Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#92


__ADS_3

Setelah keluar dari ruangan kantor Marsha, Naura pergi ke kantor Fajar untuk menemuinya.


Penculikan di hari sabtu kemarin, pasti kerjasama antara ayah dan anak perempuannya itu. Kalau tidak, Marsha tidak mungkin melakukannya sendirian.


Sesampainya di kantor Direktur Utama, Naura mengetuk pintunya. Terdengar suara Fajar dari dalam. "Masuk!"


Naura mendorong pintunya dan masuk ke dalam dan Fajar sedang mengangkat kepalanya melihat siapa yang datang.


Saat dia melihat Naura, sorot matanya terlihat kaget, tapi tidak takut. Juga bisa dikatakan, hal yang ingin dilakukan oleh ketiga penculik itu, Fajar tidak mengetahuinya.


Fajar berdiri dari kursinya. "Naura, kamu tidak kenapa-kenapa kan?"


"Aku tidak kenapa-kenapa, apa ibu baik-baik saja?" Ucap Naura tanpa merubah nada bicaranya sambil masuk ke dalam, tidak terlihat perasaannya sama sekali.


Fajar melihat Naura tidak membahas masalah penculik itu, berpikir kalau dia Naura tidak tau. "Ibumu tidak apa-apa, nanti siang dia akan mengantarkan makanan ke sini, kamu mau makan siang bersama?" Fajar tersenyum hangat.


Naura menganggukkan kepala. "Baiklah."


...


Siang hari, Merlin datang ke perusahaan Affandi mengantarkan makan siang untuk Fajar.


Ketika dia melihat Naura juga ada, raut wajahnya langsung berubah. "Naura juga ada disini...?"


"Sudah lama tidak makan masakan ibu, saat ayah mengatakan kalau ibu akan datang mengantarkan makanan, aku juga datang ikut makan." Saat Naura bicara, dia menatap lurus pada Merlin, terlihat wajahnya berseri-seri membuat Merlin tidak bisa menebak apa yang sedang dipikirkannya.


"Makanan yang ibu buat, biasa saja..." Ucap Merlin sambil mengeluarkan kotak makanannya, menghindari tatapan Naura.


Merlin yang terlihat sedang menghindar membuat Naura mengerti. Penculikan di hari sabtu kemarin, Merlin juga mengetahuinya.


Kalau tidak, kenapa dia terlihat bersalah?


Sulit untuk mengatakannya, membuat Naura merasa sangat sedih.


Naura harus memastikan, selama dua puluh dua tahun ini, ibunya sejak awal tidak pernah menyayanginya. Dan di dalam hati ibunya, dia sama sekali tidak memiliki tempat.


Merlin rela melakukan apapun demi Fajar dan mereka. Mereka yang dimaksud adalah anak-anak Fajar, Marsha dan kakak laki-lakinya.


Ucapan Marsha tidak salah, ibunya tidak pernah menyayanginya. Naura memang makhluk yang sangat menyedihkan.

__ADS_1


Naura menundukkan kepala, dengan perlahan mengeluarkan tawanya. "Tidak pernah makan masakan ibu, makanya aku juga tidak ingat rasanya seperti apa."


Merlin kaget mendengarnya. Dia kemudian menoleh melihat Fajar sejenak, Fajar terlihat menatapnya dengan gelisah, dan menggelengkan kepala juga.


Merlin sedikit merasa lega.


Setelah melalui kejadian di sabtu kemarin, Merlin menyadari kalau Naura sangat mempedulikannya sampai-sampai blackcard yang begitu berharga miliknya tanpa berpikir langsung digunakan untuk menolongnya.


Di mata Naura, dia terlihat begitu penting. Kalau setelah ini Fajar menyuruhnya melakukan sesuatu, dia bisa membantunya.


Bisa membantu Fajar, dia pasti akan sangat senang. dan dia akan memperlakukannya lebih baik lagi.


Dengan pikirannya yang seperti ini, Merlin makin memperlihatkan wajah tersenyumnya, lalu mengulurkan tangan mengambilkan lauk untuk Naura. "Kalau begitu, kamu makan yang banyak." Ucap Merlin dengan senang hati.


"Terimakasih." Naura tersenyum tawar melihat Merlin.


Meskipun bibirnya mengucapkan kata terimakasih, tapi Merlin merasa dalam senyuman Naura mengandung arti yang dalam. Sepasang mata indah itu sepertinya sudah mengetahui semuanya.


Tanpa sadar, Merlin menjadi gemetar hingga sumpit yang sedang digenggamnya terjatuh ke lantai.


