Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#45


__ADS_3

Naura menutup teleponnya begitu saja tanpa menunggu jawaban dari ayahnya. Fajar di ruangannya merasa sangat marah hingga ingin membanting ponselnya.


Fajar berjalan mondar mandir didalam ruangan kantornya. "Ini bisa membuatku gila!"


Marsha yang sedang duduk disofa di ruangan ayahnya, dia menuangkan teh untuk sang ayah. "Ayah, jangan marah karena masalah sepele seperti ini. Sangat tidak pantas. Ini minum dulu tehnya."


Saat ini kemarahan Fajar sudah mencapai puncaknya. Dia tidak menerima teh dari Marsha. Dia menatap tajam putri kesayangannya dengan sorot mata penuh amarah. "Ayah sudah berulang kali mengatakan kepadamu! Kalau tidak ada masalah, jangan pernah pergi untuk mencari masalah! Kalau memang mau pergi, kamu juga harus berhati-hati sedikit! Awalnya keluarga Lucky sudah menyetujui pernikahan ini, sekarang ada masalah seperti ini, apa kamu pikir keluarga Lucky masih mau menerima kamu?!"


Belakangan ini, perusahaan keluarga Affandi sedang mengalami masalah kekurangan modal. Awalnya berencana menjalin hubungan dengan keluarga Lucky dengan cara menikahkan Marsha dengan Lucky. Berharap keluarga Lucky akan menanamkan modal ke perusahaan Affandi. Tapi, tiba-tiba muncul video tentang Marsha. Jangan harap kalau keluarga Lucky mau menjalin hubungan dengan keluarga Affadi maupun menanam modal.


Jadi, Fajar mengalihkan rencananya kepada Naura.


Naura sudah menjadi bagian dari keluarga Ardinata selama hampir empat bulan dan hingga kini masih terlihat baik-baik saja. Sepertinya, hubungan Naura dengan Aaron Daffa juga cukup baik. Sekarang ini, Fajar sedang berusaha ingin mengambil hati Naura. Siapa tau melalui Naura bisa menundukkan Aaron Daffa agar mau menanamkan modalnya untuk perusahaan keluarga Affandi.


"Yah, itu semua pasti perbuatan Naura. Dia sengaja ingin menghancurkan aku." Rengek Marsha pada ayahnya. "Tapi, aku sudah membalas dendam." Lanjutnya dengan tersenyum penuh percaya diri.


Mendengar kata balas dendam yang diucapkan Marsha, wajah Fajar seketika berubah. "Memangnya kamu sudah melakukan apa?"


"Naura sudah menghancurkan aku, tentu saja aku tidak akan membiarkannya! Aku juga ingin menghancurkannya! Aku memancing dia pergi ke Bar 99 dan aku ......"


'Plakkk!'


Marsha bicara dengan penuh semangat dan kegembiraan. Tapi belum selesai bicara, Fajar langsung manamparnya dengan cukup keras membuat kepala Marsha miring kesamping.


Marsha kemudian menoleh menatap ayahnya dengan wajah tidak percaya. "Ayah menamparku?!"


Sejak Marsha kecil hingga sekarang, kemarahan Fajar bisa dihitung dengan jari, apalagi sampai menamparnya.


Kemarahan Fajar saat ini sedang memuncak. Yang pasti kali ini, kalau sampai keluarga Affandi tidak dapat mengatasi masalah perusahaan, maka perusahaan akan bangkrut. Atau saham perusahaan akan dibeli oleh orang lain. Sampai detik ini, Marsha malah masih saja mencari masalah dengan Naura.


Fajar begitu mencitai istri pertamanya yang sudah meninggal. Dia juga begitu mencintai kedua anaknya dari istri pertamanya. Terutama kepada Marsha, karena Marsha sangat mirip dengan Ibunya.

__ADS_1


Fajar menatap tangannya sendiri yang baru saja dia pakai untuk menampar putri kesayangannya. Lalu menghela nafas dalam-dalam. Sikapnya pun berubah menjadi lembut kepada Marsha. "Marsha, dengarkan ayah. Bagaimana pun sekarang ini Naura sudah menjadi Nyonya di keluarga Ardinata. Kalau ingin memukul anjing, kita harus lihat siapa majikannya. Kamu ingin balas dendam kepadanya juga jangan buru-buru. Naura sudah masuk kedalam keluarga Ardinata sudah begini lama dan hidupnya terlihat baik-baik saja. Siapa tau nanti dia bisa mendapatkan hati Aaron Daffa?"


Marsha pun langsung membantah dengan tidak terima. "Anggap saja dia sudah mendapatkan hati Aaron Daffa, lalu apa? Dia hanya orang yang tidak berguna!"


Dalam hati, Marsha sangat tidak terima dengan ucapan Fajar. Anggap saja, Marsha yang masuk kedalam keluarga Ardinata lalu bisa apa?


Dia tetap si bodoh Naura yang tidak pernah dianggap oleh ibu kandungnya, orang kampungan!


Marsha tau kalau kemarahan Fajar masih belum reda. Dia tidak boleh mengatakan hal buruk tentang Naura. Hanya berani mengatakan dalam hati saja.


