
Marsha keluar dari restoran melihat Naura dan 'Samuel' sedang berciuman di pinggir jalan. Tapi, kali ini dia tidak memotretnya lagi.
Lagipula fotonya waktu itu telah menjadi gosip panas, tapi akhirnya langsung dibereskan oleh keluarga Ardinata dan semua pemberitaan menghilang begitu saja.
"Tadi aku melihat siluet yang tidak asing. Tidak disangka ternyata benar kamu." Marsha yang melihat Naura langsung menyambutnya dengan ramah. Kemudian sengaja terlihat terkejut saat melihat 'Samuel'. "Wah, kebetulan sekali Tuan Muda Ardinata juga ada di sini?"
Aaron bahkan tidak melihatnya, langsung berjongkok mengambil uang yang berserakan, yang sebelumnya di buang Naura ke lantai.
Walaupun Naura masih marah pada 'Samuel', namun mau tidak mau dia harus mengakui, jika aura yang ada di pria ini, bisa membuatnya berjongkok memungut uang, terlihat sangat menyenangkan sekali.
Menyadari dirinya yang terpukau dengan 'Samuel', Naura diam-diam menggigit bibirnya.
Setelah sedikit sadar, walaupun sangat mempesona, tapi pria itu tidak bisa menutupi sikap genitnya pada kakak iparnya!
Setelah 'Samuel' selesai memunguti uang, dia menepuk perlahan debu yang bahkan tidak ada, kemudian memasukkan uang itu kedalam kantongnya sendiri.
"......"
Naura masih terdiam melihatnya. Dia menyadari, semakin lama dia semakin tidak mengerti dengan 'Samuel'. Ingin sekali membencinya, tapi tidak bisa. Saat ingin berdamai dengannya, dia malah melakukan hal yang memalukan.
Marsha yang berdiri disampingnya, yang melihat tingkah 'Samuel', juga sedikit terkejut.
Tuan muda ini, ternyata bisa berjongkok memunguti beberapa lembar uang yang berserakan di lantai?
Marsha tidak tau apa yang terjadi dengan lembaran uang itu. Dia hanya tau kalau dirinya tidak perlu mengembalikan blackcard itu pada Naura, tetap bisa menyelesaikan masalah Perusahaan Affandi.
Dia bisa pergi menggoda 'Samuel', 'Samuel' yang ternyata tinggal di rumah Aaron, pasti dia termasuk keluarga dekat di keluarga Ardinata.
Ini sama dengan sekali dayung, dua pulau terlampaui. Benar-benar kabar yang sangat baik!
Memikirkan akan dirinya yang akan tidur dengan 'Samuel', membuatnya semakin menunjukkan senyuman kemenangan.
Marsha pun sengaja menarik sedikit pakaiannya, memperlihatkan gaun dengan potongan rendah di bagian dadanya, menatap menggoda pada 'Samuel'.
Hanya saja, tanpa menunggunya bersuara, 'Samuel' berucap memprovokasi pada Naura. "Pulang kerja nanti, aku akan menjemputmu."
Kemudian, 'Samuel' langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
Naura menatap dingin padanya. Pria itu sengaja mengatakan hal ini untuk membuatnya kesal!
Semilir angin berhembus, Marsha merasakan kedinginan hingga sedikit menggigil. Dia pun buru-buru membenahi coat yang dipakainya, kemudian menolehkan kepalanya melihat Naura yang tersenyum kecil padanya.
Seketika, raut wajah Marsha berubah. "Cih! Sekarang ini perusahaan Affandi sedang dalam bahaya, kamu bukannya memikirkan cara untuk meminta Aaron membantu kita, malah berada disini bermain gila dengan pria lain, nyalimu besar juga ya ternyata!"
"Aku hanya mengerjakan hal-hal kecil saja di Perusahaan Affandi, tidak sehebat kakak. Jadi, aku juga merasa sangat bersalah karena tidak bisa membantu Perusahaan Affandi."
Terdapat seringaian kecil di wajah Naura, tidak terlihat merasa bersalah sedikitpun. Kemudian dia berjalan perlahan ke hadapan Marsha dan kembali bicara. "Aku telah menghilangkan blackcard, mana berani memohon bantuan pada Aaron lagi. Emosinya yang mudah meledak-ledak itu, mungkin saja kalau emosinya dia lampiaskan ke Perusahaan Affandi, maka hancurlah."
"Dasar tidak berguna!" Marsha tersenyum dingin.
Tiba-tiba dia menyadari bibir Naura yang bengkak memerah dan terdapat luka.
Dia teringat dengan perbuatan yang baru saja dilakukan Naura dan 'Samuel' di sini. Sorot matanya pun menatap dengan tatapan sirik. "Bagaimana kamu masih bisa berhubungan dengan 'Samuel'? Apakah kalian tidak tau kalau kamu itu istri dari kakaknya, dan dia itu adik dari suamimu? Pantas saja kalau Aaron tidak peduli tentangmu!"
Ucapan Marsha ini menohok Naura cukup dalam.
Raut wajah Naura sedikit berubah. Namun dia tidak terlihat lemah. "Anggap saja, dia memang tidak peduli tentangku. Tapi, aku tetap sebagai Nyonya di keluarga Ardinata. Sedangkan kamu? Apalah arti dirimu kalau Perusahaan Affandi bangkrut?"
Walaupun Marsha begitu disayangi di keluarganya, namun Marsha juga tau kalau di luar sana dia bisa bermain sampai tidak terkendali. Itu karena ada Perusahaan Affandi dibelakangnya.
