
Siang hari, Naura menelpon Aaron untuk mengajak dia makan siang bersama.
Aaron terkejut untuk pertama kalinya.
Sebaliknya, Samuel mengirim Naura pesan: ["Kak Naura, siang ini kamu makan apa?"]
["Belum makan. Kamu?"]
Samuel membalas lagi: ["Kebetulan, aku juga belum makan."]
Naura tersenyum,tentu saja dia tau maksud anak kecil ini apa. ["Aku mau pergi ke restoran memesan makanan dan tunggu kamu kemari. Sebentar, aku kirim alamatnya ke kamu."]
Setelah memesan dan belum lama pesanan diantar, tidak lama Samuel datang.
Dia tersenyum kemudian duduk, langsung mengambil sumpit dan makan sesuap. Kemudian mengerutkan kening. "Tidak seenak masakan buatan kak Naura."
Naura melirik dia sekilas. "Pintar mengambil hati orang."
Selesai makan, mereka berdua keluar dari restoran bersama.
Ponsel Samuel tiba-tiba berdering.
Dia menghentikan langkahnya, terpaku menatap layar ponselnya. "Sean?"
"Anak laki-laki yang kamu pukul kemarin?" Tanya Naura sambil mendekat dan melihat sekilas. Nama ini, dia ada sedikit kesan.
Samuel menganggukkan kepala. "Benar. Tidak tau kenapa dia tiba-tiba menelpon aku."
Begitu telepon diangkat, di seberang telepon terdengar teriakan histeris Sean. "Samuel! Apa benar kamu yang menyuruh orang untuk membunuh ayahku?!"
"Sean kamu gila ya!! Kemarin aku tidak pukul otakmu, kenapa otakmu jadi rusak?!" Samuel mendengar nada suara Sean yang seperti itu, membuat dia menjadi marah.
"Aku mau kamu menggantikan nyawa ayahku!!"
Selesei mengucapkan kalimat ini, Sean langsung menutup teleponnya.
Naura juga mendengar perkataan Sean. "Dia mengatakan kamu membunuh ayahnya?"
"Bukannya ini gila? Memangnya aku ada dendam apa dengan ayahnya, sampai aku harus membunuh ayahnya?" Samuel benar-benar memikirkan masalah ini.
Mereka berdua belum berjalan jauh, dari depan ada dua orang laki-laki yang berjalan mendekat.
Dua laki-laki itu tinggi besar, dan tatapan matanya terlihat sangat serius.
Berdasarkan intuisi, Naura merasa dua orang laki-laki ini mungkin adalah--polisi.
Naura langsung berdiri didepan Samuel.
Benar seperti dugaannya, saat dua orang laki-laki itu mendekat, mereka mengeluarkan tanda pengenal polisi. "Selamat siang, kami Polisi tim kriminal. Kami mencurigai Samuel Ardinata ada hubungan dengan kasus pembunuhan, tolong kerjasamanya dalam membantu penyelidikan."
Pandangan mereka terus tertuju pada Samuel yang dihadang oleh Naura.
Naura membalikkan badan, melihat sekilas pada Samuel.
__ADS_1
Raut wajah Samuel sedikit berubah. Di wajahnya ada keterkejutan.
Naura menggenggam tangannya. "Dia belum dewasa. Anak yang masih dibawah umur, harus didampingi oleh orang dewasa kan?"
……
Naura menemani Samuel pergi ke kantor polisi.
Di jalan, Naura menelpon Aaron untuk memberitahu hal ini.
Saat mereka tiba di kantor polisi, Naura melihat di pintu kantor polisi ada Ivan dan Christian.
Christian begitu melihat mereka turun dari mobil langsung berjalan menghampiri mereka dengan santai. "Pak Hardi, lama tidak bertemu, makin maskulin saja."
Pak Hardi adalah polisi yang tadi berbicara. Mungkin karena sering berhubungan dengan pelaku kejahatan, raut wajah mereka terlihat sedikit mengerikan.
Dia melihat Christian lalu tersenyum. "Christian? Untuk apa kamu kemari?"
Ternyata Christian kenal dengan Pak Hardi.
Christian mendekat dan menepuk bahu Pak Hardi, kemudian mengedikkan dagunya ke arah Samuel. "Anak itu, saudara jauhku."
Pak Hardi tertawa. "Kamu dan Samuel Ardinata saudara jauh?"
Tidak bisa berbohong kepada polisi.
"Cepat sekali kamu memeriksa dengan jelas seperti ini. Cuma kamu yang berani seperti ini. Jelas-jelas tau dia anggota keluarga Ardinata, tapi masih berani berurusan dengannya."
Pak Hardi tertawa lagi. "Meskipun dia anak raja, kalau dia melakukan tindakan yang melanggar hukum, aku pasti akan menangkap dia."
"Tidak ada aturan seperti ini."
"Kak Hardi."
"Baiklah!"
……
Di ruang investigasi, Pak Hardi menatap Samuel dengan raut wajah yang serius.
