
Naura yang sudah lebih dulu keluar dari ruangan Fajar, dia berdiri di depan pintu menunggu Marsha.
Begitu Marsha keluar dan melihat Naura, wajahnya menjadi tidak enak dipandang. "Aku mau lihat kamu masih bisa sombong berapa lama lagi? Tunggu sampai ayah mengusirmu dari Perusahaan Affandi!"
"Oh? Mau mengusir aku dari Perusahaan Affandi?" Naura kemudian tersenyum manis. "Sudah tidak perlu lagi meminta Aaron memberikan tambahan modal untuk perusahaan ini?"
Marsha mendengus dingin. "Kamu masih benar-benar mengira kalau Aaron laki-laki cacat itu punya banyak uang?!"
"Jaga ucapan kamu!" Naura menatap tajam Marsha.
"Kamu sendiri tidak bisa menjaga ucapanmu, masih mengatai orang lain?!" Balas Marsha dengan tersenyum bangga.
Tapi, tiba-tiba dia teringat suatu hal dan senyum diwajahnya perlahan menghilang. Dia membalikkan badan dan kembali masuk ke dalam ruangan Fajar.
Naura hanya melirik sekilas pada pintu ruangan Fajar yang tertutup, kemudian membalikkan badan dan pergi.
Di dalam ruangan Fajar, Marsha duduk dikursi depan meja Fajar dengan wajah serius. "Ayah! Ada yang aku lupa beritau ke ayah. Naura punya blackcard yang aku yakin itu milik keluarga Ardinata, yang hanya dimiliki beberapa orang saja!"
"Bagaimana kamu tau?" Tanya Fajar dengan wajah terkejut. "Belum lama Naura masuk ke dalam keluarga Ardinata, Aaron sudah memberikan dia blackcard?"
"Saat itu, aku dan Lucky makan direstoran Star Light, aku lihat sendiri Naura mengeluarkan blackcard itu untuk membayar!" Jawab Marsha dengan antusias. "Aku pernah dengar, kalau blackcard milik keluarga Adinata tidak ada batasan nominal?"
Fajar sendiri juga tidak mengetahui dengan jelas perihal batasan nominal dalam blackcard milik keluarga Ardinata.
Sebagai keluarga yang terkenal sangat kaya raya, meskipun blackcard itu tidak ada batasan nominal, tapi uang didalamnya sudah pasti sangat banyak sekali.
Melihat ayahnya percaya dengan ucapannya, Marsha kembali bicara. "Ayah, kalau kita bisa mendapatkan blcakcard itu yang ada di Naura, kita tidak perlu khawatir dengan modal usaha lagi kan?!"
Hati Fajar sedikit terpengaruh, tapi dia seorang pebisnis senior. Tidak bisa bersikap seperti anak muda yang begitu arogan. Untuk melakukan apapun, harus dengan sangat hati-hati.
Fajar berpikir sejenak, kemudian bicara. "Tapi, mau bagaimana pun, blackcard itu pemberian Aaron untuk Naura, apakah dia rela memberikannya untuk kita gunakan?"
Melihat Fajar yang sudah terpengaruh, dia kembali bicara lagi. "Yah, ayah adalah ayah kandung Naura. Ayah yang sudah membesarkan dan menyayangi dia, kita hanya ingin meminjamnya dan menggunakan blackcard itu sekali saja, ini tidak masalah kan? Anggap saja, dia sudah salah paham kepada ayah dan tidak mau memberikan blackcard itu ke ayah, tapi setidaknya masih ada ibu kan?"
Fajar mendengarkan ucapan Marsha, terdiam sejenak kemudian menganggukkan kepala.
...
Setelah jam pulang kerja tiba, Naura langsung pulang ke rumah dan memasak. Belum selesai memasak, 'Samuel' sudah pulang.
Di dalam rumah, ada penghangat ruangan. Begitu dia masuk, dia langsung melepas jasnya dan hanya menyisakan kemeja warna gelap yang tipis dan celana kerjanya.
Dia berjalan ke dapur mencari Naura, kemudian berdiri dengan bersandar di tembok menatap punggung Naura. "Bagaimana dengan proyeknya?" Tanyanya dengan suara yang datar dan rendah.
__ADS_1
Naura yang sedang memotong sayur, menjawab dengan cuek. "Gagal!"
"Baru proyek pertama sudah gagal." Ucap Aaron sambil menahan tawa.
Nada suaranya tidak begitu jelas dan sulit untuk ditebak apakah dia sedang menertawakan Naura atau tidak.
Naura kemudian menoleh dan melihat ke arahnya. "Marsha yang membuatnya gagal, bukan aku!"
Meskipun Marsha sudah melimpahkan kegagalan proyek itu kepadanya, tapi tentu saja dia tidak mungkin mau mengakuinya.
