
Wajah Marsha hampir seluruhnya bengkak sampai tidak terlihat lagi bentuk aslinya, akibat tamparan bertubi-tubi dari ayahnya.
Aaron juga tidak mengatakan berhenti.
Tapi, Naura merasa sudah tidak tahan lagi melihatnya.
Di bawah meja, dia dengan pelan menendang kaki 'Samuel' dan memanggilnya dengan suara pelan. "'Samuel'!"
Aaron menoleh menatap Naura. Dia tau kalau Naura menyuruhnya untuk menghentikan Fajar. Jarinya yang panjang dan indah diketuk-ketukkan dua kali dimeja. "Cukup! Tuan Fahar Affandi benar-benar sangat kejam. Anak emasnya yang seperti bunga dengan tega dipukul sampai seperti itu." Ucap Aaron dengan acuh.
Suaranya tidak terdengar seperti dia yang telah membuat Fajar memukul Marsha. Sebaliknya, dia malah seperti penonton yang sedang menonton sebuah pertunjukan.
Fajar merasa sangat jengkel, tapi juga tidak bisa melawan. Dia menunduk melihat Marsha, tapi dengan segera mamlingkan wajahnya kembali.
Wajah Marsha benar-benar terlihat sangat bengkak seperti kepala babi. Benar-benar terlihat sangat.....jelek!😂
Aaron melihat Marsha. "Memang harus mengajar anak perempuan, tapi juga tidak boleh kejam seperti yang dilakukan Tuan Fajar Affandi. Terlalu meninggalkan jejak." Ucapnya dengan santai.
Raut wajah Fajar terlihat sangat kesal. Dia hanya menundukkan kepala tidak mengeluarkan sepatah katapun.
Tujuan Aaron sudah tercapai, dia sudah tidak ingin berlama-lama berada disana lagi.
Aaron menoleh melihat ke arah Naura. "Sudah kenyang belum?" Tanyanya kepada Naura terdengar dengan jelas sangat lembut dan penuh perhatian.
Dengen ekspresi kaget, Naura meletakkan garpu dan pisaunya lalu mengangguk. "Aku sudah kenyang."
"Kalau begitu, ayo pergi." Ucap Aaron kemudian bangkit berdiri dan berjalan keluar.
Naura buru-buru mengambil tasnya dan mengikutinya.
Aaron memiliki tubuh jauh lebih tinggi dan tentunya kakinya juga lebih panjang dari Naura. Saat Naura mengejarnya, jarak antara dirinya dengan 'Samuel' cukup jauh.
Ketika Naura ingin berlari kecil mengejar langkahnya, dia melihat 'Samuel' menoleh kearahnya lalu berhenti seperti sedang menunggunya.
Mungkin karena kejadian hari ini sudah begitu banyak dan mungkin juga, Merlin sudah mempengaruhi perasaan Naura. Mata Naura tiba-tiba memanas dan terlihat merah.
Dia teringat saat dirinya kecil dulu, dia pernah diajak Merlin ke sebuah taman bermain. Tapi, saat itu Marsha juga ikut.
Merlin terus sibuk mengurus Marsha dan sama sekali tidak mempedulikannya. Dulu dia masih kecil, anak kecil biasanya selalu merasa penasaran saat melihat apapun lalu Naura tertinggal dari Ibu dan Kakaknya.
Dia melihat Merlin dan Marsha menghilang diantara kerumunan banyak orang, sama sekali tidak menoleh untuk mencarinya.
__ADS_1
Saat itu, Naura sangat berharap kalau ibunya akan kembali dan mencarinya. Tapi ternyata..........tidak!
Aaron melihat Naura yang hanya berdiri diam ditempat tidak bergerak, dia mengerutkan alis dan menghampirinya. "Kamu kenapa?"
Naura tersadar dari lamunannya, buru-buru menundukkan kepala dan mengusap matanya. Saat dia mengangkat kembali kepalanya, selain matanya yang terlihat merah, tidak terlihat ada yang berbeda darinya.
"Mataku kemasukan debu."
Naura pikir, dia bisa membohongi 'Samuel' dengan ucapannya dan tidak terpikir kalau 'Samuel' akan percaya kepadanya.
'Samuel' kemudian sedikit membungkukkan badannya. "Jangan bergerak, biar aku lihat!" Ucapnya dengan nada memerintah.
Naura masih mengingat niat baik 'Samuel' yang membantunya tadi. Jadi, dia hanya diam menurut dan mendongakkan kepala untuk menunjukkan matanya.
