
Berita di internet sudah mereda dengan sendirinya. Meskipun masih ada beberapa orang yang mengungkit, tapi tidak bisa menjadikan gosip tersebut menjadi besar.
Di internet sudah tenang, tapi di kehidupan nyata tidak begitu mudah untuk bisa tenang.
Di departemen pemasaran tempat Naura bekerja, banyak karyawan wanita yang berkumpul setiap hari untuk bergosip. Tentu saja pembicaraannya masih mengenai Naura.
Keesokan harinya, Naura pergi ke kantor. Seluruh karyawan perusahaan Affandi melihat dia dengan terkejut.
Setelah Naura melangkah jauh dari mereka, dibelakangnya masih terdengar suara bisik-bisik.
"Aku tidak menyangka kalau dia masih berani datang untuk bekerja."
"Bahkan Tuan Muda Ardinata sangat berlapang dada. Istri dan adik sepupu sendiri selingkuh, tapi dia tidak peduli?"
"Kamu jangan bicara seperti ini. Kalau saja gosip itu tidak benar, dia dan adik sepupu suaminya memang tidak terjadi apa-apa?"
"Kamu benar juga. Bagaimana mungkin keluarga Ardinata bisa membiarkan hal ini terjadi? Kalau memang ada masalah ini, Naura pasti tidak akan tahan dan kabur!"
"Cih! Kalian ini benar-benar bodoh ya?! Masalah seperti ini, kalau tidak. asap, tidak mungkin terjadi!"
Mereka semua bergosip. Tapi, itu semua hanya spekulasi.
...
Perusahaan AD Entertainment Group, di ruang Presiden Direktur Utama, Christian mendorong pintu dan masuk. Dia melihat ke arah Aaron yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
Setelah meletakkan dokumen di atas meja Direktur, Christian dengan serius menirukan gaya bicara sekertaris. "Pak Direktur Aaron, semua dokumen ini butuh tanda tangan dari anda."
Hal-hal kecil seperti mengurus dokumen seperti ini memang seharusnya merupakan pekerjaan sekertaris.
Tapi, Christian punya tujuan tertentu mengantar dokumen tersebut pada Aaron. Dia ingin mengetahui kebenaran yang sedang ditutupi.
Karena itu, begitu dokumen itu diletakkan, Aaron dengan ekspresi dingin langsung mengusir Christian. "Keluar!"
Christian yang masih berdiri dihadapan Aaron merasa tidak punya muka sama sekali.
Di mengernyit dan menggelengkan kepalanya lalu bicara dengan suara yang terdengar simpatik. "Aaron, aku benar-benar kasihan kepadamu. Tidak mudah untuk bisa menikah, tapi istrimu malah selingkuh dengan 'adik sepupumu'. Aku wawancara dulu, bagaimana perasaan anda?"
Aaron mengangkat pandangannya dan menatap dingin Christian. "Kamu mau, aku pindahkan ke kantor yang ada di Afrika?"
Sontak wajah Christian langsung berubah dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Tidak..tidak! Aku tidak mau pergi ke Afrika!"
Christian sangat tidak ingin pergi ke Afrika.😆
Aaron memasang wajah kelam. Sedikit pun tidak ingin mendengar Christian mengungkit masalah itu lagi. "Masih tidak keluar?"
Tapi, Christian sengaja datang untuk menanyakan masalah besar itu. Dia pun dengan tidak tau malu kembali bertanya. "Kalau memang Naura menyukai 'Samuel' lalu dia tidak bisa menahan perasaannya dan melakukan itu, terus nanti saat dia tau kalau kamu adalah Aaron Daffa......"
"Tidak mungkin!" Tanpa berpikir, Aaron langsung memotong ucapannya.
"Tidak mungkin tau kalau kamu Aaron Daffa? Kamu kira, kamu bisa menyembunyikan hal ini selamanya?" Di dalam hati Christian, Aaron adalah seorang yang sangat hebat.
__ADS_1
Tapi, Christian tidak merasa kalau Aaron bisa menyembunyikan hal itu selamanya.
"Dia bukan perempuan yang seperti itu." Kalimat singkat Aaron bisa membuat Christian memahami arti ucapan itu.
"Kamu baru bersama dengan dia berapa lama dan kamu bisa mengatakan kalau dia bukan perempuan seperti itu, sepertinya aku mencium bau asam......"
"Apa yang bau?" Tanya Daniel dengan bingung karena tiba-tiba saja dia masuk kedalam dan kebetulan mendengar kalimat terakhir yang diucapkan oleh Christian.
"Yang pasti bukan bau asam dari tubuh kita. Kita ini kan jomblo, baunya harum." Jawab Christian dengan cepat.
Daniel seorang laki-laki yang polos. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Dia tidak mengerti maksud ucapan Christian.
"Bau aroma cinta! Ini saja kamu tidak tau! Pantas saja kalau kamu masih jomblo!" Ucap Christian dengan jengkel.
Daniel sendiri setiap bulan semenjak beberapa tahun yang lalu selalu ditelepon ibunya diminta untuk segera menikah. Dia merasa sangat sensitif dengan topik ini.
Daniel kemudian tersenyum kaku. "Teman yang selalu dijaga dari kecil sampai tumbuh dewasa, sudah sangat dekat, tapi malah masih kabur. Bagaimana perasaanmu?"
Seketika raut wajah Christian berubah. Dengan marah dia memukul dan meneriaki Daniel. "Apa kamu tau? Hari ini aku masuk ke dalam sini, aku tidak berencana keluar dalam keadaan hidup!"