Naura kembali melanjutkan memotong sayur.
Aaron menundukkan kepala dan tersenyum tanpa suara.
...
Keesokan harinya, hari sabtu.
Seperti biasanya, Naura bangun pagi dan membuatkan sarapan untuk 'Samuel'.
Pagi-pagi sekali, laki-laki tampan itu juga sudah bangun.
Begitu Naura melihat dia, Naura langsung bertanya. "Apa kakak sepupu kamu sudah bangun? Bawakan sarapan pagi ini untuk dia ya?"
Jelas-jelas dia ada disini, untuk apa mengantarkan sarapan?
Naura melototinya kemudian memanggil bodyguard untuk mengantar sarapan ini ke Aaron.
Selesai sarapan, Naura langsung keluar.
Biasanya diakhir pekan, Naura tidak pergi keluar rumah.
Aaron merasa heran, kemana Naura akan pergi? Aaron pun meminta Ivan untuk menyetir dan mengikutinya.
Ternyata, Naura pergi ke dokter psikoterapi.
Aaron duduk di dalam mobil di seberang jalan, dari dalam mobil melihat ke arah pintu psikoterapi. "Untuk apa dia pergi ke sana?"
Ivan pun teringat dengan ucapan Naura kemarin di dalam mobil. "Mungkin karena Tuan Muda, Nyonya pergi ke sana."
"......?"
Aaron berpikir sejenak, kemudian dia mengerti apa yang sedang terjadi.
__ADS_1
Perempuan ini mengira kalau Aaron mempunyai gangguan jiwa, jadi dia pergi ke psikoterapi?
Naura masuk kedalam keluarga Ardinata sudah cukup lama, tapi masih belum pernah melihat 'Aaron Daffa'. Kalau saja orang lain, takutnya bisa mengira seperti itu juga.
Naura melakukan ini demi 'Aaron Daffa'.
Ivan melihat raut wajah Tuan Mudanya yang selalu berubah, dia pun ingin bertanya. "Kapan Tuan Muda akan jujur kepada Nyonya mengenai identitas Tuan Muda?"
Kapan?
Pertanyaan Ivan ini membuat Aaron terdiam.
Saat ini, dari dalam pintu psikoterapi, keluar bayangan seseorang yang sangat dikenalnya.
Ivan melihat dengan jelas orang itu adalah Kairav Robinson, dia langsung berkata pada Aaron. "Tuan Muda, bukankah itu sepupu Tuan?"
Aaron melihat kearah yang ditunjuk oleh Ivan. Begitu melihat, Aaron langsung tau kalau orang yang memakai pakaian penyamaran itu adalah Kairav Robinson.
Aaron sangat mengenal Kairav. Meskipun menyamar, dia dengan mudah langsung bisa mengenalinya.
Ivan belum mendapat jawaban dari Aaron, dia mendengar suara pintu mobil yang dibuka.
Aaron sudah berjalan menuju pintu psikoterapi dan Ivan segera mengikutinya dari belakang.
...
Di dalam ruang psikoterapi, dokter telah mendengar cerita dari Naura. Dengan wajah yang serius, dokter itu memberi penjelasan. "Gejala ini merupakan jenis gejala sisa trauma. Seharusnya ini ada hubungannya dengan pengalaman masa lalunya. Keadaan yang seperti ini, harus didukung oleh orang terdekatnya."
"Pengalaman masa lalunya?" Tanya Naura.
Dokter kembali menjelaskan lebih lanjut. "Dia mengalami kejadian yang begitu besar. Biasanya ada hubungannya dengan masa kecilnya atau mungkin masa remajanya. Karena di kedua masa itu, jiwanya masih belum stabil, relatif rapuh dan baru ada gejala gangguan seperti ini." Ucap dokter itu dengan terus terang dan sangat mudah dimengerti.
Ini hampir sama dengan apa yang dipikirkan oleh Naura.
Dia tidak seluruhnya memberitaukan kepada dokter tentang keadaan Aaron yang sebenarnya, hanya mengatakan kalau suami yang baru dinikahinya, tidak suka bertemu orang lain sehingga sulit menjalani hidupnya.
Rahasia tentang keadaan Aaron di kota B ini sudah menjadi rahasia umum. Kalau dia menceritakan keadaan Aaron dengan sangat jelas, mungkin dokter bisa langsung menebak kalau orang yang dimaksud adalah Aaron Daffa Ardinata.
"Baiklah, terimakasih banyak dokter." Ucap Naura kemudian pergi.
Baru keluar dan berjalan beberapa langkah, Naura melihat ada dua orang lelaki yang berjalan ke arahnya. Kedua lelaki itu berjalan ke arahnya, satu berjalan didepan dan yang satunya lagi berjalan dibelakang.
...__________...
__ADS_1