Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#54


__ADS_3

Di hari pertama Naura masuk kedalam keluarga Ardinata, Aaron Daffa langsung mengutus orang untuk mencari tau tentangnya. Tentu saja Aaron tau kalau Naura menyukai Lucky.


Tapi, mengenai Naura yang selama ini menyamar menjadi jelek, karena dia melakukan itu sudah sangat lama, jadi tidak ada hasil pencarian tentang hal itu.


Naura tertegun. Dia pun menjadi seirus. "Apa Aaron yang menyuruhmu untuk mencari tau tentang aku?"


Aaron berbalik dan berdiri dihadapannya menatapnya. "Kalau bukan?"


Melihat raut wajah Naura yang ketakutan, Aaron tidak bicara lagi. Dia berbalik dan kembali berjalan masuk kedalam restoran Star Light.


Sebelumnya, Aaron berencana ingin memesan private room. Tapi karena suasana hati Naura sedang tidak baik, dia langsung meminta tempat di aula.


Mereka pun mendapat meja di dekat jendela yang ada di aula restoran.


"Kakak sepupumu, kapan kembali?" Tanya Naura setelah memesan makanan.


"Tidak tau." Jawab Aaron kemudian menatap Naura dan melihat raut wajahnya yang terlihat seperti tidak percaya kepadanya. Dia bersedekap dengan wajah tanpa ekspresi. "Kalaupun aku tau kapan dia kembali, apa aku harus memberitau jadwalnya kepadamu?"


Naura terdiam. Dia merasa apa yang dikatakan 'Samuel' masuk akal. Dia menunduk mengotak atik ponselnya.


Aaron bisa memberikan dia ponsel mungkin juga hanya sekedar memberinya saja. Mengenai keberadaannya, tentu saja Aaron tidak ingin diketahui orang lain.


Naura menghela nafasnya dan berpikir, mungkin sebenarnya hidup Aaron benar-benar sengsara.


Aaron yang hidupnya sengsara melihat Naura, dia tidak tega melihat wajahnya yang sedih. Dia merasa kalau apa yang dikatakannya barusan mungkin terlalu keras. Aaron berpikir sejenak kemudian menyebutkan sederet angka.


Naura menatapnya dengan bingung. "Apa itu?"


Aaron menyipitkan matanya terlihat tidak sabar. "Nomor telepon kakak sepupu."


Naura pun langsung terlihat bersemangat kembali. Dia segera membuka ponselnya dengan cepat dan bersiap untuk mencatat nomor telepon Aaron. "Katakan sekali lagi!"


Aaron melihat wajah Naura yang terlihat begitu senang, dengan sabar dia menyebutkan nomor teleponnya lagi.


"Terimakasih." Ucapnya dengan tersenyum manis. "Apa kamu masih mau memesan makanan lagi?" Imbuhnya.


"Tidak perlu." Jawab Aaron dengan wajahnya yang dingin.


Jelas-jelas Aaron Daffa ada dihadapannya saat ini. Tapi, dia masih belum bisa memberitau Naura kalau dirinya adalah Aaron Daffa suaminya.


Tiba-tiba Aaron merasakan jantungnya terasa nyeri, membuat wajahnya menjadi muram selama dia makan.


Tapi, Naura tidak mempedulikan raut wajahnya yang muram. Naura sedang berpikir, setelah ini dia ingin menelpon Aaron atau mengirim pesan saja kepadanya?

__ADS_1


Naura pun memutuskan ingin mengirim pesan saja, karena kalau langsung menelpon, nanti malah akan membuatnya merasa lebih canggung kan?


Naura juga merasa, kemungkinan besar dia malah akan langsung memutuskan sambungan teleponnya lalu memblokir nomor teleponnya.


Selesai makan, Naura dan Aaron meninggalkan meja yang baru saja di tempatinya. Mereka berjalan menuju kasir. Naura membayar semua pesanannya.


Saat Naura membayar, dia bertemu lagi dengan Lucky dan Marsha.


Lucky tersenyum dan menyapa Naura dengan lembut. "Naura."


"Iya." Balas Naura sambil menganggukkan kepalanya dan tidak ingin terlalu mempedulikannya.


Marsha merasa sangat tidak suka melihat mereka berdua. Benci sampai menggertakkan giginya. Tapi, dia tetap memaksakan untuk tersenyum. "Lucky, sekalian saja kamu bayarkan punya Naura."


"Tidak perlu. Aku sudah membayarnya." Sahut Naura dengan suara terdengar berat.


"Nona, ini silahkan kartu ATM anda." Seru penjaga kasir mengembalikan kartu ATM yang berwarna hitam itu kepada Naura.


