan.
Dia meletakkan makanannya dimeja makan kemudian mengintip dari ruang makan.
Selain ada 'Samuel' diruang tamu, dia melihat ada dua orang laki-laki disana.
Ternyata ada Christian dan Tuan pengacara Daniel. Gumamnya dalam hati.
'Samuel' mengenal Daniel, Christian juga mengenalnya. Tidak ada yang aneh.
Mungkin karena saat Aaron sakit waktu itu, Christian sudah memperlihatkan sifat aslinya. Jad, kali ini dia tidak perlu berpura-pura lagi. Dia tersenyum dan melambaikan tangannya ke Naura.
Seperti ini, Christian terlihat seperti murid paling nakal di kelasnya. Paling nakal, paling buruk, tapi juga paling disukai.
Naura malah merasa kalau Christian ini sangat kekanak-kanakan.
"Eh..ha hallo..Nyonya Aaron Daffa!" Christian menyapa dengan terbata-bata setelah melihat Naura.
Christian menoleh menatap Daniel yang langsung mengulurkan tangan dan tersenyum polos.
Christian merasa kalau senyuman Daniel ini terasa sangat munafik.
Siang tadi di kantor, Christian dan Daniel membicarakan tentang penampilan Naura. Kemudian mereka berdua merencanakan untuk pergi ke rumah Aaron ingin melihat Naura secara langsung.
Ini bukan karena mereka buta. Tapi, Naura memang benar-benar sangat berbeda. Bagaikan telah ganti kepala!😅
"Kamu kok berbeda sekali dengan sebelumnya!" Christian terlihat sangat terkejut.
"Mungkin karena sebelumnya poniku terlalu tebal, jadi terlihat begitu jelek." Ucap Naura dengan setengah becanda. Naura sekilas menyapa Daniel lalu kembali ke dapur.
__ADS_1
Christian benar-benar sangat terkejut dengan perubahan wajah Naura. Menurutnya, perbedaannya sangat jauh sekali. Bagaikan langit dan bumi.
Christian melamun. Bahkan saat Naura sudah kembali ke dapur, dia masih saja memandanginya tak berkedip.
Aaron yang melihatnya langsung menendang kaki Christian dengan kejam. "Kalau sudah lihat, cepat pergi dari sini!" Ucapnya dengan dingin sambil menendang kaki Christian.
"Owh..aduh!" Pekik Christian merasa kesakitan. "Aaron! Kamu apaan sih?! Sakit!" Protes Christian.
Untung saja jarak antara ruang tamu dengan dapur cukup jauh. Jadi, Naura melanjutkan memasaknya tanpa bisa mendengar percakapan mereka di ruang tamu.
"Tenang saja! Istrimu tidak akan dengar!" Ucap Christian merasa ketakutan.
"Kalian sudah boleh pergi!" Ucap Aaron kepada Christian dan Daniel kemudian berbalik dan pergi ke ruang makan.
Aaron membalikkan badannya lagi dengan wajah tanpa ekspresi. "Apa kalian mau pergi ke Afrika?"
Ternyata Daniel mengikutinya. Dia hanya diam menunduk dengan wajah polos menatap kearah lantai pura-pura tidak mendengar Aaron.
Daniel hanya berpikir, selama hampir tiga tahun ini dia tidak pernah merasakan masakan rumahan dan hanya bisa makan diluar. Saat ini ada masakan rumahan, kenapa dia harus pergi?
Dia mencium aroma lezat dari masakan Naura sampai ngiler.
Naura selesai memasak. Masakan terakhirnya adalah ayam goreng dan meletakkannya dimeja makan. Dia melihat tiga laki-laki itu berdiri dipintu.
Naura tidak menyadari kalau mereka sudah berdiri di sana selama beberapa menit. Dia pikir, mungkin 'Samuel' yang mengundang mereka untuk makan bersama.
Tapi anehnya, kalau mereka diundang makan, kenapa hanya berdiri saja dipintu ruang makan dan tidak masuk?
Naura menatap 'Samuel'. "Kamu mau makan dirumah atau mau pergi makan diluar? Aku baru saja selesai masak, tapi semuanya hanya masakan sederhana." Ucap Naura.
Christian dan Daniel terlihat begitu berselera. Mereka tidak pernah pilih-pilih makanan. Tidak seperti 'Samuel' yang mungkin hanya ingin pergi ke restoran mewah untuk makan.
Christian langsung melangkah masuk dan tersenyum lebar. "Justru, aku sangat menyukai masakan yang sederhana."
Daniel pun dengan buru-buru mengikuti langkah Christian masuk kedalam dengan tersenyum sopan. "Aku juga menyukai masakan yang sederhana."
Daniel kemudian segera duduk dan Christian juga dengan cepat mengambil tempat duduk disamping Daniel.
Sedangkan Aaron, dia masih berdiri di depan pintu ruang makan dengan wajahnya yang suram.
Naura yang masih berdiri di samping meja makan hanya diam terbengong memperhatikan mereka. Dia merasa, suasananya sedikit ganjil.
...__________...
__ADS_1