
Saat berjalan menuruni tangga kelantai bawah, Naura lengsung mempercepat langkahnya menghampiri Evelyn yang duduk disofa ruang tamu. Dia duduk disampingnya dengan menatap serius pada Evelyn. "Ev, kamu sudah kenal lama dengan Christian?"
Evelyn terdiam sejenak lalu sedikit mengangguk. "Iya, aku mengenalnya sudah lama. Dia berhutang kepadaku dan meskipun aku memukulinya sampai mati, dia akan tetap diam saja."
Mendengar ucapan dari Evelyn, Naura merasa kalau teman baiknya ini sepertinya memiliki dendam yang mendalam terhadap Christian.
Naura tidak ingin banyak bertanya lagi. Dia juga tidak menceritakan tentang dirinya yang mendapat undangan interview dari AD Entertainment Group kepada Evelyn. Mereka pun pergi keluar untuk makan bersama.
Saat makan bersama diluar, Naura mendapat panggilan telephone dari 'Samuel'. Naura tidak tau dan belum menyimpan nomor milik laki-laki itu. Dia mengangkatnya karena merasa kalau saja telephone penting. Dia tidak tau kalau 'Samuel' yang sedang menelponnya.
"Kapan kamu akan pulang?"
Mendengar suara yang sangat familiar, meski suara 'Samuel' terdengar lemah karena sedang sakit, Naura langsung dapat mengenalinya.
Naura mengernyitkan keningnya. "Memangnya ada apa?"
"Aku belum makan." Jawab 'Samuel'.
Naura menghela nafasnya pelan. "Kalau memang kamu tidak bisa makan, minta saja dokter untuk memberimu infus. Aku masih....."
"Aku hanya mau makan masakan buatanmu." 'Samuel' menyela ucapan Naura yang belum selesai bicara.
Suara 'Samuel' terdengar sangat lemah. Sangat berbeda dengan kelakuannya yang selalu tajam dan tegas. Mendengar suaranya yang seperti ini, Naura menjadi merasa aneh.
Dia juga tidak tau harus mengatakan apa kepada 'Samuel'. Dia menutup sambungan telephonenya begitu saja.
"Adik ipar sepupumu yang sangat tampan itu menelponmu ya?" Tanya Evelyn dengan tersenyum menggoda Naura.
Naura mendengus dan melirik sinis pada Evelyn merasa tidak suka dengan pertanyaannya. "Sangat tampan apanya?"
Evelyn terkekeh pelan lalu berdehem dan mencondongkan sedikit tubuhnya kearah Naura. "Aku tidak percaya kalau kamu tidak terpesona oleh ketampanan 'Samuel' meski hanya sedikit saja." Evelyn mengedipkan sebelah matanya dengan genit setelah bicara.
Terpesona dengan ketampanannya? Batin Naura dengan menatap Evelyn yang sedang menaik turunkan kedua alisnya dengan cepat.
__ADS_1
Naura lalu mengerjapkan matanya dan menghela nafas. "Sebenarnya, hingga saat ini aku masih belum pernah melihat Aaron Daffa. 'Samuel' dan Aaron sama-sama berasal dari keluarga Ardinata. Kalau saja Aaron tidak cacat, pasti dia...sangatlah tampan." Ucap Naura terdengar menyedihkan karena belum pernah melihat suaminya sendiri.
Tapi dalam lubuk hatinya, dia merasa sangat kasihan dengan Aaron Daffa.
Evelyn tampak terkejut dan merasa heran. "Apa?! Kamu belum pernah melihat suamimu?! Apa kalian hanya sepasang suami istri palsu?! Bukankah, kalian menikah sudah hampir empat bulan kan?! Ini benar-benar sulit dimengerti!" Ucap Evelyn dengan menggebu lalu meneguk sebotol air mineralnya dengan cepat.
Setelah meneguk minumnya, dia meletakkan botolnya dengan keras hingga membuat Naura terkejut dan menatapnya. Evelyn tersenyum cerah menatap Naura. "Naura, apa kamu tidak merasa aneh dengan sikap adik iparmu itu?"
Naura mengernyitkan keningnya. "Iya, dia memang orangnya sangat aneh." Jawabnya dengan polos.
Evelyn mendengus dan menatap serius Naura. "Maksudku, saat aku lihat sorot matanya tadi saat dia menatapku, tatapannya begitu dingin dan membuat orang ketakutan. Tapi, saat dia menatapmu, tatapannya begitu lembut sangat berbeda saat dia menatap orang lain selain kamu!"
"Hah?" Naura terbengong dan kini dia yang merasa heran dengan teman baiknya ini.