Naura membungkukkan badannya dan mengambilkan sumpit yang terjatuh itu. "Bu, ibu harus pegang sumpitnya dengan erat. Kalau lain kali jatuh lagi, aku belum tentu berada di sampingmu untuk membantu mengambilnya."


Merlin mengerutkan alisnya lalu tersenyum. "Hanya tidak hati-hati saja."


"Benarkah?" Naura membiarkan senyumannya kemudian berdiri. "Aku sudah kenyang, aku keluar dulu."


Fajar mengerutkan alisnya saat melihat Naura keluar. Dia merasakan ada keanehan dalam diri Naura.


...


Begitu Naura keluar dari ruangan Fajar, ekspresi di wajahnya hilang seketika. Hanya menyisakan aura dingin yang menusuk tulang.


Merlin yang baru saja dengan sengaja ingin mengambil hatinya, terlihat jelas dimatanya. Tapi, di dalam hati Naura sama sekali tidak terpengaruh.


Sudah begitu lama, dia membohongi dirinya sendiri.


Tapi kalau saja Merlin sedikit menyanyangi dia, tidak mungkin sudah begini lama Merlin tidak pernah membelikannya pakaian. Lebih tidak mungkin lagi sampai berlutut meminta dia menggantikan Marsha untuk menikah dengan Aaron Daffa yang impoten.


Karena masalah penculikan kali ini, Merlin baru mengerti betapa pentingnya dia dalam hati Naura. Merasakan manisnya, jadi baru mau mengambil hatinya?

__ADS_1


Kalau saja itu dulu, mungkin Naura sudah memaafkan Merlin.


Tapi, setelah hatinya hancur, Naura baru tersadar kembali. Meskipun Merlin mengambil hatinya, tapi tetap saja tidak dapat meluluhkannya. Kemudian, Naura tidak akan pernah mempedulikan Merlin lagi.


Tidak ada seorangpun yang setelah dilukai berulang kali, masih bisa berpura-pura tidak pernah terjadi sesuatu atas dirinya.


Naura berjalan sampai ke tempat yang sepi. Dia mengirimkan pesan ke wartawan yang dulu pernah di kenalkan oleh Evelyn.


["Hasil produksi kain pembersih dapur terbaru dari perusahaan Affandi itu kualitasnya sangat rendah, di dalamnya mengandung racun yang bisa membahayakan tubuh manusia."]


Yang menjadi andalan dari perusahaan Affandi adalah komoditas rumah tangga. Dua tahun yang lalu sudah pernah terekspos karena kualitas yang rendah. Masalahnya sudah terdeteksi, tapi kemudian bisa diredakan kembali.


Saat itu, Naura masih duduk dibangku sekolah SMA. Setelah melihat berita ini, dia pernah diam-diam masuk ke perusahaan Affandi melihatnya. Memang bermasalah.


Wartawan yang dikenalkan oleh Evelyn memang dapat dipercaya, dibandingkan dengan yang lainnya. Dia lebih beretika.


Meskipun dia adalah wartawan pencari berita tentang selebriti, tapi dia bisa menggunakan berita ini untuk dijual ke media lain.


["Apa kamu yakin?"] Balasan dari wartawan itu.


["Aku yakin. Tapi kamu sendiri harus datang ke pabrik untuk memotretnya. Aku akan kirim alamatnya ke kamu."]


Dan yang paling diandalkan oleh wartawan adalah menyamar dan mencuri foto. Ini keahlian mereka.


["Oke, baiklah!"]


Karena ada hubungannya dengan keluarga Ardinata, berita tentang perusahaan Affandi sudah pasti akan menjadi berita yang berharga. Jadi, wartawan itu langsung menyetujuinya.


Naura menyimpan ponselnya kembali di sakunya, lalu berjalan ke meje kerjanya.


Di tengah perjalanan, dia bertemu dengan Marsha yang baru selesai makan siang di luar.


Merlin sering mengantarkan makanan ke kantor, Marsha merasa bosan setiap hari makan masakan Merlin. Otomatis lebih senang makan di luar.


Marsha memanggilnya dengan sombong. "Bukankah kamu mau belajar sesuatu dari aku? Sebentar lagi aku ada rapat, kamu juga ikut dengar saja."


Sekarang Marsha sudah merasa tenang, Dia kira sangat mengenal Naura. Kalau Naura tau peristiwa penculikan itu adalah perbuatannya, tentu saja tidak akan setenang ini. Tapi tidak bisa memastikan sepenuhnya. Jadi, dia ingin membuat Naura berada di dekatnya dulu.


Naura tersenyum dan menyetujuinya. "Baiklah."

__ADS_1


...__________...


__ADS_2