Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#90


__ADS_3

Penghangat yang terus dinyalakan di mobil membuat Naura terbangun karena merasa kepanasan.


Di sebelahnya tidak ada sosok 'Samuel', kemudian Naura menoleh dan melihat sosok seorang yang tinggi dari jendela sedang berbaur dengan langit malam juga setitik percikan api.


Naura membuka pintu mobil, dia menggigil oleh angin malam di musim yang dingin.


Mendengar suara gerakan, 'Samuel' menoleh. "Jangan keluar dari mobil, aku akan kembali setelah menghabiskan rokok ini."


Di tengah kegelapan, suara 'Samuel' sedikit serak. Seperti ini terdengarnya agak mirip dengan suara 'Aaron Daffa'.


Naura terkejut mendengarnya. Rasanya, malam ini 'Samuel' jauh berbeda.


Sudah jelas yang di culik Naura, setelah Naura tertidur sebentar, perasaannya sudah jauh lebih baik. Tapi, perasaan 'Samuel' sangat buruk, seolah ada aura suram diseluruh tubuhnya.


Membuat Naura bertanya-tanya dalam hati dan secara tidak sadar menjadi takut.


Naura ragu-ragu sejenak, tapi tetap turun dari mobil.


Naura berdiri di belakang 'Samuel', lalu bertanya dengan suara kecil."Kamu kenapa?"


'Samuel' tidak bicara. Dia mematikan rokoknya dan menoleh ke belakang.


Dikegelapan malam meskipun Naura tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas, tapi tetap dapat merasakan tekanan yang begitu berat dari depan.


Tiba-tiba 'Samuel' menundukkan kepala dan mencium bibirnya.


Ciumannya sangat dalam, nafasnya bergelora, membuat Naura menjadi gemetar.


Kemudian Naura tersadar, dia mengulurkan tangan menekan dada bidang 'Samuel', ingin mendorongnya.


Tapi, 'Samuel' tidak seperti sebelumnya. Begitu Naura memberontak, dia akan langsung melepaskannya.


'Samuel' bukan hanya melepaskan, tapi mengeratkan tangannya untuk memeluk pinggang Naura, membuat Naura tidak dapat bergerak.


Perbedaan tenaga pria dan wanita terlalu jauh. Pemberontakan Naura tidak berguna. Dia hanya pasrah menerima ciuman 'Samuel' yang makin lama makin mengganas.


Sampai nafas mereka berdua semakin berat, 'Samuel' baru melepaskannya.


Naura sudah sangat lemas, begitu 'Samuel' melepaskannya, kakinya terasa sangat lemas dan hampir jatuh ke tanah.


'Samuel' menggunakan sedikit tenaga memeluknya dan membawanya masuk ke mobil.


'Samuel' masuk dari sisi lainnya, menghidupkan mesin mobilnya, dan tidak banyak bicara lagi.


Sejenak kemudian, Naura baru bisa tenang kembali. Meskipun dalam hatinya sangat marah dengan kelakuan 'Samuel', tapi dia tidak berdaya. Dengan terdiam, mereka berdua kambali ke rumah.


Lampu di dalam rumah tampak terang benderang dan dimana-mana ada bodyguard.


Naura sedikit kaget. "Apa yang terjadi?"


Tidak mungkin karena Aaron merasa kehilangan dia, jadi mengumpulkan bodyguard untuk mencarinya?


Tadi, 'Samuel' berlaku tidak sopan terhadap dia, sepertinya tidak mendengar ucapannya dan langsung masuk kedalam rumah.


Naura mengikutinya dari belakang, melihat punggungnya yang tegap, makin merasa kalau laki-laki ini sulit untuk ditebak.


Begitu masuk, 'Samuel' langsung naik ke atas.


Setelah Naura kembali ke rumah, hatinya merasa lebih lega. Setelah hatinya lega, dia merasa kelaparan.

__ADS_1


Ada bodyguard yang melihat Naura masuk ke dapur, bergegas mengikutinya. "Nyonya mau makan apa? Biar aku buatkan untuk kamu."


"Makanan cepat saji saja. Aku makan apa saja juga boleh." Sekarang ini Naura sedang sangat lapar hingga ingin menghabiskan banyak makanan.


