Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#41


__ADS_3

Kurang lebih tiga puluh menit kemudian, Aaron naik kelantai dua ingin memanggil Naura untuk makan. Saat membuka pintu kamarnya, dia tidak melihat Naura ditempat tidurnya.


Aaron berdiri dipintu kemudian berbalik dan sedikit terkejut saat melihat Naura yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakangnya.


Naura menatapnya dengan wajah dingin. "Kenapa pintu kamarku tidak bisa dibuka?"


Sebelum Aaron naik, Naura pergi kekamarnya. Tapi, pintunya tidak bisa dibuka. Dia dengan sekuat tenaganya berusaha membuka pintu kamarnya, tetap saja tidak bisa dibuka.


"Kunci pintunya rusak." Jawab Aaron dengan wajah terlohat tenang dan nada suara yang lembut membuat Naura tidak bisa menebak apakah dia sedang berbohong atau tidak.


Naura menatap 'Samuel' dengan tatapan curiga. Bukankah kemarin saat dia pergi keluar, pintunya masih baik-baik saja? Kenapa sekarang bisa rusak?


Aaron yang melihat raut wajah Naura sudah berubah kembali, dia menebak kalau Naura sudah tau semalam tidak terjadi apa-apa diantara mereka.


"Ayo turun dan makan dulu." Ucapnya kemudian berbalik dan turun kebawah.


Sebelumnya, Naura mengira kalau 'Samuel' telah melakukan sesuatu kepadanya semalam, itu sebabnya dia tidak nafsu makan. Tapi sebenarnya, dia sudah merasa sangat lapar.


Akhirnya, Naura berjalan menuruni tangga turun kebawah menuju ruang makan. Menarik kursi dan duduk dihadapan 'Samuel'. Pengawal segera menghidangkan makanan untuk mereka berdua.


Naura terus merasa aneh. Di dalam rumah sebesar ini hanya ada pengawal dan tidak ada pelayan. Biasanya, pelayan akan lebih bisa melakukan pekerjaan rumah.


Karena penasaran, Naura pun mencoba bertanya kepada 'Samuel'. "Apa kakak sepupumu tidak suka dengan seorang wanita?"


Seketika Aaron menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengaduk kuah sup dimangkuknya. Apakah terlihat begitu jelas?


Dia meletakkan sendoknya, mengangkat sedikit wajahnya dan menatap Naura. "Kenapa bertanya seperti itu?"


Naura juga meletakkan sendoknya dan menatap 'Samuel'. "Dia sepertinya selalu tidak ingin bertemu denganku. Di rumah sebesar ini juga tidak ada pelayan sama sekali."


Aaron hanya tersenyum, tidak mengatakan apapun.


Tiba-tiba, Naura seperti mengingat sesuatu. Dia bangkit berdiri dengan wajah panik sambil memegangi kepalanya. "Astaga, apa Evelyn baik-baik saja?"


Naura tersadar dengan pertanyaannya. Meskipun 'Samuel' pernah bertemu dengan Evelyn sekali, mungkin saja 'Samuel' lupa karena belum mengenalnya. "Temanku yang waktu itu datang kesini mencariku. Dia juga kenal dengan Christian." Imbuh Naura.


Aaron pun teringat dengan kejadian kemarin malam. Raut wajahnya tetap terlihat tenang. "Dia baik-baik saja." Jawabnya dengan menatap Naura.


Dia hanya merasa heran. Naura masih saja peduli dan memikirkan orang lain. Kalau saja kemarin malam Aaron tidak datang ke Bar 99 untuk mencarinya, bagaimana Naura bisa keluar dari tempat itu?

__ADS_1


Naura masih merasa tidak tenang. Dia meraba-raba sakunya mencari ponselnya, tapi dia kembali teringat saat dirinya melompat ke bawah, ponselnya pasti juga terbanting. Mungkin ponselnya sudah tidak utuh lagi.


Aaron memperhatikan Naura dan dia bisa menebak dari gerakan Naura. Aaron mengambil sesuatu dari balik badannya kemudian memberikannya kepada Naura. Sebuah kotak berwarna hitam polos tanpa ada gambar atau hiasan apapun diatasnya.


"Apa itu?" Tanya Naura dengan menatap bingung.


Aaron tidak menjawabnya. Hanya melihatnya dengan gerakan matanya menyuruh Naura untuk menerima dan membukanya sendiri.


Naura pun mengulurkan tangannya, menerima kotak itu lalu membukanya. Ternyata didalam kotak itu terdapat sebuah ponsel keluaran terbaru dengan warna yang sangat cocok untuk seorang wanita.


"Apa ini kamu yang beli untukku?" Tanya Naura dengan mata berbinar dan menatap 'Samuel' dengan tatapan terpana.


"Mana mungkin. Ponsel itu kakak sepupu yang membelikannya untukmu." Jawab Aaron dengan menatap Naura sekilas lalu beralih menatap makanannya dan memakannya.


Naura terdiam. Dia merasa ucapannya seakan berharap 'Samuel' yang membelikan ponsel ini untuknya.


