Perjalanan Hidup NAURA

Perjalanan Hidup NAURA
#68


__ADS_3

Tengah malam, tiba-tiba Naura terbangun karena merasa lapar.


Dia menyesal, meskipun marah, tidak seharusnya memperlakukan perutnya seperti ini.


Akhirnya, dia tidak bisa menahan rada laparnya. Beranjak turun lantai bawah menuju dapur mencari makanan.


Rumah mewah ini saat tengah malam sangat sepi. Karena letaknya di sisi pantai, selalu terdengar suara desiran ombak dari kejauhan juga suara semilir angin yang masuk kedalam.


Naura sudah sampai didapur. Dia mengambil sedikit sayuran dan tomat karena berencana ingin membuat mie rebus.


Saat Naura sedang memotong sayur, tiba-tiba punggungnya terasa merinding. Merasakan ada sesuatu yang aneh. Sepertinya, dibelakangnya ada orang?


Tapi, perasaan itu semakin lama semakin terasa.


Naura memejamkan matanya, mengumpulkan keberaniannya untuk menoleh kebelakang. Saat ingin menoleh, dia mendengar ada suara yang terdengar begitu dingin.


"Apa yang kamu lakukan?"


Seketika Naura terperanjat kaget hingga pisau dalam genggaman tangannya terlepas dan jatuh dikakinya.


Beruntung dia memakai sandal bulu yang hangat dan tebal. Kalau tidak, dia bisa celaka.


Jantung Aaron berdegup dengan cepat ketika melihat pisau itu jatuh ke bawah. Dia langsung berjongkok melihat kaki Naura, memastikan kalau kakinya tidak terluka, tidak ada goresan dari pisau itu. Baru kemudian dia kembali berdiri dengan lega.


Aaron menghela nafas dan menatap Naura dengan wajah dingin. "Naura! Aku belum pernah melihat wanita sebodoh dan seceroboh kamu!"


Naura tersadar dari rasa keterkejutannya. Dia membungkuk mengambil pisaunya lalu kembali berdiri, menatap 'Samuel' lalu berbalik. Menyalakan kran air dan mencuci pisau itu sambil bicara. "Benar-benar menyulitkan Tuan Muda 'Samuel' yang setiap hari masih menyuruh saya wanita bodoh dan ceroboh ini memasak. Kalau tidak, mulai besok saya tidak akan memasak lagi. Saya juga akan pindah mencari kontrakan diluar sebelum Aaron kembali pulang. Supaya Tuan Muda 'Samuel' tidak perlu melihat saya lagi. Benar begitu kan?"


Naura mengembalikan pisau dapurnya kembali yang sudah dicuci, berbalik dan menatap 'Samuel' dengan serius.


Dia sudah benar-benar merasa muak dengan laki-laki yang bernama 'Samuel' ini.


Naura masih mengingat kalau 'Samuel' pernah membantunya, dia juga sudah berterimakasih kepadanya. Meskipun terus menerus seperti itu, tidak bisa karena 'Samuel' sudah membantunya lalu bisa dengan seenaknya menyentuh dirinya.


"Tidak bisa!" Tegas Aaron.


Dia menundukkan pandangannya dan menatap dingin Naura. "Apa kamu ingin kakak sepupuku berpikir kalau aku yang membawamu pergi dan membuat hubungan saudara diantara kami dalam masalah?"


"Terserah kamu mau berpikir seperti apa!" Jawab Naura lalu menundukkan kepala, tidak ingin berdebat dengannya lagi.


Aaron berdiri menutupi cahaya lampu dibelakangnya. Sedangkan Naura berdiri melawan cahaya lampu. Jadi, tidak ada ekspresi wajah Naura yang luput dari tatapan mata Aaron.

__ADS_1


Karena tengah malam yang tiba-tiba terbangun, rambutnya terlihat sedikit berantakan. Karena terpancar sinar lampu, wajah Naura terlihat lebih putih.


Biasanya saat bekerja, sorot matanya tampak bersemangat. Tapi sekarang, sorot matanya sedikit tertutup kelopak matanya yang menggantung. Terlihat sangat tertekan.


Naura merasa kalau waktu berputar dengan sangat lama sebelum dia mendengar suara sesorang yang terdengar tidak bersemangat.


"Tadi itu, aku yang salah. Maaf."


Naura langsung mengangkat kepalanya menatap 'Samuel' dengan wajah kaget. "Apa? Coba kamu ulangi!"


Baruan ini, 'Samuel' mengakui kesalahannya dan minta maaf kepadanya?


Tapi, mana mungkin 'Samuel' mau mengulangi kata-katanya lagi. Dia melirik kearah sayuran yang sudah dipotong-potong di atas meja. "Aku juga mau makan." Ucapnya dengan ekspresi yakin.