"Sean Tandi teman sekolah kamu?"
"Iya."
"Ayahnya dibunuh hari ini pukul enam pagi. Sebelumnya tidak ada orang yang dendam kepadanya. Sedangkan kamu, sebelumnya bermasalah dengan Sean Tandi, kami mencurigai kamu menggunakan jasa pembunuh bayaran."
Samuel teringat saat tadi Sean meneleponnya. "Ayah Sean Tandi?"
Naura yang mendengar, seketika wajahnya penuh keterkejutan.
Christian menunjuk Samuel dan bertanya pada Pak Hardi. "Menggunakan pembunuh bayaran? Kamu bilang anak kecil ini?"
Samuel melirik Christian. "Kamu yang anak kecil!"
__ADS_1
Pak Hardi dengan raut wajah serius menatap Christian. "Polisi sedang menginvestigasi, kamu jangan ikut bicara."
Christian melambaikan tangan dan menganggukan kepala. "Baik baik baik, silahkan kamu lanjutkan bertanya."
Pak Hardi kembali menatap Samuel. "Hari ini pukul enam pagi, kamu berada dimana?"
Meskipun Naura dapat merasakan kalau Samuel tegang, tapi anak itu tidak terlihat takut sama sekali dan dengan berani menjawab. "Tidur dirumah."
Pak Hardi menganggukkan kepala. "Ada orang yang bisa menjadi saksi?"
Naura baru mau membuka mulut untuk bicara, tapi Pak Hardi sudah melihatnya sekilas dan bicara kepada Samuel. "Anggota keluarga tidak bisa menjadi saksi."
Kalau seperti ini, Naura dan Aaron tidak bisa menjadi saksi.
Pengakuan mulut sampai disini sudah tidak bisa diteruskan lagi.
Meskipun Samuel menjadi orang yang dicurigai, tapi sama sekali tidak ada bukti dan orang yang bisa membuktikan, jadi polisi melepas dia pergi. Tetapi masih tetap harus mempersiapkan diri kalau sewaktu-waktu dimintai keterangan kembali.
……
Samuel dan Christian juga sudah saling mengenal. Mereka berdua setelah keluar dari kantor polisi, terus berbincang-bincang.
Sedangkan suasana hati Naura tidak setenang mereka.
Dari mulut Sean Tandi keluar informasi mengenai ibu Aaron. Lalu, siapa yang memberitahu dia?
Kemungkinannya adalah keluarga dekat dan teman yang ada didekat dia.
Sedangkan ibu Aaron saat itu diculik ke suatu tempat, lalu masih dilecehkan. Orang yang tau, selain para penculik itu sendiri dan keluarga Ardinata, masih ada kemungkinan warga yang ada disekitar juga mengetahui.
Tempat itu adalah sebuah pabrik tua yang sudah tidak terpakai. Sepuluh tahun yang lalu, orang yang ada disekitar lebih sedikit. Tapi, asal ada orang yang tinggal di sekitar, sangat memungkinkan mengetahui sesuatu.
Bagaimana kalau sampai ayah Sean Tandi adalah seseorang yang mengetahui.....
Naura tiba-tiba teringat saat Aaron menyelamatkan dia saat itu. Akhir dari ketiga orang yang menyanderanya terlihat sangat ketakutan.
"Kak Naura, kamu jalan kemana? Ayo cepat naik mobil!"
Terdengar suara Samuel di telinga, Naura baru tersadar dari lamunannya.
Menyadari mereka bertiga sedang berdiri disamping mobil melihat dirinya, sedangkan Naura masih terus berjalan.
Naura bergegas menghampiri. "Maaf, sedang memikirkan sesuatu..."
Saat Naura ingin naik ke mobil, dia kembali teringat sesuatu, kemudian bertanya kepada mereka. "Kalian sekarang mau kemana?"
Christian menjawab. "Aku kembali ke AD Entertainment, kalau kalian mau ikut kita sama-sama, searah. Kalau tidak, aku bisa antar kalian ke sekolah dan juga ke kantor."
Naura menggelengkan kepala. "Aku naik taksi saja kembali ke kantor, kalian antar Samuel saja." Kata Naura kemudian segera berjalan ke pinggir jalan untuk menghentikan taksi dan kebetulan ada taksi yang lewat, dia segera naik dan pergi.
Samuel juga bisa merasakan suasana hati Naura sedikit tidak baik. Dengan wajah penuh tanya, membalikkan kepala bertanya kepada Christian. "Ada apa dengan kak Naura?"
Tatapan Christian juga tidak setenang biasanya. Dia terdiam beberapa saat, baru kemudian berkata. "Mungkin karena kamu dicurigai sebagai tersangka, jadi dia sedih. Kamu mau ikut denganku bertemu dengan kakak sepupumu atau kembali ke sekolah?"
__ADS_1
"Tidak kembali ke sekolah, aku mau langsung pulang ke rumah saja."
...----------------...