Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#144


__ADS_3

Ketika Naura dan yang lain sampai di ruang makan, ternyata ketiga orang anggota keluarga Affandi lainnya sudah duduk.


Melihat Naura membawa 'Samuel' pulang ke rumah keluarga Affandi, Marsha pun tidak dapat menahan diri untuk tidak menyindir. "Naura, hari ini kita sedang makan bersama sekeluarga, untuk apa kamu membawa orang luar datang?"


Walaupun wajah 'Samuel' sangat tampan, tapi sudah tidak ada getaran ketertarikan diantara mereka.


Sekarang ini, Marsha sedang mengincar Kairav Robinson dan merasa bahwa Kairav Robinson memiliki jabatan yang lebih tinggi dibandingkan 'Samuel'. Jadi, tentu saja Marsha malas untuk melirik 'Samuel'.


Tanpa menunggu Naura berbicara, Fadhil Affandi mengangkat pandangannya dan menatap Marsha dengan dingin.


Walaupun Fadhil Affandi juga menyayangi Marsha dan saudaranya, tapi dia tidak memanjakan mereka, membabibuta seperti Fajar Affandi.


Kakek Affandi justru lebih tegas.


Marsha juga sedikit takut dengan kakeknya, sehingga dia langsung menundukkan kepala dan tidak berani bersuara lagi.


Walaupun Fadhil Affandi sudah lama tidak tinggal di kediaman keluarga Affandi, namun dia tetap memiliki harga diri yang sangat tinggi di keluarga itu.


Saat acara makan, tidak ada yang berani bicara sepatah katapun.


Begitu selesai menyantap makanan, Aaron langsung bangkit berdiri. "Karena kami masih ada urusan, jadi kami pergi dulu."


Naura sedikit terkejut, tidak menyangka Aaron akan pergi secepat ini.


Begitu kakek Affandi mendengarnya, dia mengangkat pandangan menatap Aaron. "Kalian pergilah dulu."


Jelas-jelas kakek Affandi dan Aaron saling berbicara dengan sangat singkat, namun entah mengapa Naura malah merasa mereka seperti telah berbincang serius.


Aaron juga membawa serta Naura yang masih tercengang keluar dari rumah kediaman keluarga Affandi.


Setelah masuk kedalam mobil, Naura masih memasang tampang terpaksa, lalu bertanya. "Kamu dan kakekku, sebenarnya apa yang terjadi diantara kalian?" Naura benar-benar tidak mengerti dengan pertarungan tingkat tinggi tanpa bicara seperti ini.


"Kakekmu akan datang mencariku." Aaron menyunggingkan senyum yang tersirat penuh arti.


Naura tidak tau, apakah kakek Affandi akan mencari Aaron atau tidak. Namun, kakek Affandi dengan cepat mencari Naura.


……


Keesokan harinya adalah hari jumat.


Pagi-pagi sekali Naura berangkat ke kantor dan dia mendengar bahwa Presdir senior sudah kembali menduduki singgasananya.


Naura baru saja duduk di kursi kerjanya ketika dia langsung menerima telepon dari Marsha.


"Kakek menyuruhmu datang ke ruangan kantornya." Kata Marsha dengan enggan dan langsung menutup teleponnya setelah selesai berbicara.


Naura pergi ke ruangan kantor Presdir dan baru menyadari bahwa ada Fajar dan Marsha juga di sana.


Sepertinya, kakek Affandi bukan hanya mencarinya seorang.


Hanya saja, raut wajah Fajar dan Marsha tidak terlihat baik.

__ADS_1


Raut wajah Fajar terlihat sangat buruk. Hanya dalam sekali lihat, Naura mengerti bahwa wajah dingin Fajar sedang menahan amarah. Sepertinya, Fajar dimarahi oleh kakek Affandi.


Sedangkan Marsha yang menyadari bahwa Naura sedang memandanginya, dia langsung memberikan tatapan dingin dan memelototi Naura.


Kakek Affandi sepertinya tidak menangkap gerakan kecil mereka. Dia menyapa Naura dan menyuruhnya duduk. "Naura, duduklah."


Ini membuat hati Naura semakin merasa tidak karuan. Karena melihat Fajar dan Marsha sedang berdiri, namun kakek Affandi malah menyuruhnya duduk seorang diri.


"Jangan pedulikan mereka, duduklah. Aku ingin bertanya sedikit padamu." Saat sorot mata kakek Affandi jatuh pada Fajar, dia menggeram dingin. "Dasar anak pembawa sial! Tidak berguna!"


Mendengar perkataan kakek Affandi yang seperti itu, Naura hanya bisa menurut dan duduk.


"Kamu telah diperlakukan buruk dalam beberapa tahun belakangan ini di keluarga Affandi dan aku sudah tau semua perbuatan mereka."


Ternyata hal ini yang ingin dibicarakan oleh kakek Affandi.


Dan hal ini membuat Naura merasa sedikit terkejut.


Dia tidak dapat menebak dengan pasti maksud perkataan kakek Affandi, sehingga dia hanya bisa mengikuti alur pembicaraannya. "Tidak apa, kek. Semua adalah keluarga. Tidak ada yang menyusahkan ataupun disusahkan."


Karena Naura tidak yakin akan maksud perkataan kakek Affandi, dia pun tidak mengatakan isi hati yang sebenarnya.


Kakek Affandi menggeleng. "Aku pergi disaat kamu masih kecil, namun aku juga tidak menyangka malah kamulah yang paling pintar diantara ketiga anak ini."


Yang paling pintar......


Hati Naura tiba-tiba melonjak, dia merasa sedikit tidak aman.


"Kakak-kakak semuanya sangat hebat, aku tidak sebanding dengan mereka." Naura sedikit menunduk tidak berani menatap mata kakek Affandi.