Dia lembut terhadap aku?
"Ev, apa otakmu ini sekarang menjadi bermasalah karena kebanyakan syuting film?"
Setelah menerima telepon, wajah Evelyn tampak lesu dan terlihat tidak bersemangat menatap Naura. "Naura, aku harus segera pergi karena ada rapat dadakan. Benar-benar sangat sulit mencari waktu luang hanya ingin makan bersama denganmu."
Naura tersenyum dan mencoba menghibur sahabat baiknya ini. "Ya sudah tidak apa. Pergi saja sana. Setelah kamu selesai dengan pekerjaanmu, nanti aku akan traktir kamu makan."
...
Setelah Evelyn pergi, Naura pun segera pulang ke kediaman Aaron Daffa.
Saat masuk kedalam rumah, langkahnya terhenti karena melihat 'Samuel' duduk diruang tengah sedang fokus pada laptopnya. Disamping laptop hanya ada segelas air putih. Dia memperhatikan 'Samuel' dari jarak kurang lebih empat meter.
Wajah 'Samuel' selain terlihat pucat,dia sangat serius menatap laptopnya entah apa yang laki-laki itu lihat. Sama sekali tidak memperlihatkan seperti orang yang sedang sakit. Tapi, Nuara bisa menebak kalau dia sedang fokus dengan pekerjaannya.
Naura menghela nafasnya merasa heran. Dia merasa kalau laki-laki ini bukan seperti manusia pada umumnya. Sama sekali tidak mengenal lelah dan tidak merasakan sakit.
Bukankah tadi dia demam tinggi hingga jatuh pingsan? Setelah dokter memberinya suntikan penurun demam, dia sudah kembali bekerja seperti biasa.
__ADS_1
Naura pun menjadi teringat saat melihat luka tembak dibahu 'Samuel' waktu itu. 'Samuel' tidak terlihat kesakitan bahkan saat dirinya membantu mengambil peluru didalam tubuhnya, laki-laki itu tetap terlihat tenang seolah tidak merasakan apapun meski wajahnya sangat pucat.
Merasa diperhatikan, 'Samuel' menghentikan gerakan jari-jarinya yang sedang mengetik di keyboard laptopnya lalu mengangkat sedikit kepalanya manatap Naura. Tatapan mereka pun bertemu.
"Sudah pulang?" Tanya Aaron dengan suara serak.
Naura mengerjapkan matanya lalu mengalihkan tatapannya kearah laptop yang ada didepan 'Samuel'. "Apa kamu sedang bekerja? Kamu masih terlihat pucat."
Aaron menahan senyumnya merasa mendapat perhatian dari istrinya. "Aku baik-baik saja, hanya sedikit lapar." Ucapnya masih menatap lekat Naura.
Naura pun menjadi teringat dengan telepon dari 'Samuel' tadi. "Kamu bisa menyuruh pengawal memasak untukmu kan?"
"Tidak enak." Jawab 'Samuel' sambil mendengus.
Kebetulan Ivan mendengar perbincangan mereka saat masuk membawakan obat untuk Tuan Mudanya. Dia menahan senyum gelinya merasa heran pada Tuan Mudanya yang menjadi aneh setelah menikah.
Dulu Tuan Muda tidak pernah mengatakan kalau masakan pengawal tidak enak. Sejak menikah dengan Nyonya Naura, mulai membeda-bedakan makanan. Gumam Ivan dalam hati lalu menggelengkan kepalanya.
Jujur saja. Selain wajah Nyonya Mudanya yang sangat jelek, Ivan belum menemukan kelebihan dari Naura yang lain.
Tapi, Tuan Mudanya ini sama sekali tidak pernah terlihat membenci istrinya yang sangat jelek, melainkan terlihat begitu menyayanginya. Otomatis, semua bawahannya juga sangat menghormati Naura sebagai istri Tuan Mudanya.
Naura melihat jam pada ponselnya sudah jam dua siang lebih. Kemudian melihat ada Ivan. Dia menanyan Aaron kepadanya. "Apa Aaron ada dirumah?"
"Ada." Yang menjawab adalah 'Samuel'.
Naura merasa terkejut. "Kalau begitu, apa dia sudah makan?"
Saat Naura betanya, Aaron sedang memegang gelasnya yang berisi air putih. Tangannya sedikti gemetar lalu menatap Ivan sejenak dan meminum air putihnya.
"Tuan Muda Aaron belum makan." Jawab Ivan dengan bangga karena semakin pandai ikut memainkan peran dalam drama yang masih dimainkan oleh Tuan Mudanya ini.
...__________...
__ADS_1