Karena Aaron Daffa yang membelikannya, Naura pun langsung menyimpannya. Dia melihat disamping ponsel itu ada sim card yang memang miliknya.


Naura memasang sim cardnya kemudian langsung menelpon Evelyn.


Begitu tersambung, telepon langsung diangkat oleh Evelyn. "Naura! Bagaimana keadaanmu? Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Evelyn terdengar begitu mengkhawatirkannya.


"Kamu baru saja mengalami masalah besar, bagaimana aku bisa berangkat bersama kru ku. Aku mau keluar sekarang. Ayo kita bertemu!" Seru Evelyn dari seberang telepon dan terdengar seperti sedang membereskan sesuatu.


Naura juga ingin sekali bertemu dengan Evelyn dan menceritakan kejadian semalam. Dia pun langsung menyetujuinya. "Baiklah. Sekarang aku sedang makan. Setelah makan, aku akan keluar."


"Keluar kemana? Biar aku yang kesana menemuimu!" Sahut Evelyn kemudian menutup teleponnya.


Naura meletakkan ponselnya. Dia mengangkat wajahnya dan melihat 'Samuel' sedang makan dengan perlahan.


Naura merasa laki-laki yang duduk dihadapannya ini, biasanya selalu bertingkah sangat arrogant. Tapi saat ini, justru terlihat kebalikannya. Terlihat begitu tenang dan bijak.


"Masalah kemarin malam..." Naura terdiam sesaat. "Terima kasih." Lanjutnya.


"Terima kasih untuk apa?" Tanya Aaron sambil mengangkat wajahnya dan menatap Naura. Sorot matanya terlihat sedang tersenyum penuh arti. "Kakak ipar berterima kasih kepadaku disaat situasi yang penting. Saat aku mendorongmu?"


Naura mengerti maksud dari ucapan 'Samuel'. Seketika wajahnya menjadi merah. "Bisa tidak, bicara yang benar?!"


Rasa terima kasihnya pun langsung hilang seketika.

__ADS_1


Aaron baru saja selesai makan. Dia mengelap bibir dan tangannya. "Ucapan terima kasihmu itu tidak tulus. Terlalu santai."


Naura juga merasa kalau ucapan terma kasihnya memang tidak tulus. "Kalau begitu, bagaimana kalau aku traktir kamu makan?"


"Makan? Boleh. Pergi ke restoran yang waktu itu saja." Jawab 'Samuel' tanpa ragu.


Restoran waktu itu? Batin Naura merasa cemas.


Naura mengernyitkan dahinya. Setau dia, restoran itu merupakan restoran terkenal dan paling populer di kota ini. Sedangkan Naura belum lama lulus kuliah. Dia juga belum mendapatkan pekerjaan.


Anggap saja, meskipun dia sudah bekerja, kalau menuruti permintaan 'Samuel' untuk makan direstoran itu, paling tidak membutuhkan gaji selama setengah tahun.


Naura pun merasa, kalau 'Samuel' sengaja melakukan ini padanya.


"Ganti tempat. Aku tidak sanggup kalau harus mentraktirmu makan disana." Ucapnya dengan terus terang.


"Apa kakak sepupu tidak memberimu ATM miliknya?" Tanya 'Samuel' dengan heran.


Naura merasa kalau pertanyaan 'Samuel' sangat aneh. "Untuk apa dia memberiku ATM miliknya?"


Aaron pun mengambil kartu berwarna hitam dari dalam dompetnya lalu melemparnya ke hadapan Naura. "Ini kakak sepupu yang memberikanku. Kamu pakai saja dulu."


Naura tidak langsung mengambil kartu itu. Dia menatapnya saja. "Aaron benar-benar sangat baik kepadamu." Ucapnya dengan rasa iri.


Aaron tidak pernah muncul didepan orang lain. Rumor yang mengatakan kalau dia seorang yang bertemperamen tinggi, sangat kasar dan kejam, kenapa dia masih membiarkan 'Samuel' tinggal dirumahnya juga masih diberinya kartu ATM?


Sangat jauh berbeda dengan dirinya dan Marsha. Mereka berdua malah seperti musuh.


Aaron menatapnya dengan tatapan dalam. "Selama kamu bekerja keras, mungkin kakak sepupu akan memperlakukanmu lebih baik lagi dari ini." Ucap Aaron dengan sengaja menekankan kata "bekerja keras".


Benar-benar laki-laki yang sombong dan tidak tau malu! Batin Naura.


Tapi, Naura tidak menghiraukan ucapan 'Samuel'. Dia menunduk mengambil kartu hitam itu dan menyimpannya.


Menggunakan uang Aaron untuk mentraktir 'Samuel' makan, tidak ada salahnya kan? Batin Naura.


Sebenarnya, Naura tulus ingin berterima kasih kepada 'Samuel'. Tapi, siapa juga yang menyuruhnya memilih restoran yang mahal? Jadi, jangan salahkan kalau dia tidak bersungguh-sungguh.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2