Tapi, Naura lupa kalau 'Samuel' kadang memang bersikap baik kepadanya, kadang juga bersikap kurang ajar.
Naura melihat wajah 'Samuel' yang semakin dekat diwajahnya. Dia merasakan firasat buruk dan ingin melangkah mundur menjauh darinya.
Tapi dengan cepat tangan Aaron menahan belakang kepala Naura dan langsung menempelkan bibirnya ke bibir Naura lalu dengan cepat melepaskan kembali Naura.
Aaron hanya menciumnya selama dua detik saja.
Tapi, kalau tidak memakinya.....juga tidak bisa!
"Samuel! Kamu bisa tidak sih punya malu sedikit?!" Naura menyadari saat memaki 'Samuel', dia tidak tau harus memaki dengan kata-kata apa lagi.
Sudah berkali-kali, Naura memakinya dengan kata-kata 'memalukan', 'tidak tau malu', Naura tidak menemukan kata-kata lain lagi untuk memakinya.
Tapi, laki-laki kurang ajar ini masih saja melakukannya!
"Mau bagaimana lagi? Bahkan, aku masih bisa menciummu dengan wajahmu yang seperti ini. Seharusnya, kamu merasa tersentuh." Ucap Aaron sambil menyentuh wajah Naura yang masih terlihat bengkak.
Naura dengan cepat menepis tangannya dan menatapnya dengan dingin. "Jangan seenaknya menyentuh aku!"
Saat 'Samuel' mencoba ingin menyentuhnya lagi, terlihat dari raut wajahnya seperti sedang bermain dengan senang. Naura langsung menepis tangannya lagi.
Tapi, kali ini dia gagal menepisnya, karena 'Samuel' langsung menangkap tangannya.
Tangan wanita ini seperti tangan yang tidak memiliki tulang dan kepalan tangannya seperti bulatan yang sangat lunak.
Mata Aaron berkedip menatapnya dan memebelai tangannya lagi. Sebelum Naura marah, dia segera menariknya berjalan kedepan.
__ADS_1
"Lepaskan!" Naura terus memberontak.
Naura merasa, kalau hari ini 'Samuel' sangat kurang ajar. Sudah berani menciumnya didepan umum dan masih menggenggam tangannya.
Restoran tersebut jaraknya tidak jauh dari Perusahaan Affandi. Beberapa karyawan mungkin akan datang kesini untuk makan. Kalau-kalau dilihat oleh mereka.........?
Naura merasa kalau dia terus seperti ini, dia akan jadi gila gara-gara 'Samuel'!
Naura tidak bisa melepaskan dirinya dari genggaman tangan 'Samuel'. Dia juga tidak bisa kalau harus membuat keributan disini karena takut akan menarik perhatian orang-orang disini.
Akirnya, dia dibawa oleh 'Samuel' ke mobil dengan cara seperti ini.
Setelah mereka berdua pergi, Marsha keluar dengan wajahnya yang seperti babi berdiri di pilar pintu. Dia sudah melihat wajahnya sendiri dari foto yang barusan dia ambil. Sorot matanya terlihat sangat muram.
Naura sudah menjadi Nyonya Muda Ardinata. Hubungan dengan adik iparnya tidak jelas.
Marsha ingin sekali melihat bagaimana hubungan mereka berdua berakhir.
Hari ini, Marsha sudah dibuat menderita sampai seperti ini. Tentu saja dia tidak akan tinggal diam!
...
Naura dibawa 'Samuel' ke sebuah klinik terdekat untuk mengobati wajahnya yang masih bengkak.
Setelah wajahnya diolesi salep, dia kembali ke perusahaan untuk kembali bekerja.
Sesampainya dia di Perusahaan Affandi, baru saja duduk dikursi kerjanya, dia mendengar ada rekan kerjanya mengatakan kalau hari ini Marsha ijin pulang dulu karena sakit.
Saat rekan kerjanya itu melihat Naura, dia pun bicara dengan suara yang menjadi lebih pelan lagi.
Walaupun begitu, Naura masih bisa mendengar dengan samar-samar.
"Aku rasa, kalau Naura ini benar-benar sangat menakjubkan...... Begitu dia masuk ke Perusahaan, atasan perusahaan secara bergantian meminta ijin."
Naura berpikir, sepertinya memang begitu.
Sebelumnya, Pak Jayus manajer departemen pemasaran. Dan hari ini, Marsha.
Tapi, apa semua ini karena dirinya? Bukankah, mereka yang memulainya duluan?!
...__________...
__ADS_1