"Naura adalah anak yang murah hati." Tiba-tiba kakek Affandi tertawa, lalu mengangkat tangannya dan mengibaskannya sambil berkata, "Fajar dan Marsha, kalian berdua keluar dulu."


"Baik."


Walaupun hati Marsha tidak merasa senang, namun dia hanya bisa patuh dan keluar terlebih dahulu.


Tepat sebelum dia keluar, dia tidak lupa memelototi Naura dengan marah.


Dulu kakek Affandi paling menyayanginya. Tapi barusan, kakek Affandi bukan hanya memarahinya melainkan juga memuji Naura si wanita berengsek itu!


Setelah Fajar dan Marsha pergi, di dalam ruangan hanya tinggal Naura dan Fadhil Affandi. Barulah, Fadhil Affandi memasang raut wajah seriusnya dan berkata. "Dulu kamu tidak terlihat seperti anak yang begitu berani. Tapi ternyata, kamu berani membiarkan fotografer liar datang ke pabrik keluarga kita untuk memotret berita. Apalagi setelah melewati begitu banyak perselisihan, kamu masih bisa tenang dan selamat."


Seketika hati Naura terlonjak kaget. Ternyata kakek Affandi mengetahuinya!


Salah satu alasan mengapa Fajar tidak mencurigainya adalah karena Naura memainkan peran seseorang yang bodoh selama beberapa tahun menjalani hidupnya di dalam keluarga Affandi. Cara ini sudah cukup untuk menipu Fajar.


Apalagi, masalah pabrik yang sebenarnya adalah Naura yang memohon pada Aaron untuk membantu perusahaan Affandi. Fajar tentu saja semakin tidak mungkin mencurigainya.


Namun berbeda dengan kakek Affandi yang otaknya sangat pintar. Hanya dalam waktu singkat berada di kediaman keluarga Affandi, dia langsung menyadari masalah mana yang terjadi dengan janggal dalam sekali lihat.


"Apakah sekarang ini, kakek sedang menyalahkanku karena membiarkan fotografer liar memotret masalah pabrik?"

__ADS_1


Karena kakek Affandi telah mengetahui semuanya, Naura tidak harus menyembunyikan apapun lagi.


Merupakan hal yang baik jika semua orang mau membeberkan dengan sejelas-jelasnya.


"Apakah kamu tau berapa banyak kerugian yang dialami perusahaan Affandi karena masalah pabrik?"


"Tapi, aku hanya ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk menaikkan ketenaran perusahaan Affandi. Aaron juga membantu perusahaan Affandi melewati masa sulit. Lagipula, ketenaran perusahaan Affandi juga sudah bangkit lagi. Orang yang datang ke perusahaan Affandi untuk menjalin kerjasama juga lebih banyak."


Naura merasa semakin lama kemampuan untuk mengucapkan kebohongan dengan mata terbuka semakin hebat.


Dipuji seseorang sebagai orang yang pintar merupakan hal yang membahagiakan. Tapi kalau ternyata lawan bicara bermaksud tidak baik, lebih baik berpura-pura bodoh saja.


Naura merasa kakek Affandi datang dengan maksud yang tidak baik.


Indera keenam seseorang selalu menjadi hal yang paling tepat juga hal yang paling aneh.


Kakek Affandi memicingkan matanya, seperti sedang mengira-ngira apakah perkataan Naura ini jujur atau ada maksud lainnya.


Naura sedikit membelalakan matanya, mengatupkan mulutnya dan membuat dirinya sendiri terlihat sedikit tidak bersalah.


Dengan cepat, kakek Affandi mendengus dingin, mengibas-ngibaskan tangannya dan berkata, "Keluarlah!"


"Oh." Begitu Naura mendengarnya, dia langsung bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.


Setelah berjalan beberapa langkah, dia kembali menoleh dan melihat ke arah kakek Affandi. "Kakek, sebenarnya ada masalah apa kakek memanggilku kemari?"


"Tidak ada masalah apa-apa. Pergilah!" Nada bicara Fadhil Affandi ini jelas-jelas terdengar seperti tidak sabar untuk segera melenyapkan Naura dari hadapannya.


Ekspresi Naura menjadi datar. Dia membalikkan tubuhnya dan langsung keluar.


Walaupun kakek Affandi memperlakukannya dengan lebih baik dibanding semua orang di keluarga Affandi, tapi pria tua itu tetap saja anggota keluarga Affandi.


Anggota keluarga Affandi memang dari dulu tidak pernah menyukai Naura.


Baru saja Fadhil Affandi berujar, betapa beberapa tahun belakangan ini dirinya telah disusahkan di keluarga Affandi. Tapi, dengan cepat pula, dirinya berubah menjadi tidak ramah setelah menanyakan masalah pabrik.


Tujuannya memang benar-benar terpampang jelas dengan rapi.


Sore harinya, Fadhil Affandi memulai rapat dengan para petinggi untuk membahas kondisi perusahaan Affandi saat ini sekaligus membahas tindakan pencegahan yang harus diambil.


Marsha dan Fajar juga hadir, namun Naura tidak hadir.


Karena Fadhil Affandi memang tidak memanggil Naura.


Mungkin karena Fadhil Affandi merasa Naura benar-benar bodoh setelah menanyainya pagi tadi, sehingga dia juga malas meladeninya.


Dari dulu memang selalu seperti ini. Naura akan ditempatkan dibagian luar dalam segala sesuatu perkara keluarga Affandi.


Naura selalu mengerti akan hal ini, sehingga dia tidak merasa sedih.


Tidak mengikuti rapat itu membuatnya bisa pulang lebih cepat. Bukankah ini lebih baik?

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2