Naura mengatakan bisa makan apa saja. Tapi, bodyguard tetap saja menyiapkan masakan satu meja penuh untuknya.


Naura sangat kelaparan sampai kepalanya berkunang-kunang. Mengambil sumpit lalu langsung memakannya.


Baru saja makan setengah, Naura mengangkat kepala melihat 'Samuel' masuk dan duduk dihadapannya.


Ada bodyguard yang segera mengambilkan peralatan makan untuknya.


"Kamu belum makan?" Tanya Naura setelah melihatnya.


"Tidak ada waktu untuk makan." Jawabnya dengan datar.


Benar juga! 'Samuel' menghabiskan banyak waktu untuk menolongnya, tidak ada waktu untuk makan itu juga biasa.


'Samuel' sudah ganti baju. Rambutnya terlihat agak basah, seharusnya dia sudah mandi.


Naura sudah makan cukup banyak, dia meletakkan sumpitnya dan berkata dengan hormat. "Terimakasih.....sekali lagi kamu sudah menolong aku."


Naura merasakan, hatinya sedikit kacau.


Selama ini, dia ingin menjaga jarak dengan 'Samuel', tapi 'Samuel' sudah berulang kali menolongnya. Dari awal, hubungan mereka berdua memang sudah tidak jelas.


"Lain kali, jangan bodoh seperti ini." Ucap 'Samuel' tanpa mengangkat kepala menatapnya, nada suaranya tidak terdengar ada emosi.


Mendengar ucapannya, Naura menertawakan dirinya sendiri. "Memang aku terlalu bodoh."


"Tapi aku bisa apa? Bagaimana pun juga, dia ibu kandungku. Aku tidak mungkin tidak memperdulikannya. Tidak peduli seberapa buruknya, tidak pernah terpikirkan olehku, dia bisa bekerjasama dengan orang lain untuk menipu aku, dan........"


'Samuel' mengangkat kepala, melihat Naura yang keras kepala. Tidak tau teringat apa, dia berkata dengan pelan. "Tidak semua ibu seperti dia. Ibuku, dia sangat baik."


Naura mengangkat kepala melihatnya dan merasa terkejut. Apa 'Samuel' sedang menghiburnya?


Naura mengira kalau 'Samuel' akan melanjutkan ucapannya. Tapi laki-laki tampan ini sudah menundukkan kepala, melanjutkan makan, seperti seolah barusan tidak mengatakan apa-apa.


...


Malam ini, Naura bermimpi buruk terus.


Naura bangun pagi-pagi sekali. Selesai memasak, dia tidak selera makan. Dia kemudian duduk disofa ruang tengah sambil menonton televisi.


Naura tidak terburu-buru menemui keluarga Affandi untuk meminta penjelasan. Karena Naura tau, kalau seandainya dia datang, Marsha pasti tidak akan mengakuinya.


Ponselnya bergetar.


Naura melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata Evelyn.


Kemarin Naura menelpon Evelyn, tapi belum menceritakan dengan jelas, hanya mengatakan yang seperlunya saja. Jadi, Evelyn tidak tau kalau Naura kemarin hampir saja celaka.


'Samuel' bisa datang menolongnya, karena Evelyn yang menelepon Christian.


"Apa hari ini, kamu mau pergi untuk jalan-jalan? Beberapa hari lagi, aku harus terbang keliling negara untuk promosi film baru."


Naura segera menyetujuinya. "Baiklah."


Dia kembali ke kamar untuk ganti baju. Saat turun tangga, dia melihat 'Samuel'.

__ADS_1


"Mau pergi kemana?" Tanya 'Samuel' sambil melihat tas yang dipegangnya, sudah tau kalau Naura ingin pergi.


"Jalan-jalan sama teman." Jawab Naura kemudian dengan cepat menambahkan. "Jalan-jalan dengan Evelyn, wanita yang pernah bertemu kamu."


Selesai bicara, Naura merasa penjelasan yang diberikan kepada 'Samuel' sedikit aneh. Kenapa juga dia harus menjelaskan kepada 'Samuel'?


'Samuel' berdiri sambil mengeluarkan kunci mobilnya. "Aku antar kamu."


Naura ingin berkata tidak perlu, tapi sepertinya 'Samuel' mengetahui apa yang dipikirkannya.