Christian memang punya teman masa kecil dan mereka berdua sudah sangat dekat. Tapi, masih ditinggal kabur.
Aaron berpikir, mungkin teman masa kecil Christian yang dimaksud itu, artis kecil yang bernama Evelyn.
Hubungan Evelyn dengan Naura sangat baik. Aaron baru-baru ini mengingat namanya.
Setelah bertengkar beberapa waktu, pertengkaran itu selesai dan berakhir dengan Christian membanting tubuh Daniel.
Mereka berdua pun menurut membersihkan ruangan itu meski dengan perasaan kesal. Kemudian mereka baru pergi keluar dari sana.
...
Sepanjang hari, Naura terus diperbincangkan karena gosip yang beredar.
Tapi, setelah beberapa saat mereka pun akhirnya bosan dan tidak lagi membicarakan Naura.
Saat jam pulang kerja, Ivan menelponnya mengatakan kalau jalanan macet dan mungkin akan terlambat menjemputnya.
Naura sudah keluar dari gedung Perusahaan Affandi dan mencari tempat untuk menunggu Ivan.
"Naura."
Merasa ada yang memanggilnya, Naura menoleh, tiba-tiba Merlin sudah berdiri dibelakangnya.
Naura merasa sedikit terkejut. Dia menunjukkan wajah dinginnya. "Ada apa?"
"Ibu hanya ingin bertanya. Mengenai berita yang mengatakan kalau kamu ada hubungan dengan adik sepupu Aaron, apa itu benar?" Ucap Merlin terdengar sedikit khawatir.
Naura merasakan ada sesuatu yang salah dengan Merlin. Dia menatap curiga. "Ibu kenapa?"
Tidak peduli seberapa besar Merlin mengacuhkannya, tapi Naura tidak bisa untuk tidak mempedulikannya ibunya.
__ADS_1
Merlin tersenyum dan dengan lembut bicara kepada Naura. "Tidak ada. Ibu hanya melihat berita di internet. Banyak sekali orang yang memaki kamu. Ibu sedikit khawatir denganmu......"
Merlin bicara sampai disini dan berhenti sejenak. Dia menghela nafas. "Dari dulu, ibulah yang tidak baik. Kalau saja ibu tidak memaksamu menikah dengan Aaron, mungkin hal-hal seperti ini tidak akan pernah terjadi dan kamu tidak akan menjadi seperti sekarang ini."
Naura merasa, ucapan Merlin menjadi semakin berlebihan membuat kecurigaan di dalam hatinya semakin dalam. "Kalau memang ada sesuatu, langsung katakan saja!"
Naura tidak terlalu mempercayai kalau Merlin benar-benar merasa menyesal.
"Naura, kamu katakan yang sejujurnya. Kamu dan adik sepupu Aaron itu, apa kamu benar-benar ada hubungan dengannya? Saat itu, ibu pernah melihat kamu dan dia didalam mobil, kalian berdua......"
"Kenapa ibu tiba-tiba menjadi peduli denganku? Apa tujuan ibu yang sebenarnya?!" Tanya Naura dengan menatap Merlin lekat-lekat, ingin memdapatkan jawaban atas pertanyaannya.
"Naura dengar, meski dulu ibu tidak terlalu peduli denganmu, tapi didalam hati ibu, ibu masih mempedulikanmu......"
Ponsel Naura berdering. Ivan meneleponnya.
Naura segera mengangangkatnya. "Aku di samping pintu gerbang. Kamu ke sini saja."
Selesai bicara dan menutup teleponnya, belum sampai memasukkan kembali ponselnya kedalam tas, Merlin sudah langsung menggenggam lengannya. "Siapa yang menjemputmu?"
"Asisten pribadi Aaron yang menjemputku." Jawab Naura.
Dia merasa, sikap Merlin semakin lama semakin aneh.
Ucapan yang baru saja Naura katakan ke Merlin sekarang sudah menjadi lebih tenang.
Melihat raut wajah Merlin yang seperti ini, Naura hanya merasa lelah dan mati rasa.
"Aku tidak tau Marsha merencanakan apa lagi untukku, tapi aku ingatkan, sebaiknya ibu lebih banyak pikirkan diri ibu sendiri. Jangan terlalu bergantung dengan ayah."
Naura yakin kalau setelah ini, Marsha tidak mungkin petuh dengan Merlin lagi. Dia hanya menganggap Merlin sebagai seorang pembantu yang menemani ayahnya tidur.
Tapi sampai sekarang, Merlin masih saja belum mengerti akan hal ini.
Setelah Merlin mendengar ucapan Naura barusan ini, dia merasa seperti tersengat.
Naura masuk kedalam mobil, menatap Merlin dari jendela.
Merlin masih berdiri ditempatnya. Dia menundukkan kepalanya. Sulit untuk melihat ekspresi wajahnya. Tapi, Naura bisa merasakan kalau Merlin sedang bimbang.
Bimbang karena apa?
Bimbang memikirkan apa dia harus membantu Marsha membalas dendam terhadap Naura?
Baru saja Merlin mengatakan kepada Naura, dalam beberapa tahun ini, dia hidup dengan tenang dalam kekayaan. Kemampuannya untuk mengamati sesuatu tidak sebaik Naura. Jadi, dia tidak tau kalau maksud tersembunyinya sudah diketahui.
Naura sudah mengetahui tujuannya. Maka dari itu, dia dengan hati-hati menghindari membahas mengenai 'Samuel'.
Tidak peduli dengan rencana apa atau trik apa yang mereka miliki. Silahkan saja datang kepadanya!
...__________...
__ADS_1