Kemarahan dalam hati Naura sebagian besar telah hilang. "Aku masukkan racun, apa kamu masih mau makan?" Ucapnya dengan kesal.


Aaron menatapnya dalam-dalam. "Kalau kamu makan, aku akan makan juga."


Naura terdiam. "......"


Dasar gila!


...


Saat Naura sedang memotong daging, Aaron berdiri di sampingnya tidak pergi. "Pelan-pelan saja potongnya!" Ucapnya dengan suara yang terdengar aneh.


Dasar laki-laki yang belum pernah memasak!


Naura semakin mempercepat gerakan tangannya memotong daging. Setelah itu, dia meletakkan daging yang sudah dipotong halus ke piring kemudian berbalik dan menatap 'Samuel'. "Keluar sana! Jangan mengganggu aku!"


Mungkin karena ini sudah tengah malam, Aaron merasa kesepian. Jadi, dia tidak ingin pergi ke ruang makan dan menunggu sendirian. Ingin tetap berdiri disana melihat Naura memasak. Dia pun mencari-cari alasan. "Aku mau melihatmu disini. Bagaimana kalau tiba-tiba kamu memberi racun dimakananku? Aku masih belum mau mati."


"Aku tidak mungkin sebodoh itu hanya untuk meracunimu. Aku juga tidak akan bisa hidup! Aku ini mahal sekali lho, aku seorang wanita yang berharga tiga triliun!" Ucap Naura yang sebenarnya ingin mengejek dirinya sendiri.


Naura tidak bermaksud apa-apa berkata seperti itu. Tapi, Aaron yang mendengarnya merasa tidak enak. Dia pun membantah ucapan Naura. "Semua itu adalah keputusan yang dibuat oleh para orang tua! Kakak sepupu sama sekali tidak pernah menginginkan hal seperti itu!"


"Aku juga tidak menyalahkannya." Jawab Naura kemudian menatap 'Samuel' dengan tatapan aneh. "Aku masih ingat ketika pertama kali aku datang kesini. Kamu mengatakan kalau Aaron adalah orang yang tidak berguna. Sekarang, kamu membelanya." Naura bersedekap dan tatapannya menjadi serius. "Sebenarnya, hubungan kamu dengan Aaron, baik atau malah sebaliknya sih?"


'Samuel' balik bertanya. "Menurutmu?"


Hehe! Aku merasa kalau kamu orang gila yang tidak tau malu!

__ADS_1


Naura hanya berani mengucapkan itu didalam hatinya.


Naura mendengus kemudian berbalik, menuangkan mie kedalam mangkuk dan membawanya ke ruang makan.


'Samuel' berjalan dibelakangnya mengikuti langkahnya.


Mungkin karena tengah malam terasa sangat sunyi, mereka berdua makan sambil mengobrol santai.


Tapi, Naura yang lebih sering berbicara. Naura terus menanyakan tentang Aaron Daffa.


'Samuel' hanya menjawab "iya", "bukan", "tidak tau", "mungkin" dan kata-kata sejenisnya.


Hal ini membuat Naura merasa curia dengan hubungan antara saudara sepupu ini mungkin terbuat dari plastik.


...


Keesokan harinya, Naura bangun kesiangan.


Dengan secepat kilat dia mandi lalu ganti pakaian dan bergegas pergi keluar dengan berlari.


Di ujung tangga, dia melihat 'Samuel' yang terlihat begitu bersemangat.


Semalam, mereka sama-sama terbangun di tengah malam. Tapi, kenapa Naura yang bangun kesiangan masih merasa sangat lesu? Sedangkan laki-laki ini malah terlihat sangat bersemangat!


Naura kembali bertanya-tanya dalam hati. Apa tubuh laki-laki ini terbuat dari besi?


Aaron mengernyit saat melihat Naura yang tampak lesu. "Semalam tidak tidur nyenyak?"


Naura merasa dia sedang pamer!


Naura menundukkan kepala, melihat jam. "Aku hampir terlambat, pagi ini tidak buat sarapan!" Naura kemudian langsung buru-buru berlari turun ke bawah.


Aaron segera menyusul lalu menarik kerah bajunya dari samping. "Aku antar."


Naura tidak mau diantar. Tapi, kalau naik angkutan umum pasti akan macet dan mungkin akan benar-benar terlambat.


Akhirnya, Aaron juga tidak jadi mengantar Naura ke kantor karena ada yang menelpon, memanggilnya.


Sebelum dia pergi, dia menyuruh bodyguard untuk mengantar Naura ke kantor.


...__________...

__ADS_1


__ADS_2