Sebelum Naura bicara, 'Samuel' dengan cepat bicara lagi. "Kakak sepupu berpesan, kalau kamu mau keluar dan aku ada waktu, dia memintaku yang mengantar kamu."


Menyinggung soal Aaron, Naura tidak lagi seperti dulu. Begitu mendengar, matanya langsung berbinar.


Saat Naura terkena masalah kemarin, yang menolong dia 'Samuel', saat dia pulang ke rumah juga tidak melihat Aaron. Bahkan sepatah katapun tidak diucapkan oleh Aaron.


Naura mengira beberapa waktu ini, dia sudah cukup menunjukkan ketulusannya. Tapi sampai sekarang, Aaron tetap tidak mau bertemu dengannya.


Kalau begini, menjadi sepasang suami istri yang dingin juga tidak apa-apa.


Saling tidak peduli, tidak memperhatikan, dan hidup masing-masing.


Dari kecil, Naura sudah terbiasa tidak dipedulikan orang. Ditambah satu Aaron Daffa lagi juga tidak apa-apa.


Berpikir seperti ini, hati Naura menjadi santai. Dia berjalan mendekat ke 'Samuel', memiringkan kepala dengan sedikit menggoda. "Kalau memang ini perintah dari kakak sepupu kamu, kamu harus mengantar aku, dan kalau memang kamu punya waktu luang untuk mengantar aku, terimakasih ya."


Mendengar ucapan Naura, sorot mata 'Samuel' terlihat kaget. 'Samuel' menatap Naura dengan penuh tanya. Tapi dia hanya bisa berkata dengan datar. "Ayo jalan."


Naura pun mengikutinya dari belakang dengan pikirannya yang sedikit kacau.


Setiap orang sangat mudah dikuasai emosi, sekarang dia sudah tidak terlalu benci melihat 'Samuel'. Sebaliknya, dia malah merasa hormat dan kagum. Kalau dia bukan sepupu Aaron, dan kalau Naura tidak menikah dengan Aaron..........


Tapi dengan begini, permasalahannya kembali lagi ke awal.


Kalau saja Naura tidak menikah dengan Aaron Daffa, dilihat dari identitasnya, selamanya tidak mungkin bisa berkenalan dengan 'Samuel'.


Ini masalah yang tidak bisa terpecahkan. Takdirnya memang sudah seperti ini. Sangat konyol dan membuatnya tidak berdaya.


Setelah mereka berdua naik mobil, tiba-tiba 'Samuel' bertanya. "Bagaimana rencana kamu untuk mengambil kembali blackcard itu?"


Naura tersenyum. "Tentu saja mencari jalan keluar."


"Kamu tidak takut kalau kakak sepupu menyelidiki masalah ini?" Tanya 'Samuel' lagi dengan wajah tanpa ekspresi.


"Kalau memang dia ingin menyelidikinya, seharusnya kemarin malam dia pasti sudah mencari aku." Perlahan, senyuman Naura menghilang. "Dia begitu lapang dada, sudah pasti aku harus mengambil kembali blackcard itu dan mengembalikan kepadanya."


Awalnya Naura mengira, Aaron meminta dia untuk menyimpan blackcard itu sebagai pengakuan terhadap identitasnya. Tapi sekarang sepertinya, karena Aaron sama sekali tidak peduli dengan blackcard itu.


Saat Aaron memberikan ponsel kepada Naura, begitu Naura tau kalau yang memberi ponsel itu adalah Aaron Daffa, Naura baru mau menerimanya dengan gembira.


Kemudian saat Aaron memberikan blackcard kepadanya, bukan saja Naura tidak mau, tapi masih ingin mengembalikannya kepada Aaron. Saat Aaron meminta dia untuk menyimpan blackcard itu, Naura hanya menggunakannya satu kali.


Sebelum ini, barang yang diberikan Aaron kepadanya, dia terima dengan senang hati.


Tapi sekarang, Naura benar-benar ingin mengembalikan blackcard itu kepada Aaron.


Akhirnya Naura kehilangan kesabaran untuk Aaron yang tidak pernah dilihat olehnya, dan berencana untuk memfokuskan diri ke 'Samuel'?


Pemikiran ini, membuat Aaron menjadi tidak bisa merasa senang dan membuat raut wajahnya berubah.

__ADS_1


...__________...


__ADS_2