"Meskipun Aaron Daffa seorang yang cacat, dia tetap Tuan Muda di keluarga Ardinata. Dikemudian hari, dia akan menjadi ahli waris keluarga Ardinata. Saat ini, perusahaan kita sedang kekurangan modal. Kalau Naura bisa membantu kita dan mau meminta pertolongan kepada Aaron Daffa, masalah kita akan dapat teratasi." Ucap Fajar memberi penjelasan kepada Marsha.


Marsha pun langsung terbujuk oleh Fajar. Dia merasa ucapan ayahnya sangat masuk akal. "Kalau begitu, suruh Naura untuk meminta Aaron menanamkan modal sekarang juga, Yah!"


Fajar pun teringat saat tadi menelpon Naura. Naura menutup telepon darinya begitu saja dan wajah Fajar terlihat masih marah. "Ayah lihat, sayapnya sudah semakin keras. Baru saja tadi, dia berani menutup telepon dari ayah begitu saja. Dia juga berani membuka mulutnya seperti singa, meminta ayah memberikan saham sebesar lima belas persen kepadanya!"


"Kalau begitu, ayah berikan saja kepadanya! Bukankah, ayah meminta dia untuk berkerja di perusahaan keluarga? Sampai pada waktunya nanti, kita cari kesempatan buat dia mengembalikan semua sahamnya, begitu bukankah sudah beres?" Ucap Marsha menganggap remeh.


"Ayah, aku baik-baik saja."


Fajar tidak peduli apa yang dipikirkan Naura. Dia merasa tidak mungkin kalau Naura akan terpikirkan tentang tujuannya yang meminta dia menyuruh Aaron Daffa memberikan modal ke perusahaan keluarga Affandi.


...


Hari ini, Naura akan pergi melakukan interview kerja di perusahaan AD Entertainment Group.


Saat berjalan keluar, belum sampai keluar pintu, ponselnya berdering. Dia melihat ada panggilan telepon dari ayahnya lagi. Dia pun segera mengangkatnya.


"Naura, permintaan kamu sebelumnya sudah ayah pikirkan. Ayah setuju memberikan saham perusahaan keluarga Affandi sebesar lima belas persen ke kamu. Jadi, kapan kamu datang untuk bekerja di perusahaan?"


Mendengar ucapan Fajar, Naura mengerutkan alisnya. Ayahnya setuju memberikan sahamnya lima belas persen kepadanya? Ayahnya juga meminta dia bekerja di perusahaan keluarga Affandi. Ini sudah termasuk aneh. Naura tidak menyangka kalau ayahnya benar-benar mau memberikan saham ke dia.

__ADS_1


Mau atau tidak ya? Pergi atau tidak? Naura terdiam sejenak dan berpikir.


Saham lima belas persen lebih banyak dari saham milik Marsha. Bagaimana mungkin Marsha bisa setuju? Pasti, ada sesuatu dibalik semua ini.


Tapi, Naura merasa tidak takut sama sekali.


"Kapan Ayah memberikan saham itu kepadaku, saat itu juga aku akan pergi keperusahaan untuk bekerja."


"Kapan saja bisa. Kebetulan, hari ini ayah ada waktu luang." Ucap Fajar dengan cepat karena takut kalau Naura akan membatalkannya.


"Kalau begitu besok saja. Hari ini aku sibuk." Ucap Naura dengan acuh.


Sebelumnya, Naura adalah anak yang penurut di keluarga Affandi. Semua orang dikeluaga Affandi sudah terbiasa dengan sikap Naura yang penurut seperti itu, termasuk juga Fajar Affandi.


Tapi, saat mendengar ucapan Naura yang acuh tak acuh barusan, Fajar menjadi tidak sabar. "Kamu bukannya tidak ada kerjaan? Lalu sibuk apa?"


"Apa Ayah mengira kalau aku sedang menghindari ayah? Aku benar-benar sibuk. Atau begini saja, aku akan mengirim alamat kepada ayah untuk kita bertemu." Jawab Naura kemudian menutup teleponnya.


Naura terdiam sejenak memikirkan sesuatu. Kemudian mengetik pesan dan dia kirim ke ayahnya.


Fajar menerima pesan dari Naura. Dia bisa melihat dengan jelas lalu mengerutkan alisnya.


Dimata Fajar, Naura adalah anak yang idiot dan kampungan. Tapi, dia tidak menyangka kalau Naura mengirimkan alamat untuk bertemu di Star Light.


Memikirkan biaya yang harus dikeluarkan kalau pergi ke Star Light, tiba-tiba Fajar merasakan nyeri dikepalanya.


Star Light merupakan tempat saat 'Samuel' mengajak Naura pergi makan. Justru karena harganya sangat mahal, Naura memilih tempat itu.


Dan tentunya karena alasan lain, karena Star Light adalah restoran yang elite, Fajar tidak akan berani melakukan hal yang aneh-aneh kepadanya.


Dan yang Naura pikirkan saat ini, Naura sedang membutuhkan seorang pengacara. Tapi, Naura tidak punya pengacara. Dia juga tidak sanggup untuk membayar seorang pengacara.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2