Marsha yang memiliki kebiasaan menghamburkan uang semuanya, tentu saja tidak berani membayangkan apa yang terjadi setelah Perusahaan Affandi bangkrut. Hidup seperti apa yang akan dijalaninya nanti?
"Daripada waktu yang kamu miliki dipakai untuk bertengkar denganku disini, lebih baik kamu pikirkan cara bagaimana menyelesaikan krisis Perusahaan Affandi." Naura tau walaupun kali ini Perusahaan Affandi akan mengalami pululan yang sangat berat, namun tidak akan sampai bangkrut. Dia hanya berkata seperti itu, sengaja untuk menakut-nakuti Marsha saja.
Suasana hati Marsha yang tadinya memang sedang tidak baik setelah bertengkar dengan Fajar, mendengar perkataan Naura, Marsha pun langsung memakinya. "Sejak kapan pelacur sepertimu bisa berbalik mengajariku?!"
Sebaliknya, Naura sama sekali tidak marah. Dia sedikit memiringkan kepalanya dan bertanya kepadanya sambil tersenyum. "Kakak kandungku tersayang, tidak taukah kamu kalau ditubuh kita mengalir darah yang sama? Kalau aku pelacur, lalu kamu apa?"
"NAURA!" Teriak Marsha. Bisa dikatakan, Marsha tidak memiliki apapun selain sikap zalim dan congkak. Bahkan dalam pertengkaran pun dia tidak dapat menandingi Naura.
Naura membalikkan badan dan berjalan pergi. Tapi, baru dua langkah berjalan, Marsha langsung berdiri dihadapannya, menghalangi langkahnya. "Berhenti!"
Marsha memakai pakaian yang tipis. Dia memakai gaun terusan berbelahan rendah di dalam, dan sebuah long coat yang tidak terlihat mahal membalutnya diluar. Sepasang stoking tipis berwarna kulit dan stiletto menghiasi kaki jenjangnya. Dia terlihat sedikit seksi.
Begitu angin berhembus, long coat-nya terbuka dan memperlihatkan dadanya dengan bulu kuduk yang merinding karena kedinginan.
__ADS_1
Naura melihatnya sekilas dan merapatkan long coat yang ada ditubuhnya sendiri. Dia sangat mengagumi tekad kuat Marsha.
Sebenarnya, Marsha juga merasa kedinginan. Namun, dia tidak bisa menunjukkan aura yang lebih lemah, apalagi dihadapan Naura.
Dia mengenakan sepatu hak dengan tinggi 8 cm yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Naura. Namun perbedaannya tidak terlihat terlalu jelas.
Marsha menaikkan dagunya dan bicara dengan nada suara yang terdengar penuh percaya diri. "Berikan nomor 'Samuel' padaku."
Naura sedikit mengerutkan alisnya, karena merasa curiga kalau dia salah dengar. "Nomor telepon siapa?"
Orang ini! Baru saja dia memaki dirinya sebagai pelacur, sekarang dengan sikapnya yang sok benar mencarinya untuk meminta nomor 'Samuel'? Sebenarnya, siapa yang memberinya muka untuk berbuat seperti ini?
"Tentu saja Samuel!" Jawab Marsha kembali mengulangnya dan merasa sudah tidak sabar lagi. "Kamu sendiri tidak berguna dan tidak boleh membiarkan Aaron Daffa beraksi. Jadi, tentu saja aku harus memikirkan caranya sendiri!"
Jadi, cara yang terpikirkan olehnya adalah mencari 'Samuel'?!
Naura tertawa dingin. "Minta saja sendiri darinya!"
"Sikap macam apa ini? Aku tidak memperhitungkan kamu yang tidak berperasaan dan tidak peduli untuk membantu Perusahaan Affandi, tapi sampai nomor telepon saja kamu tidak bersedia memberi? Jangan lupa kalau kmau juga berasal dari keluarga Affandi!" Ucap Marsha dengan lugas dan sok benar. Sama sekali tidak ada raut penyesalan ataupun tidak enak hati di wajahnya.
Senyum penuh arti di wajah Naura pun semakin dalam. Namun, ekspresinya malah semakin bertambah dingin. Dia bicara dengan suara yang lembut dan ringan, tapi dingin dan menakutkan. "Tentu saja aku tidak akan pernah lupa bahwa aku ini juga berasal dari Keluarga Affandi."
Semua malapetaka dalam setengah perjalanan hidupnya ini, dikarenakan dia berasal dari keluarga Affandi.
"Bagaimana mungkin aku bisa lupa kalau aku berasal dari keluarga Affandi?" Suara Naura kembali melembut. "Kakak, nomor telepon 'Samuel' yang kamu inginkan, tidak mungkin aku berikan. Tapi aku tau, dia sering pergi ke restoran Star Light."
Nomor telepon adalah hal yang sangat pribadi. Walaupun dia sangat membenci 'Samuel', dia tidak akan dengan begitu mudahnya memberi tau nomor telepon 'Samuel' pada Marsha.
Akan tetapi, dia boleh membeberkan informasi 'Samuel' yang sering pergi ke restoran Star Light.
Marsha belum tentu bisa bertemu dengan 'Samuel'. Tapi, walaupun dia benar-benar bisa bertemu dengannya, kemungkinan berhasil dengan mulus pun sangat kecil.
Sebenarnya, anggap saja Naura ingin sedikit membalas perbuatan 'Samuel'.
Siapa suruh, dia begitu tidak tau malu!
...__________...
__ADS_1