Suara penjaga kasir itu langsung menarik perhatian Lucky dan Marsha.


"Terimakasih." Ucap Naura sambil mengambil kembali kartu ATMnya.


Sementara itu, Lucky dan Marsha melihat kartu ATM berwarna hitam yang ada ditangan Naura, terlihat terkejut.


Meskipun kartu yang dibawa Naura merupakan kartu tambahan, tetapi itu membuat posisi Naura di keluarga Ardinata menjadi sangat penting.


Naura melihat ekspresi wajah keterkejutan mereka, dia menunduk dan menatap kartu ATM ditangannya.


Kartu hitam ini.....sepertinya sangat luar biasa.


Ucap Naura dalam hati.


Dia tetap bersikap tenang. "Kami duluan ya!"


...


"Sebenarnya, kartu yang kamu berikan ini kartu apa?" Tanya Naura kepada 'Samuel' setelah mereka masuk kedalam mobil.


"Untuk membeli barang." Jawab Aaron dengan singkat.


Naura merasa kalau 'Samuel' sedang membodohinya. Dia merasa kalau kartu hitam ini akan menjadi masalah kalau berada ditangannya.


Naura pun segera mengambalikan kartu hitam itu kepada 'Samuel'. "Aku sudah mentraktirmu makan. Ini aku kembalikan lagi kartu ATMnya kepadamu."

__ADS_1


Aaron menatapnya dengan dingin dan melempar kartu itu kembali ke Naura.


"Kenapa kamu?" Naura mengembalikannya lagi.


Aaron mengambil kartu hitam itu lalu melemparnya keluar jendela mobil. "Kalau tidak mau, buang saja." Ucapnya dengan suara yang terdengar tenang.


Naura mendengus kesal. Dia membuka pintu mobil, keluar dan mengambil kembali kartu hitam yang baru saja dibuang oleh 'Samuel'.


Dia pun tidak berani memberikannya kepada 'Samuel' lagi. Dia juga tidak berani membuat Tuan Muda ini marah lagi.


Kalau tidak, dia akan menunggu Aaron Daffa kembali, baru dia mengembalikan kartu hitam ini kepadanya.


...


Keesokan harinya, Naura pergi ke perusahaan Affandi naik bus karena untuk naik taksi, tarifnya terlalu mahal.


Saat sampai dan turun, dia melihat seseorang yang sama sekali tidak ingin dia lihat.


"Naura!" Seru Lucky sambil menghampiri Naura.


Seketika Naura melangkah mundur. "Ada perlu apa?"


Sepertinya, Lucky tidak menyadari ketidak pedulian dari Naura. "Hanya ingin bertemu denganmu. Aku ingin bicara sebentar saja denganmu."


Sikap Naura lebih dingin berkali-kali lipat. "Baru saja kamu sudah bicara. Aku masih harus bekerja. Aku pergi dulu!"


Dulu memang Naura menyukai Lucky. Itu karena dulu, hanya Lucky laki-laki satu-satunya yang terlihat selalu baik dan perhatian kepadanya.


Tapi sekarang, Naura sudah membuang semua rasa suka yang pernah dia rasakan terhadap Lucky. Sekarang baginya, Lucky hanyalah seorang yang tak lain dan tak bukan adalah.....pacar Marsha.


"Kalau dia baik padamu, aku jadi merasa lebih tenang." Ucap Lucky dengan suara rendah.


Naura terdiam sesaat. Merlin-ibunya sendiri saja tidak pernah mengatakan hal seperti itu kepadanya. Tapi Lucky, dari mana dia mendapatkan keberanian mengatakan itu?


Naura mendengus sinis. "Kalau kamu punya waktu luang, lebih baik pergi periksa ke rumah sakit sana!" Ucap Naura. Jangan sampai otakmu jadi rusak! Lanjutnya dalam hati kemudian segera melangkah pergi.


Lucky hanya memandangi punggung Naura yang meninggalkannya.


Dia berpikiran kenapa sikap Naura bisa sedingin ini kepadanya? Atau dia sedang menutupi perasaannya? Naura menyukai dirinya sudah sejak lama. Dia tidak mungkin dengan mudahnya menghilangkan rasa suka itu.


Aaron Daffa saja sampai memberikan blackcard miliknya kepada Naura. Sudah pasti dia memperlakukan Naura dengan sangat baik.


Saat ini, perekonomian keluarga Lucky sedang menurun dalam beberapa tahun terakhir ini. Kalau saja Lucky bisa membujuk Naura, meminta Naura bicara dengan Aaron Daffa agar Aaron Daffa bisa membantu keluarganya, mungkin dengan begitu bisa membuat keadaan keluarga Lucky membaik.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2